Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
29.


__ADS_3

Semua lampu penerangan di kafenya sudah dimatikan. Para karyawannya pun sudah pulang. Tinggal Kahi seorang diri yang masih menunggu mobil jemputannya. Tapi sudah setengah jam dia menunggu, mobil jemputannya belum juga datang.


Dia melirik ke dinding, jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam. Tangannya sibuk mengetik di layar ponselnya, menekan tombol panggil pada nama Juan. Hanya nada dering yang menyambut, tak hilang akal dia kembali memainkan jemarinya. Menemukan kontak ponsel Lia, lalu menekan tanda panggil.


"hallo"


"mba, pak Urip udah jalan jemput aku belum"


"aduh, mas Juan nggak ngabarin kamu. Pak Urip hari ini izin pulang cepet. Terus kamu masih di kafe, pesan taksi online aja. Hi"


"ya sudah, aku pesan taksi online aja. Bye"


Tut tut


Dia mematikan sambungan teleponnya. Lalu dengan cepat meraih tas selempang miliknya.


Menuruni anak tangga dengan berhati-hati, matanya fokus pada layar aplikasi di ponselnya. Setelah keluar kafe dia mengunci pintu besar itu. Memasukkan kembali kunci ke dalam tasnya.


Berjalan pelan menuju sisi jalan di depan kafe. Menunggu sendirian di tengah gelapnya malam itu. Hanya penerangan dari lampu jalanan dan juga lampu mobil yang berlalu lalang. Tak menyurutkan keberaniannya meski dia hanya seorang wanita. Hampir belasan menit tapi taksi online pesanannya belum juga datang.


Berulang kali menghubungi driver taksi online, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan beberapa meter ke arah jalan raya. Mungkin saja bus masih lewat di jam segini.


Beruntung saat Kahi sampai di halte, dia tidak tertinggal bus. Untungnya juga masih banyak orang yang naik di bus yang sama.


Dalam perjalanan berulang kali Lia mengirim pesan, menanyakan di mana keberadaannya. Kahi sudah terlalu lelah untuk sekedar mengetik balasan untuk Lia. Jadi dia hanya menunggu sampai kakak iparnya itu menghubungi dirinya.


Tepat saat bus berhenti di lampu merah, Lia menghubunginya.


"kamu sudah pesan taksi online, kamu di mana. Masih di kafe ya"


"aku di bus, jangan khawatir mba. Udah dulu ya, bye"


"Hi, kamu"


Tut tut tuut*

__ADS_1


Dia kembali mematikan sambungan teleponnya, lalu meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya. Dia membuang pandangannya sembarang. Melihat masih banyak mobil di luar sana di saat malam semakin larut.


Mobil bus kembali berjalan, menembus jalanan malam yang masih ramai. Dia masih memandang ke luar jendela. Sesekali bus berhenti di setiap halte, menurunkan penumpang. Kemudian matanya menangkap sesuatu yang sangat dia kenali.


Dia mengenali lelaki yang mengenakan setelan kaos lengan panjang berwarna hitam dan celana panjang berwarna senada. Meski mengenakan topi untuk menyembunyikan wajahnya, tapi Kahi mengetahuinya hanya karena sedikit wajahnya yang terlihat.


Sebelum bus melaju kembali, dia dengan cepat keluar. Melangkah pelan menuju lelaki yang masih terduduk, dia berdiri tepat di depan lelaki yang masih menunduk itu.


Ujung sepatu mereka bertemu, membuat lelaki itu akhirnya mendongak. Menatap wajahnya di balik ujung topi yang menutupi wajah lelaki itu.


Kahi melangkah mendekat, meraih lelaki itu ke dalam pelukkannya. Tidak ada respon dari lelaki yang sangat ingin dia temui. Lelaki yang sudah berhasil merebut seluruh dunianya.


Dia memeluk leher Gemma dengan erat, seakan tidak ingin melepas lelaki itu. Gemma mengangkat tangannya pelan. Lalu kedua tangannya melingkar di pinggang ramping milik kahi. Dia membenamkan wajahnya pada perut Kahi. Membalas pelukan hangat wanita yang amat dicintainya dengan erat.


*


Mereka kini duduk berdua di restoran dekat dengan halte tadi. Tidak ada yang memulai berbicara, mereka hanya saling memandang. Seperti menumpahkan semua kerinduan pada pemilik hatinya.


Dua gelas besar coklat panas sudah berunah menjadi hangat, sejak mereka memilih tidak menyentuhnya. Lebih memilih untuk menikmati pemandangan yang sudah lama tidak mereka lihat.


Air mata jatuh membasahi kedua pipinya, Kahi sudah tidak bisa menahannya. Mengingat kembali ucapan sang kakak, tidak bisa membayangkan lelaki yang kini dicintainya akan melepas hubungan mereka.


"jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis" kata Gemma lirih. Kahi menunduk membiarkan air matanya jatuh bebas. Dia menarik pelan tangan Gemma dari pipinya. Lalu meletakkan tangan itu di atas meja. Dia juga menarik tangannya dari atas punggung tangan Gemma.


"Juan sudah memberitahumu, aku serius akan melepasmu" Ujar Gemma lagi. Dia menggeleng pelan lalu mendongak melihat ke depannya. Lelaki yang juga menatapnya sendu itu, sedang menahan untuk tidak memelukknya.


"haruskah kita berpisah. Kamu bisa melanjutkan kuliahmu. Aku akan baik-baik saja di sini. Menunggumu kembali, mas" kata Kahi lirih.


"aku akan menetap di sana, lalu menikah di sana. Dan tidak akan kembali ke sini" jawab Gemma cepat. Dia tersenyum tipis pada Kahi. Meyakinkan jika dia akan baik-baik saja.


"kalau begitu bawa aku bersamamu. Aku akan menemanimu, mas. Menjadi istri dan juga ibu dari anak anakmu. Jangan tinggalkan aku" Kahi sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Terlalu berat melepas lelaki yang sangat dicintainya.


Gemma bangkit dari duduknya, lalu meraih sesuatu di dalam saku celana belakang. Dia mengambil dompet, meraih selembar uang pecahan ratusan. Lalu meletakkan di atas meja, Gemma menatap lekat wanita yang masih menangis itu.


"aku tidak bisa menbawamu, aku juga tidak bisa menikahimu. Aku bukan orang baik yang bisa bersanding dengan wanita baik sepertimu. Aku melepasmu, mengakhiri hubungan ini. Tolong jangan tangisi perpisahan ini, hiduplah dengan bahagia" Kata Gemma dengan suara bergetar.

__ADS_1


"aku pergi, kamu harus hidup bahagia. Kahi" lelaki itu berbalik, lalu melangkah meninggalkan Kahi yang semakin terisak. Dia memukup pelan dadanya, terasa sesak. Sangat sesak, membuatnya susah untuk bernafas. Cukup lama dia menangis, sedangkan pelayan restoran itu tidak ada yang berani menenangkan perasaan hancurnya.


*


Gemma melangkah cepat ke arah tepi jalan, lalu menghentikan taksi tak jauh di depannya. Di dalam taksi dia menghubungi seseorang, cukup lama tidak ada tanda-tanda akan diterima panggilan darinya.


"hallo, siapa ini" tanya lelaki denga suara parau khas bangun tidur terdengar.


"cepat temui Kahi. Dia ada di restoran Bunga"


Jawab Gemma cepat.


"siapa ini, kenapa dia ada di restoran malam begini" suara orang di seberang telepon terdengar panik.


"Tolong jaga dia" kata Gemma lagi. Lalu dia mematikan panggilan.


**


Sebuah mobil berhenti dengan mendadak di jalan seberang sebuah restoran. Seseorang keluar dari mobil dengan tergesa, dia berlari dengan panik menuju restoran di depannya.


Suara langkah kaki memasuki restoran yang sudah sepi itu. Dia dengan panik melihat ke sekeliling ruangan restoran yang luas itu. Lalu matanya mengunci pada seseorang yang sedang menunduk. Dia berjalan mendekati wanita itu, semakin dekat dia bisa melihat bahu wanita itu bergetar.


Haki berhenti tepat di samping wanita itu, lalu dia berlutut di samping kaki Kahi. Membuat wanita itu melihat ke arahnya. Matanya sudah sangat sembab, mungkin karena sudah terlalu lama menangis.


"ayo pulang" satu tangannya menggenggam tangan Kahi. Wanita itu hanya memandangnya dengan sendu. Lalu satu tangannya lagi meraih tangan Kahi yang lainnya.


"ini sudah malam, nanti Lia dan abangmu khawatir. Ayo pulang ya" kata Haki lagi dengan nada lembut.


Kahi kembali menangis, kali ini dengan keras. Haki berbalik, membawa kedua tangan Kahi ke depan lehernya. Kemudian dengan sekali angkat, wanita mungil itu sudah berada di dalam gendongannya.


Saat dia menggendong Kahi di punggungnya, Haki tidak merasa keberatan. Pantas saja, wanita itu sangatlah kurus. Dia seperti tidak menggendong orang, tapi seperti membawa bantal.


Kepala Kahi terjatuh di pundaknya, tidak terdengar lagi isak tangis dari wanita itu. Kahi tertidur di punggungnya. Wanita itu tertidur di punggungnya dengan tak butuh waktu lama, Kahi sudah dia letakkan di kursi penumpang.


Dia menunduk lalu menatap wanita yang sedang terlelap di hadapannya. Tangannya terulur untuk menghapus bekas air mata di pipi Kahi. Satu tangannya lagi terulur untuk mengelus rambut Kahi yang masih pendek itu.

__ADS_1


"kamu pasti sangat lelah, sekarang kita pulang ya" katanya pelan. Haki menutup pintu mobil dengan hati-hati. Setelahnya dia berjalan ke arah lainnya. Membuka pintu mobil dengan pelan. Mendudukan dirinya di balik kemudi, lalu menutup pintu itu dengan pelan.


Seakan enggan membangungkan putri tidur di sampingnya.


__ADS_2