
"menikahlah denganku"
Karin terpaku, dia terdiam. Hatinya boleh bahagia. Tapi rasanya juga bimbang. Dia menerima dua pernyataan cinta dari dua lelaki. "kau tahu, aku tidak pernah berhenti berharap kau akan jadi wanitaku. Aku memintamu datang ke sini, dan kau datang. Bolehkah sekarang aku merasa menang" ujar Ikal dengan senang.
Angin pantai berhembus pelan, mengenai rambut Karin yang terurai. Cahaya rembulan berpendar cantik di langit. Harusnya ini jadi moment romantis yang sangat mengesankan untuk Karin. Tapi justru hatinya gelisah.
Entah apa yang mengganggu pikirannya.
*
Kahi tertidur dengan lelap di bahu Haki. Sudah lewat tengah malam, tetapi lelaki itu masih betah terjaga. Dia baru saja menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Saat tiba-tiba Kahi menyandarkan kepalanya di bahunya.
Tangannya menyapu sisa sisa air mata yang mengering di pipi mulus wanita itu. Haki tersenyum tipis. Lalu dia memindahkan kepala Kahi perlahan ke pangkuannya. Setelah itu dia berusaha meregangkan otot bahunya yang kram.
Haki melepas jaket hodie yang dia pakai dengan perlahan. Lalu meletakkan jaket itu di atas kaki Kahi. Kemudian dia berusaha untuk memejamkan kedua matanya.
Pagi sekali dua orang dewasa itu terbangun karena tangis bayi Aka. Yang menginginkan asi dari Kahi. Sembari menyusui bayi Aka. Tangannya menyentuh kening dan lengan bayinya. Tak lagi terasa hangat dan panas.
Dia kini bisa bernafas lega. Tapi seseorang yang sedang menatapnya dengan hangat. Justru terlihat berbeda. Wajah lelaki itu terlihat pucat.
"apa kamu sakit, wajahmu terlihat pucat sekali" ujarnya. Haki menggeleng dengan pelan. "aku baik-baik saja, jangan khawatir" kata Haki meyakinkan dirinya.
"apa kau yakin, kau terlihat seperti mayat hidup" usai membuat bayi Aka kembali tertidur. Kahi meletakkan bayi mungil itu kembali ke atas tempat tidur. Lalu menghampiri lelaki itu. Dia berdiri tepat di depannya.
Tangannya terulur, lalu menyentuh kening Haki. Seperti dugaannya. Rasa panas dari tubuh Haki menyengat di punggung tangannya.
"kamu demam" katanya dengan cemas.
__ADS_1
*
Kahi tak tega saat dia akan meninggalkan bayi kecilnya di rumah Lia. Tetapi seseorang yang sedang terbaring sakit di rumah sakit juga membutuhkan dirinya.
"sudah, kamu pergi saja. Kasian Haki" Lia mendorong pelan bahunya. "ya sudah. Aku pergi mba. Titip Aka ya" Lia mengangguk sembari tersenyum.
"dia sudah pergi" kata Lia sembari melirik seseorang di balik pintu. Setelah sang adik tak terlihat lagi. Juan keluar dari tempat persembunyiannya.
"seharusnya kamu minta maaf sama mereka berdua, mas. Bukan malah begini terus. Pengecut" sindir Lia.
Juan hanya diam. Dia tak berniat menyangkal ucapan sang istri.
*
2 tahun kemudian.
"papa" teriakan dari Aka membuat Kahi menoleh ke arah pintu pagar yang sedang dibuka. Haki berdiri dengan membawa buket bunga mawar, juga maianan di tangan lainnya.
Kaki kecil Aka berlarian ke arah Haki. "papa papa"
"Aka, jangan lari nak" Haki mempercepat langkah kakinya. Mengikis jarak diantara dia dan Aka. Sementara Kahi melihat mereka berdua dengan hangat. Dia menghampiri Haki yang sedang berusaha untuk menggendong Aka.
"hai, ini buat kamu" Kahi menerima buket bunga itu dengan senang. Mereka berdua berjalan beriringan menuju gazebo.
Setelah turun dari tangan Haki. Aka kembali bermain di halaman rumah itu dengan senang. Sedangkan kedua orang tuanya sedang sibuk dengan pikirannya masing masing.
"Kahi"
__ADS_1
"hmm, apa". Kahi menatapnya dengan hangat. Dia menunggu Haki bersuara dengan sabar. Tapi lelaki itu justru merasa tegang. Haki menelan salivanya dengan susah payah.
"hoiii" suara teriakan Juan membuat Haki semakin tegang. "sejak kapan dia ada di sana" ujarnya lirih.
"sejak semalam, mba Lia sama bang Juan juga anak anaknya" Kahi memberi jawaban atas pertanyaan Haki tadi.
Lelaki itu meringis saat Juan dan juga keluarga kecilnya ikut duduk di gazebo. Sedangkan Lia berusaha menahan tawanya agar tak meledak.
"lamar adik gue. Atau gue cariin papa baru buat Aka" Haki membulatkan kedua matanya. Dia dengan cepat mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah Juan. Yang sedang menatapnya tajam.
"i iya bang" katanya terbata. "iya apa" sela Juan. "saya mau melamar Kahi, bang. Supaya saya tetap jadi papanya Aka. Supaya abang nggak cari papa baru buat Aka" sontak jawaban dari mulut Haki membuat dua wanita dewasa itu tertawa bersama.
"bagus, kapan lu mau lamar adik gue. Sekarang atau tidak sama sekali" Juan menantangnya dengan cepat.
"Kahi, menikahlah denganku. Mau kah kau jadi istriku" katanya dengan cepat dan gugup sembari meraih tangan Kahi.
Sementara Kahi yang belum siap dengan lamaran dadakan itu hanya membeku. Dia melirik sang abang yang mengangguk setuju. Tanda jika Juan telah memberikan restu untuk mereka berdua.
Dengan haru Kahi mengangguk sekali. Dia menerima lamaran Haki yang terakhir kali. Setelah ratusan lamaran yang sudah Haki lakukan.
Kahi berharap mereka bisa hidup dengan penuh kebahagiaan. Kahi yakin jika Haki bisa memberi dia dan Aka kebahagiaan.
Saat dua insan yang sedang dimabuk asmara itu hampir berciuman. Juan mendorong wajah Haki dengan kencang. Hingga tubuh lelaki itu terjungkal ke belakang.
"enak aja lu. Nikahin dulu adik gue"
Akhirnya, setelah penantiannya. Haki bisa melihat tawa lepas dari orang orang yang dia sayangi. Dia berharap moment ini tidak akan pernah hilang lagi.
__ADS_1
End