Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
34.


__ADS_3

Kahi masih terdiam, menatap wajah penuh senyum di depannya. Entah sejak kapan jantungnya berdetak tak beraturan. Mungkin sejek lelaki itu mengajaknya kencan tadi. Buru-buru dia menggeleng, mengembalikan fokusnya pada perkataan lelaki itu.


"kenapa, Hi. Kamu kurang enak badan atau ada yang salah denganku" raut penuh senyuman itu seketika berubah panik.


"aku baik-baik saja kok. Jangan khawatir" ujar Kahi lantang. Menghentikan Haki yang bersiap bangkit dari duduknya. "benar kamu nggak apa apa" tanya Haki memastikan kembali.


Dia mengangguk disertai senyuman yang lebar menghias wajah cantiknya. "apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi, atau barang yang ingin kamu beli" tanya Haki dengan lembut.


"sebenarnya ada tempat yang ingin aku datangi. Tapi mungkin tidak sekarang. Kalau barang lain, sudah tak ada. Itu sudah banyak" dagunya menunjuk ke arah paperbag di kursi sebelahnya.


"ah, jadi tidak ada yang ingin kamu lakukan lagi. Apa kamu mau pulang" tanya Haki kembali. Kali ini tidak ada senyum di wajah Haki. Dia terkesan enggan menyudahi hari ini.


"hmm, aku harus kembali ke rumah. Tapi tenang saja, aku dijemput supirku jika kamu tidak bisa memberiku tumpangan" ucap Kahi dengan cepat. Tangannya mengambil tisue untuk mengelap sisa makanan di mulutnya. Tapi sebelum dia melakukan hal itu, Haki sudah melakukannya tanpa dia minta. Mencondongkan tubuhnya untuk menggapai tempat Kahi. Menggunakan tangan kanannya untuk menyentuh sudut bibir Kahi.


Lagi, sekali lagi mereka terdiam. Memandang wajah orang yang sedang berada dalam jarak terdekat. Dua-duanya hanyut dalam suasana romantis yang diciptakan oleh Haki. Tapi kemudian Haki mengakhiri kontak mata dengan Kahi.


Dia menarik tangannya kembali, lalu mendudukan dirinya lagi. Suasana yang tadi romantis berubah menjadi canggung. Jika Kahi masih membeku karena sikap yang ditunjukkan olehnya. Dia sendiri merasa benar-benar gugup.


"ma maaf, Hi" katanya tergagap. "aku harus ke toilet. Aku akan segera kembali" tambahnya lagi. Dengan tergesa dia berjalan tak tentu arah menuju toilet yang tersedia di restoran itu.


Setelah sampai di dalam toilet, Haki berdiri di depan cermin. Lalu mencuci wajahnya dengan air dari wastafel. Usai mencuci wajahnya, dia mengatur nafasnya agar bisa terlihat biasa saja.


Sementara itu, Kahi pun sama. Dia berusaha mengatur jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang lagi. Sebelum Haki kembali dan melihat wajahnya yang mirip kepiting rebus. Dia menyambar botol air mineral, meneguknya dengan cepat. Lalu kembali meletakkan botol itu di atas meja.


*


Dua manusia itu sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jika Haki fokus pada jalanan di depannya, maka Kahi terlalu fokus pada jalanan yang dilalui dari kaca jendela.

__ADS_1


Begitu sampai di depan gerbang rumah Juan pun, mereka tak saling bicara. Usai berpamitan pada Haki, Kahi langsung masuk ke dalam rumah. Menyapa sebentar penghuni rumah yang sedang menonton tv. Lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Setelah meletakkan barang-barang miliknya, Kahi melemparkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar miliknya. Meski di luar masih terang, saat ini dia hanya ingin tidur.


**


Setelah mengantarkan Kahi pulang, Haki memacu mobilnya dengan pelan ke arah rumahnya. Usai memarkirkan mobil miliknya, Haki dengan malas menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Melakukan hal sama seperti Kahi. Dia memejamkan kedua matanya lelah juga mengantuk.


Setidaknya usahanya hari ini berhasil. Meski harus lelah pun dia akan lakukan. Demi wanita itu, demi cintanya pada wanita itu. Dan demi mengembalikan rasa cinta wanita itu padanya.


**


Satu minggu kemudian


Setelah kencannya dengan Kahi, dia harus mendapatkan tugas penyelidikan kasus yang memakan waktu dan juga tenaganya. Jadilah dia dengan berat hati merelakan untuk tidak bertemu dengan Kahi. Selama seminggu penuh dia berusaha untuk fokus pada kasus yang dia tangani.


Tuhan sedang mendukung dirinya sekarang. Wanita itu sedang berdiri di depan kafenya dengan anggun. Dia mematikan mesin mobilnya, lalu membuka pintu mobil dengan cepat. Membuat Kahi yang bersiap masuk kembali ke dalam kafe mengurungkannya.


Haki menghambur ke arah Kahi. Memeluk wanita itu dengan erat. Seolah tidak ingin melepaskannya. Kahi yang tak mengerti apa yang sebenarnya membuat Haki memeluk dirinya hanya diam.


*


Kahi meletakkan segelas coklat panas di depan Haki. Usai memeluknya dengan erat tadi, akhirnya Kahi membawa lelaki itu ke ruang kerjanya. Bermaksud untuk menenangkan Haki. Agar lelaki itu bisa bercerita dengan tenang, begitu pikirnya tadi.


"minumlah, agar kamu tenang" ujarnya dengan lembut. Dia sendiri menyesap coklat panas di gelas miliknya. Lalu meletakkan gelas itu kembali ke atas meja. Dia duduk di sofa seberang Haki. Menunggu lelaki itu untuk bersuara.


"aku punya cara lain untuk meminumnya" kata Haki cepat. Kahi yang mengetahui maksud ucapan Haki, menelan salivanya. Lalu meraih bantal sofa di sampingnya. Menggunakannya untuk menutupi pahanya.

__ADS_1


"minumlah dulu, nanti keburu dingin. Jadi tidak enak" kata Kahi dengan terbata. Haki melirik sebentar ke atas meja. Lalu kembali fokus pada wanita di depannya.


Dia meraih gelas itu, menyesap coklat panas itu sebentar. Kemudian mengembalikan gelas di tangannya ke atas meja. "sekarang, apa kamu sudah tenang" tanyanya dengan hati-hati.


Haki mengernyitkan keningnya, sedikit heran dengan pertanyaan dari Kahi. Tapi kemudian dia mengangguk. "jadi, kamu ada masalah apa sebenarnya. Kamu bisa cerita sama aku" katanya dengan riang.


"masalah apa" kata Haki mengulangi pertanyaan dari Kahi. "iya, ada masalah apa. Aku mungkin bisa bantu. Atau kalau nggak aku bisa jadi pendengar yang baik"


Haki menunduk menyembunyikan senyum yang tertahan. Karena melihat wajah dan mendengar suara wanita di depannya saja sudah membuatnya senang.


Dia mendongak, merubah wajahnya menjadi serius. Haki tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dia punya. Dia bangkit dsri duduknya lalu memutari meja. Dan berlutut di sebelah kaki Kahi, meraih tangan Kahi. Membuat wanita itu salah tingkah.


"waktu dulu aku meminta maaf sama kamu, terus kasih cincin ke kamu. Kamu masih ingat nggak" kata Haki dengan lembut. Kahi mengangguk sekali. "aku ingin kamu menjadi istriku, Hi. Supaya aku bisa terus jagain kamu. Supaya aku bisa membahagiakan kamu. Kalau dulu, kamu bilang nggak bisa karena kamu punya pacar. Tapi sekarang semua sudah berubah, Hi. Aku nggak bisa lihat kamu ketemu lelaki lain. Aku nggak bisa lihat kamu tertawa sama lelaki lain. Bisa kasih aku kesempatan kan" tambahnya dengan lembut.


"kamu bisa omongin ini, nggak harus begini. Kita bisa sama-sama cari solusi tentang masalah kamu"


"solusiku cuma kamu, cuma sama kamu aku bisa jalanin hidupku dengan bahagia" sela Haki dengan cepat. Lelaki itu berdiri, lalu berjalan ke arah jendela yang dibiarkan terbuka.


Sementara Kahi, tak tahu harus berbuat apa pada lelaki itu. Dia hanya memandang punggung lelaki itu dengan iba.


"19 tahun bukan waktu yang mudah buatku, Hi. Kehilangan kamu, sku berusaha untuk tetap bertahan. Tapi kemudian kedua orang tuaku pergi selamanya. Disela latihan dan juga kuliahku, aku berusaha mencari keberadaan kamu. Setelah belasan tahun aku mencari, akhirnya aku menemukan kamu. Tapi meski kamu sudah di dekatku, kamu selalu menjauh. Menghindar dan juga tidak peduli. Saat hubungan kita mulai membaik, aku melakukan kesalahan yang fatal. Sekali lagi kamu meninggalkan aku, bahkan menghapus semua kenangan tentang kita di kepalamu. Aku benar-benar mencintaimu, Hi. Tolong beri aku kesempatan lagi" suara Haki berubah serak dan juga berat.


Kahi tahu lelaki itu pasti sedang menangis, maka saat lelaki itu tidak kembali bersuara. Dia berdiri, lalu berjalan mendekat ke arah Haki. Memeluk pinggang lelaki itu. Membenamkan wajahnya di punggung Haki.


"tolong bantu aku mengingat kembali masa itu. Nanti, jika aku bisa mengingat tentang kamu. Aku akan menberimu kesempatan" katanya di balik punggung Haki. Haki menyentuh kedua tangannya, lalu berbalik ke arah Kahi.


Haki mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kahi. Menempelkan bibirnya di atas bibir ranum Kahi. Sontak membuat Kahi meremas kemeja yang dipakai oleh Haki. Sedangkan kedua matanya terpejam.

__ADS_1


__ADS_2