Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
48.


__ADS_3

Haki mengecup singkat pucuk kepala Kahi, lalu tangannya menarik selimut hingga ke leher wanita itu. Menutupi tubuh polos Kahi bekas olahraga dengannya tadi. Dia memungut bajunya dan Kahi yang berserakan di lantai, kemudian meletakkannya ke dalam keranjang baju.


Setelah membersihkan dirinya, Haki kembali ke luar kamar. Kembali dengan dokumen yang harus di periksa. Sampai sore hari dia bekerja juga melakukan rapat. Saat kembali dari ruang rapat, dia belum mendapati Kahi di ruang kerjanya. Sepertinya wanita itu sangat lelah, dia tertidur hingga waktu yang lama.


"hai putri tidur, kamu ingin terus tertidur. Atau aku akan memakanmu lagi sekarang" katanya dengan keras di ambang pintu kamar. Suara kerasnya berhasil membuat wanita di dalam selimut itu, menggeliat lalu membuka matanya.


"sudah selesai ya, apa aku tidur terlalu lama" katanya dengan suara serak. "sudah, dan kamu tertidur sampai sore hari" Haki menunjuk dinding kaca yang memperlihatkan langit berwarna jingga.


"apa, bagaimana dengan butiknya. Kita harus ke sana sekarang" katanya dengan panik. Tanpa menyadari dia tak memakai apapun, Kahi bangun lalu berdiri. "astaga, ke mana bajuku" teriaknya dengan panik, sembari tangannya menyingkirkan selimut.


"di sana" Haki menunjuk ke arah lemari pakaian di sudut ruangan. Tanpa bertanya lagi, Kahi membuka lemari. Tapi kemudian tak menemukan baju yang dia pakai tadi.


"bajuku tidak ada" "kamu bisa pakai baju yang ada di dalam sana. Itu di siapkan khusus untuk kamu" Haki mendekat ke arahnya.


"kapan kamu menyiapkan ini semua" tanya Kahi sembari menarik salah satu baju. "sejak kita kembali bersama, cepat pakai bajumu. Setelah ini kita akan makan malam di tempat yang kamu suka" Haki mengecup singkat pucuk kepala Kahi.


*


Haki benar-benar membawanya ke tempat yang dia suka. Sebelum sampai ke tempat itu, Haki sudah menutup matanya dengan kain. Dengan perlahan Kahi berjalan sembari berpegangan pada lengan Haki.


"masih belum sampai ya, aku takut. Kamu tidak sedang mengerjaiku kan" dia mulai merengek, sembari mencengkram lengan Haki. "aku nggak lagi ngerjain kamu. Sebentar lagi kita sampai, ayo jalan lagi" sanggah Haki.


Tak lama Haki menyuruhnya berhenti, lalu dengan perlahan Haki melepas kain yang menutupi kedua matanya. Saat dia membuka matanya, Kahi tak bisa menahan untuk tidak menutup mulutnya. Dia benar-benar sangat terpukau karena kejutan yang disiapkan oleh Haki, tak terasa dia meneteskan air mata bahagia.


Lelaki itu membawanya ke tepi pantai yang sudah di hias dengan lampu-lampu berjajar rapi. Dari tempatnya berdiri sampai ke meja yang sudah dihias indah.


Haki mengulurkan tangannya, tak menunggu lama Kahi menyambutnya. Lalu mereka berjalan beriringan ke meja di sana. Haki menarik kursi pelan untuk dia duduki, setelah itu lelaki itu duduk di kursi seberangnya.

__ADS_1


"apa kamu yang menyiapkan ini semua" Kahi tak hentinya mengagumi pemandangan malam di sekitar tempat mereka duduk. Lampu yang tersusun indah, menambah kesan makan malam romantis.


"kamu suka" tanya Haki sembari mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan. "aku suka sekali" Kahi tersenyum lebar padanya. Pelayan datang dengan membawa sebuket bunga mawar merah cantik, Haki mengambil buket bunga itu. Kemudian memberikannya pada wanita di depannya. "terima kasih" dia tersenyum manis sebagai balasannya.


**


Makan malam romantis yang dia siapkan berjalan lancar. Dia beruntung malam ini langit sedang bersahabat. Jika tidak semuanya akan kacau dan berantakan. Untunglah dia memiliki hotel dengan pemandangan yang indah ini. Jadi tak perlu pergi jauh untuk menyenangkan wanitanya.


"gimana makan malammu, kamu suka makanannya" tangan Haki meraih sebelah tangannya. "aku suka, makanannya juga enak banget. Makasih ya" katanya dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.


"aku akan selalu melakukan apapun untuk kamu, sayang. Asal kamu bahagia" Haki bangkit lalu melepas jas yang dia pakai. Kemudian dia meletakkan jasnya di pundak Kahi. Membuat wanita itu mengalihkan wajahnya, untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.


Selesai makan malam, mereka berdua berjalan santai menyusuri pantai. Kahi melepas high heelsnya, dan meninggalkan sepatu itu di tempat makan malam tadi begitu juga dengan Haki.


"besok Juan sama Lia juga anak mereka akan datang ke sini" ujar Haki saat dia tiba-tiba menghentikan langkahnya. "benarkah, bukannya pernikahan kita masih seminggu lagi" Kahi ikut menghentikan langkahnya.


"kau sungguh ingin berpisah denganku selama seminggu, kamu memang jahat" Haki menghentakan kakinya, lalu berjalan terus ke depan. "hei mau ke mana. Tunggu aku" Kahi berteriak sambil berjalan mengejarnya.


"jangan marah ya, kita kan bisa bertemu diam diam" Haki menghentikan langkahnya dengan cepat, dia berbalik hingga tubuhnya membentur tubuh kecil Kahi. "tapi kalau Juan tahu, dia akan membatalkan pernikahan kita" katanya dengan bibir yang maju.


"tidak akan, abang tidak akan berani. Percaya deh sama aku" kata Kahi meyakinkannya. Wanita itu memeluk tubuhnya yang lebih tinggi. Menggerakkan tubuh mereka berdua ke kanan dan kiri.


"dasar anak kecil" gerutunya sembari tangannya menangkup wajah Kahi lalu menyubit pipinya


"aagggrrh jangan dong. Sakit" Haki tak melepas tangannya dari pipi Kahi. Seolah melihat wanita itu merengek, menjadi sesuatu yang menyenangkan.


Malam semakin larut, mereka berdua tidak lagi bisa menahan hawa dingin dari angin laut. Mereka memilih untuk pulang ke rumah masing masing. Setelah mengantar Kahi pulang, dia juga memilih pulang.

__ADS_1


*


Pagi sekali Kahi terbangun karena suara dering dari ponselnya, juga bunyi pintu yang sedang diketuk. Tanpa mencuci mukanya dulu dia berjalan turun ke lantai satu. Sedangkan tangannya sibuk menekan tombol hijau.


"hallo" sapanya sembari membuka pintu rumahnya. "astaga kamu baru bangun" suara seseorang yang dia kenal membuat rasa kantuknya hilang. "mba Lia, abang" Kahi terkejut mendapati dua orang dewasa dengan dua anak yang tertidur di gendongan mereka.


"kapan datangnya, ayo masuk dulu" Kahi mundur dua langkah, memberi ruang pada mereka untuk masuk.


"kita sudah di sini lebih dari setengah jam, mas Juan malah ngirain kamu nggak di rumah. Kalau aku justru mikirnya kamu lagi sama Haki" Di akhir kalimat Lia berbisik padanya.


Kahi melirik sang kakak yang sedang meletakkan Juna di atas tempat tidur. "tenang, dia sudah jinak" kata Lia pelan.


"gih sana cuci muka, gosok gigi. Mulut kamu bau" Kahi menutupi mulutnya dengan satu tangannya. "hmm, kalau kalian mau sarapan. Aku masih punya roti tawar di dapur" Lia mengangkat ibu jari tangannya.


*


Seperti yang sudah dia kira, kedatangan Juan dan Lia memang bermaksud mencegah dia dan Kahi bertemu sebelum menikah. Alhasil dia harus memendam rasa rindu, karena seharian dirinya tak melihat Kahi.


Ponsel wanita itu bahkan sudah disita oleh Juan. Haki berdiri dengan bingung di depan dinding kaca ruangan kantornya. Sesekali hanya terdengar suara helaan nafas dari mulutnya.


"datanglah ke rumahnya. Ngapain lu malah kaya orang bingung di situ. Gimana kalau diam-diam, masuk ke kamarnya lewat jendela" usul Karin yang sudah lelah melihat adik sepupunya itu.


"pertama, Juan taruh bodyguard di depan rumahnya. Yang kedua, jendela kamar Kahi ada tralis besi yang dipasang tempo hari. Dan itu karena gue khawatir sama dia. Sekarang gue nyesel nyuruh orang pasang tralis" gerutunya sembari melangkah mendekati meja kerjanya.


"bukannya hari ini Kahi ke butik. Lu bisa ketemu Kahi di sana kan" Karin menyerahkan map kepadanya.


Haki tiba-tiba berdiri, lalu menyambar jas juga kunci mobilnya. "hey mau ke mana" teriak Karin saat dia berlari ke luar ruangan.

__ADS_1


"butik" jawabnya keras.


__ADS_2