Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
58.


__ADS_3

Karin berlarian di sepanjang koridor rumah sakit. Dia sempat mendapat teriakan juga teguran dari beberapa orang di sepanjang koridor. Tapi tak menghentikan larinya.


Dia hanya mengucapkan maaf, lalu berlari lagi hingga di depan pintu ruang perawatan Haki. Tanpa mengetuk pintu, Karin langsung membuka pintu. Kemudian menutupnya kembali. Dia mengatur nafasnya yang memburu. Sembari melangkah mendekati dua tempat tidur dengan dua pasien terbaring di masing-masing tempat tidur.


"maaf lama, ini makanan yang lu minta" katanya sembari menyodorkan bungkusan makanan di depan Haki. "thank ya, makanannya sudah datang. Hi. Kamu mau makan sekarang" Haki


Tak ada pergerakan dari Kahi. Posisi tidur yang membelakanginya, menyulitkan Haki untuk melihat wajah Kahi.


"apa dia sedang tidur" Karin mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi bingung yang dia tunjukkan. "biar gue lihat dulu" kata Karin sembari berjalan memutari tempat tidur Kahi.


"gimana" tanyanya tak sabar. "tidur, kelihatannya nyenyak banget. Nggak tega gue kalau lu minta gue harus bangunin dia" ujar Karin.


Haki menggeleng cepat, "tidak perlu, biarin saja dia tidur. Semalam dia kurang nyenyak tidurnya. Lu sendiri gimana, rapat sama Dewangga sudah beres"


"belum apa-apa. Tapi lu sudah minta beliin makanan. Kan gue jadi ninggalin rapat" Ujar Karin kesal.


"sorry, gue tadi nggak tega lihat Kahi pengen banget sama makanan yang tadi. Menurut artikel yang gue baca. Kemauan ibu hamil itu wajib dituruti. Lagian Dewangga nggak akan marah sama lu. Dia itu fans berat lu" sela Haki cepat.


"terserah deh kalau nanti dia malah marah sama gue. Itu urusan lu, karena kalau lu sembuh. Kerjaan ini lu yang handel" protes Karin.


"oke, tapi setelah gue berhasil balikan sama Kahi. Lu harus terima salah satu dari lamaran mereka" pinta Haki sembari mengedikkan kedua alisnya.


Karin tak menanggapi ucapan dari Haki. Dia hanya diam saja. Pikirannya terlalu sibuk dengan pekerjaan, juga urusan sang saudara sepupunya. Karin mengangkat dua bahunya, tak peduli dengan masalah dirinya sendiri saat ini. Fokusnya hanya pada kehidupan Haki dan wanita yang dia cintai itu.


Dia sudah berjanji untuk menjaga, dan melindungi satu satunya keluarga yang peduli pada dirinya. "gue pamit" katanya dengan pelan. Direspon acungan ibu jari tangan Haki tinggi.

__ADS_1


Dia keluar dengan perlahan. Kemudian kembali menutup pintu secara perlahan juga. Karin menyandarkan punggungnya pada daun pintu. Pikirannya melayang-layang pada lamaran Ikal lima bulan lalu.


Juga lamaran dari seseorang yang dulu sangat dia benci. Karin menghela nafasnya. Lalu memutuskan untuk berjalan menjauh dari tempat itu. Dia memilih mengubur dalam dalam perasaannya. Membiarkan waktu yang akan menjawab semua pertanyaan itu.


*


Karena pekerjaan yang sempat tertunda, Karin tidak bisa menemani dua orang itu di rumah sakit. Dia harus bekerja lembur. Kalau saja siang tadi dia tidak meninggalkan rapat. Apalagi kalau bukan permintaan gila sang adik. Usai mengantarkan makanan ke rumah sakit siang tadi. Dia tidak kembali lagi ke sana.


Rapat juga dokumen yang harus dia periksa sudah menunggunya. Jadilah dua pasien itu terbaring dengan canggung di tempat tidur mereka masing-masing.


Kahi berpura-pura tidur. Agar lelaki di belakangnya tak mengajaknya untuk berbicara. Dia sedang mengutuk dirinya sendiri, yang terjebak di tempat ini bersama dengan lelaki yang ingin dia hindari.


Tapi sepertinya janin di dalam kandungannya, tak membiarkan dirinya tidur dengan nyaman. Karena perut yang semakin besar, semakin membuatnya kesulitan melakukan apapun.


Termasuk tidur yang tak nyaman. Meski dia sudah menghadap ke arah kiri. Yang berarti harus membelakangi Haki pun sedang dia lakukan. Tapi gerakan tiba-tiba di dalam perutnya, cukup membuatnya terjaga.


"apa aku bisa membantumu melakukan sesuatu. Supaya tidurmu bisa kembali nyaman" tanya Haki dengan lembut.


"aku tahu kamu belum tidur" katanya lagi, kali ini dengan suara keras. Kahi yang sangat kesal, akhirnya menyerah. "ya baiklah. Apa kamu bisa membelai perut ini. Dia terus menendang, aku jadi susah tidur" protesnya sembari memutar tubuhnya sedikit. Lalu menunjuk perut buncitnya.


"hah, te ten tentu" Haki dengan pelan menuruni tempat tidurnya. Kemudian berjalan memutar sembari membawa tiang infus. "lalu, aku harus bagaimana" tanyanya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"gunakan tanganmu untuk mengelus" jawab Kahi dengan mata tertutup. "ah baiklah. Aku akan mengelus perutmu" katanya salah tingkah.


Tangannya terangkat, lalu terulur untuk menyentuh perut buncit yang tertutup selimut itu. Dia menggerakkan tangannya dengan sangat pelan. Seolah takut melukai janin di dalam perut Kahi.

__ADS_1


"lakukan dengan lembut. Bukan sangat pelan. Apa kamu tidak merasakan, dia sedang bermain bola di dalam sana" ujar Kahi sambil menyentuh tangan Haki, lalu menggerakkan tangan itu dengan lembut.


"katamu dia sedang bermain bola di dalam sana. Apa dia bayi laki-laki" kedua mata Haki berbinar saat menyadari sesuatu. "iya, dia laki-laki. Maaf aku tidak memberitahumu di awal"


Haki membulatkan kedua matanya, saat merasakan sesuatu menendang tangannya dengan cepat. "kamu merasakannya" Haki mengangguk berkali-kali. Dia tersenyum senang. Beberapa kali dia terus mendapat tendangan dari janin di dalam perut Kahi.


Hingga tak menyadari, Kahi sudah terlelap sejak tadi. Dia mendekatkan mulutnya pada perut Kahi. "hai jagoan. Jangan terlalu menyiksa ibumu ya. Dia jadi susah tidur. Besok pagi ayah akan menyapamu lagi. Sekarang biarkan ibu tidur ya. Papa sangat mencintai kalian berdua" katanya dengan lirih di atas perut Kahi


Haki berjalan memutar lagi, untuk kembali ke tempat tidurnya. Sekarang sudah hampir tengah malam. Jadi wajar jika sekarang dia sangat mengantuk. Dia sudah beberapa kali menguap setelah merebahkan tubuhnya.


Karena Haki yang tak lagi di depannya. Kahi membuka matanya pelan. Dia tidak benar-benar tertidur tadi. Jadi dia mendengar dengan jelas apa yang Haki katakan pada Janin di dalam perutnya.


*


Hari ini Kahi sudah diperbolehkan keluar rumah sakit lebih dulu. Sementara Haki harus menerima kenyataan, dia masih harus tinggal di rumah sakit beberapa hari kedepan.


Kondisinya yang belum stabil menjadi alasan dokter tak mengizinkan dia keluar rumah sakit lebih awal. Meski dia terus merengek ingin keluar bersamaan dengan Kahi. Tapi usahanya gagal, karena dokter dengan keras melarangnya.


*


Dua hari bersama dengan Haki sudah dilalui olehnya di kamar perawatan. Selama itu juga Haki terus berusaha mengambil hatinya. Dengan melakukan beberapa tindakan yang sangat menyentuh hatinya.


Meski dia sudah mengatakan pada ayah dari janinnya. Dia tidak akan kembali pada lelaki itu.


Kahi mendaratkan pantatnya dengan berhati-hati di sofa apartemennya. Setelah Ikal dan Karin mengantarnya tadi, dia langsung masuk ke apartemennya sendirian.

__ADS_1


Dia menatap foto hitam putih di atas nakas. Itu foto USG dari janinnya. Kahi menyentuh perutnya dengan lembut. Lalu menggerakkan tangannya untuk mengelus perut buncitnya.


"kita bisa menjalani ini meski hanya berdua" katanya meyakinkan dirinya sendiri


__ADS_2