
Dengan perasaan campur aduk antara khawatir panik dan tentu nya rasa lapar yang masih melanda Arumi. Dia berkutat di dapur memasakkan bubur untuk majikan nya, Lionel.
Tiga puluh menit lama nya Arumi memasak bubur.
Akhirnya bubur pun siap di santap. Wanginya aroma bubur membuat Arumi merasakan lapar yang sangat mendalam. Karena tidak memungkinkan untuk memakan mi instan yang sudah pasti mengembang. Di karenakan hal itulah Arumi memasak banyak bubur untuk Lionel. Tapi, jika Lionel tidak menginginkan nya. Arumi siap untuk menampung bubur itu.
Dengan bubur dan air mineral yang diletakkan di atas nampan, Arumi menghampiri Sekretaris Rai.
"Sekretaris Rai" Panggil Arumi menghampiri Sekretaris Rai yang duduk di sofa kamar.
"Bubur nya sudah siap. Hemm. Bubur nya saya letakkan di sini ya" Seru Arumi meletakkan nampan di atas nakas.
"Hemm" Jawab Rai.
" Hemm. Sekretaris Rai. Seperti nya. Bubur nya akan dingin jika menunggu tuan Lionel nya bangun, jadi. Jika tuan bangun, sekretaris Rai harus memanaskan bubur nya lagi supaya enak di makan" Ucap Arumi menjelaskan nya pada Rai.
"Hemm" Masih jawaban yang sama di berikan oleh Rai.
"Kalau begitu. Saya permisi dulu" Ucap Arumi yang hendak pergi meninggalkan kamar tamu.
Baru beberapa langkah Arumi berjalan.
Sudah di hentikan oleh suara Rai.
"Tunggu! " Seru Rai.
"Ya tuan. Apa ada yang anda butuhkan? " Tanya Arumi.
Rai tidak langsung menjawab. Dia seperti memikirkan sesuatu sejenak.
Mengingat ada rapat penting antara direktur pemegang saham besok pagi. Dan di karenakan Lionel sakit, sudah pasti Lionel tidak bisa menghadiri rapat. Tentu saja Sekretaris Rai lah yang akan menggantikan Lionel pada rapat penting pagi besok.
Terlebih lagi. Sekretaris Rai yang tidak mengerti bagaimana cara memanaskan bubur yang rasa nya harus sama seperti masakan Arumi semula, jika di cicipi lidah Lionel.
Dan Sekretaris Rai juga harus beristirahat. Karena dia belum sempat istirahat sehabis perjalanan panjang menuju pulang ke rumah. Bahkan sampai di rumah pun Rai harus langsung kembali ke perusahaan, setelah membersihkan diri nya.
Hari hari memang selalu melelahkan. Pikir Rai.
"Seperti nya. Gadis ini bisa cukup di percaya untuk menjaga tuan" Batin Rai setelah memikirkan segala sesuatu kemungkinan yang ada.
"Bisakah kamu yang menjaga tuan malam ini? " Tanya Rai dengan penuh harap. Walau Arumi tidak melihat tatapan penuh harap itu di karenakan ekspresi Rai yang terlihat sama saja di mata Arumi.
"Aku akan meminta izin pada kepala sekolah mu agar liburan mu di tambah sehari lagi" Ucap Rai tegas.
__ADS_1
"Eh" Arumi yang bingung akan menjawab seperti apa. Dia berpikir sejenak.
"Hemm baiklah" Keputusan Arumi pada akhirnya.
Mendengar jawaban Arumi yang suka rela menjaga tuan nya. Rai langsung pergi meninggalkan mereka, berjalan menuju kamar nya. Ingin segera mengistirahatkan tubuh nya.
Sekretaris Rai sudah keluar dari kamar selama satu menit. Tiba-tiba Arumi di kejutkan oleh kedatangan Sekretaris Rai.
"Jaga tuan dengan segenap jiwa kamu. Jika ada terjadi sesuatu pada tuan. Maka kamu tidak akan sanggup menanggung akibatnya" Seru Rai yang tiba-tiba saja kembali lagi.
"Eh. Ah. Iya. Baik" Ucap Arumi terbata-bata.
"Hah sedang sakit saja dia merepotkan. Apa lagi kalau sehat" Gumam Arumi sedikit kesal.
"Kenapa harus pakai segenap jiwa? " Batin Arumi bertanya tanya.
"Kenapa tuan ini tidak di rawat di rumah sakit saja ya? " Gumam-gumam Arumi.
"Ah. Sudah lah Arumi. Kamu tidak boleh mengeluh terus. Dia sudah mau menampung mu, bahkan kamu di gaji dengan nominal yang tinggi " Seru Arumi mengingat kan diri nya agar tidak menyalahkan keadaan Lionel.
"Baiklah. Karena bubur ini terlalu berlebihan untuk seorang pasien. Maka dengan senang hati aku akan menampung sisanya" Gumam Arumi senang.
"Aku akan memakan nya di sini saja " Gumam Arumi lalu pergi ke dapur mengambil mangkok yang telah berisi bubur yang akan di makan nya. Dan kembali lagi ke kamar tempat Lionel berada.
"Eh. Oh iya. Selamat makan tuan" Ucap Arumi pada Lionel yang terbaring lemah dengan cairan infus yang mengalir ke tubuh nya.
Setelah selesai makan malam dengan bubur. Arumi membereskan peralatan makan nya dan meletakkan mangkuk kotor di mesin cuci piring. Lalu kembali lagi ke kamar pasien yang bernama Lionel.
Sesampainya di kamar, Arumi mendorong sofa kecil yang ada di kamar itu agar bisa lebih dekat dengan Lionel. Jika Lionel bangun dan membutuhkan sesuatu Arumi bisa segera tahu karena jarak nya sangat dekat. Dan tentu saja Arumi harus menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan Lionel sewaktu bangun.
Di karenakan waktu yang sudah sangat larut malam. Arumi merasakan kantuk yang teramat sangat. Dia mencari sesuatu di dalam lemari yang bisa di jadikan nya sebagai selimut.
"Nah. Untung saja ada selimut di lemari ini. Hemm. Seperti nya bersih dan masih bisa di gunakan" Gumam Arumi mencium aroma selimut. Ternyata selimut itu masih wangi.
Arumi sudah memposisikan diri nya agar nyaman untuk tidur. Dengan duduk menghadap Lionel Arumi pun tertidur. Dan sudah memasuki alam mimpi. Memimpikan sesuatu yang tidak jelas.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam berlalu akhirnya Lionel bangun dari tidur mendadak nya
"Eugh" Lionel merasakan tubuhnya yang tidak bertenaga. Dan dia merasakan sesuatu yang mengganjal di tangan nya.
__ADS_1
Lionel membuka mata nya. Pemandangan pertama kali yang di lihat Lionel adalah langit langit kamar. Langit-langit kamar yang terasa asing bagi Lionel. Lalu dia menoleh kan kepala nya ke kiri dan ke kanan, ingin segera mengetahui di mana ia berada saat ini.
"Eh. Dia. Kapan dia pulang? " Batin Lionel bertanya tanya setelah melihat keberadaan Arumi di sebelah kanannya.
Di sebelah kanan ada wajah cantik Arumi tanpa kacamata, atau tanpa sesuatu yang biasa di gunakan nya sehari-hari. Sesuatu yang menutupi kecantikan Arumi.
"Eugh. Kepala ku berat sekali rasa nya. Pusing " Gumam Lionel memegang kepalanya.
"Uuhh. Perut ku perih sekali rasa nya"
"Seperti nya" Lionel melihat sekeliling nya lagi. Melihat keadaan sekitar.
"... Aku ada di kamar tamu" Lionel membatin.
"Apa. Aku pingsan? " Tanya Lionel pada diri nya sendiri setelah melihat jarum infus yang tertancap di tangan nya.
"Kenapa dia yang menjaga ku? Kemana Rai? "
"Tidak kah Rai tahu jika gadis ini terlihat kelelahan sekali. Kenapa dia meminta gadis ini yang menjaga ku? Bisa bisa gadis ini juga ikutan sakit karena kelelahan" Batin Lionel melihat Arumi yang terlihat sangat lelah.
"Apalagi gadis ini seperti nya baru pulang dari piknik adik nya. Bukankah piknik itu sangat melelahkan" Batin Lionel menatap wajah tidur Arumi.
Padahal nyatanya Arumi menghabiskan waktu nya bermain game dan mengurung diri seharian di kamar.
"Hemm. Haus" Batin Lionel.
Lionel melihat gelas yang sudah terisi air di atas nampan. Lionel berusaha menjangkau gelas itu dengan hati hati agar Arumi tidak terbangun dari tidurnya.
Letak gelas sangat dekat sekali dengan wajah Arumi. Arumi tertidur dengan kepala miring ke kiri menghadap gelas.
Karena letak gelas cukup jauh. Lionel berusaha untuk duduk, agar lebih mudah menjangkau gelas itu.
"Eugh" Kepalanya yang masih pusing, menyebabkan Lionel mendesah tak tertahan.
Arumi yang baru tertidur selama tiga jam. Dengan kondisi tidur nya yang masih belum bisa di kategori kan nyenyak. Akhir Arumi pun terbangun setelah mendengar desahan Lionel yang kesakitan.
Gadis itu membuka mata nya perlahan. Mengucek mata nya yang masih terasa berat untuk di buka.
"Eh. Tuan" Pekik Arumi ketika melihat Lionel yang mengeluh, merasakan sakit di kepala nya.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗
__ADS_1