
"tapi itu semua bohong kan" tebak Lia
Kahi hanya menunduk sambil meremas kedua tangannya yang ada di atas meja. Enggan menjawab pertanyaan dari kakak iparnya itu, tidak membenarkan hanya enggan menyanggah.
"yang gue tahu, lu belum bisa mencintai Gemma kan? Lu hanya menghargai semua perlakuan baik dari Gemma. Tapi soal semua yang lu bilang tadi" Lia menghela nafas
"lu bohongin diri lu sendiri, Hi. Lebih parah lagi lu bohong perasaan Gemma"
Kahi mengangkat kepalanya menghadap ke arah Lia yang saat ini juga menatapnya. Tak ada sanggahan dari mulut kahi, hanya menatap tak percaya. Mata kakak iparnya tidak bisa dibohongi lagi, tapi dia juga sedang meyakinkan Lia tentang hubungannya dengan Gemma.
"tolong jangan bilang tentang ini ke abang ya mba, aku mau serius dengan mas Gemma" ujar kahi pelan.
"lu kan gk harus bohong, Hi. Gemma pasti ngerti dan mau nungguin elu" kata Lia menenangkan Kahi lagi.
"aku udah terlalu tua untuk jadi orang yang pemilih, mba. Salahnya aku terlambat sadar prihal ini, abang selalu bilang dia yang akan jagain aku sampai suatu saat nanti abang nyerah buat jagain aku. Sampai ada orang yang menurut abang pantas untuk jadi pendamping hidupku"
"untuk itu, sekarang aku sedang mengalah dengan perasaanku. Aku terima mas Gemma dengan semua kekurangannya, begitu juga sebaliknya, mas Gemma menerimaku dengan semua masalaluku. Jadi, suatu saat nanti kalau memang dia mau melanjutkan ke pernikahan seperti katanya dulu. Aku udah siap"
"lu serius, Hi. Kalau itu yang lu mau, Gue dukung semua keputusan lu. Gue bakalan ada buat lu, jadi jangan khawatir ya"
Perbincangan serius dua sahabat harus berhenti saat suara tangisan dari Juna yang sedang tertidur di lantai dua menghentikan semua aktivitas mereka berdua. Lia terburu-buru menaiki anak tangga untuk menenangkan putranya, yang sejak tadi terlelap itu.
Buat Kahi, wanita yang menjadi istri dari kakaknya itu berubah menjadi wanita yang kuat. Dulu Lia adalah gadis yang super penakut, tapi usai menikah perlahan rasa takutnys hilang. Bahkan Kahi lebih mempercayai Lia dibandingkan sang kakak sendiri.
Jadi tak heran Lia bisa mengetahui apa yang Kahi rasakan, lebih mudah meyakinkan sang kakak ketimbang sang kakak ipar yang memiliki kepekaan tinggi.
Usai melanjutkan meminum air dingin dari lemari es, Kahi kembali ke kamarnya untuk merebahkan badannya sebentar sebelum berangkat ke kafenya.
Sebelum merebahkan tubuhnya, Kahi meraih ponsel di atas nakas untuk mengecek adakah pesen atau panggilan masuk. Hari ini Gemma berada di luar kota, ada urusan keluarga katanya. Hanya mengabari via pesan semalam, jadi tak heran jika ponsel nya sepi pesan dari Gemma.
Tapi saat membuka email, matanya dibuat membulat karena ada email masuk dari SMA nya dulu. Isi email yang mengabari bahwa Kahi dan seluruh anggota teather pada angkatannya di minta untuk mengisi Acara ultah SMA X.
Sebelumnya tak ada yang mengundangnya secara resmi untuk hadir di acara reunian sekolah, apalagi menjadi pengisi acara yang biasanya adalah alumni aktif. Dengan gusar dia mencari informasi di laman web SMA X.
Benar saja, hampir seluruh angkatan diundang jadi tak mengherankan. Dia juga diundang apalagi ketua panitianya adalah wanita yang sudah mengambil tempatnya dulu, Bianca.
***
Malam hari ini hujan disertai kilat petir dan angin kencang, jadi Kafe tutup lebih awal dari biasanya. Pukul 10 malam seluruh karyawan sudah pulang menyisakan Kahi yang masih berdiam diri di ruangannya, dia benci suara petir makanya dia berniat menunggu hujan reda untuk pulang.
Untuk mengusir rasa sepi, Kahi menyalakan musik di ponselnya. Cukup membantunya mengusir kesunyian di ruangan yang memang hanya dirinya seorang. Hingga suara dicitan ban mobil dan suara benda bertabrakan cukup keras mengalihkan perhatian Kahi dari benda kotak di genggamannya.
Kahi mengintip dari balik jendela untuk melihat apa yang terjadi di jalan depan kafe miliknya, hingga seseorang keluar dari mobil yang nampak ringsek dibagian depan membuat Kahi menutup mulutnya terkejut.
Mengabaikan perasaan benci pada petir, Kahi menuruni anak tangga dengan setengah berlari untuk menggapai seseorang yang sudah tergeletak di halaman kafe miliknya.
"pak, anda baik-baik saja" tanya Kahi pada seseorang yang tergeletak bersimbah darah dibagian kepala.
Tak ada sahutan dari pria itu, tak sampai beberapa menit terdengar mobil meraung bunyi khas dari mobil ambulans. Sepertinya seseorang sudah mengabari pihak berwajib, karena ambulans berhenti tepat di samping Kahi.
__ADS_1
"di sini pak" teriak Kahi pada petugas ambulans
"pak, anda bisa mendengar saya. Kalau bisa tolong gerakan tangan anda atau kaki anda" kata petugas itu sembari mengecek tanda vital milik pria itu.
Ajaibnya tangannya bergerak meski hanya sebentar, kemudian dua orang petugas itu memindahkan pria itu ke tandu dan mengangkatnya ke dalam mobil, saat tak sengaja Kahi yang memang berdiri di dekat para petugas mendapat tarikan dari pria yang itu.
"anda ikut saja bu, sepertinya beliau ingin anda ikut" ujar petugas yang berada di bagian belakang tandu.
"eh baik pak"
Tanpa penolakan Kahi ikut masuk ke dalam mobil ambulans itu juga, saat Kahi yang baru duduk terdengar lagi suara sirine mobil polisi berdatangan. Sepertinya semua sudah dikabari oleh seseorang, jadi mereka bergerak cepat. Kahi menatap tangan yang berlumuran darah yang masih menggenggam tangan kahi meski tak memiliki kekuatan untuk mencengkram kuat.
"tolong percepat pak, pasien bisa kehilangan banyak darah " ujar petugas yang duduk bersebelahan dengan kahi.
Mendengar hal itu, Kahi sekarang memutar tangannya menjadi menggenggam tangan pria itu. Yang dirasa sangat dingin ketimbang tadi, mata Kahi tak sengaja menangkap wajah yang dia kenal dari pria itu. Tapi sayangnya luka dibagian kening menyamarkan wajah pria itu dengan darah.
Ambulans tiba di Rumah sakit terdekat, petugas langsung membawa pria itu ke UGD untuk mendapat penanganan. Sedangkan Kahi tak henti-hentinya berdoa, agar pria itu selamat. Lebih dari 5 jam tak ada seorang pun yang memberinya info tentang kondisi pria itu, hanya informasi kalau pria itu harus dioperasi saja yang dia dengar, dan menandatangani surat persetujuan operasi. Dia juga di arahkan perawat untuk mengurus administrasi dan segala keperluan pasien itu yang sampai saat ini dia tak tahu namanya, miris sekali.
"permisi bu, apakah anda wali dari pasien kecelakaan tadi? "
Lamunan Kahi seketika buyar saat seorang perawat menghampirinya dan bertanya padanya.
" ah iya sus, gimana kondisinya? "
" pasien sudah berada dii ruang perawatan, bu. Sekarang anda harus mengurus ke bagian pendaftaran terlebih dulu, bu. Nanti saya akan mengantarkan anda ke ruang perawatan pasien" jelas sang perawat.
"baik sus"
***
Ceklek
Seorang dokter wanita paruhbaya keluar di ikuti seorang dokter pria lainnya yang terlihat lebih muda.
"anda wali pasien? " tanya dokter yang lebih tua bernama Mira
" baik ibu, sekarang pasien dalam kondisi tertidur efek dari obat biusnya. Semua sudah kami tangani, untuk saat ini pasien juga dalam kondisi sudah lewat masa kritisnya. Jadi anda tidak perlu khawatir. Seharusnya beliau masih berada di ruangan HCU, tapi melihat perkembangan beliau kami memutuskan untuk memindahkan ke ruangan perawatan. Sejam sekali kami akan mengontrol perkembangan pasien, ada pertanyaan ibu" jelas dokter Mira
"tidak ada dokter, terimakasih banyak" ujar Kahi sopan
"iya ibu, sama-sama. Kami permisi ibu" kata dokter itu sembari menepuk lengan kahi pelan.
"iya dokter"
Usai para dokter pergi, Kahi perlahan membuka pintu ruang perawatan. Berjalan dengan pelan menuju tempat tidur pasien, berusaha sepelan mungkin agar tidak mengganggu tidur orang itu.
Suara monitor detak jantung dan tabung oksigen terdengar dari arah pintu, perlahan jarak Kahi dan tempat tidur hanya terhalangi tirai yang sengaja di tutup untuk membatasi pasien dan tamu.
Kahi menyibak tirai dengan pelan, lalu memutar perlahan kepalanya untuk melihat orang yang terbaring lemah di ranjang pasien.
__ADS_1
Brukk
Bagaimana perasaanmu saat melihat orang yang kamu kenal sekarang sedang terbaring lemah setelah berjuang dalam hidup dan mati.
Kahi terduduk di lantai sebelah ranjang, dia menggelengkan kepala cepat demi apa yang dia lihat tadi. Menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara isak tangusnya tak terdengar oleh orang yang sedang tertidur itu. Perlahan dia bangkit dari duduknya, lalu dengan pelan dia keluar dari ruang perawat.
Setelah menutup pintu tanpa menimbulkan suara, Kahi meraih ujung kursi tunggu dan mendudukan dirinya perlahan. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, kemudian menghubungi seseorang.
"abang, aku sekarang di RS X... " Kahi langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Sekarang sudah jam 4 pagi, dia bersyukur abangnya punya kebiasaan tidur yang pasti bangun hanya dengan mendengar suara dering telepon.
Usai melakukan panggilan singkat dengan sang kakak, Kahi masih terdiam di tempat nya. Beberapa kali menarik nafas dan menahannya agar matanya tak menumpahkan air yang sejak tadi berusaha ditahannya.
Menunduk dalam untuk menyembunyikan air mata yang sudah tak bisa lagi di tahannya, meremas ponsel dengan kedua tangannya untuk menyalurkan emosi yang sudah tak tertahankan.
*Drrrttt Drrrttt
"kamu di mana" ujar Juan di seberang telepon*.
"kamar VIP no 52 lantai 5"
Tuuut tuuut
Kali ini yang mengakhiri panggilan Juan terlebih dulu, Kahi kembali menunduk untuk menghapus cairan yang keluar bebas dari matanya.
Derap langkah seseorang dari arah pintu Lift yang terbuka, mampu mengalihkan pandangan mata Kahi. Dia berdiri untuk kemudian menghambur dalam pelukan pris yang memiliki kemiripan wajah dengannya.
Bahunya bergetar hebat, Kahi menangis di pelukan Juan. Setelah dari tadi dia mencoba untuk terus tegar, nyatanya dia tak akan mampu terus kuat jika sudah dalam pelukan kakaknya.
"ayo duduk dulu, nanti lama lama abang kejengkang"
"iiissh" kahi memukul dada sang kakak gemas.
"ayo duduk dulu, ceritain." Juan menarik Kahi pelan ke arah kursi tunggu.
"sini (menepuk dada sebelah kiri) lanjutin nangisnya"
"abang ih, "
"ya udah ayo cerita, siapa yang di dalam. Kenapa kamu bisa nangis gini? Nih"
Juan menyodorkan botol minum yang sengaja dia bawa dari rumah untuk Kahi. Yang langsung di sambar oleh sang adik.
"udah tenang? Sekarang ayo cerita " ujar Juan sembari menerima botol minuman yang disodorka oleh Kahi.
" dia kecelakaan di depan Kafe tadi, trus aku lihat dia keluar dari mobil yang sudah ancur bagian depannya. Pas aku turun mau nolongin tapi ambulans nggak lama dateng, terus dia di angkat ke ambulans tapi anehnya orang itu juga narik tangan aku. Jadi petugasnya minta aku ikut juga, tadi perawat minta aku buat ke ruangan perawatan buat lihat kondisinya, tapi pas masuk."
"dia, hiks...
__ADS_1
Karena Kahi kembali menangis, Juan kemudian menariknya ke dalam pelukan untuk menenangkan sang adik.