
1 Minggu kemudian
Setelah kondisi Kahi sempat memburuk karena cedera di kepalanya. Akhirnya hari ini dia diperbolehkan pulang.
"mas Gemma kok nggak datang ya" Kahi terus melihat pintu yang masih tertutup.
"dari semalam dia keluar kota. Ada seminar di sana. Mungkin satu atau dua minggu baru pulang" jelas Juan sembari tangannya tak henti merapihkan barang-barang sang adik.
"kalo mba Lia sama Juna di mana" tanya Kahi lagi. Juan berhenti memasukkan baju ke dalam tas, dia menoleh ke arah adiknya yang masih duduk di atas ranjang.
"ada di rumah sama tante Tiar, oh iya Dea juga ada" dia kembali melanjutkan kegiatannya memasukkan baju ke dalam tas.
Kahi melihat ke sekeliling, memperhatikan setiap sudut kamar rawat yang di tempatinya hampir dua minggu lamanya. Ia meraih ponsel di dalam tas selempang miliknya. Memeriksa notifikasi pesan dan juga panggilan.
"wah, ternyata mereka mengkhawatirkan aku" katanya saat melihat nama orang yang dia kenal. Ada deretan pesan dari para karyawan di kafe nya. Juga deretan panggilan dari nomor di kontak ponselnya.
"100 panggilan tak terjawab, siapa ya" Matanya terbelalak saat melihat ada lebih dari 100 panggilan tak terjawab. Nomor asing dan profilnya hanya gambar siluet seorang wanita.
"mana coba abang lihat" dia menunjukkan layar ponselnya pada Juan. "awas bisa jadi ini penipuan. Biarin aja kalo perlu di blok" ujar Juan. Kahi mengangguk lalu melihat kembali pesan yang ada di sana. Tangannya bergerak untuk membuka masing-masing pesan di aplikasi percakapan.
Isi pesan kebanyakan berisi menanyakan tentang kondisinya. Dia membalas satu persatu pesan yang masuk ke ponselnya.
Kahi kembali pada nomor asing tadi, lalu memilih pengaturan. Saat dia akan memblokir nomor asing itu, ternyata nomor itu sudah di blok. Karena penasaran, dia akhirnya membuka blokiran.
"wah banyak banget pesan dari nomor ini"
Tiba-tiba ponselnya bergetar, lama dan berturut-turut pesan dari nomor itu bermunculan. Dia membuka pesan itu tanpa mengkhawatirkan apapun.
Saat membaca isi pesan yang berisi tentang curahan perasaan dari si pengirim untuk dirinya. Dia tidak bisa menahan air mata yang bebas jatuh di pipinya, tangan kirinya dengsn cepat menutup mulutnya. Mencegah agar suara tangisnya tidak keluar.
Tapi terlambat, Juan sudah memperhatikan dia sejak tadi. "ada apa" tanya Juan, dia meletakkan tas ke sofa lalu berjalan ke arah sang adik. "orang ini sebenarnya siapa, bang" Juan mengambil ponsel Kahi, lalu membacanya dengan teliti isi pesan itu.
__ADS_1
Juan tahu siapa pemilik nomor ini, awalnya dia tidak ingin mengangkat telepon pada malam itu. Notifikasi panggilan dari nomor ini yang sangat banyak, membuat lelaki ini membuka blokiran sebentar. Dan berhasil, nomor itu kembali menelpon Kahi. Dia mengangkatnya, hanya untuk mengetahui siapa orang itu.
Dia Haki, hi. Juan
"janga di pikirin dulu, kamu mau keluar rumah sakit hari ini. Jangan malah kamu drop lagi" Juan mengembalikan ponsel miliknya. Lalu dia membantu Kahi duduk di kursi roda. Menunggu sebentar seorang perawat datang, untuk membantu mendorong kursi roda sampai ke lobby.
"terima kasih suster" mereka mengangguk sopan pada perawat tadi. Dibantu Juan, Kahi duduk di kursi penumpang belakang.
Sementara Juan berada di kursi penumpang depan.
**
Di depan rumah Juan, Lia dan yang lainnya sedang menunggu mereka berdua datang. Mobil yang disupiri pak Urip, berhenti tepat di depan garasi. Lia dan Dea berlari ke arah pintu di sebelah Kahi.
Mereka semua membantu membawa barang-barang dan juga memapah Kahi. Meski tidak menggunakan kursi roda, Kahi masih bisa berjalan dengan dibantu tongkat.
"maaf ya, tante nggak bisa jenguk kamu di rumah sakit. Kalo Dea nggak dikabari sama om Edo. Mungkin kita nggak akan pernah tahu kalo kamu di rawat" ujar Tiar saat mereka sudah berada di ruang keluarga.
"nggak apa apa tante. Abang mungkin nggak mau bikin tante tambah khawatir" katanya dengan nada lembut. "kamu sama Juan keluarga tante. Sekecil apapun sakitnya, kalian bisa andelin tante. Lain kali nggak boleh kaya gini, ingat itu Juan" Tiar mengeraskan suaranya di akhir kalimatnya.
"mama cuma khawatir kok, kalian sudah benar sembunyiin ini. Tapi harusnya aku yang kalian kasih tahu, sekarang kita makan dulu" dibantu Juan, Kahi pindah dari sofa ruang keluarga menuju meja makan.
**
"gimana? Jelek ya" Kahi menunjukkan wig yang sedang dipakainya pada Lia dan Juna. "bagus, tapi aneh" kata Lia menilai. Juna yang belum mengerti hanya tertawa senang melihat rambut aneh di kepala sang tante.
"terus gimana dong, apa pake topi aja" dia mengganti wig dengan topi. Memakainya dan bergaya di depan dua orang beda umur itu.
"yah begini lebih baik" ujar Lia. "kapan kamu ke kantor polisinya, aku dengar om Edo minta kamu datang" tanya Lia tanpa mengangkat kepalanya yang sedang memperhatikan sang anak. Kahi terdiam di tempatnya, dia baru menyadari itu. Dia akan kembali bertemu dengan lelaki itu.
"hah, apa aku perlu ke sana. Orang akan menatapku aneh karena aku botak" kata Kahi frustrasi. Dia menggerakkan sebelah tangannya untuk menjangkau tepian kasur. Berpindah secara perlahan, lalu duduk di tepi kasur.
__ADS_1
"nggak akan ada yang ngomong kamu aneh. Selama kamu biasa saja. Jadi diri kamu, mereka nggak akan lihat kekurangan kamu" ujar Lia memberinya nasihat.
"menurut mba, aku aneh atau jelek" tanyanya yang disambut gelak tawa oleh Lia. "dua pilihan itu nggak ada di kamu. Kamu cantik. Percaya sama mbamu ini" kata Lia sambil menepuk dadanya pelan.
"kalau gitu, temenin ya" "oke" kata Juna terbata. Dua orang itu tertawa bersama menyadari Juna yang menjawab.
*
Dia menyesali meminta Lia yang mengantarnya. Buktinya wanita itu malah memilih tetap berada di mobil karena Juna menangis. Takut bertemu polisi katanya. Menggunakan dua tongkat di bawah ketiaknya, dia berjalan perlahan menaiki undakan di depan pintu masuk.
Tiba-tiba seseorang datang membantunya, memegang kedua lengannya agar memudahkan dia menaiki lantai berundak.
"terima kasih, oh" dia sangat terkejut mendapati lelaki yang akan ditemui olehnya baru saja membantunya. "kau datang sendirian" tanya Haki datar. Lelaki itu berjalan selangkah di depannya. "eh sebenarnya ada sodaraku yang mengantar, tapi tiba-tiba keponakanku tidak mau ikut masuk. Jadi dia tetap di mobil" penjelasan darinya bahkan tidak didengar oleh Haki.
Lelaki itu sudah melenggang pergi mendahului dia, dia berdecak sebal pada Haki. Lalu menemui petugas yang berada di bagian informasi. Dengan dibantu seorang polisi wanita, Kahi sudah sampai di depan ruangan milik lelaki tadi.
*Tenanglah, Hi. Kamu bisa
Tok tok*
"masuk" dia mengenal suara orang itu, lelaki tadi yang bersuara. Dengan kesal dia membuka pintu, lalu melangkah dengan pelan masuk ke dalam.
"loh, dia bukannya" Ikal yang ingin melanjutkan bicaranya dipotong oleh mata tajam Haki yang sedang mengintimindasinya. "salahkan, nona" ujar Ikal menyuruh Kahi untuk duduk.
"terima kasih" jawabnya sopan disertai dengan senyuman. Ikal membalas senyumannya lalu kembali menekuni berkas ditangannya.
"anda KahiLa Julie ya" tanya Ikal, kahi mengangguk sekali. "kau datang sendirian ke sini" tanya Ikal lagi.
"dia datang dengan iparnya, tapi keponakannya tiba-tiba tidak mau masuk. Jadi iparnya tetap di mobil bersama keponakannya. Terus pengacaranya tadi bilang tidak bisa datang" jawab Haki cepat, bahkan lelaki itu tidak mengangkat kepalanya saat berbicara.
"wah, kau pacar yang positif ya" tukas Ikal kemudian. "ya" jawab Haki singkat.
__ADS_1
"apa, maaf tapi anda bukan pacar saya" kata Kahi tegas.
Ikal menjatuhkan berkas ditangannya, lalu menatap tak percaya pada dua orang di depannya. Apa mereka sedang bertengkar, pikir Ikal.