Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
39.


__ADS_3

"terima kasih pak", Kahi keluar dari kantor polisi dengan kecewa, usahanya untuk bertemu Haki gagal. Ternyata lelaki itu sedang berada di tempat lain. Menurut informasi dari orang yang Kahi temui, kemungkinan Haki akan kembali sore hari. Jadilah Kahi memutuskan untuk menunggu sebentar. Duduk di luar gedung, mencari tempat yang teduh. Menghindari terik matahari yang sangat panas.


Waktu sudah hampir sore hari, tapi yang ditunggu tak kunjung kembali. Dia hampir mati kebosanan menunggu berjam-jam. Kahi kembali masuk ke dalam gedung. Menanyakan kapan kembalinya Haki. Tapi sayangnya, lelaki itu tak akan kembali ke gedung ini sekarang.


Tak ada informasi yang bisa dia dapatkan, seolah mereka enggan memberitahu dirinya di mana lelaki itu. Dengan kecewa Kahi keluar gedung, melewati deretan mobil yang terparkir rapih. Lalu menuju halte terdekat, tujuannya sekarang adalah rumah. Bertemu sang abang yang sudah menyebabkan Haki berada di situasi sulit ini.


Sebelum sampai ke halte, sebuah mobil berhenti tepat di sisi jalan. Membuatnya menoleh singkat. Ikal keluar dengan cepat, menghadang dirinya agar tidak berjalan lagi.


Kahi menatap lelaki ceking itu bingung. "maaf, bisa kita bicara sebentar" Kahi mengernyitkan keningnya. Karena tak mengenal lelaki di depannya, dia kembali melangkahkan kakinya. "saya sahabat Haki, Baehaki Soebekti" ujar Ikal keras. Kahi menghentikan langkahnya, lalu berbalik berjalan kembali ke tempat Ikal berdiri.


"kita bicarakan di sana" Kahi menunjuk kursi besi tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ikal mengangguk, mengikuti langkah Kahi yang sudah berjalan terlebih dulu.


*


"jadi apa sebenarnya yang terjadi antara kalian berdua, Haki bilang kamu nggak akan bisa jadi saksi. Tapi menurut laporan, kamu korbannya. Nggak akan lama, pasti kamu akan dimintai keterangan" Ikal langsung bertanya saat mereka baru duduk.


Kahi memandang lurus ke depan. Pada jalanan yang penuh kendaraan berlalu lalang. Lalu menunduk, berpikir sebentar. Yang sebenarnya dia tak mengerti harus menceritakan bagian mana pada lelaki ceking ini. Dia tak ingat, bagaimana Haki melukainya pun dia tak ingat.


"saya tahu, Haki orang yang ambisius. Tapi untuk masalah ini, saya benar-benar tidak percaya dia melakukan hal itu" Ikal kembali menambahkan.


"maaf, tapi ingatan saya benar-benar hilang. Saya tidak tahu kebenaran yang sebenarnya" Kahi meremas tangannya. Sementara Ikal, lelaki ceking itu sedang mengacak rambutnya kasar. Masalah Haki benar-benar sangat sulit baginya. Tak bisa berbuat banyak, juga tak bisa membantu apapun untuk sahabatnya.


"apa anda bisa membantu saya" Ikal menoleh ke arahnya. "saya ingin bertemu Haki, saya harus bicarakan masalah ini" lanjut Kahi dengan wajah sendu. Ikal membuang pandangannya ke arah lain. Tak tega melihat wajah sendu Kahi.


Ikal merogoh sakunya, untuk mengambil ponselnya. "tunggu sebentar" katanya pada Kahi, lalu ia berjalan sedikit menjauh. Menghubungi salah seorang rekannya. Cukup lama Kahi harus menunggu. Dia hanya berharap lelaki itu bisa membantunya.

__ADS_1


*


Mereka berdua dalam perjalanan menuju tempat di mana Haki berada. Kahi tidak tahu ke mana dia akan dibawa. Dia hanya duduk berdiam diri, sibuk dengan pertanyaan di kepalanya. Pertanyaan yang akan dia katakan nanti, saat bertemu dengan lelaki itu.


Tak lama mobil Ikal berbelok ke pelataran gedung besar. Lebih besar dari gedung yang tadi dia datangi. "kamu tunggu di sini dulu, saya akan tanya ke dalam" Kahi mengangguk. Lalu Ikal beranjak masuk ke dalam gedung.


Sementara Kahi terus menatap ke pintu masuk, menunggu Ikal keluar mebawa berita bagus. Tepat sekitar sepuluh menit kemudian lelaki itu keluar. Menemuinya yang sudah membuka pintu mobil. "ayo, kamu cuma punya waktu 15 menit" ujar Ikal.


Mereka berjalan beriringan masuk ke dalm gedung. Melewati beberapa lantai untuk bertemu dengan Haki. Hingga sampai di lantai ke 6, Ikal memberi tahunya di mana tempat untuk bertemu Haki. Kahi mengangguk, lalu mendahului lelaki ceking itu. Dia masuk ke dalam ruangan tanpa papan nama.


"aku akan menunggu di luar" kata Ikal saat dirinya menoleh ke arah lelaki itu. Kahi melanjutkan langkahnya. Meraih gagang pintu, lalu memutarnya pelan. Dia masuk dengan hati-hati ke dalam ruangan itu.


Hal pertama yang dia lihat, adalah deretan kursi yang tertata rapi. Kemudian dia melihat ke sekeliling. Hingga menemukan lelaki yang sedang menatapnya dengan sendu di sudut ruangan. Kahi berdiam di tempatnya, saat kedua mata mereka bertemu.


Kahi mengangkat kedua tangannya, menyentuh punggung Haki. Menyusuri punggung Haki, menepuk pelan. Memberikan rasa nyaman pada lelaki itu. "maafkan aku" ujar Haki lirih di telinganya. Kahi mengeratkan tangannya. Membuat tubuhnya semakin menempel pada lelaki itu.


*


"apa yang abangmu katakan, semuanya benar. Aku melakukannya, malam itu. Saat otakku dipenuhi rasa cemburu. Saat aku tahu kamu milik lelaki lain. Aku melakukannya dengan kasar, menyentuhmu dengan kasar"


Kahi meremas ujung baju yang dia pakai, sesak rasanya saat mendengar Haki mengatakan yang sebenarnya. Dia menggigit bibir bawahnya, mencegah agar dia tak menangis. "aku berbohong, Hi. Kenangan tentang kita. Tapi perasaanku padamu tidak pernah bohong. Aku benar-benar mencintaimu"


Haki meraih tangannya, lalu menggenggam tangan itu lembut. Perlahan Kahi mendongak untuk melihat wajah Haki. "aku benar-benar mencintaimu, jadi pergilah. Itu lebih baik, daripada terus berada di dekatku. Sekali lagi, aku minta maaf. Kamu bisa menghukumku, dengan hukuman paling berat. Aku akan menerimanya" mata Kahi bertemu dengan mata dari lelaki itu.


"kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu menyuruhku untuk pergi" suara Kahi terdengar serak. Wanita itu sedang menahan agar tak menangis. Dengan cepat Haki memutus kontak mata itu, dia tak tahan menatap mata yang sudah penuh dengan air mata itu. Tangannya meyapu bulir air mata yang jatuh. Tak ada isak tangis, hanya mata yang tak henti mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"tolong jangan menangis, jangan. Pergilah, suatu saat nanti kamu akan menemukan lelaki lain. Lelaki yang tak akan pernah menyakitimu" kata Haki lirih.


Ceklek


"sudah lima belas menit, anda harus kembali bertemu pimpinan" seorang lelaki berseragam mengintrupsi mereka berdua. "pergilah, sampai bertemu di pengadilan" Haki melepas tangannya. Menghampiri orang tadi, lalu keluar dari ruangan itu. Meninggalkan dirinya yang sedang menangis dengan pilu sendirian.


Kahi menekan dadanya kuat, merasakan perasaannya hancur. Hatinya seperti dipermainkan oleh lelaki itu. Dia yang sudah memberikan seluruh hatinya, sekarang harus menelan pahitnya dikhianati.


*


"kamu dari mana. Menemui lelaki itu lagi. Yang sudah dengan jelas melukaimu" suara dari Juan menyambutnya di depan pintu rumah. Kahi melewati sang kakak begitu saja, tanpa menjawab pertanyaan dari Juan. "apa begini caramu bersikap pada abangmu sendiri" Kahi berhenti ketika Juan berteriak di belakangnya.


"abang, aku cape. Kita omongin ini nanti" kata Kahi dingin. "tunggu dulu, kita harus omongin ini sekarang. Atau abang tidak akan pernah membantumu lagi" kedua tangan Kahi mengepal. Dia berbalik menatap Juan dengan dingin. "abang"


"jika kamu sudah mendengar semuanya dari lelaki itu. Sudah saatnya kamu melupakan dia. Jauhi dia, abang janji akan mencabut tuntutannya" ujar Juan tegas. Kahi mencengkram tali tas yang dia pakai.


"bagaimana kalau aku nggak mau jauh dari dia" tanyanya dengan bergetar. "dia akan dipecat dari tempatnya bekerja, lalu menerima hukuman seberat-beratnya" jawab Juan. Kahi mendekat ke arah tempat berdirinya sang kakak.


"kalau begitu, aku akan memilih yang kedua. Tetapi, hari ini adalah hari terakhir aku berada di rumah ini" dia berbalik, lalu dengan cepat berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua. "Kahila Julie" teriak Juan tak menghentikan dirinya untuk terus masuk ke dalam kamarnya.


Disusul Lia yang langsung ikut masuk, lalu memeluk tubuhnya dengan erat. "jangan pergi, Hi. Tetap di sini" Kahi melepas pelukan dari Lia dengan pelan. "aku tidak akan menyerah lagi, abang sudah memisahkan aku dengan Gemma. Sekarang aku tidak akan menyerah" katanya dengan pasti.


"maksudnya apa" tanya Lia bingung.


**

__ADS_1


__ADS_2