
Lia dan Kahi sama-sama melempar tatapan tak percaya. Mereka kini berada di depan pintu lobby rumah sakit. Berdiri dengan canggung karena banyak pasang mata yang sedang melihat ke arah mereka.
Sementara Haki terlihat tidak peduli. Dia membantu Lia dan sopirnya memasukkan barang barang Kahi. Lalu membukakan pintu mobil untuk Kahi.
Semua dilakukan oleh Haki dengan sangat berhati-hati. Seolah ia bisa menyakiti ibu juga bayinya itu.
"kamu menyiapkan ini semua" Kahi bertanya sembari memutar kepalanya melihat interior di dalam mobil mewah itu. "hmm, kamu suka" jawab Haki dengan tersenyum lembut padanya.
"aku kan sudah bilang. Tidak perlu sampai seperti ini" protesnya. Haki menggeleng pelan, dia mengusap lembut surai panjang Kahi.
"aku bisa menyiapkan dunia dan isinya untuk kamu juga bayi kita. Jadi jangan terlalu khawatir, bayi kita akan mendapatkan semuanya. Tanpa merasa kekurangan apapun" ujar Haki. Telunjuknya menyentuh pipi montok bayi di pangkuan Kahi.
Sedangkan Lia yang melihat interaksi mereka, menyeka air mata yang terlanjur jatuh ke pipinya. Dia menunduk sembari menyembunyikan senyumannya.
*
Sampainya mereka di dalam apartemen Kahi. Bayi kecil itu langsung dibawa masuk ke dalam kamar Kahi. Setelah meletakkan barang-barang miliknya, Lia langsung pamit pulang. Sementara Haki masih berada di sana.
Menatap bayi yang terlelap di atas ranjang empuk itu dengan haru. "sekarang kamu bisa keluar. Aku harus istirahat" suara Kahi terpaksa menyudahi kegiatan yang dia sukai akhir akhir ini.
"sore nanti kamu bisa menengok dia lagi" Kahi mendudukan dirinya di dekat sang bayi. "baiklah, kamu bisa memanggilku kapanpun. Kabari aku jika kamu membutuhkan bantuanku" pesan Haki sembari bangkit, lalu berjalan ke arah pintu.
Kahi menyusul Haki yang sedang berjalan menuju pintu apartemennya. Lalu menemani lelaki itu hingga sampai di luar pintu apartemennya. "kau ingin memberi nama bayi kita" katanya sebelum Haki menghilang di balik pintu apartemen milik lelaki itu.
Haki mengerutkan kening, dia baru ingat jika sang anak belumlah diberi nama. "Achazia Kalandra Subekti" katanya dengan tegas.
Kahi tersenyum senang, dia melambaikan tangannya. "terima kasih sudah menjemput kami tadi"
Haki membalasnya dengan tersenyum. Lelaki itu mengangkat tangannya, kemudian melambaikan tangannya sebelum benar-benar menutup pintu apartemennya.
*
__ADS_1
Malam harinya, saat Kahi sedang mengganti popok bayinya. Tiba-tiba bayinya terus menangis. Meski dia sudah memberi ASI pada bayinya. Tapi bayinya masih saja menangis.
"sayang, ini ibu nak. Kamu kenapa sayang, sudah ya nak. Jangan menangis lagi ibu jadi sedih" bisik di telinga sang anak.
Karena panik dia langsung menggendong bayi Akasia. Lantas. menggedor pintu apartemen Haki sambil menggendong bayinya yang sedang menangis. Beberapa kali pintu itu di gedor. Tapi dia tidak putus asa.
Setelah gedoran pintu untuk kesekian kalinya, Haki baru muncul dengan wajah yang basah. Seperti habis mandi. "iya Hi. Kenapa" katanya saat melihat wajah panik Kahi. Lalu dia beralih melihat bayi Kahi yang masih menangis itu.
"ayo bawa masuk dulu" Haki menuntun tubuh Kahi untuk masuk kembali ke dalam apartemennya.
Setelah berada di dalam apartemen Kahi. Haki mengambil alih bayi dari tangan Kahi. Dia berusaha untuk menenangkan bayinya dengan cara menimangnya.
Lelaki itu berjalan pelan, sembari menggerakkan lengannya. Sedikit mengayunkan tubuhnya, agar bayinya merasa tenang.
Beruntung tak lama bayi di lengannya menghentikan tangisnya. Dan terlelap di gendong Haki.
"apa dia sudah tertidur" Kahi bertanya dengan pelan saat Haki mendudukan dirinya di sofa. Lelaki itu mengangguk menjawabnya.
"tolong Bawa ke kamar tidur ya" ia hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara.
"iya" Haki melangkah pelan menuju pintu kamar yang terbuka lebar itu. Dia dengan sangat berhati-hati meletakkan bayi kecil itu di atas tempat tidur.
"aku pulang ya" Haki berdiri sembari merapihkan baju tidurnya. Tapi belum sempat dia memutar tubuhnya, tangan Kahi menghentikan langkahnya. "tunggu, bisa kita bicara sebentar" dia menatap wajah wanita yang selalu menjadi pemilik hatinya dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
"kamu ingin mengatakan sesuatu" Kahi mengangguk sekali. Lalu dia mendahului langkah Haki menuju sofa.
"duduklah" Kahi menunjuk sofa di depannya. Sementara menunggu Haki duduk sofa, tangannya meraih sesuatu dari bawah meja kaca di depan mereka berdua.
Kahi meletakkan selembar kertas, berisi tulisan tangannya ke atas meja. Dia mendorong kertas itu hingga lebih dekat dengan Haki. Lalu meletakkan pena di atas kertas.
"bacalah, kalau kamu setuju. Tanda tangani di atas namamu. Tapi kalau kamu keberatan, tolong beritahu aku sekarang. Supaya kita bisa rubah bersama sama"
__ADS_1
Haki meraih kertas itu, kemudian membacanya dengan kening berkerut. "saya yang bertanda tangan di bawah ini, Baehaki Subekti (selaku ayah) menyetujui perjanjian tertulis dengan Kahila Julie (selaku Ibu). Bahwa saya akan memberikan kasih sayang. Juga waktu saya untuk merawat Achazia Kalandra Subekti. Melakukan semua yang bersangkutan untuk kepentingan tumbuh kembang Achazia Kalandra Subekti. Poin terakhir, dilarang saling jatuh cinta" Haki tersenyum miris.
Dia menekan ujung pena di atas namanya, lalu menggerakkan tangannya hingga membentuk sebuah tanda tangan. "giliranmu yang tanda tangan" katanya Sembari menyerahkan pena di tangannya.
Kahi menerima pena itu dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Dia merasa lega disatu sisi, tapi di sisi yang lain juga sedih.
*
Satu Bulan Kemudian
Mereka benar-benar merawat bayi kecil mereka penuh kasih sayang. Haki mengunjungi apartemen Kahi setiap dua kali sehari. Terkadang bergantian menjaga bayi mereka jika memiliki pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan. Meski Kahi tak memberinya kesempatan untuk kembali bersama lagi. Tapi dia menerima keputusan Kahi dengan tulus.
"besok aku akan membawa Aka ke rumah sakit, apa kamu bisa ikut" Kahi meletakkan segelas coklat panas di atas meja. Haki yang sedang memangku bayinya, mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah Kahi.
"ada apa, kenapa Akasia harus dibawa ke rumah sakit" tanyanya dengan cemas. Haki melihat setiap inci di wajah bayinya, lalu berpindah ke lengan sang bayi. Tapi tak menemukan apapun di sana.
"ah, Aka baik-baik saja. Ke rumah sakit, karena dia harus divaksin" jawab Kahi sembari menyeruput coklat panasnya.
"apa tidak akan masalah, Achazia (Akasia) masih satu bulan kan. Dia masih sangat kecil" Kahi menggeleng cepat, dia menghela nafasnya panjang.
"dia sudah harus divaksin untuk usia satu bulan. Aka akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir. Kalau kamu mau ikut, kami akan berangkat pagi" katanya dengan wajah datar.
"ya baiklah, aku akan ikut" Haki menciumi pipi tembam Bayi Akasia yang sedang tertidur di atas lengannya.
Sementara itu Kahi yang melihat bagaimana cara Haki mengurus bayi mereka selama sebulan ini. Merasa sangat beruntung, karena lelaki itu masih setia pada dirinya. Walaupun dia selalu bersikap dingin pada lelaki itu.
Kahi menatap Haki dengan hangat. Dia tidak pernah merasa sesenang ini. Kahi seperti memiliki seorang suami yang sangat menyayangi sang anak. Dia buru buru mengalihkan pandangannya saat Haki mengangkat kepalanya. Sebelum lelaki itu menyadarinya.
"apa ada yang aneh di wajahku" Kahi tersentak kaget karena Haki tahu dia menatapnya lama tadi.
"aku tidak melihatmu. Aku melihat ke arah Aka" katanya dengan tergagap sembari mengalihkan pandangannya.
__ADS_1