Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
59.


__ADS_3

Sudah dua malam, Kahi tidak bisa tidur dengan nyenyak lagi. Padahal malam itu dia bisa tidur dengan nyenyak setelah Haki mengelus perutnya.


"sayang. Ayo dong. Ibu sudah mengantuk. Apa kamu mau makan sesuatu" katanya sambil mengelus perutnya.


Dia melirik ke jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Kahi memutuskan untuk keluar kamar. Kemudian menuju dapur. Membuka lemari es, dan melihat stok makanan di sana.


"hanya ada apel. Hmmm, besok pagi ibu akan mengajakmu berbelanja. Sekarang kita makan apel saja" Kahi mencuci bersih apel itu. Kemudian menggigitnya dan mengunyah apel itu.


Untuk mengusir rasa bosannya. Kahi membuka ponselnya. Berselancar di dunia maya sambil terus mengunyah apel.


Dia juga membuka aplikasi kirim pesan. Membaca pesan yang masuk, juga membalas beberapa pesan dari nomor yang dia kenal.


Tiba-tiba layar ponselnya berubah menjadi panggilan video. Dia mengerutkan keningnya, saat melihat nomor kontak Karin yang muncul.


"kenapa mba Karin menghubungiku dijam segini. Panggilan video lagi" tanyanya bingung. Tangannya menyentuh tombol hijau.


Dia mengernyitkan keningnya, ketika melihat wajah Haki yang sedang tersenyum padanya di layar persegi itu. "haii" sapa Haki dengan ceria.


"kenapa kamu menggunakan nomor mba Karin" tanyanya dengan kesal.


"karena aku tahu, kamu pasti menolak panggilan video dari nomorku" Haki masih terus tersenyum.


"eh, benarkah. Aku lupa tentang itu. Ah, apa kau sudah keluar dari rumah sakit" katanya mengalihkan topik pembicaraan.


"apa kamu mengkhawatirkanku. Sayangnya aku masih di sini. Kau lihat selang infus ini membuatku tak bisa berlari menyusulmu" Haki menunjukkan jarum infus yang masih tertanam di punggung tangannya. Sementara dia hanya memutar matanya, jengah dengan ucapan lelaki itu.


"hahaha, kamu benar-benar gila" katanya dengan tawa yang terkesan terpaksa.


"kamu benar. Aku gila, aku tergila gila padamu" justru melihat wajah Haki yang sedang serius terlihat tidak sedang menggodanya.


Kahi menelan ludahnya, rasanya jantungnya berdetak kencang sekarang. Kedua matanya mengerjap beberapa kali.


"Kahi, apa kamu sakit" tanya Haki dengan histeris.


"enggaklah" sergah Kahi.


"tapi pipimu memerah" kata Haki sembari menunjuk pipinya sendiri.


Dengan cepat dia melempar ponselnya di atas sofa. Tangannya menangkup pipinya. "isssh kenapa dia harus lihat sih" gerutunya.

__ADS_1


Perlahan dia meraih ponselnya. Lalu mengangkat ponsel itu kembali hingga di posisinya semula. Sialnya wajah Haki masih memenuhi layar ponselnya.


"Kahi, kamu baik-baik saja. Aku khawatir banget sama kamu"


"aku baik-baik saja kok. Maaf ya, ini sudah malam. Aku mau tidur. Bye" dengan cepat dia memutus panggilan videonya. Dia mengibaskan kedua tangannya di depan wajahnya. Lalu mengatur nafasnya yang berantakan.


*


Esok paginya Haki akhirnya diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Karin yang menjemputnya, tak henti menggerutu saat mereka sudah di dalam mobil


"Ki, Haki. Lu kebangetan tega ya sama gue. Baru keluar rumah sakit. Sekarang lu minta gue buat urus beginian. Kerjaan gue banyak, Ki. Ini juga buat lu sama perusahaan lu" Karin terus menggerutu di sepanjang perjalanan pulang ke rumah Haki.


"tolong gue kali ini saja, tolong ya" pinta Haki sembari memperagakan gaya lucu dan menggemaskan.


"enggak mau. Gue banyak kerjaan. Minta tolong sana sama orang lain" tolaknya dengan tegas, satu tangan Karin meraup wajah Haki dengan kasar .


"lu kan satu satunya saudara gue, Rin. Gue cuma percaya sama lu" ujar Haki berusaha kembali mengambil hati Karin.


"enggak mempan. Habis ini lu siap-siap buat ke hotel. Lu harus lihat sendiri gimana Bianca memengaruhi semua pegawai lu. Terus bawa lari uang perusahaan" sanggah Karin cepat.


"Bianca, apa sudah ada titik terang di mana wanita sialan itu" kedua tangan Haki mengepal. Dia memandang ke luar jendela mobil.


*


Perlu beberapa hari bagi Haki untuk melancarkan rencananya. Atas bantuan Ikal dan Lia. Dia berhasil menempati apartemen yang persis di depan pintu apartemen Kahi.


Dia juga perlu banyak waktu untuk menyelesaikan masalah perusahaan dan hotel. Hingga menyita semua waktunya.


Malam ini dia sengaja menunggu di depan pintu apartemennya. Menunggu dengan sabar wanita yang dia cintai kembali dari kafe.


Seperti kata Lia, Kahi akan pulang tepat jam delapan malam. Dari tempatnya berdiri. Haki terus melihat ke arah lift yang baru berhenti dan terbuka. Saat Kahi baru keluar dari lift. Haki membenarkan posisinya berdiri.


*


Kahi mengelus dadanya pelan. Dia sangat terkejut mendapati lelaki itu sedang berdiri di ambang pintu apartemen di depannya. Dia melihat ke kiri dan kanan. Tak mendapati siapa pun, hanya lelaki itu yang sedang tersenyum padanya.


"apa yang sedang kamu lakukan" tanyanya dengan kening berkerut. "berdiri" jawab Haki singkat.


"bukan bukan, bukan begitu. Maksudnya kamu ngapain di situ. Di pintu itu" tanyanya lagi.

__ADS_1


"di pintu ini. Oh, ini apartemenku" jawab Haki tanpa beban. "apartemenmu. Apa" kedua matanya membulat sempurna.


Sedangkan Haki tersenyum semakin lebar, saat melihat Kahi terkejut dengan kenyataan yang baru dia dengar. Dia lantas melangkah hingga berada di dekat Kahi.


"kamu punya sesuatu yang bisa dijadikan makan malam. Aku belum sempat belanja kebutuhan makan" katanya sembari mendorong pintu yang bsru terbuka sedikit. Dia terus masuk ke dalam apartemen Kahi.


"tunggu dulu, kamu sebaiknya keluar. Aku ingin istirahat sekarang. Ayo keluar" Kahi menahan langkahnya yang sudah berada di dalam apartemennya. Dia mendorong Haki dengan kekuatan yang dia miliki. Tapi tubuh Haki sama sekali tak bergerak.


"ah, apa dia merindukanku" katanya sembari menunduk, melihat pada perut Kahi.


"tidak, dia tidak merindukanmu. Ayo cepatlah keluar" tangan Kahi menarik kardigan yang dia pakai untuk menutupi perut buncitnya.


Krruuuukkk


Suara yang berasal dari perut Kahi menghentikan tangannya yang akan kembali mendorong Haki. Sementara lelaki itu sedang mengulum bibirnya, berusaha menahan untuk tidak tertawa. Melihat Haki yang sedang menahan untuk tidak tertawa, Kahi menutup wajahnya karena malu.


"biar aku yang akan memasak untukmu, juga untuk bayi kita" ujar Haki sembari menggeser tubuh Kahi pelan dengan kedua tangannya.


"dia bukan bayimu. Dia bayiku" katanya lirih.


Tak lagi bisa menolak tawaran dari Haki. Kahi hanya menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. Berjalan mengikuti ke mana lelaki itu pergi. Hingga berakhir di depan lemari es dua pintunya.


"hmm, stok makanan kamu lumayan banyak. Tapi kamu mau makan apa" tanya Haki sembari melihat isi dari lemari es di dapur Kahi.


"eh, aku mau spaghetti. Iya, spaghetti" jawabnya salah tingkah. Dia memilih untuk duduk di kursi. Menunggu lelaki itu menyiapkan makanan yang dia mau.


*


Setelah menyantap spaghetti sampai habis. Kahi masih memakan potong buah yang Haki siapkan. Sedangkan lelaki itu hanya menatap Kahi dengan lembut. Dia sudah membereskan bekas masaknya tadi. Juga mencuci piring makan mereka tadi.


"boleh aku tanya" kata Kahi sembari mengunyah potong buah di mulutnya.


Haki mengangguk semangat, dia melipat kedua tangannya di atas meja. "tak perlu bersikap seperti itu, aku bukan guru yang akan mengintrogasi muridnya"


Haki menarik kembali kedua tangannya, dia sekarang melipat kedua tangannya di depan dadanya. "oke, baiklah" ujar Kahi menyerah.


"kenapa kamu memutuskan untuk tinggal di pintu depan"


Cukup lama hening. Mereka berdua sama-sama memandang satu sama lainnya.

__ADS_1


__ADS_2