
Pikiran Arumi langsung kosong, ia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi pada hari ini, terlalu banyak takdir yang menyinggahinya, sehingga memberikan Arumi kejutan yang tidak ada siapapun orang yang menginginkan nya.
Saat ini Albi sudah berada di gendongan Aslan, dia membawa Albi keluar dari kamar Arumi. Aslan memberikan waktu kepada Arumi untuk melimpahkan segala rasa yang menyesakkan Arumi.
"Kak Ay, tolong biarkan aku sendiri!" Pinta Arumi.
"Tidak! aku tidak akan pernah meninggalkan mu! aku ingin kamu bersandar padaku, mengeluarkan semua rasa sesak yang kamu tahan, sekuat apapun kamu menahan air mata mu agar tidak terlihat oleh kami, terutama Albi, aku tahu kamu membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempat mu bersandar" Ucap Rayya tegas, ia memeluk erat tubuh Arumi. Dan pecah lah tangis Arumi kembali.
"Ini semua salahku... seharusnya aku tidak meminta ayah dan ibu pulang, jika tidak…mereka pasti masih hidup sekarang... ini semua salahku... benar kata nenek, aku anak pembawa sial! tak seharusnya aku berada di dunia ini! ini semua salahku kak! semua... salah... ku... huuuuu..." Arumi melimpah air matanya di dalam pelukan Rayya.
Rayya hanya bisa mengelus puncak kepala Arumi dan punggung Arumi.
"Ini salah ku... seharusnya... aku saja yang mati...! ya benar akulah yang seharusnya mati!" Arumi melepaskan pelukannya lalu ia mengambil sebuah karter yang ada di laci meja belajar nya.
Arumi mengarahkan karter ke pergelangan tangan nya.
"Tidak Arumi! tidak! ini bukan salah kamu! ini sudah takdir yang di berikan oleh Tuhan!" Rayya memeluk kembali Arumi, ia mengambil karter yang di pegang oleh Arumi, lalu membuangnya asal.
"Tidak lepaskan aku!aku akan menyusul mereka! lepaskan... lepaskan... huuu..." Arumi memberontak di dalam pelukan Rayya.
"Aslan! Aslan!" Panggil Rayya berteriak.
"Ada apa? kenapa kamu berteriak?" Tanya Aslan masuk ke dalam kamar Arumi, dan Albi sudah tidak ada bersamanya lagi.
"Lepaskan aku... aku akan menyusul mereka!" Teriak Arumi masih memberontak.
Aslan paham kenapa istrinya memanggil nya.
"Arumi... tenang lah jangan seperti ini ya!" Ujar Aslan ingin menenangkan Arumi.
"Tidak... ayah... ibu... jangan pergi! tunggu aku... aku... ingin ikut... bersama dengan... kalian..." Tangis Arumi histeris. Arumi berhalusinasi melihat kedua orang tua nya masih hidup.
"Tidak! jangan tinggalkan aku... ku mohon... ibu..." Tangis Arumi melemah bersamaan dengan Arumi yang kembali lagi pingsan.
"Sayang bagaimana ini?" Tanya Rayya panik ketika melihat Arumi kembali pingsan.
"Kita bahwa Arumi ke rumah sakit!" Jawab Aslan lalu menggendong Arumi menuju mobilnya, diikuti oleh Rayya.
Untung saja Albi sudah tertidur di kamar nya ,dan pengasuh Albi menjaga nya. Jadi Aslan dan Rayya membawa Arumi ke rumah sakit tanpa membawa Albi.
Arumi di bawa ke rumah sakit yang sama dengan nenek nya dirawat.
Arumi juga mengalami shock berat,dia masih belum bangun dari pingsan nya sejak tadi,ini sudah lima jam Aslan dan Rayya menunggu Arumi, agar segera siuman. Mereka tidak menyangka bahwa Arumi akan sangat terpukul atas apa yang menimpa nya. Yang mereka tahu selama ini adalah, Arumi selalu tegar dan kuat menghadapi apa pun, Arumi tidak pernah mengeluh apa pun yang terjadi pada nya.
Tapi sebenarnya Arumi adalah seorang gadis yang sangat rapuh. Ia sangat pintar menutupi apa yang menjadi masalah nya.
Arumi jarang sekali mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan hatinya.
__ADS_1
Aslan mengira bahwa Arumi hanya akan menangis sesaat saja. Aslan mengira bahwa Arumi akan mengikhlaskan kepergian orang tua nya segera, karena yang ia tahu, Arumi adalah seorang gadis yang sangat kuat. Tapi ternyata tidak. Dugaan Aslan ternyata salah.
Arumi membuka matanya dengan perlahan. Bukan cat abu-abu lagi yang terlihat saat pertama kali Arumi membuka matanya, tapi cat berwarna putih yang terlihat asing di mata Arumi. Saat ini Arumi berada di rumah sakit yang sama dengan nenek nya.
Arumi melihat sekeliling kamar ,terlihat Albi sedang tidur di atas kasur yang ada di dalam kamar inap Arumi tersebut, bersama dengan pengasuh Albi, mereka berpelukan dalam tidur nya.
Tidak ada seorang pun di dalam kamar inap Arumi kecuali mereka bertiga.
Arumi merasa kan haus yang teramat sangat. Ia meraih botol air mineral yang ada di atas meja di samping ranjang Arumi.
Arumi duduk dan menyandarkan tubuhnya, ia menghela nafas panjang.
"Hah! aku harus bangkit! aku tidak boleh terlalu berlarut dalam kesedihan ini banyak yang harus aku lakukan sebelum aku benar-benar menyusul mereka!" Gumam Arumi.
"... dan... Albi, aku tidak boleh terlihat... lemah"
Arumi tengah dalam lamunannya. Ia tidak menyadari bahwa pak Adzril telah berada di samping nya.
"... Nona ... apakah anda sudah merasa baik?" Tanya pak Adzril mengagetkan Arumi.
"Aaaa! pak Adzril! Astaga... huh... pak Adzril mengagetkan saja" Arumi mengelus dada nya yang berdetak kencang karena di kaget kan.
"Saya sudah baik pak" Jawab Arumi setelah merasa detak jantung nya kembali normal.
"Nona ada yang harus saya sampaikan, ini... tentang wasiat terakhir dari orang tua Anda" Pak Adzril dengan serius langsung bicara ke intinya.
***
"Ma... tolong jaga putri dan putra kami, tolong jaga cucu mama ya!" Pinta seorang pria pada mama nya. Dia menggenggam tangan wanita yang disebut nya mama itu.
Sedangkan wanita yang dipanggil mama itu hanya terdiam saja, menatap anak nya.
"Ma... hal pertama yang paling aku syukuri di dunia ini adalah, saat mama merestui hubungan kami. Dan yang kedua adalah saat-saat istri tercinta ku melahirkan buah hati kami ke dunia ini" cerita sang anak yang beralih merangkul wanita yang ada di sampingnya. Sang istrinya sendiri.
"Ma... aku sangat sedih ketika melihat mama, membenci darah daging ku , dan itu adalah cucu mama sendiri" Ucap nya terlihat sedih.
"Ma... apa mama ingin menyiksa ku?" Tanya sang anak pada akhirnya.
"Tidak mungkin!apa maksud mu?" akhirnya wanita yang di sebut mama itu mengeluarkan suara nya juga.
"Tapi... mama telah menyiksa ku, dengan tidak menyayangi anak ku, darah daging ku!cucu mama sendiri!" Jawab nya sedih.
Wanita itu tidak tahu harus menjawab apa…
"Ma... mulai lah menerima mereka" Pinta sang putra.
"Jika tidak... ini akan sangat sangat sangat... menyiksa ku" ujar nya.
__ADS_1
"Baiklah... tidak ada salahnya untuk mencoba" Jawab sang mama.
"Terimakasih ma... terimakasih... kami sayang mama" Ucap nya seraya memeluk erat sang mama, diikuti oleh sang istri, anak nya.
Sudahah seminggu lamanya kepergian orang tua Arumi, meninggalkan Arumi bersama dengan Albi. Dan sudah seminggu pula nenek nya koma, terbaring lemas di rumah sakit.
Arumi dan Albi selalu menemani nenek ketika sudah pulang sekolah.
"Nek cepat lah bangun" Pinta Arumi.
Arumi menangis memeluk tangan nenek,Albi yang melihat itupun ikut menitikkan air matanya. Dan memeluk erat Arumi.
Tiba-tiba saja Arumi merasakan ada sedikit gerakan pada tangan nenek yang di peluk nya.
lantas Arumi langsung saja memanggil dokter untuk memeriksa nenek nya.
bersamaan dengan kembali nya Arumi dengan membawa dokter dan beberapa perawat, nenek Arumi telah membuka matanya dengan sempurna, dan terlihat nenek memeluk erat tubuh Albi.
Dokter memeriksa tubuh nenek, setelah selesai di periksa, nenek meminta semua orang keluar dari ruangan dan menyisakan Arumi sendiri, tapi karena Albi tidak ingin pisah dengan Arumi, terpaksa lah nenek memperbolehkan Albi untuk tinggal juga.
"Sayang maafkan nenek! maaf... maaf..." Ucap nenek terbata-bata.
"Ssstt... apa yang mau Arumi maafkan nek? tidak ada! nenek tidak punya salah pada Arumi... Arumi lah yang seharusnya meminta maaf pada nenek" Ucap Arumi menenangkan nenek yang terlihat akan menangis.
"Arumi... Albi... tolong peluk nenek" Pinta nya dengan suara parau.
Arumi dan Albi memeluk erat nenek, mereka bertiga menangis dalam satu. Setelah puas, mereka melepaskan pelukannya, tapi sebelum Arumi benar-benar terlepas dari pelukan nya, nenek membisikkan sesuatu ke telinga Arumi, yang membuat Arumi melotot kan matanya. Tidak percaya.
Sedetik berikut nya Arumi melihat nenek menutup matanya dan terdengar suara tiiiiiittttt... panjang di mesin pendeteksi jantung.
Arumi langsung saja memanggil dokter lagi. Arumi menggendong Albi. Memohon pada dokter agar menyelamatkan nyawa nenek nya. Tapi apalah daya dokter yang tidak bisa menentang kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa sang nenek.
Arumi kembali menangis,ia memeluk Albi erat. Dia tidak percaya bahwa takdir begitu sangat kejam pada nya. Takdir sangat kejam, karena baru saja seminggu yang lalu ia kehilangan orang yang di cintai nya. Dan sekarang... nenek satu-satunya juga pergi meninggalkan nya.
"Apakah takdir ku... akan... selalu di tinggal pergi oleh orang-orang yang ku cintai?" Batin Arumi yang masih belum keluar dari kesedihan nya.
Arumi harus bangkit!ia harus mewujudkan harapan nenek nya. Ia tidak boleh terlalu lama bersedih.
Sore ini adalah hari pemakaman nenek Arumi.
Nenek di makamkan di tempat pemakaman keluarga nya. Sesekali Arumi menghapus air di sudut matanya yang terasa akan mengalir.
Aslan dan Rayya memeluk erat tubuh Arumi. Seolah dengan pelukan yang mereka berikan bisa memperkuat hati Arumi yang sedang rapuh.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗
__ADS_1