Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
33.


__ADS_3

Lama mereka berdua hanya diam memandang satu sama lain. Jika Kahi hanya ingin melihat sesuatu di wajah Haki, yang membuat dirinya penasaran. Sementara Haki, terlalu beruntung pagi ini dia bisa memandang dengan bebas wanita yang paling dia cintai.


"apa ini tanda lahir" tanya Kahi, telunjuk miliknya terangkat lalu dengan cepat menempel di pipi Haki. Mata Kahi yang fokus pada tahi lalat di pipi Haki, berpindah pada manik mata yang menenggelamkan itu.


Posisi tubuhnya yang tidak menguntungkan membuat Kahi hampir terhuyung ke depan. Beruntungnya dengan sigap Haki menangkap tubuh mungil Kahi. Kahi menelan salivanya keras, membuat Haki tak kuasa menahan untuk tidak tersenyum.


Haki mendorong sedikit tubuh Kahi, mengembalikan pada posisi sebelumnya. Sementara Kahi, dia dengan cepat menarik telunjuknya. Menyimpan ke dalam saku hodienya.


"ma maaf " Ujarnya terbata, dia cepat-cepat berdiri. Lalu berlari dengan cepat meninggalkan Haki. Berusaha untuk mengembalikan detak jantungnya yang tiba-tiba tak terkendali. Dia menggeleng sambil menggigit bibir bawanya, menepis perasaan yang baru saja muncul.


Sementara lelaki yang baru saja ditinggalkan. Menekan pelan bagian dada kirinya. Dia tersenyum bahagia, menyadari masih pada wanita yang sama jantungnya berdetak kencang.


*


Minggu siangnya Juan kembali mengatur kencan buta untuknya. Kali ini benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya hanya makan siang atau minum kopi bersama. Kali ini Juan sengaja memilih hari minggu, agar dirinya bisa menonton film bersama lawan kencannya.


Rencana yang juga didengar oleh Lia, ibu satu anak itu dengan cepat mengirim pesan pada seseorang. Lalu buru-buru menghapus pesan itu setelah orangnya membaca pesan darinya.


*


Kahi sampai di mall tempat mereka akan menonton film di bioskop, tapi lawan kencannya belum juga datang. Hampir satu setengah jam dia menunggu, akhirnya lelaki lawan kencannya datang.


Dia sempat terpesona saat melihat untuk pertama kali, lelaki yang mengenakan kacamata hitam berdiri di ambang pintu masuk mall. Tapi dugaannya salah, lelaki tadi bukanlah lawan kencannya. Terbukti saat lelaki tadi melewatinya begitu saja.


"Kahila Julie" Seseorang memanggilnya, membuat dia menoleh untuk melihat orang tersebut. "maaf aku terlambat sedikit, aku tak sengaja bertemu klienku di parkiran tadi. Jadi ya kami berbincang sebentar. Maaf ya membuatmu menunggu terlalu lama. Apa filmnya sudah dimulai" lelaki itu tak hentinya berbicara, yang malah membuat Kahi semakin sebal.

__ADS_1


Mereka kini sedang mengantri untuk masuk ke studio bioskop film yang akan mereka tonton. Awalnya mereka akan menonton film komedi, tapi kemudian Kahi merubah rencana. Dia mengusulkan untuk menonton horor saja.


"apa kamu tidak takut, ini film horor yang lagi hits sekarang ini. Karena serem banget" tanya lelaki yang duduk di sebelahnya. "aku mau nonton film ini. Kalau kamu nggak berani ya sudah cukup tutup mata saja" jawabnya cepat.


Kursi-kursi sudah terisi penuh, menyisakan satu kursi tepat di sebelah kirinya yang belum terisi. Sedangkan film baru saja diputar. Kahi melirik sebentar ke arah lelaki di samping kanannya, lelaki itu memang masih membuka matanya. Tapi kerutan di keningnya berkata lain.


Tak lama seseorang muncul, lalu melewati tempat duduk Kahi. Kemudian duduk di kursi sebelahnya. Kahi melirik dengan ujung matanya, sedikit heran saat lelaki itu tak melepas kacamata hitam miliknya. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu, jika dia lelaki yang sempat dia kira lawan kencannya.


Adegan yang menyeramkan berhasil membuat seluruh penonton berteriak. Takut tapi juga penasaran. Jika dia bersama kekasihnya, mungkin akan ada adegan romantis. Tapi saat ini berbeda, lelaki teman kencannya sudah sejak tadi bersembunyi di kursi yang dia dudukki. Seolah setan itu benar-benar ada di depan matanya.


"kalau takut kenapa nekat nonton"


Pemandangan berbeda jelas sekali, saat matanya tak sengaja melihat ke samping sebelahnya. Lelaki berkacamata hitam, sudah menanggalkan kacamatanya. Dengan posisi sekarang ini, dia hanya bisa melihat bagian samping dari wajah lelaki itu.


"ka kamu, sedang apa di sini" karena panik, kahi bahkan tidak menyadari ucapannya barusan.


"nonton film, kamu juga nonton film kalau di sini kan" jawab Haki di dekat telinganya.


Aroma mint seketika membuat Kahi kehilangan fokus. Dia mengangguk pelan, tapi wajahnya masih menatap wajah Haki.


"layar bioskop ada di sana, kenapa melihatku terus. Apa aku seperti layar bioskop" bisik Haki tepat di telinganya. Sontak dia terkejut karena sekali lagi dia tertangkap basah sedang menatap wajah Haki.


Selama sisa film diputar, Kahi terus menghalangi matanya dengan satu tangan. Agar tidak kembali melihat ke arah kiri. Tempat Haki duduk. Sementara Haki sendiri berusaha dengan keras, agar tidak berteriak ketakutan. Seperti teman kencan Kahi.


*

__ADS_1


Mereka berdua sudah keluar bioskop, saat ini Kahi sedang menunggu teman kencannya yang sedang menerima telepon. Dia sendiri sedang mengirim pesan pada Lia. Lelaki itu datang dengan wajah panik.


"ada apa" tanya Kahi. Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "maaf ya, aku harus buru-buru kembali ke kantor. Barusan bosku minta aku datang. Kamu mau aku pesankan taksi" jelas lelaki itu. Kahi menggeleng, "tidak perlu, kamu pergi saja" katanya datar.


"sekali lagi maaf ya, aku mengacaukan kencan kita" usai mengatakannya, lelaki itu langsung berlari ke arah pintu keluar mall. Meninggalkan wanita yang sedang bingung harus melakukan apa.


"ke mana orang yang bersamamu tadi" kata Haki persis di dekat telinganya. "oh astaga. Kau mengejutkanku" ujar Kahi. Sedangkan kedua tangannya mengelus bagian dada. "maaf, ke mana orang yang bersama denganmu tadi" Hski mengulangi pertanyaannya barusan.


"dia bilang harus ke kantor, jadi ya. Dia pergi" jawabnya cepat. "ini hari minggu, kantor apa yang buka di hari minggu" tanya Haki heran. Sementara Kahi hanya mengedikkan bahunya tak peduli. Lalu berjalan ke arah pintu keluar mall. Dengan cepat tangan Haki menjegal lengannya. Menghentikan dirinya.


"ayo kita kencan" kata Haki dengan lantang. Karena banyaknya orang yang melihat ke arah mereka berdua. Kahi menutup mulut Haki yang ingin berkata lagi dengan tangannya. "setidaknya katakan dengan biasa" sela Kahi.


Lelaki itu mengangguk semangat, usai tangannya di lepas dari mulut Haki. Lelaki itu langsung menyambar telapak tangan Kahi. Haki mengajaknya mengelilingi seluruh toko di mall itu. Membelikan barang-barang yang Kahi suka. Meski dia menolak, tapi lelaki itu tetap membelikan.


Tertawa bersama wanita yang dia cintai, adalah kebahagiaan yang dia inginkan. Sungguh hanya wanita ini, yang mampu menggerakkan hatinya. Setiap ada kesempatan, dia akan menatap Kahi dengan penuh cinta.


Bermain di zona permainan, mencoba semua jenis permainan. Berteriak, juga tertawa tak ada habisnya. Usai bermain di zona permainan, Haki membawa Kahi untuk beristirahat.


Saat ini mereka berdua sedang duduk di restoran yang berada di rooftop mall. Menikmati makanan dan juga minuman yang mereka pesan. Melihat pemandangan langka yang hanya bisa dilihat di restoran itu.


"wah, bahkan pemandangannya lebih bagus dari pada di kafeku. Aku baru tahu di sini, ada restoran sebagus ini" ujar Kahi. Matanya sejak tadi tak henti melihat ke sekeliling restoran. Mengagumi pemandangan yang tersaji di sana.


Sementara Haki, dia hanya memandang satu titik. Wanita yang duduk di seberangnya adalah titik itu. Tangan kanannya terulur, menyentuh tangan kiri Kahi. Sontak membuat Kahi menghentikan acara mengagumi restoran itu.


"terima kasih untuk kencan terindah ini" kata Haki dengan nada lembut.

__ADS_1


__ADS_2