Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
51.


__ADS_3

Haki duduk di lantai sambil memandangi gaun pernikahan milik Kahi yang terpasang di patung peraga. Ini harusnya menjadi hari pernikahan mereka, jika saja dia tidak mengecewakan wanita itu lagi.


Ceklek


Karin yang berdiri di ambang pintu kamarnya, hanya menghela nafasnya panjang. Dia selalu menolak untuk makan juga berangkat ke kantor. Jadilah kakak sepupunya yang harus mengurus semua urusan kantor juga hotel Haki.


"mau sampai kapan lu begini terus, Ki. Hotel sama kantor butuh lu. Ini sudah lima hari, Ki. Kalau lu nggak mau ke kantor, setidaknya lu harus makan. Jangan siksa diri lu sendiri, Ki" Karin mencoba mengajaknya untuk berbicara.


Tapi meski Karin sudah berusaha membujuk dirinya, dia tidak ingin beranjak dari kamar tidurnya. "Ki, lu makan dulu ya" Karin meraih semangkuk bubur di atas nakas. Lalu menyendokkan bubur untuknya.


"gue nggak lapar, Rin. Gue harus minta maaf sama dia, gue nggak bisa hidup tanpa Kahi, Rin" Haki terus bergumam mengatakan kata-kata yang sama berulang ulang.


"lu boleh ketemu dia, tapi sekarang lu harus makan. Kalau dia tahu kondisi lu yang kaya gini. Dia justru akan semakin membenci lu, Ki" Karin yang sudah tak bisa lagi menahan rasa kesalnya, berteriak di depan sang adik sepupu.


Usai mengatakannya Karin keluar kamar Haki dengan mata yang berair. Dia dengan cepat kembali menuju ke hotel. Memberikan tugas pada masing-masing manager, lalu pergi lagi dengan mengendarai mobilnya.


*


Lain halnya dengan Kahi yang justru terlihat baik-baik saja sekarang. Bahkan Lia dan Juan sempat heran dengan perubahan dari sang adik.


Dia menjadi wanita yang gila kerja, selalu bekerja di kafe dari pagi hingga larut malam. Seolah ingin mengubur rasa sakitnya dengan sibuk bekerja. Lia yang penasaran pun dibuat bingung, bagaimana Kahi bisa cepat melupakan masalahnya. Tak seperti dua tahun yang lalu, saat Haki meninggalkan dirinya.


"kamu yang dia baik-baik saja, mas. Aku khawatir sama Kahi" tanyanya pada sang suami yang baru pulang dari rumah sakit. "untuk sementara kita jangan menanyakan hal itu padanya. Dia sudah cukup terluka. Kalau kita terus mengkhawatirkan dia, justru Kahi semakin tenggelam dalam lautan luka" jawab Juan sembari mendudukan dirinya di tepi ranjang.


"ya sudah kalau begitu. Aku siapin makan malam dulu ya" Juan mengangguk mengiyakan ucapan sang istri. Setelah Lia keluar kamar, justru sekarang dia yang memikirkan sang adik. Ini sudah pukul tujuh malam, tapi Kahi belum pulang ke rumah.


**

__ADS_1


Hari demi hari berganti dengan minggu. Ini sudah minggu ke empat setelah kejadian yang sangat mengecewakan untuk dirinya. Sejujurnya dia belum melupakan lelaki itu, hanya saja dia tak ingin mengingat rasa sakit itu lagi.


Pagi ini tak seperti pagi biasanya, dia yang selalu bangun pagi. Kali ini enggan beranjak dari tempat tidur. Bahkan sampai pukul tujuh pagi, dia masih bergelung di dalam selimut.


Dia memaksakan bangun dari tempat tidur, karena rasa lapar yang tiba-tiba. "aku lapar sekali" katanya dengan tangan yang sedang mengelus perutnya. Kahi berjalan pelan menuruni anak tangga menuju dapur.


"selamat pagi semuanya" sapanya pada penghuni rumah yang sedang sarapan pagi. "selamat pagi" jawab mereka bersamaan.


"kok tumben, hari ini kamu bangun telat" tanya Lia sembari menyuapi anak pertamanya. "entahlah, mungkin karena terlalu lelah" sahutnya kemudian.


"hmmm, pancakenya enak banget. Boleh kehabiskan" dia menunjuk piring berisi pancake. Lia dan Juan mengangguk dengan bingung. "yey, pancake selamat datang ke dalam mulutku" katanya dengan senang.


Lia menatap sang suami, meminta jawaban dari sikap aneh sang adik. Sementara Juan hanya mengedikkan kedua bahunya.


Usai melahap habis pancake, Kahi merasakan perutnya mual. Dengan perlahan dia beranjak ke kamarnya lagi, menahan agar tak memuntahkan isi perutnya di depan orang yang sedang sarapan. Setelah sampai di dalam kamar, dia sudah tidak lagi bisa menahan rasa mual di perutnya.


Hoek hoek


"sepertinya aku terlalu banyak makan pancake. Sekarang perutku jadi sakit" dia menekan pelan perutnya, lalu dengan berhati-hati dia berjalan kembali ke tempat tidur. Dan merebahkan tubuhnya yang mulai merasakan lelah berlebihan.


*


Kondisi mual Kahi semakin parah setiap pagi. Tapi kemudian menghilang setelah menjelang siang hari. Dia hanya berpikir mungkin karena rasa lelahnya yang membuat perutnya selalu mual di pagi hari.


Tapi hari ini rasanya dia sangat lelah, juga mual yang tak hilang membuatnya harus berbaring terus di ruang kerjanya. "lu yakin nggak mau ke dokter" tanya Ria saat memeriksa kondisi kahi.


Kahi menggeleng pelan, dia berusaha untuk duduk. Lalu tangannya meraih gelas kaca berisi coklat panas. "aku cuma butuh istirahat kok, nanti juga baikkan" katanya setelah meneguk sedikit coklat panas.

__ADS_1


"tapi bukannya sudah dari pagi ya, lu sakit perut" Kahi mengangguk sekali. "coba deh periksa ke dokter, siapa tahu parah Hi" nasihat Ria untuknya.


"hmm, nanti deh. Aku mau istirahat dulu" Kahi kembali berbaring. "ya sudah, gue balik ke pantry ya. Kalau perlu apa apa bilang sama gue" pamit Ria. Kahi hanya melambai pelan, mengiringi kepergian Ria. Dia kembali berusaha untuk memejam kedua matanya, rasanya Kahi benar-benar sangat lelah.


*


Esok harinya, pagi sekali Kahi sudah mual mual. Bolak balik ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan cairan kuning. Hingga membuatnya mengerutkan keningnya. Rasa pahit bercampur perih di tenggorokannya sangat menyiksa dirinya.


Tangannya tidak sengaja menyenggol kalender meja di atas nakas sebelah pintu kamar mandi. Dia berjongkok untuk mengambil kalender itu. Kemudian sekilas dia melihat tanggal yang bersilang spidol merah.


Bukannya harus aku sudah datang bulan minggu lalu ya. Berarti terlambat satu minggu.


Kahi kembali meletakkan kalender di atas nakas. Lalu dia berjalan ke tempat tidur untuk melanjutkan merebahkan tubuhnya.


Tapi sialnya gara gara kalender itu, Kahi tak jadi memejamkan matanya. Dia mengingat kembali malam di rumah itu. Apa kami melakukannya tanpa pengaman, dia terus mengingat kejadian malam itu. "nggak mungkin kan, aku harus pastikan ini" katanya pada diri sendiri.


*


Malam harinya setelah pulang dari kafe, dia singgah sebentar di apotek tak jauh dari kafenya. Meski sempat mengurungkan niatnya untuk membeli alat tes kehamilan. Tapi dia ingin memastikan dugaannya salah. Jadi setelah sepuluh menit berdiam diri di dalam mobil yang disupiri pak Urip. Dia memutuskan untuk keluar dari mobil itu.


Dengan memakai masker untuk menutupi wajahnya, agar tak ada orang yang mengenalinya. Akhirnya dia berhasil mendapatkan apa yang dia mau. Lalu kembali masuk ke dalam mobil.


Esok paginya, dia mencoba alat itu sesuai instruksi pemakaiannya.


Tangannya bergetar hebat saat melihat alat yang dia celupkan ke dalam wadah kecil berisi urine. Tak sampai dua puluh detik, Kahi menutup mulutnya dengan satu tangan. Alat di tangannya terlepas, lalu jatuh ke lantai.


Tak lama Kahi juga terisak pelan, dengan satu tangannya lagi mengelus perut datarnya. "aku hamil" katanya dengan terisak.

__ADS_1


__ADS_2