
Haki membuka matanya dengan susah, kepalanya berdenyut dan pusing. Tangannya menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Hingga tubuhnya yang hanya mengenakan celana panjangnya terlihat.
Matanya menangkap sesuatu tepat berada di atas perutnya. Dia menoleh dengan cepat pada pemilik tangan di atas perutnya, matanya membulat sempurna.
Haki langsung berdiri lalu melihat ke sekeliling kamar, mencari-cari di mana pakaiannya berada. Setelah memungut pakaian miliknya di atas lantai. Haki mengenakan pakaiannya dengan susah payah.
"aagggrrh, kepalaku" ia berusaha berjalan meski kepalanya masih sangat pusing. Tangannya berpegangan pada dinding untuk membantunya berjalan.
Saat dia sudah berada di depan pintu untuk membukanya. Tiba-tiba pintu terbuka dari arah berlawanan oleh seseorang. Dan tubuhnya langsung jatuh ke belakang, terkena bogem dari seseorang yang sedang memandangnya dengan marah.
"sudah kuperingatkan, jangan membuat adikku menangis. Tapi kau malah membuatnya kecewa" Juan menarik kerah bajunya dengan paksa.
"dengar kataku b*******, jangan harap kau bisa menikahi adikku" kata Juan dengan keras, lalu Juan kembali memukulnya dua kali tepat di wajah Haki. Hingga membuat lelaki itu tak lagi bisa berdiri.
Juan beranjak pergi dari sana dengan marah, meninggalkan Haki yang terkapar tak berdaya. Sedangkan di atas tempat tidur, wanita yang tadi bersama Haki terjaga. Dia buru-buru menghampiri Haki yang masih terbaring di lantai.
"Haki" panggil wanita itu sembari menyentuh luka sobek di sudut bibirnya. "lepaskan tanganmu" Haki mencengkram lengan mulus itu, lalu menghempaskannya kasar.
"Ki, kenapa kamu jadi kasar sama aku" Haki hanya diam, lalu berusaha bangkit dengan bersusah payah. Wanita tadi berusaha meraih lengannya, tapi lagi-lagi Haki menepis tangan wanita itu kasar.
Setelah dia berdiri, Haki mendekat ke arah wanita yang masih tak mengenakan pakaian sama sekali. "siapa yang membayarmu, untuk menjebakku hah" Haki mendorong tubuh wanita itu hingga membentur dinding.
Dengan menggunakan satu tangannya, Haki mencekik leher wanita itu. Wajahnya sangat merah padam, dia tak peduli dengan wanita yang sedang kesusahan bernafas itu.
"Haki, tolong lepasin aku" wanita itu berusaha menarik tangan Haki dari lehernya. Tapi dia tak berhasil melakukannya, Haki justru semakin mencekiknya dengan kencang.
Dengan kasar Haki melepas tangannya dari leher wanita itu, hingga terkulai lemas dengan nafas tersenggal. "kita melakukannya, Ki. Kamu dan aku sama-sama menginginkannya. Tolong jangan menuduhku" tangannya meraih kaki Haki, memeluknya dengan dua tangannya.
"aku harap kau tidak akan pernah lagi muncul dihadapanku. Bianca" katanya dengan dingin sambil melepas kakinya dengan kasar. Sehingga membuat wanita bernama Bianca itu kembali tersungkur ke belakang. "Haki, kamu yang memintaku melakukannya. Kamu yang memintaku" Bianca terus berteriak sambil menangis histeris mengantar kepergian Haki hingga hilang di depan lift.
__ADS_1
Setelah Haki pergi, dia menghapus jejak air matanya. Lalu berbalik masuk kembali ke dalam kamar hotel yang dia pesan tadi. Melangkah cepat untuk memungut pakaian miliknya yang bertebaran.
*
Haki dengan cepat berlari menuju lobby hotel, kemudian menghentikan taksi yang lewat di depannya. "ke jalan raya pantai, pak" dia mengarahkan tujuannya pada supir taksi. "baik, tuan" jawab supir itu.
Dia dengan cemas duduk di kursi belakang, tangannya tak henti saling meremas. Dia berharap Kahi bisa mendengar penjelasan darinya. Atau setidaknya dia bisa mengatakan itu, meski Kahi kembali marah padanya.
Haki tak henti memaki dirinya saat sampai di rumah Kahi. Tidak ada satu orang pun di rumah itu. Dia kembali berlari ke jalan depan rumah Kahi, untuk masuk lagi ke dalam taksi yang menunggunya tadi.
*
Haki kini sudah sampai di bandara, berlarian menuju terminal keberangkatan. Mencari keberadaan Kahi, bertanya pada petugas bandara. Tapi setelah berputar beberapa kali, dia tak menemukan di mana Kahi. Akhirnya dia menyerah, dengan penyesalan yang tak akan pernah bisa dia lupakan.
Haki terduduk dengan tampilan yang sangat berantakan. Pakaian juga rambutnya yang berantakan membuat orang melihatnya aneh. Tapi dia tak peduli, dia hanya ingin menemui wanita itu.
Cukup lama dia berdiam diri di sana, sampai Karin yang datang dengan tergopoh-gopoh mendekat ke arahnya. Haki mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata, lalu dia membiarkan saja saat Karin memeluk tubuhnya yang bergetar.
*
"Kahi kasih tahu gue, lu ada di sini" katanya dengan pelan. Haki langsung menoleh ke arah Karin, seolah meminta wanita itu untuk menjelaskannya.
"dia bilang, dia lihat lu di sini. Tapi dia nggak bisa ketemu lu, bahkan buat lihat lu dia sudah nggak mau. Gue nggak tahu masalah kalian berdua apa lagi, sampai dia memilih buat pergi dari lu lagi"
Haki menggeleng lemah, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi besi. "gue sudah kecewain Kahi, Rin. Gue gagal" Haki terus memejamkan kedua matanya, sedangkan matanya tak henti mengeluarkan bulir air mata.
*
Sementara itu di dalam pesawat Kahi terus menangis. Kemudian perjalanan di lanjutkan dengan mobil untuk menuju rumah Juan. Seperti saat di pesawat, di mobil pun dia terus terisak pelan.
__ADS_1
Pernikahan impiannya batal hanya dalam hitungan hari. Calon suaminya malah berkhianat, mengingkari janji yang baru dia ucapkan tempo hari saat melamarnya.
"kamu baik-baik saja" Lia menepuk pelan lengannya. Kahi mengangguk sekali, "iya mba, aku baik-baik saja" katanya lirih dengan berurai air mata.
Lia melingkarkan tangannya untuk memeluknya. Kahi balas memeluknya, lalu menangis dengan pilu. Menumpahkan semua rasa sakit di hatinya. Memberitahu dunia jika dia sangat terluka.
Lia hanya diam membiarkan sang adik ipar menangis di pundaknya. Sementara Juan memandang sang adik dengan emosi. Juan tak akan memberi lelaki itu kesempatan lagi. Meski sangat menyiksa batinnya. Ia masih ingat dengan jelas, bagaimana foto juga video Haki membuatnya sangat marah.
Flashback
Pagi sekali ponsel Juan sudah bergetar berkali-kali. Ada notifikasi pesan dari nomor asing, juga daftar panggilan tak terjawab dari nomor yang sama.
Juan hampir membanting ponselnya ke lantai, jika sang adik tak mendatanginya dengan berderai air mata. Dengan cepat Kahi memeluknya, mengadukan apa yang membuatnya menangis. Sialnya Kahi juga mendapatkan pesan sama persis seperti pesan di ponselnya.
"bang, Haki nggak mungkin mengkhianati aku kan. Haki sudah janji sama aku, bang" suara sang adik semakin membuatnya marah. Lelaki yang sama sudah menyakiti adiknya sebanyak tiga kali, dia tidak akan membiarkan Kahi menderita lagi.
"tunggu di rumah, abang cari laki-laki itu. Kamu tenang saja ya, jangan menangis lagi" ujarnya mencoba menenangkan sang adik. "tolong jangan sakiti Haki, bang" pinta sang adik.
"dengar kata abang ya. Dia harus tahu sudah melukai adik abang. Jadi dia harus mendapat perhitungan yang setimpal" kata Juan sambil mencengkram kedua lengan adiknya lembut. Kahi mengangguk pelan.
*
Setelah meninggal rumah, Juan dengan cepat meluncur ke hotel tempat Haki menginap. Di dalam perjalanan, dia meminta Lia memasukkan kembali barang-barang mereka juga milik Kahi.
Ketika sampai di depan hotel, Juan tak lagi menemui resepsionis. Dia berlari untuk mencapai lift yang sedang terbuka. Kemudian menekan tombol 5. Setelah sampai di lantai 5, buru-buru Juan melangkah mendekati pintu kamar dengan nomor 200 terpasang di pintu.
Kakinya menendang pintu dengan mudah, saat dia melihat lelaki itu tepat ada di depannya. Juan tak menyia-nyiakan kesempatan, satu tinjuannya bersarang di wajah Haki. "sudah kuperingatkan, jangan membuat adikku menangis. Tapi kau malah membuatnya kecewa" Juan menarik kerah baju Haki dengan paksa.
"dengar kataku b*******, jangan harap kau bisa menikahi adikku" kata Juan dengan keras, lalu Juan kembali memukulnya dua kali tepat di wajah Haki. Hingga membuat lelaki itu tak lagi bisa berdiri.
__ADS_1
Kau akan mendapatkan balasan dariku. Kau akan hidup dalam penyesalan, selama sisa hidupmu.
Flashback off