Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
22.


__ADS_3

Haki berdiri di gerbang rumah berlantai dua milik Juan. Dia baru kembali dari tugas penyelidikan, kasus penipuan yang sedang menimpa Kahi. Tapi sejak siang dia tak menemui siapapun di rumah itu. Rumah seperti kosong. Bahkan tak ada mobil yang terparkir di garasinya.


Dia berbalik, membuka pintu mobilnya. Lalu duduk di kursi kemudi. Dia monoleh ke kursi sebelahnya, lima hari lalu setelah mengantar Kahi. Komandanya memerintahkan dirinya untuk pergi ke beberapa wilayah. Ke tempat persembunyian orang yang sudah menipu Kahi.


Selama lima hari itu pula dia tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya tak tenang, entah apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya.


Dia menekan tombol panggil di layar ponselnya. Terhubung tapi tak lama suara operator yang terdengar. Dia sudah mencobanya sejak pulang ke rumah semalam. Ponsel ditangannya dia lempar sembarang ke samping. Menghidupkan mesin mobilnya, lalu menekan pedal gas.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan perumahan yang tergolong sepi. Tak mengindahkan teriakan orang-orang yang hampir tertabrak mobil miliknya. Terus melaju dengan kencang sampai di kantor tempatnya bekerja.


*


"kalau begitu saya permisi, dokter " pamit rekan kerja Juan, yang menjaga ruang perawatan VIP usai memeriksa kondisi Kahi.


"terima kasih dokter Fai, maaf ya aku akan sering merepotkanmu" ujar Juan serius. Tapi justru rekan dokter di depannya tertawa kecil menanggapi temannya.


"iya, kau bisa melakukannya. Aku permisi" kata dokter yang dipanggil Fai itu sambil melambai pada Juan.


Juan balas melambai pada dokter tadi, lalu berbalik masuk ke ruang perawatan adiknya. Dia melangkah mendekati sang istri yang sedang terlelap di ranjang khusus bagi keluarga.


Dia mengambil tempat di sofa besar. Meluruskan kakinya di atas meja sebentar. Lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Tak lama dia mencoba memejamkan matanya. Mengistirahatkan tubuhnya yang sejak tadi tak sempat istirahat.


Ceklek


Kepala Gemma menyembul dari pintu yang terbuka sedikit olehnya. Menyadari seseorang sedang berdiri di ambang pintu. Dia kembali membuka matanya.


"kau sudah datang " Juan menurunkan kedua kakinya dari atas meja."iya. Istirahatlah. Biar aku yang menjaga Kahi" Juan mengangguk. Kembali menyandarkan punggungnya.


Sementara Gemma berjalan pelan ke ranjang tempat Kahi berbaring. Sudah sehari dia di pindahkan ke ruang perawatan biasa. Bergantian dengan Juan, terkadang dia akan bermalam menjaga kekasihnya.


Siang ini saat dia berencana melihat kondisi Kahi. Malah Juan yang sedang terlelap membuatnya kasihan. Jadilah dia menggantikan sepasang suami istri yang sama-sama terlelap.


Menarik kursi di sebelah ranjang tempat Kahi terbaring. Lalu mendudukan dirinya di sana. Tangannya menggenggam tangan dingin Kahi. Dia sangat khawatir pada kekasihnya itu. Bahkan dia tak kembali ke apartemennya dan memilih tinggal di ruangan khusus petugas medis. Agar memudahkan Gemma mengontrol keadaan Kahi jika Juan dan istrinya sedang tertidur. Seperti sekarang ini.

__ADS_1


"abang" kata Kahi lirih. Merasa ada pergerakan di jari yang sedang dia genggam. Gemma bangkit dari duduknya untuk melihat wajah Kahi. Matanya masih terpejam, tapi bibir Kahi sedang bergerak pelan.


"sayang, kamu sadar " katanya senang. Gemma mengelus kepala Kahi yang tertutup kain perban. Perlahan mata terpejam itu membuka dengan perlahan. Hingga terbuka dengan lebar. Mengerjap sesaat untuk menyesuaikan cahaya di sekitarnya. Lalu manik mata itu fokus menatap pria di depannya. Gemma tersenyum padanya.


"mas Gemma " katanya lirih. Gemma mengangguk, "iya sayang" jawab Gemma pelan. Gemma kembali mengelus kain perban di kepala Kahi. "aku di mana" katanya lagi.


Gemma mengeryitkan keningnya, menyadari sesuatu yang aneh dengan Kahi. "kamu di rumah sakit, sayang" tak ada tanggapan dari Kahi.


Wanita yang masih terbaring lemah itu, tiba-tiba mengerang merasakan sakit di kepalanya. Kedua tangan mungil itu tiba-tiba memukul kepalanya sendiri. "sayang, tenang dulu. Sayang" usaha Gemma untuk membuat Kahi berhenti memukul kepalanya tak membuahkan hasil. Dengan sebelah tangan dia menekan tombol di atas kepala Kahi. "Juan, Juan" lalu berteriak berusaha membangunkan sahabatnya yang sedang terlelap.


Sepasang suami istri itu, terbangun bersamaan. Juan setengah sadar berjalan mendekat ke arah Gemma. Di susul oleh Lia yang sudah menyadari ada yang aneh dengan Kahi.


"Kahi kenapa" Lia melewati Juan, lalu membantu memegangi lengan Kahi. "sudah memanggil dokter" kata Juan panik. "kita bahkan dokter Juan, apa lu nggak bisa bantu dulu" ujar Gemma yang mulai kerepotan menahan Sebelah tangan Kahi.


**


Cukup lama Kahi tak berhenti memukul kepalanya, akhirnya dokter yang menangani dia memberikan obat penenang. Setelah obat pengurang rasa sakit tak mampu membuat Kahi berhenti memukul kepalanya.


Dua orang beda umur itu memandang Juan, menunggu pria itu bersuara. "aku, efek bangun tidur" katanya polos. "kau kan ada jadwal" tunjuk dokter paruhbaya tadi pada Juan, yang masih menyandarkan punggungnya di dinding sebelah pintu.


Juan mengangguk "iya, nanti malam makanya saya tadi tidur " kata Juan lagi. "kalau kau, dokter Gemma" kali ini giliran Gemma yang ditunjuk. "hari ini aku bebas tugas" katanya dengan senyuman di wajah tampannya.


Dokter itu mengangguk mengerti. "baiklah kalau begitu" dia melambai pada dua pria muda di hadapannya. Berjalan menjauh dari mereka berdua. Sementara mereka kembali masuk ke ruang rawat Kahi.


"apa kata dokternya" Lia menghampiri sang suami yang baru mengistirahatkan tubuhnya di sofa tadi. "tidak ada yang perlu dikhawatirkan, yang penting jangan bahas tentang kejadian sebenarnya sama Kahi" jawab Juan. "syukurlah, kalau begitu aku pulang sekarang ya. Mama bilang Juna mulai rewel" kata Lia pelan.


"biar dianter pak Urip ya " Lia mengangguk mengiyakan perintah sang suami. Lalu dia berbalik merapihkan barang miliknya. Kemudian berpamitan pada suami dan juga kekasih adik iparnya.


**


Di selasar rumah sakit x, sore itu ramai oleh suara para perawat yang sedang membicarakan Gemma dan kekasihnya.


"sayang banget, dokter Gemma sudah punya pacar"

__ADS_1


"padahal aku berharap dokter Gemma tertarik padaku"


"pacarnya cantik, cuma botak karena bekas operasi. Tapi aura kecantikannya ngalahin artis"


"aku iri deh, dokter Gemma kayaknya sayang banget sama pacarnya "


"apa yang kalian bicarakan" suara seseorang menghentikan kegiatan mereka saat bergosip. "siapa yang kalian bilang sudah punya pacar" katanya lagi. Seorang dokter cantik yang masih mengenakan jas dokternya menghampiri mereka semua.


Para perawat itu tertunduk diam. Tak ada yang ingin menjawab pertanyaan dari dokter satu ini. Bukan tanpa alasan, dokter bernama Nilam itu adalah wanita yang sangat tergila-gila pada Gemma.


"kenapa tidak ada yang menjawab" dia berdiri di tengah para perawat yang sedang berada di balik loket informasi itu. Beberapa saling sikut untuk meminta rekannya menjawab pertanyaan dari Nilam. "ah, dokter Gemma yang sudah punya pacar, dok" ujar seorang perawat tergagap.


Nilam membulatkan kedua matanya, dua tangannya terkepal. "siapa pacarnya" dia mengeraskan rahangnya kesal. Tak ada yang berani mengangkat kepala mereka. Semua takut dengan wajah mengerikan dari dokter cantik ini.


Karena tak mendapat info tentang kekasih Gemma, Nilam berbalik lalu berjalan menjauh. Dia sedang kesal, maka saat itu terjadi dia membutuhkan sesuatu untuk menjadi pelampiasannya. Dia terus berjalan sampai menemukan tempatnya bisa melampiaskan kekesalannya dengan makan banyak.


*


Malam harinya Gemma masih setia menjaga Kahi. Dia masih duduk di sebelah ranjang tempat Kahi tertidur. Memandang wajah pucat itu, juga perban di kepala dan kaki kanannya. Dia baru tahu kejadian sebenarnya pada Kahi. Siang tadi Juan menceritakan semua padanya. Tentang kasus penipuan yang sedang dia alami. Lalu saat Kahi berubah jadi sangat pendiam sebelum lompat dari balkon kamarnya.


Gemma mengulurkan tangannya, menyentuh kain terikat di lengan Kahi. Kain Yang sengaja di ikat pada lengan dan juga tepian ranjang. Agar Kahi tak kembali memukul kepalanya. Seperti siang tadi, sebelum dia kembali terlelap. Kahi kembali tersadar. Lalu kedua tangannya kembali menyerang kepalanya.


"mas... " Gemma bangkit dari duduknya, lalu mendekat ke arah Kahi. "iya sayang, aku di sini" katanya pelan di dekat telinga Kahi.


"aku takut" kata Kahi lirih. "ada aku di sini, jangan takut" dia mengelus pipi Kahi yang sedikit tirus itu. Memandang wajah wanita yang dicintainya. Tetap kuat untuk kekasih hatinya.


"mas..." panggil Kahi lagi


"hmmm, ada apa sayang" Gemma mendekatkan kembali wajahnya. Cukup lama hening di antara mereka. Gemma sendiri menunggu Kahi bersuara. Meminta sesuatu padanya yang pasti dia akan berikan untuknya.


Sementara Kahi, untuknya saat ini hanya membutuhkan pelukan dari Gemma. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Tapi setiap kali itu, kepalanya akan berdenyut hebat. Jadilah dia membiarkan pertanyaan itu tak dia perdulikan. Dia membutuhkan Gemma, pria yang ada di depannya saat ini.


"bisa peluk aku" katanya lirih

__ADS_1


__ADS_2