Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
35.


__ADS_3

Semua tidak sesuai harapan Haki. Melenceng jauh dari harapannya. Ketika wanita itu sudah jadi kekasihnya lagi. Tapi cobaan untuknya tidak lagi sedikit. Semua terjadi setelah dengan mudahnya Kahi memberinya kesempatan kedua untuknya.


Selama beberapa hari dia terganggu dengan bayangan masa silam. Hubungan yang sebenarnya tidaklah sesuai dengan kenyataannya. Kesakitan terakhir yang dia berikan untuk wanita itu, jadi fakta paling dia takuti.


Benar kata Juan, dia lelaki pecundang. Yang hanya bisa menyakiti wanita yang sama. Tapi hatinya tak ingin berpisah dengan wanita itu. Dua sisi di dirinya yang bertolak belakang.


Setelah mendapat kembali kepercayaan dari Kahi. Dia malah menghindar. Menutup mata juga telinga saat tak sengaja bertemu. Hal yang paling menyakitkan yang harus dia terima. Ketika suatu saat wanita itu kembali mengingat rasa sakit akibat ulah yang dia perbuat. Atau selamanya melupakan ingatan itu. Tidak akan ada pertemuan tak sengaja seperti sekarang.


Dia membenturkan dahinya di atas setir mobil miliknya. Sedangkan kedua tangannya mengepal kuat. Menyalurkan emosi yang sudah membuncah. Dengan begitu tidak ada lagi yang akan tersakiti, selain dirinya.


*


Sudah seminggu dia mengabaikan pesan juga panggilan telepon dari Kahi. Bahkan ketika wanita itu dengan sengaja mendatangi kantornya. Dia bersembunyi, lebih memilih menghindar.


Pagi itu, saat seperti minggu minggu sebelumnya. Dia berada di depan barisan para wanita. Menjadi instruktur senam. Tapi pikirannya tidak membantunya mengingat gerakan senam.


Jadilah, dengan kesal dia membubarkan kumpulan para ibu-ibu kompleks. Meminta maaf atas sikapnya tadi. Lalu dengan berlari dia kembali ke rumahnya. Mengunci diri di kamarnya.


Beberapa kali ponselnya bergetar, dengan puluhan pesan yang dia abaikan. Sepertinya ketakutannya membuatnya enggan melakukan apapun. Haki berdiri di depan sebuah foto kenangan dirinya dan Kahi. Tempat pertama kali dia memberikan ciuman pertamanya untuk wanita yang paling dia cintai.


Tapi sekarang, dia malah menghindar darinya. Bersembunyi dan juga menutup telinga dari orang-orang yang memberitahukan keberadaan Kahi.


*


Pekerjaannya selalu jadi alasan, saat Kahi dengan segala daya tariknya muncul dihadapnya. Wanita itu akan dengan mudahnya memberikan senyuman paling manis untuknya saat mereka bertemu. Yang dia tahu, meski wanita itu sedang berusaha melupakan orang lain. Dan mencoba mengingat tentang dirinya, dan juga kenangan mereka.

__ADS_1


Itu tak membuatnya senang, justru sebaliknya.


*


Hari itu, saat hubungan mereka berdua sudah berjalan dua minggu. Tanpa dia tahu, Juan sudah lebih dulu tahu tentang itu. Dengan keras Juan memintanya untuk segera mengakhiri semuanya. Atau hal paling dia takutkan akan jadi kenyataan.


Tapi dia bersikeras, dia belum mencoba apapun. Dia ingin Kahi mengingatnya barang sedikit. Dengan menekan egonya, Haki mendatangi kafe Kahi malam itu.


Berdiri di sebelah mobilnya, mengawasi gerak gerik wanita yang memakai setelan kemeja pink dan rok span berwarna putih itu. Menunggu sampai wanita itu menyadari keberadaannya.


*


Tepat dugaannya, setelah 5 menit berdiri. Kahi datang dengan senyuman mengembang di wajahnya. Berjalan cepat ke arahnya. Bahkan tak segan menghambur ke dalam pelukkannya.


"kenapa nggak ngomong mau ke sini. Sudah lama Sampainya" katanya setelah melepas tangannya yang melingkar di pinggang Haki. Dia mendadak membisu, mendapati wanita yang lebih kecil darinya ini menyambut kedatangannya.


Haki semakin membisu, menyadari kesalahan yang baru saja dia lakukan. Bahkan rasanya jantungnya sedikit tercubit, saat melihat gurat kesal di wajah Kahi.


"ada yang ingin kukatakan" kata Haki. "aku pun punya sesuatu yang mau kuberitahu" balas Kahi cepat. Haki membulatkan kedua matanya. Berharap bukan sesuatu yang akan membuatnya lebih merasa bersalah.


"kita masuk dulu, kamu mau bicara di bawah atau mau ke lantai tiga" meski tangan mungil itu sedang menuntunnya. Dia hanya pasrah, tidak bisa memberi jawaban apapun dari pertanyaan paling mudah tadi.


"di bawah saja ya. Sekalian makan malam. Kamu pasti belum makan kan" sekali lagi tak ada sahutan darinya. Karena tidak mendapat jawaban apapun, Kahi menghentikan langkahnya. Berbalik dengan cepat. Melihat lelaki di depannya dengan teliti.


"kamu kenapa sih" tangannya terulur untuk menyentuh kening Haki. Lalu sedikit tersentak mendapati punggung tangannya seperti tersengat. Oleh hawa panas dari tubuh Haki. Lelaki itu sedang demam.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun Kahi menuntun lelaki itu dengan hati-hati ke lantai tiga. Setelah sampai ke ruang kerjanya, dia membantu merebahkan tubuh bidang Haki di atas sofa. Saat dirinya akan pergi dari sisi tubuh lelaki yang sudah berbaring, dengan kaki yang menjuntai ke lantai.


Haki menahan lengannya, membawanya untuk kembali ke sisinya. "aku akan segera kembali. Tunggu sebentar ya" kata Kahi dengan nada lembut. Tapi tangan yang sedang mencengkram lengannya tidak mengendur sama sekali. Kahi menatap lekat wajah pucat lelaki itu. Tangannya kembali terulur untuk menyentuh kening Haki.


"kenapa kamu bisa sampai demam seperti ini. Apa karena pekerjaanmu yang menyita waktu. Aku tahu pekerjaanmu tidaklah mudah, tapi setidaknya tetap jaga kesehatanmu" ujar Kahi pelan. Sementara lelaki itu tak melepas cengkraman tangannya di lengan Kahi. Malah membawa lengan itu ke bagian dadanya. Menempelkan telapak tangannya kecil itu di atas dada kirinya.


"ada apa. Tunggulah sebentar. Aku akan menghubungi orang dibawah untuk membawa teh hangat dan obat untukmu" katanya dengan cepat saat merasakan detak jantungnya ikut berdenyut kencang secara tiba-tiba.


Kahi bangkit dari posisi berjongkok tadi. Lalu mendekat ke arah meja kerjanya. Entah sedang berbicara dengan siapa Haki tak terlalu mendengarnya. Mungkin efek demam yang dia tidak rasakan, membuatnya kehilangan daya dengar.


Tak lama ketukan pintu samar terdengar oleh telinganya. Buru-buru Kahi membuka pintu, lalu menutupnya lagi. "ayo bangun dulu. Minum obat dulu ya" kata Kahi dengan lembut. Usahanya untuk bangun sangatlah susah. Sudah separah apakah demamnya ini. Hanya untuk bangun saja sangat susah.


Melihat itu, kedua tangan Kahi terulur. Satu tangannya berada di balik lehernya, sementara tangan lainnya memegang lengannya. Menggunakan kekuatannya sebagai seorang wanita. Cukup sulit hingga akhirnya Haki terduduk dengan bersandar pada sandaran sofa.


Tangan Kahi menyerahkan teh hangat pada tangannya yang terangkat. Tanpa melepas tangannya dari gelas besar berisi teh hangat. Kahi membantunya meminum teh itu. Giliran obat di tangannya yang harus dia minum. Tapi dia benar-benar seperti kehilangan tenaga, juga sangat membenci obat sekarang.


"minumlah obatnya. Kamu nggak akan sembuh kalau nggak minum obat" Kahi mengambil satu butir obat di tangan Haki. Lalu berusaha menyuapkan obat itu ke mulut Haki yang masih tertutup rapat.


Tapi nihil, mulut lelaki itu tak terbuka sama sekali. "ayo minum dulu" tapi kepala lelaki itu menggeleng pelan. Membuatnya mendengus kesal, dengan kesal dia meletakkan obat itu di mulutnya. Lalu mendekat ke arah wajah Haki. Bibirnya menempel tepat ke bibir Haki, bermain dengan benda kenyal dan tebal itu sebentar. Hingga membuat lelaki itu terlena. Melupakan sesuatu, hingga Kahi memundurkan kepalanya dengan seringai aneh di wajahnya.


Dia meminum teh dalam jumlah banyak, msdih dengan mulut penuh teh. Kahi kembali menempelkan bibirnya. Memindahkan teh di mulutnya ke dalam mulut Haki.


"berhasil" ujarnya sambil mengelap sisa air di dagunya. Dia perlahan turun dari sofa, saat hendak berdiri. Haki malah menariknya. Membuatnya terjatuh di dada lelaki itu. Kahi mendongak untuk melihat wajah lelaki itu. Tapi gerakan Haki yang cepat tak bisa dia prediksi.


Sekarang ini dia sudah berbaring di atas sofa. Dengan Haki yang sudah menindihnya dengan separuh badan lelaki itu. Tanpa menunggu lama, Haki menyentuh wajah Kahi dengan bibirnya. Mengecup kening lalu berpindah ke kedua mata Kahi. Mengecup pipi mulus wanita itu dengan lembut juga.

__ADS_1


Terakhir dia mendaratkan kecupan yang hangat ke bibir yang sudah dengan berani menciumnya tadi. Gerakan lembut itu semakin lama menjadi desakan yang kuat. Membawa wanita itu ke dalam permainan yang memasukkan.


__ADS_2