
Haki tersungkur karena tiba-tiba seseorang meninjunya tepat di perut. Belum sempat dia mengelak Juan memburunya dengan pukulan juga tendangan. Tak cukup sekali, bahkan beberapa kali. Hingga hidung dan juga bibirnya berdarah. Tapi dirinya tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Atau bahkan mencegah tangan Juan meninjunya.
"dasar brengsek. Kalau sampai terjadi hal buruk pada mereka berdua. Jangan harap kamu akan hidup selamanya" dua tinjuan mendarat tepat di mata dan pipinya, hingga membuatnya kehilangan kesadaran selama beberapa saat.
Rekan sesama dokternya menahan tubuh Juan, yang bersiap menyerang Haki lagi. Sementara dirinya dibantu berdiri oleh dua perawat lelaki. Lalu membawanya untuk duduk di kursi tunggu.
"kau akan mati ditanganku. kalau sampai adikku atau bayinya tak selamat" teriak Juan yang sudah ditarik menjauh oleh rekannya.
Tak lama Ikal dan Karin datang bersamaan menemuinya yang sedang terduduk di lantai. Mereka terlihat datang dengan tergesa.
"bagaimana operasinya" tanya Karin yang langsung berjongkok di depannya. "dia sudah masuk ruang operasi sejak setengah jam yang lalu. Tapi operasinya baru dimulai" jawabnya lesu.
"ayo pindah tempat duduk. Jangan duduk di lantai, ini sangat tidak nyaman untukmu" Haki hanya menatap sang kakak sepupu dengan mata yang sayu.
"kau tidak perlu terlalu khawatir. Mereka berdua pasti selamat. Sekarang, duduklah di sana. Aku akan meminta obat untuk mengobati luka di wajahmu" pinta Karin sembari menarik kedua tangannya.
Haki mengalah, dia mengikuti ke mana tangan Karin menuntunnya. Lalu mendudukan dirinya di kursi tunggu. Ikal menyusulnya duduk, tepat di sebelahnya. Lelaki ceking itu menepuk bahunya dengan pelan beberapa kali.
"dia pasti bisa melalui ini semua. Dia wanita yang kuat" ujar Ikal memberinya semangat. Haki menghela nafasnya lalu mengangguk sekali. Dia kembali menunduk dengan lesu.
*
Lia baru saja mendengar kabar tentang Kahi. Lantas menitipkan kedua anaknya pada sang mama. Dia dengan menaiki mobil miliknya sendiri menuju rumah sakit. Beruntung baginya kedua anaknya tidak rewel ketika dia pergi.
Setibanya di rumah sakit, Lia disambut oleh sang suami. Dengan wajah tak kalah paniknya dengan sang suami. Lia langsung menanyakan kondisi sang adik ipar.
"apa sudah selesai operasinya. Kondisi mereka berdua bagaimana" tanyanya dengan panik. Juan menangkap kedua bahu sang istri. Dia menatap Lia dengan sendu.
"dia masih di ruang operasi. Kamu jangan khawatir mereka pasti melakukan yang terbaik" katanya dengan lembut.
"iya, aku hanya khawatir pada mereka berdua" Lia menyeka kasar bulir air mata yang jatuh di pipinya. "ayo, kita ke sana" ajak Juan.
__ADS_1
*
Lia menoleh pada sang suami, saat dia melihat Haki juga Karin ada di depan ruang operasi. "kamu jangan terlalu keras pada Haki ya, mas" bisiknya sebelum mereka sampai di depan ruang operasi.
Juan hanya menatap sang istri tanpa ekspresi. Seolah sudah mengerti maksud dari ucapan dari Lia, kemudian dia mengangguk sekali.
Melihat kedatangan Lia dan Juan. Ikal berusaha tetap sopan pada keluarga Kahi. Mereka akrab karena beberapa kali dia harus bertemu Kahi juga Lia saat mencari Haki dulu.
Usai menyapa mereka berdua Ikal memutuskan untuk memberikan waktu bagi mereka bertiga. Ikal berdiri di sisi pintu ruang operasi. Sementara Lia duduk diantara suami juga Haki.
*
Setelah operasi berjalan satu jam lamanya. Seorang perawat muncul di ambang pintu ruang operasi. "suami pasien Kahila Julie" panggilnya.
Haki juga Juan langsung berjalan mendekat pada perawat itu. "tunggu, suami dari pasien kalian berdua. Dokter Juan anda siapanya pasien" tanyanya dengan wajah bingung.
"saya kakak pasien. Jangan pergi pedulikan orang ini. Tolong bicara padaku saja" jawab Juan cepat.
"bukan, suster. Dia orang asing" Juan mendorong tubuh Haki, hingga menghalangi perawat untuk melihat Haki.
"ah, kalau begitu. Siapa lelaki yang bernama Haki. Dokter ingin menemui beliau sekarang" kata perawat itu dengan tegas.
Karena merasa menang. Haki melangkah cepat untuk mengikuti perawat itu memasuki ruang operasi. Tak butuh waktu lama untuk bertemu dokter yang sedang mengenakan pakaian khusus untuk operasi itu.
"anda suami pasien" tanyanya dokter itu langsung. "benar dokter. Bagaimana kondisi istri saya, dokter" jawabnya dengan gusar.
"selamat ya pak. Putra anda telah lahir dengan sehat danselamat. Tapi sekarang ini, ibu bayi dalam kondisi kritis paska persalinan. Beliau terlalu banyak kehilangan darah saat proses persalinan tadi. Masalahnya stok darah dengan golongan darah B + sedang kosong. Hanya satu kantong yang tersedia, itu pun sekarang sedang dipakai oleh pasien. Kami juga sudah berusaha menghubungi bank darah, tapi kebetulan mereka juga tidak memiliki ketersediaannya sekarang. Kalau anda atau keluarga anda memiliki golongan darah yang sama dengan pasien. Tolong infokan pada kami. Karena pasien benar-benar membutuhkannya sekarang" penjelasan dari dokter tidak sepenuhnya masuk ke dalam otaknya.
Kedua bola matanya membulat sempurna. Dia sangat terkejut saat mendengar Kahi kritis. Apalagi ternyata dia kehilangan banyak darah.
"anda bisa mengambil darah saya, dokter. Anda bisa mengambil sebanyak apapun. Tolong selamatkan istri saya. Golongan darah saya juga B +" seru Haki kencang.
__ADS_1
"baik. Kalau begitu silakan ikut dengan perawat Bella"
*
Di ruangan yang serba putih, dengan banyak kabel yang menempel pada tubuh Kahi. Alat bantu pernapasan yang juga terpasang menutupi mulut dan hidungnya. Haki hanya bisa menoleh untuk melihat Kahi yang terbaring lemah di atas ranjang.
Sementara dirinya sendiri sedang terbaring di ranjang lainnya. Tepat di sebelah ranjang Kahi. Di lengannya tertanam jarum yang terhubung dengan selang tipis. Selang yang mengalirkan darahnya untuk ditampung pada kantung. Lalu darah dari kantung di alirkan melalui selang tipis ke pembuluh darah di lengan Kahi.
*
Haki berusaha untuk berjalan dengan tegak, meski harus perpegangan pada dinding. Dia memutuskan untuk ke ruang khusus bayi. Setelah tadi sempat beristirahat sebentar. Syukurlah darah yang Kahi butuhkan cukup didapatkan darinya. Meski akhirnya dia harus merasakan pusing akibat terlalu banyak mengeluarkan darah. Setelah hampir empat jam lamanya dia mendonorkan darahnya untuk Kahi.
"Ki, aku sudah nunggu kamu dari tadi" Haki mengerutkan keningnya, menyadari ada yang salah dengan cara bicara Karin.
"sejak kapan cara bicaramu jadi seperti itu. Kau mulai mengikuti gaya bicara Dewangga" ledeknya sembari melanjutkan langkahnya.
"tidak ada yang salah dengan cara bicaraku. Berusaha untuk lebih lembut dan sopan, tidak ada yang salah kan" bela Karin.
"ya, kurasa begitu" ujar Haki cuek. "mau makan sesuatu. Kata dokter kamu butuh banyak makan dan minum. Supaya kamu cepat kembali pulih" Haki menggeleng, dia terus berjalan mendahului Karin.
"Haki. Mau ke mana sih. Kamu harus makan dulu" dengan cepat Karin menghalangi Haki yang sedang berjalan. Hingga membuat lelaki itu berdecak sebal.
"minggirlah, aku ingin menemui bayiku" katanya dengan kesal.
"makanlah dulu. Nanti kamu bisa temui bayimu, Ki" bujuk Karin.
"Rin, sekarang aku tidak punya waktu untuk makan. Sebelum Kahi lepas dari masa kritisnya"
"hei brengsek. Kalau kau mau mati, setidaknya aku yang akan membun... Aaaggggrrrh" Juan menghentikan ucapannya karena rasa sakit di perutnya akibat dari cubitan sang istri.
"sayang, sakit" bisiknya tempat di telinga sang istri. "awas, jangan macam macam" ancaman dari Lia berhasil membuat Juan menciut karena takut.
__ADS_1