
"kenapa, Hi. Kok diem aja" ujar Gemma mengelus tangan Kahi yang berada di atas meja. "oh enggak kok mas, cuma cape aja kok e" jawabnya tergagap karena ketahuan sedang melamun. Mereka berdua kembali melanjutkan obrolan tentang pekerjaan mereka masing-masing, dan menceritakan dua minggu yang telah berlalu.
Diselingi canda dan tawa, siang hari ini yang selalu ditunggu jika Gemma libur. Nyatanya tak cukup meski hanya sekali bertemu di akhir pekan atau saat Gemma tak sibuk. Tapi kali ini ada yang aneh menurutnya, bukan karena perasaan wanita tapi karena pria yang jarang mengenakan jas, siang hari kali ini dia kenakan.
Kahi melihat wajah murung dari pria di depannya usai selesai bercerita pasal acara keluarganya, biasanya orang akan antusias menceritakan tentang keluarganya. Tapi Gemma seperti enggan saat bercerita.
"mas kurang tidur ya? " Gemma menatap matik mata milik Kahi dalam, seperti ingin mengetahui pertanyaan langsung dari mata itu." sedikit kurang memang, tapi aku baik-baik saja" ujarnya seraya mencubit pipi kiri Kahi pelan.
"kenapa sampai kurang tidur" tanya Kahi lembut, "aku yang jadi ketua panitianya, sayang" lagi Gemma mengelus punggung tangan milik Kahi.
"jangan khawatir, Ya. Sepulang dari sini aku pasti bakal tidur terus sampe besok pagi " senyum terukir di wajah Gemma senang karena kekasihnya mengkhawatirkan dirinya.
" ya udah, mas pulang aja istirahat. Dari pada kurang tidur" Kahi sedikit jengkel pada Gemma yang selalu mementingkan pertemuan mereka, ketimbang kesehatan pria yang sangat sibuk itu. "iya, sebentar lagi. Aku isi baterai dulu" Gemma menatap lekat sembari tersenyum ke arah Kahi yang mulai salah tingkah "apa sih mas, jangan ngeliat aku kays gitu deh" tangannya bergoyang di depan wajah Gemma.
"sekarang baterai sudah penuh, aku pulang ya" Gemma beranjak dari duduknya, "iya hati-hati di jalan, jangan ngebut terus kalo udah sampe kabari aku" Gemma memutari meja di depannya kemudian meraih tubuh Kahi yang masih berdiri itu. "sebentar aja" Kahi yang ingin protes tak jadi melakukannya.
"cuma sebentar aja, aku kangen" ia melepaskan pelukannya lalu menatap wajah wanita di depannya, meraih wajah yang selalu menghiasi harinya lalu mengelus kedua pipi itu lembut. "sampai ketemu lagi" kahi mengangguk patuh meski pipinya sudah sangat merah.
Mobil milik Gemma sudah melaju sejak beberapa menit yang lalu, tapi wanita yang sejak tadi terdiam di tempatnya ini baru bisa bernafas lega. Dalam pelukan Gemma yang membuat wanita ini tak bisa berfikir jernih, terlalu sibuk mengendalikan detak jantungnya yang terlalu cepat apalagi pipinya yang sudah memanas sejak Gemma meraihnya dalam pelukannya.
Apa itu tadi, ah aku malu
Buru-buru Kahi menggelengkan kepalanya, untuk mengontrol pikirannya lalu berjalan ke arah anak tangga menuju lantai tiga. Dia ingin beristirahat dulu barang sebentar.
*
__ADS_1
setelah kedatangan Gemma siang harinya, Lia dan Juna juga datang ke Kafe milik Kahi sore harinya. Ibu dan anak itu tampil kompak dengan hodie berwarna senada, senyum mengembang di bibirnya saat menyambut dua orang itu.
"aunty Hihi... " bocah lelaki itu dengan girang berlari ke arah Kahi yang sedang berjongkok menyamakan tinggi badan keponakannya.
" hai boy " seru Kahi semangat saat Juna sudah berada di pelukannya. "sorry telat, macet parah " Lia mendekat ke arah Kahi dan Juna.
"iya, sudah biasa. Juna mau makan es krim " Kahi membawa Juna ke meja pemesanan untuk memesan es krim dan minuman untuk mereka. Lia sendiri langsung mencari meja kosong di sebelah dinding kaca.
**
"udah baca email dari panitia Reuni SMA kita kan, kali ini lu bakal dateng kan" Kahi menghentikan kegiatannya menyuapi Juna es krim. Lalu mengarahkan pandangannya pada wanita yang duduk di depannya.
Kahi menggeleng cepat "nggak deh, males" lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "padahal yang gue denger, theater full team. Terus ada polisi ganteng juga" Lia mengangkat kedua alisnya bersamaan diiringi seringai di bibirnya, "buktikan dong, kalo lu bisa kalahin miss B itu. Kalo kata kasarnya pembalasan"
Kali ini Kahi memutar bola matanya jengah, tak heran lagi akan sikap Lia yang satu itu. "nggak perlu pembuktian lagi mba, siapa yang bisa ngalahin miss B. Aku mah apa atuh, macam rumput perdu yang buat makan kambing hehe" Kahi tertawa kecil di akhir ucapannya .
"serius nih, demi gue deh lu musti dateng. Ya kalo nggak mau ikut jadi pengisi acara paling nggak lu nongol barang bentaran doang" Lia menunjukkan wajah penuh keseriusan bercampur muka marahnya, "nggak mau" Kahi menggeleng cepat lagi.
"iiissh, lu mah. Gue marah nih" ujar Lia dengan wajahnya yang langsung berubah masam.
"aku nggak bisa ketemu mereka lagi, mba. Itu jadi ujian paling berat buatku selama ini. Mereka mungkin akan terima saja kalau aku balik lagi ke theater, tapi satu orang yang mungkin nggak akan pernah berharap aku ada di sana akan sangat tidak terima."
"lu cuma takut kalah lagi kan? Takut mereka bergunjing tentang lu lagi kan. Gue tahu soal ini, tapi nggak tahu kalo sifat lu satu ini masih ada " Lia berdiri dari duduknya, lalu berpindah ke arah Juna yang masih menyantap es krimnya. Kemudian mengangkat Juna yang mulai protes akan sikap ibunya itu, Lia tak mengindahkan protesan dari sang anak. Dia melangkah keluar kafe dengan cepat meninggalkan Kahi yang masih tak percaya, bahwa Lia marah.
"iya aku dateng "teriak kahi saat Lia sedang membuka pintu mobil pengemudi." gitu dong" ujar Lia tetap masuk ke mobilnya, yang membuat Kahi terheran-heran.
__ADS_1
Kaca mobil terbuka pelan, "gue harus ke rumah mama, mama mau ditemenin ke mall" Lia melambaikan tangannya di balik kemudi.
Mobil melaju pelan keluar dari halaman kafe dan menghilang di kejauhan. Usai mobil milik Lia pergi, Kahi kembali masuk ke dalam Kafe menyapa beberapa pengunjung yang berada di dekat jangkauannya sampai ke bar.
*
Di kantor polisi
Para anggota polisi berlalu lalang di area parkir di depan gedung kepolisian, ada yang baru pulang tugas ada juga yang akan melaksanakan tugas dengan beberapa anggota lain. Di dalam gedung berlantai 10, setiap anggota di ruangan mereka dengan tugas masing-masing.
Termasuk pria tampan yang mengenakan seragam polisi, tengah duduk di depan dua anggota polisi lain yang sedang melaporkan hasil dari penyelidikan kecelakaan yang menimpa Haki.
"seperti dugaan sebelumnya, ban mobil anda terkena tembakan dari pelaku. Yang menyebabkan mobil oleng hingga kehilangan kendali kemudian menabrak pembatas jalan. Saat pengajaran kami kehilangan jejak pelaku, Dan" jelas seorang polisi berpangkat di bawah tingkat Haki.
"kami juga sudah melakukan pencarian pelaku di beberapa tempat melalui cctv di jalan saat kecelakaan kemarin tapi nihil. Identitas pelaku benar-benar susah di kenali, plat kendaraannya sudah kami cek, ternyata palsu, Dan" sambungnya lagi.
Haki menghela nafas panjang, manik matanya melihat selembar sketsa wajah pelaku pembunuhan dan penjualan organ dalam secara ilegal. Kasus yang sudah bergulir dari tahun lalu, belum juga menemukan titik terang.
Saat terjadi kecelakaan yang menimpanya, dia dan beberapa anggotanya sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku. Mobil Haki yang berhasil mendahului motor yang dikendarai oleh pelaku, tapi naas pelaku membawa pistol dan menembak beberapa kali ke arah mobil Haki. Berakhir dengan kecelakaan yang dialami oleh Haki, beberapa rekan yang melihat kecelakaan langsung mengejar pelaku dan seorang anggota bertugas memanggil ambulans dan menjaga Haki .
"kita tingkatkan patroli malam, minta rekaman beberapa cctv di daerah terjadi kecelakaan dan tkp pembunuhan. Segera laporkan pada saya jika ada yang mencurigakan" perintah Haki tegas.
"siap, Dan. Kami undur diri, Dan" usai para anggotanya memberi salam, Haki kembali melihat berkas kasus yang sedang para anggotanya tangani.
*Nb: maaf penulis masih baru, jika terjadi banyak kesalahan dalam penulisan mohon kritikan yang membangun agar penulis jadi lebih baik.
__ADS_1
*NazHia OcHia