
Haki berdiri dengan mantap di depan rumah mewah Juan. Sementara Kahi masih duduk di mobil, dengan jaket besar milik Haki. Wanita itu terlihat semakin kecil, berkat jaket milik Haki. Kahi yang sejak tadi terus menangis. Menolak niat baiknya yang akan mengantarnya pulang, Kahi memaksa agar dia terus bersama dengannya.
Haki menekan bel rumah Juan beberapa kali, hingga pemilik rumah itu datang dengan wajah tak bersahabat. "Kahi ada di mobil, bang" dengan cepat Juan berjalan melewati dirinya yang masih berdiri di depan gerbang.
"ayo turun" dengan sekali tarik tubuh kecil Kahi jatuh ditubuh Juan. "abang" Kahi mencoba melepas cengkraman tangan Juan. Sementara Haki hanya membiarkan Juan menarik Kahi hingga masuk ke dalam rumahnya. Dia tidak memiliki hak untuk mencegah Juan melakukan itu.
"maaf Hi, aku pergi" setelah mereka menghilang di balik pintu, dia berbalik lalu berjalan ke arah mobil tadi. Kembali duduk di kursi belakang, membiarkan supir taksi oline membawanya pergi. Untuk pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah yang dia bangun dengan semua usahanya selama ini. Rumah yang dia siapkan untuk wanita yang dia cintai. Tapi harapannya benar-benar sudah selesai. Tak lagi bisa diperbaiki. Haki memijat keningnya, merasakan pusing di kepalanya. Setelah kini dia sudah benar-benar bebas dari tuntutan Juan. Dia berencana untuk menjauh dari kehidupan Kahi.
**
Sudah lebih dari seminggu Kahi tak bisa keluar rumah, hidupnya seperti terkurung. Dia bahkan dibatasi hanya bisa melakukan komunikasi dengan para karyawannya saja.
Tapi entah kenapa tiba-tiba hari ini Juan mengizinkan dirinya keluar rumah. Melakukan aktivitas seperti biasa, tanpa kawalan dari orang suruhannya.
Kahi sontak berlari keluar rumah, masih dengan piyama tidurnya dia menuju rumah Haki. Yang tak jauh dari rumah kakaknya. Dia menggedor gerbang, juga menekan bel berkali-kali, tapi tak seorang pun keluar untuk menemuinya.
"Haki, ini aku. Ayo keluar" dia terus saja berteriak memanggil nama lelaki pemilik rumah. Tapi tetap saja tidak ada yang menyahutinya. "mba, mas polisinya sudah pindah" teriakan seseorang membuat Kahi menoleh ke arah orang itu.
"pindah, kapan ya pak" tanyanya pada seorang lelaki paruhbaya yang sedang berjalan ke arahnya. "sudah dua hari yang lalu, rumah ini juga mau di jual mba" lelaki itu menunjuk tulisan besar di sudut pagar. Sedikit nyeri di dadanya mengetahui jika Haki menghindarinya.
"bapak tahu pindahnya ke mana" lelaki itu menggeleng. "saya kurang tahu, mba. Mas polisinya pindah juga buru-buru" jawabnya.
__ADS_1
"ya sudah pak, terimakasih. Saya pulang dulu" meski dengan kecewa, setidaknya Kahi sudah tahu jika lelaki itu tak lagi tinggal di rumah itu.
Dia kembali masuk ke dalam kamarnya, mengambil tas juga ponselnya. Dengan cepat berlari lagi menuruni anak tangga. Tanpa berpamitan pada orang yang ada di rumah. Kahi pergi menuju halte terdekat. Duduk di antara sesaknya penumpang bus pagi itu.
**
Sekali lagi dia harus kecewa, harapan terakhirnya hanya pada lelaki ceking di depannya. Yang sedang memasang wajah bingung. "dia pindah, kenapa" Kahi menggeleng, lalu memilih berbalik. Meninggalkan Ikal yang masih tampak bingung juga cemas.
"kamu mau ke mana" Ikal menyalip langkah Kahi. "saya mau nyari, Haki. Pak" katanya pelan.
"kamu tahu harus nyari ke mana. Atau kamu tahu di mana keluarganya" tanya Ikal.
"saya nggak ingat apapun tentang Haki, saya cuma tahu kami pernah saling mencintai dulu. Bahkan mungkin sekarang, saya masih mencintainya. Tapi bodohnya saya, saya kehilangan semua ingatan saya" suara Kahi terdengar parau dan serak.
Di sepanjang perjalanan, dia hanya terdiam. Pandangannya lurus keluar jendela bus. Sedangkan matanya tak henti mengeluarkan air mata, sesekali dia akan menyeka air matanya. Tapi kemudian dia terus saja menangis.
Sampai di depan kafe miliknya yang masih tutup pun, Kahi masih saja menangis tanpa suara. Tangannya sibuk membuka pintu kafe, tapi matanya seperti tak fokus. Usahanya untuk membuka pintu yang biasanya mudah, entah kenapa jadi semakin susah.
Dia seperti tak memiliki kekuatan, tubuhnya jatuh terduduk tepat di depan pintu kafe. Untunglah tak ada yang melihatnya dalam kondisi seperti itu. Dia benar-benar sangat kacau. Dengan tertatih Kahi kembali bangkit, lalu tangannya sibuk mencari kunci di dalam tasnya.
Lagi lagi, entah dia sudah beberapa kali menggerutu. Kunci kafe yang biasanya akan mudah dia temukan, sekarang seperti sedang mencari jarum dalam tumpukan jerami. Seperti mustahil.
Kesal, Kahi melempar tas selempangnya sembarang ke arah pintu. Hingga membuat isi dalam tas berhamburan. Sementara dirinya kembali terduduk di depan pintu kafe. Tangannya meremas baju di bagian dada kirinya. Mata yang tadi sempat kering, sekarang kembali berair.
__ADS_1
"Kahi, lu ngapain di sini" Ria turun dari motor, lalu datang berlarian. Bersama sang suami yang juga ikut turun. Kahi mendongak, menatap sang sahabat juga chef di kafenya itu dengan berurai air mata.
"ayo kita masuk dulu" dibantu oleh Ria yang memapahnya untuk berdiri. Sedangkan suami Ria membuka pintu kafe dengan kunci cadangan milik Ria. Akhirnya Kahi bisa masuk ke dalam kafe dengan sedikit drama.
"Ri, aku langsung berangkat ya" Ria mengangguk mengiringi kepergian sang suami. Setelah suaminya pergi, Ria langsung mengambil air untuk Kahi.
*
"ada apa, kenapa kamu bisa sehancur ini. Kamu bahkan masih pake piyama tidur" Ria menunjuk baju yang dia pakai. Mengikuti arah telunjuk Ria, dia pun melihat baju yang dia pakai. "aku lupa, Ri. Aku belum mandi" mendengar ucapan Kahi, Ria sontak menutup hidungnya.
"haaahh" Kahi membuka mulutnya, lalu mengarahkan nafasnya ke arah Ria . Yang langsung mendapat balasan pukulan dari Ria di lengannya. "jorok, sana mandi dulu" tangan Ria mendorong punggungnya. Hingga dia setengah berdiri dari duduknya tadi.
"haaaah" sekali lagi Kahi menghadiahi sahabatnya dengan nafas, yang membuat Ria dengan geram memukul bahunya.
"dari tadi nangis, sekarang malah iseng. Mood lu cepat banget berubahnya" ujar Ria.
"sorry, aku lagi butuh hiburan" kata Kahi cuek. Dia lekas beranjak ke lantai tiga. "orang aneh" teriakan dari Ria bahkan tak menghentikan langkahnya, untuk membalas cacian dari Ria.
Dia sangat lelah, setelah menangis tadi. Sepertinya dia memang butuh hiburan, atau lebih tepatnya butuh liburan. Kahi mendudukan dirinya di sofa, tangannya menyentuh sofa itu pelan. Dia teringat terakhir kali mereka berdua tertidur bersama di sofa ini.
Tak terasa matanya kembali memanas, dan tidak lagi bisa menahan air mata yang sudah terkumpul. Dia kembali menangis, kali ini dengan isak tangis yang tak lagi bisa ditahan. Beberapa kali Kahi harus menutup mulutnya, mencegah suara tangisnya agar tak keluar.
Tapi usahanya sia-sia, satu tangannya memukul pelan dadanya. Dia merasakan sakit yang sangat di bagian itu. Entahlah cinta seperti apa yang ditinggalkan Haki untuknya. Sampai dia bisa seperti ini. Bahkan dengan Gemma pun dia tak seperti ini.
__ADS_1
Sementara itu, Ria menurunkan tangannya. Tadinya dia akan mengetuk pintu ruangan Kahi. Tapi setelah mendengar suara tangis dari sahabatnya, dia mengurungkan niatnya. Ria berbalik, sedikit tak yakin meninggalkan Kahi sendirian. Tapi kemudian dia tetap turun untuk kembali ke ruangannya sendiri. Meninggalkan Kahi yang sedang menangis dengan sangat menyedihkan seorang diri.