Hanya Dia

Hanya Dia
Rasa apa ini?


__ADS_3

Arumi tengah mengoleskan minyak angin di jari telunjuk nya, lalu mendekatkan jari nya di depan hidung Lais. Agar Lais bisa menghirup aroma nya.


Dan beberapa menit kemudian Lais bangun dari kepura-puraan nya.


Melihat Lais bangun, Arumi langsung berjalan menuju sofa. Memainkan ponsel nya, berusaha menganggap bahwa Lais itu tidak ada.


"Paman, apa ada yang sakit?" Tanya Albi duduk di tepi ranjang di sebelah Lais.


"Tidak. Paman baik baik saja" Ucap Lais lemah.


"Baiklah. Paman boleh menginap disini. Silahkan paman membersihkan diri terlebih dahulu" Perintah Albi.


Arumi yang mendengar bahwa Lais akan tidur bersama nya sangat terkejut.


"Tunggu, Albi kenapa kamu tidak meminta persetujuan dari kakak dulu? " Tanya Arumi tidak terima.


"Hemm. Kakak. Di hotel ini sudah tidak ada kamar kosong lagi. Jadi paman tidak punya tempat untuk bermalam hari ini, kasihan paman" Jawab Albi dengan wajah polos nya, yang menggemaskan.


"Lagi pula paman juga sudah membantu kita membuat istana pasir yang cantik, bukan kah kakak bilang kita harus selalu berterima kasih kepada orang yang telah membantu kita" Ujar Albi semakin menyudutkan Arumi.


Lais kagum dengan kepintaran Albi yang mudah untuk mengalah kan Arumi dalam berdebat, Albi terlihat begitu polos dan sangat baik hati.


Berbeda dengan yang di tangkap Arumi.


Dia melihat adik nya mengatakan bahwa.


"Jika paman ini tidak boleh menginap di sini! Aku akan marah pada kakak!" Itulah yang dikatakan oleh Albi sebenarnya. Tapi hanya Arumi saja yang paham akan hal itu. Sangat jelas dari sorot mata yang di berikan Albi


"Huh! Albi kamu sangat pintar berargumentasi. Sebenarnya apa yang sedang kamu rencana kan? Aku sangat mengenal mu! Kamu tidak akan mudah untuk menerima seseorang dengan begitu saja tanpa menguji nya" Batin Arumi sangat kesal.


Arumi sangat kesal karena harus sekamar dengan orang asing yang baru saja ia kenal.


Jumlah mereka bertemu bisa di hitung dengan jari.


Sedangkan Lais tentu saja sangat senang, karena adik dari seorang gadis yang sedang di incar nya, sangat membela diri nya. Dan seperti nya adik itu menyukai keberadaan Lais di sekitar nya. Pikir Lais bahagia.


"Hah" Arumi menghela nafas kasar. Berusaha menenangkan diri nya.


"Baiklah. Tuan boleh menginap di sini tapi… " Ucap Arumi sengaja menggantungkan perkataan nya.


"Yeees" Batin Lais.


" Terima... "


"Eetss. Jangan senang dulu paman. Dengar kan baik baik perkataan saya!" Seru Arumi. Yang hendak mematahkan semangat Lais.


"Paman boleh menginap di sini. Tapi paman harus tidur di sana!" Tunjuk Arumi pada sofa.


"Ah oh hemm. Baiklah. Terimakasih" ucap Lais pasrah.


"Seperti nya aku tidak boleh terlalu berharap"

__ADS_1


Batin Lais melirik Albi, yang terlihat setuju dengan ide Arumi barusan. Dan tidak ada niatan ingin membantu Lais lagi.


***


Setelah kepergian Gamila, Lionel memilih untuk merenungkan kembali tentang perasaan nya yang sebenarnya.


Lionel berdiri di balkon. Menatap luas nya langit yang menjadi atap Kota London.


Berulang kali Lionel menghela nafas nya, pikiran nya berkecamuk.


Tidak tahu apa lagi yang ingin di pastikan Lionel tentang perasaan nya.


Sebenarnya. Ketika Gamila mengecup singkat bibir nya tadi, sudah sangat jelas sekali bahwa dia tidak merasa kan apapun. Tapi dia menepis itu semua, karena Lionel ingat bahwa sejak ia berumur tujuh tahun dan Gamila berumur enam tahun. Di pertemuan pertama mereka, dan sejak saat itu lah Lionel sering kali memperhatikan Gamila.


Flashback


Lionel kecil yang berumur tujuh tahun, tidak di perbolehkan untuk main di luar kediaman keluarga Danindra. Dia bahkan tidak menjalani sekolah formal seperti kebanyakan anak lainnya. Di karenakan suatu kejadian yang membuat kedua orang tua Lionel takut melepaskan Lionel untuk sekolah formal.


Dan karena hal ini lah, Lionel kecil suka sekali mengendap-endap keluar rumah melewati jalan rahasia yang tersembunyi, jalan rahasia yang tidak sengaja ia temukan.


Suatu hari.


Saat itu dengan hati yang sangat bahagia ia keluar rumah untuk yang kesekian kali nya, tanpa diketahui oleh siapapun.


Rumah keluarga Danindra bertepatan di perumahan elit, yang di perumahan tersebut ada sebuah taman. Lionel kecil berlarian menuju taman, yang sering di kunjungi nya. Karena di taman itu ada ramai dengan anak anak seusianya. Karena taman yang lumayan jauh dari rumah nya itu, Lionel cukup leluasa. Karena tidak akan ada seorang pun yang mengenalnya.


Dengan kaki kecil itu Lionel berlari melewati rumah yang sering kali di lewati nya, rumah yang sudah lama kosong.


"Kelihatan nya rumah itu sudah ada orang yang akan menempati nya" Gumam Lionel.


"Eh. Aku harus cepat! Nanti gak ketemu sama teman teman yang di sana kalau terlambat" Seru nya kembali berlari.


Kaki kecil Lionel berhenti sebentar karena mendengar suara. Suara anjing.


Guk!


Guk!


Guk!


Suara anjing menggonggong yang nyaring. Seperti ingin mengejar Lionel.


Lionel yang mendengar suara anjing,menoleh ke belakang. Lalu mempercepat langkah kecil nya.


Anjing itu menggonggong lagi.


Lionel sangat ketakutan saat ini. Lionel melihat lagi ke belakang, tanpa tahu bahwa ada batu yang cukup besar di depan nya. Yang akan menyandung kaki Lionel


Bruuukh!


Lionel terjatuh kedua lutut nya terluka. Si Liionel kecil tak sanggup lagi untuk berlari. Dan ada beberapa luka kecil di tempat lain nya. Dia menangis. Menutup mata nya dengan kedua telapak tangan nya. Berharap ada pahlawan yang akan menolong nya, di saat anjing itu semakin mendekat.

__ADS_1


"Ghighi, stop" Terdengar suara cempreng anak perempuan berteriak menghentikan si anjing. Tepat dua langkah orang dewasa anjing itu berada di depan Lionel.


Mendengar suara yang menghentikan anjing itu. Lionel membuka mata nya. Pertama kali yang terlihat adalah seorang gadis kecil dalam gendongan pria dewasa. Mungkin ayah si gadis kecil itu.


Gadis kecil itu turun dari gendongan ayah nya lalu menghampiri anjing itu.


"Ghighi. Jangan nakal oke! Guduk!" Perintah nya.


Setelah itu dia mendekati Lionel yang masih saja menangis.


"Are you oke?" Tanya perempuan kecil itu pada Lionel.


Lionel tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Lionel menatap gadis itu, lalu berusaha menghentikan tangisnya.


Flashback off


Lionel terkekeh sendiri mengingat pertemuan pertama nya dengan Gamila. Pertemuan pertama yang sangat kacau dan memalukan.


Sejak saat itu lah Lionel, sering kali memperhatikan Gamila. Apa lagi Gamila menjadi teman nya, karena bertetangga.


Mulai saat itu lah Lionel merasakan kekaguman nya pada Gamila.


"Tunggu. Rasa kagum? Apa perasaan ku selama ini hanya sebatas rasa kagum? " Batin Lionel.


Saat pertemuan pertama itu Lionel masih sangat kecil, anak kecil yang tidak mengetahui atau membedakan apa itu rasa suka? Kagum? Bahkan cinta.


Apa hanya karena itu saja aku membiasakan diri ku untuk menyukai nya?


Karena dia memberhentikan anjing nya, Ghighi agar tidak mengejar ku lagi.


Lionel termenung. Pikiran nya semakin kalut.


Apa ketika dia memperkenalkan Kenzo sebagai pacar nya, aku merasa kan cemburu?


Lionel mengingat kembali masa masa nya bersama Gamila. Mengingat apa yang di rasakan saat saat hanya berdua dengan Gamila saja. Saat Gamila memperkenalkan Kenzo.


Tidak ketemu.


Lionel tidak menemukan nya. Dia tidak mengingat apa yang di rasakan nya saat itu.


"Apa benar aku hanya membiasakan diri ku untuk menyukai nya, karena telah menolong ku? "


"Apa benar ini hanya sebatas rasa kagum saja? "


"Sebenarnya rasa apa ini? "


"Apa benar aku tidak... Mencintai nya? "


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2