Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
3.


__ADS_3

"kau sudah menikah?"


Kalimat itu terus kembali seperti enggan membiarkan Kahi untuk tidur, ini sudah enam jam sejak pertanyaan itu di terimanya. Meski sudah berada di kamar nyamannya justru kantuk belum juga menderanya. Harusnya ia tak pergi dan menunggu pertanyaan lain dari pria itu, yang justru sekarang membuat ia tak bisa tidur.


Sudah sejak tadi sang kakak ipar menerornya dengan gedoran pintu yang tak kunjung ia tanggapi. Rasanya seluruh tubuhnya tak mampu untuk bangun meski matanya belum juga beristirahat. Haruskan ia mengalah dengan hatinya lagi, tapi ia takut kejadian 19 tahun yang lalu akan membawa dirinya terkubur bersama kekecewaan lagi.


Dor dor dor


"aunty hihi, aunty hihi"


Dor dor dor


Suara khas anak balita yang ceria itu ia mengenal sekali, keponakannya yang menggemaskan itu selalu memanggilnya dengan "HiHi".


Huufff, aku bukan hihi tapi kahi


Ingin ia berteriak seperti itu pada balita menggemaskan yang masih saja menggedor pintunya itu. Dengan sedikit kekuatan yang tersisa ia melangkah perlahan ke arah pintu kamarnya membuka kuncinya dan menarik perlahan tuas pintu itu, hingga memperlihatkan sang keponakan yang tertawa riang memperlihatkan giginya sedang digendong sang ibu.


"sorry hi, abisnya lu diem bae hehehe"


Ujar lia dengan cengiran hasnya,


" kenapa mba? " tanya kahi sambil kembali berjalan ke arah kasur berukuran queen size nya. Berniat ingin kembali tidur namun suara selanjutnya berhasil menghentikan gerakan tangan yang sedang menarik selimut untuk menutupi kakinya.


" gue denger lu ketemu Haki ya? Lu baik baik aja kan? Mas juan cerita ke gue pas dia liat lu lagi duduk berdua sama Haki. Kata mas juan, dia udah beberapa kali ketemu Haki di Rs. Haki juga bilang pengen banget ketemu ama lu, tapi mas juan gk pernah kasih respon ke doi. Mas juan mau tau gimana perasaan lu Hi, dia gk berani nanya ke lu karna takut lu masih kecewa. Jadi gue yang... "


*Ah tunggu, apa tadi? Mba Lia gk pernah ngomong serius ke aku kan.


" it's ok*, mba. Aku baik-baik aja kok. "

__ADS_1


" eh tapi,... "


" aku cuma pengen tidur mba, please ya"


Kini kahi sempurna sudah berada di dalam selimut hanya menyisakan ujung kepalanya saja yang menyembul keluar. Tidak ingin mengganggu sang adik ipar lagi dengan sedikit kecewa Lia kembali keluar dari kamar Kahi sambil menggendong Juna.


" ayo Juna biar aunty bobo ya, Juna main sama mama ok"


"ok ok" suara tawa Juna mengiringi mereka keluar dari kamar itu.


*


Sudah satu minggu sejak malam tahun baru yang membuat kahi tak tidur seharian, ia masih disibukan oleh laporan tahunan yang baru ia periksa. Seharian berada di dalam ruang kerjanya berkutat dengan laptop dan lembaran-lembaran kertas melupakan makan siang dan juga makan malam. Tepat waktu menunjukan pukul 20.00 seseorang mengetuk pintu ruangannya, memberitahukan bahwa seseorang tengah mencarinya dan menunggunya. Kahi sedikit melakukan peregangan karena terlalu lama duduk.


"siapa yar? "


" cowok mba, cakep banget"


"di dekat kaca mba, yang make setelan jas item"


"thank ya"


Kahi perlahan menghampiri seorang pria yang tengah duduk membelakanginya, beberapa langkah lagi ia sampai di meja itu. Aroma musk dari parfum merk mahal menguar di sekeliling pria itu. Kahi mengernyit seperti tak asing dengan aroma parfum ini.


" anda mencari saya? " tanya kahi sopan tak kala berdiri di sebelah pria yang masih memandang ke arah kaca untuk melihat suasana malam hari di luar.


Setelah pria itu menoleh pada Kahi, waktu seakan berhenti berdetak karena mata tajam itu mengunci kahi.


Keduanya sama sama terdiam di tempat, tak ada yang memulai suara. Kahi seakan marah pada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia berpenampilan seperti ini. Bayangan di kaca menunjukan rambut sebahunya yang terlihat seperti singa karena ulahnya beberapa kali ia harus menggaruk rambut saat sedang berfikir. Sekarang ia mengutuki dirinya lagi karena tak berfikir akan bertemu dengan pria ini lagi setelah satu minggu berlalu.

__ADS_1


" ehem, jadi ada apa? " kahi memberanikan diri bertanya setelah lelah harus berdiam diri. Pria di hadapannya meraih gelas kopi dan menyesapnya perlahan.


" apa kau masih marah? "


" ada apa? Tolong bicara terus terang."


Kahi terlihat mulai jengkel jika seseorang tak langsung pada permasalahannya malah seolah mengulur ulur waktu.


"aku masih menunggumu untuk memaafkanku, Hi. "


Haki menggenggam erat tangannya di bawah meja,


Baru kali ini ia gugup hanya untuk berbicara dengan seorang wanita. Terlebih wanita yang sekian tahun memendam perasaan kecewa padanya. Ia sudah bertahun-tahun mencari wanita ini dan tak sengaja bertemu dengannya diacara pesta tahun baru yang diadakan oleh teman-teman kuliahnya. Berkat bantuan Bianca ia bisa berbicara waktu itu. Tapi sudah lama tak bertemu malah pertanyaan lain yang ia lontarkan. Yang justru membuat ia menyesalinya sepanjang malam. Kini ia kembali dihadapkan dengan wanita itu lagi kenapa seolah lidahnya seperti kaku.


Sekali lagi tak ada yang memulai suara diantara mereka, keduanya sibuk degan pemikiran masing-masing.


Malam gelap diluar betambah gelap dengan hujan yang tiba-tiba saja turun dengan deras. Langit seperti mengerti bagaimana dua manusia tengah menumpahkan kekecewaan pada hati mereka sendiri.


"Baehaki Subekti, ku tekan kan sekali lagi. Sejak terakhir kau mengecewakanku itu artinya tidak ada lagi kata maaf untukmu. Sekarang anda bisa meninggalkan kafe ini beserta rasa bersalah anda. "


" permisi"


Ini sudah benar kahi, kau harus membuatnya sadar. Kau sangat kecewa karena dia


Kahi keembali menaiki anak tangga meninggalkan Haki yang mengusap kasar wajahnya. Mengacak rambutnya kasar dan kembali berdiam diri di dalam ruang kerjanya.


Terduduk di lantai di sebelah sofa tempatnya biasa beristirahat, menekuk kedua lututnya dan memyembunyikan kepalanya diatas lutut beralaskan kedua tangannya. Membiarkan hatinya sekali lagi egois, berkali kali ia membenarkan bahwa sikapnya sudahlah benar.


Sedangkan Haki, ia beranjak dari duduknya membayar tagihan kopi yang ia pesan lalu bergegas keluar menembus hujan yang masih turun dengan deras menuju mobil miliknya yang terpakir di depan kafe.

__ADS_1


Tak peduli tatapan orang-orang yang meneduh di depan teras kafe saat melihatnya menerobos hujan deras tanpa payung. Kepalanya penuh penyesalan lebih banyak dari sebelumnya. Sampai di mobilnya ia langsung menghidupkan dan menekan gas dengan kencang hingga membuat orang-orang menggerutu karena terkejut.


Dalam keadaan kacau haki masih mengendarai mobilnya dengan kencang. Beruntung jalanan sepi karena hujan deras, jika tidak mungkin saja sudah sejak ia meninggalkan parkiran kafe ia akan menabrak pengendara lainnya.


__ADS_2