
"ha ha ha" Haki tertawa terbahak saat melihat wajah Kahi yang sangat aneh. Dia memainkan tangannya yang sedang menangkup pipi Kahi. Hingga bibir juga pipi Kahi yang maju terlihat sangatlah lucu.
"hahaha, kamu benar-benar menggemaskan" katanya dengan riang. "apa sih, lepas" Kahi menggerakkan kepalanya, agar dia melepas kepala Kahi.
"oh iya, gimana kabar Lia" tanyanya saat Kahi sudah berhasil melepaskan diri. "baik, dia baru melahirkan anak kedua. Bayinya sangat cantik, mirip mamanya" kata Kahi dengan gemas.
"kamu tidak ingin memiliki bayi" celetuk Haki cepat. Dia bahkan sudah kembali fokus pada ponselnya. Kahi menoleh, tapi kemudian kembali melihat ke arah depan. "kamu sendiri, tidak mau punya bayi" Kahi membenarkan posisi duduknya. Lalu tangannya meraih remot yang sempat dia lempar ke sofa.
"siapa yang bilang aku tidak mau punya bayi, setidaknya aku harus mencari calon ibu untuk bayiku nanti" ujar Haki tanpa melihat ke arahnya.
Dia menoleh dengan cepat, kedua matanya bahkan sudah membulat. "kamu masih mencari, jadi aku belum masuk kriteria calon ibu untuk bayimu nanti" katanya dengan keras.
"siapa yang bilang" Haki ikut menoleh. Menatapnya dengan senyum di bibirnya. "kamu tadi bilang mau cari calon ibu untuk bayimu kan" rengeknya seperti anak kecil.
Tangan Haki terangkat, untuk mengelus pucuk kepalanya. "kamu mau jadi ibu calon bayiku nanti" kata Haki dengan nada lembut. Yang berhasil membuatnya tak bisa mengendalikan dirinya. Kahi mengangguk dua kali, dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
"ha ha ha, lihat. Kamu benar-benar ya" Haki mengacak rambutnya gemas. "eh tunggu dulu, bukannya berarti kamu ngelamar aku ya" tawa Haki jadi semakin keras saat dia dengan wajah polosnya, baru menyadari ucapan dari Haki tadi.
*
Kabar jika sang adik sudah bertemu dengan Haki, sudah terdengar oleh Juan. Dia sengaja mengirim orang untuk mengawasi sang adik. Yang ternyata dengan cepat kabar itu dia dengar.
"apa sudah ada kabar dari Kahi, mas" suara Lia membuatnya dengan cepat mematikan sambungan teleponnya.
"sudah, dia sudah sampai di rumah yang aku siapkan" jawabnya cepat sementara tangannya sibuk meletakkan ponselnya di atas nakas.
"syukurlah, terus dia sudah ketemu Haki" tanya Lia lagi. Juan hanya menggeleng, enggan memberitahukan sebenarnya pada sang istri.
__ADS_1
"semoga mereka cepat bertemu, aku sudah tak sabar ingin melihat mereka menikah" ujar Lia senang sembari berjalan menjauhi dirinya.
*
"maaf ya, aku harus bertemu klien penting. Tapi kalau kamu mau ikut juga bisa" ia dengan cepat menggeleng, "aku nggak mau kamu jadi nggak fokus kalau aku ikut. Gih buruan berangkat, nanti kliennya marah lagi" katanya dengan tangan mendorong punggung Haki.
"ya sudah, aku pergi ya" kata Haki di ambang pintu rumahnya. Dia tersenyum pada Haki yang juga sedang tersenyum padanya. "hati hati di jalan" lambaian tangannya mengiringi kepergian Haki memasuki mobilnya. Dan Kemudian mobil melaju meninggalkan halaman rumahnya.
Sementara dia sendiri memilih masuk kembali ke dalam rumah. Melanjutkan membereskan rumahnya, lalu memeriksa email laporan keuangan kafe dari Ria.
**
Malam harinya
Dor dor dor
Tapi saat pintu sudah dibuka, tak ada seorangpun di depan pintu. Kahi mencoba untuk melihat ke sekeliling. Tapi nihil, tak ada siapa pun. "siapa sih, apa iya orang iseng" katanya.
Kahi kembali menutup pintu rumah, lalu menguncinya. Tak ingin ada hal buruk yang terjadi padanya, karena tak mengunci pintu rumah. Dia menuju dapur untuk mengambil air putih, lalu kembali menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Tapi saat sampai di depan pintu kamarnya, dia merasa ada yang aneh. Tirai di jendela yang bergoyang, menandakan jika jendela terbuka. Padahal ia tak membuka jendela tadi. Dengan perlahan Kahi masuk ke kamarnya, matanya melihat ke sekeliling kamar. Juga telinga yang dia pasang dengan jeli untuk mendengar suara sekecil apapun.
Tuhan tolong lindungi saya, dia terus mengatakan itu di dalam hatinya. Dia kini sudah sampai di depan jendela, tangannya terangkat untuk menyibak tirai. Sampai saat tiba-tiba tangan besar menutup mulutnya. Kahi menjerit dengan mulut yang tertutup tangan.
"aagggrrh" Kahi terus menggerakkan tangan juga kakinya. Tangan yang besar satu lagi menahan tubuhnya. Karena tak punya pilihan lain, ia akhirnya menggigit tangan yang sedang membungkam mulutnya. "aaaggggrrrh, dasar wanita murahan. Sialan lu ya" kata lelaki itu dengan kasar.
Setelah lepas dari cengkraman orang tadi, Kahi berusaha untuk cepat turun dari lantai dua. Sialnya lelaki bertubuh besar itu mencoba mengikutinya. Dia berteriak, meminta pertolongan pada siapapun. Sebelum dia kembali tertangkap, Kahi mencari tempat untuk bersembunyi.
__ADS_1
Sementara itu Haki yang baru memarkirkan mobilnya di depan rumah Kahi. Mendengar teriakan dari dalam rumah Kahi. Dengan panik dia menggedor pintu rumah yang terkunci rapat itu. "Kahi, kamu di dalam" dia terus memanggil nama wanita itu. Berharap Kahi bisa mendengar suaranya.
"tolong, tolong" justru dia yang mendengar suara teriakan dari Kahi yang semakin mendekat. Dengan satu kali tendangan dia bisa mendobrak pintu. "Kahi, kamu di mana" dia kembali berteriak, memanggil Kahi sambil menaiki anak tangga.
Tak sampai setengah naik tangga, dia terkejut mendapati seorang lelaki bertubuh besar. Sedang berdiri di ujung tangga. Tanpa mengatakan apapun, Haki mengejar lelaki itu. Hingga ke kamar tidur Kahi.
Memukul juga membanting tubuh yang lebih besar darinya. Setelah melumpuhkan lelaki itu, Haki mengikat kedua tangannya pada kaki ranjang. Kemudian dia kembali mencari
di mana keberadaan Kahi. "Kahi, kamu di mana"
"Kahi, ini aku. Kamu di mana. Kahi" Haki mencari ke dalam dapur. Dan akhirnya menemukan wanita itu sedang terduduk di pojok ruangan dapur.
"Kahi, tenanglah. Aku di sini" ujarnya dengan lembut. Dia membawa tubuh yang bergetar itu ke dalam pelukkannya. "ssshhh, sudah. Aku ada di sini" katanya lagi sambil membelai rambut panjang Kahi.
*
Tiga orang polisi datang untuk membawa lelaki yang sudah masuk ke rumah Kahi tanpa izin tadi . Setelah memberi keterangan pada polisi yang datang, Kahi mendadak jadi takut. Dia terus menempel pada lengan Haki.
"hmm, kamu menginap di hotel saja ya. Pintu rumahmu rusak" kata Haki sambil menunjuk pintu yang terbuka lebar. Dia menggeleng, "aku boleh menginap di rumahmu" katanya dengan wajah sendu. "apa, di rumahku" Kahi mengangguk lemas.
Tanpa menunggu Haki menyelesaikan perkataannya. Kahi berjalan dengan cepat ke arah mobil. "tapi, kamu dan aku. Ya baiklah" ujar Haki pasrah, saat Kahi sudah masuk ke dalam mobilnya.
*
Kahi tak membutuhkan waktu lama untuk langsung tertidur dengan nyenyak di atas ranjang miliknya. Sedangkan dia harus rela tidur di sofa, demi sang wanita. Tapi yang terjadi dia justru tak bisa memejamkan kedua matanya. Haki mendengus kesal sembari menendang selimut yang menutupi separuh kakinya.
"bagaimana wanita itu bisa tidur dengan nyenyak di rumah seorang lelaki. Hah, aku ini seorang lelaki normal" gerutunya saat melihat ke atas ranjang miliknya.
__ADS_1
Dia kembali mencoba memejamkan kedua matanya. Cukup berhasil untuk saat ini. Dia tertidur dengan mudah sekarang. Hingga saat tengah malam, tiba-tiba dia berpindah ke ranjang. Karena merasakan posisi tidurnya yang tak nyaman.