
Kahi menjatuhkan tas yang sedang dia pegang. Setelah fakta yang baru dia dengar dari sang abang. Matanya seketika memanas, tak lama air mata tak bisa lagi dia tahan. Jatuh dengan bebas mengenai pipinya. Lia yang menyadari hal itu, dengan cepat membawa tubuh bergetar Kahi ke dalam pelukkannya.
Lia melirik suaminya dengan tajam. Menggunakan dua jari menunjuk ke mata miliknya lalu dia arahkan jarinya ke Juan. Seolah memberinya peringatan. Juan hanya menatap datar ke arah sang istri yang sedang menenangkan Kahi.
Dia bangkit dari ruang tamu, lalu menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya. Tak memperdulikan tangisan sang adik yang terdengar sangat menyedihkan. Baginya dia sudah melakukan hal yang benar. Menjauhkan Kahi dengan Haki. Yang menjadi sumber kesedihan sang adik.
Juan meraih ponselnya di atas nakas. Lalu menghubungi seseorang dengan ponselnya. "pastikan. Lelaki itu mendapat hukuman" katanya dengan singkat. Sekali lagi tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Juan memutuskan sambungan teleponnya.
Pintu ruang kerjanya terbuka dengan keras. Lia datang dengan wajah marah. "mas, kamu benar-benar tega. Kahi sekarang bahagia, tapi kamu buat dia sedih lagi. Aku harap kamu akan menyesal setelah ini" Lia kembali keluar ruang kerja. Dengan membanting pintu dengan keras. Tidak membiarkan sang suami menyanggahnya.
*
Kahi mencoba menghubungi seseorang dari ponselnya sejak Lia memutuskan ingin menemui sang suami. Tapi sejak dia ikut meninggalkan ruang keluarga, sampai sekarang berada di dalam kamarnya. Kahi belum bisa menghubungi orang tersebut.
Dia kembali menangis sembari menatap ponselnya dengan pilu. Dia sekuat tenaga menahan agar suara tangisnya tak terdengar oleh sang abang.
Berkali-kali Kahi menyangkal ucapan dari Juan tadi. Tapi justru semakin dia berusaha menyangkal, hatinya semakin sakit. Dia kembali menghubungi lelaki yang Juan katakan, lelaki yang sudah beberapa kali menyakiti dirinya. Lelaki itu yang berjanji akan memberinya ingatan tentang kisah mereka. Yang juga sudah mencuri hatinya saat ini.
Kahi teringat jika Haki tinggal di komplek perumahan yang sama. Jika itu benar, maka Lia pasti mengetahuinya. Dia keluar kamar untuk menemui Lia, yang kebetulan juga sedang berada di depan pintu kamarnya.
"kenapa" Lia menangkap gelagat aneh dari Kahi. Kahi menarik tangan Lia, membawa wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Lalu menutup rapat pintu kamarnya. "ada apa, Hi" tanya Lia dengan cemas.
"mba, tolong bantu aku. Kalau mba tahu di mana rumah Haki. Tolong kasih tahu aku" Lia menghembuskan nafasnya kasar. "jangan pergi ke sana. Nanti mas Juan marah, Hi"
__ADS_1
Kahi menggeleng cepat, tangannya menyatu seperti seseorang yang sedang memohon. "aku harus selesaikan ini, setidaknya aku harus tahu sebenarnya dari Haki. Jadi tolong aku mba"
"tapi ada syaratnya. Aku yang mengantar kamu ke rumah Haki" Kahi mengangguk setuju. Tak lama mereka berdua keluar kamar dengan pelan. Agar Juan tak mengetahui rencana mereka. Tapi sialnya, tangis Juna menghentikan langkah Lia. Dua wanita itu saling tatap, Kahi memberi kode agar Lia masuk untuk menenangkan Juna.
"rumah yang paling cantik, catnya warna krem. Kalau nggak salah nomor 17A. Jangan terlalu lama perginya" bisik Lia di telinga Kahi. Usai mengatakannya Lia dengan cepat masuk ke kamarnya. Sebelum membuat sang suami curiga.
*
Kahi sedang berdiri di depan sebuah rumah dengan lampu yang sudah di matikan. Dia tak yakin dengan rumah yang ini, tapi dari semua rumah hanya ini yang bernomor 17A. Tangannya menekan bel rumah dua kali. Menunggu dengan sabar sampai ada orang yang membukakan gerbang untuknya. Tapi sudah lama berdiri di sana, dia tak juga mendapati siapapun keluar.
Matanya melihat mobil yang cukup dia kenali. Terparkir apik di garasi yang sengaja tidak ditutup itu. Kahi meraih ponselnya di saku celana. Lalu kembali menghubungi Haki.
Samar terdengar nada dering di salah satu kamar di lantai dua. Kahi bergeser, kembali menghubungi Haki. Nada dering kembali terdengar dari kamar di depannya.
*
Juan datang menyusulnya, menahan tubuhnya yang hampir tersungkur. Menyentuh aspal di depan gerbang. Sudah lebih dari dua jam dia berada di sana. Tanpa mengenakan jaket, agar terlindungi dari hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Terlebih hujan gerimis sudah menyapanya sejak sejam yang lalu.
Juan menggendongnya di punggung. Dibantu supir yang memayungi mereka berdua dengan payung berukuran besar. Juan berjalan dengan cepat, merasakan tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan. Kepalanya jatuh di punggung Juan. Sudah tak sanggup lagi untuk membuka matanya.
Dia tahu Juan sedang mencoba berbicara padanya. Dia tak mendengar apapun, hanya punggung yang bergetar. Yang memberitahukan padanya jika Juan sedang berbicara. Entah padanya atau pada siapapun.
Sementara lelaki itu sedang berdiri di jendela kamarnya, menyaksikan Kahi terus berada di sana. Sampai hujan membasahi seluruh tubuhnya. Nyeri melihat wanita itu terus berdiri tidak peduli dengan hujan yang terus membasahi tubuhnya. Tapi juga dia tak ingin membuat wanita itu semakin terluka.
__ADS_1
Haki kembali duduk di tempat tidurnya. Tangannya meremas bingkai foto di pangkuannya. "maafkan aku Kahi. Aku benar-benar minta maaf" katanya dengan lirih. Dia meringkuk sambil memeluk bingkai foto itu.
Setetes air mata jatuh sudah tak lagi bisa dia tahan. Dalam kegelapan Haki merenungi kisah cintanya yang sangat menyedihkan. Tuhan sedang menghukumnya, membiarkan dirinya dalam keterpurukan seorang diri.
*
Pagi harinya Haki dijemput paksa oleh rekan kerjanya sendiri. Tanpa perlawan juga tanpa banyak bertanya. Dia mengikuti setiap instruksi dari rekan kepolisiannya. Kedatangan mobil polisi yang berada di depan rumahnya, mengundang banyak kerumunan penghuni kompleks perumahan.
Menggunakan mobil dinas, dia dibawa ke kantor polisi. Dia sangat tahu apa yang membuatnya dipanggil dengan cara seperti ini. Haki benar-benar sudah pasrah. Apa yang akan terjadi padanya, tak akan pernah merubah masalalu.
Sampai di depan gedung kantornya, dia melihat lelaki yang lebih tua darinya. Sedang berdiri bersama pengacara keluarganya. Orang yang sama yang membantu Kahi beberapa bulan lalu. Haki hanya diam sampai dia dibawa ke ruangan khusus.
Duduk di depan rekannya tak membuat dirinya takut. Dia sudah biasa bertemu dengan mereka semua. Yang membuatnya sedikit menekan egonya lebih dalam. Jika biasanya dia adalah atasan orang yang duduk di depannya. Kini dia seperti tersangka. Orang yang bersalah. Jadi dia mengikuti juga memberi keterangan sesuai kenyataan, seperti halnya yang biasa para pelaku di introgasi oleh mereka. Baginya tak ada keistimewaan untuk siapapun termasuk dirinya juga.
Setelah memberikan keterangan pada kepolisian, Haki diperintahkan untuk menghadap ke bagian komite kedisiplinan. Yang akan menentukan nasib kariernya kelak di kepolisian. Ditemani seorang rekan polisi untuk mengantarnya, Haki kini duduk di depan sekitar lima orang yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya.
*
Kahi berlarian di sepanjang jalan menuju halte terdekat. Dia berencana untuk menemui Haki. Tanpa sepengetahuan Juan. Kahi keluar rumah lewat pintu belakang dibantu oleh Lia. Karena dua penjaga sengaja berada di depan pintu rumah.
Menurut info dari Lia, malam tadi sang abang melaporkan Haki ke kantor polisi. Pagi tadi juga Haki langsung dibawa oleh polisi. Tak sampai menunggu lama, bus datang juga. Di dalam bus Kahi tak berhenti menggigit ujung kukunya. Rasa cemas pada lelaki itu sudah memenuhi seluruh isi kepalanya.
Dia mengabaikan fakta tentang lelaki itu. Dia lebih mengikuti apa yang hatinya katakan. Tak peduli dengan kemungkinan yang akan terjadi. Biar dia yang menanggung sendiri.
__ADS_1