
Walaupun Lionel tidak bisa meluluhkan hati Arumi dengan ciuman. Ia tetap tidak kehabisan akal. Dan karena tidak ingin membuat Arumi di rendahkan, yang di sebabkan pekerjaan nya sebagai pembantu. Lionel pun menaikkan pangkat Arumi menjadi guru memasak nya. Ya walaupun ada kemungkinan Lionel akan jarang makan masakan Arumi. Tapi setidaknya ia bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama dengan Arumi, yang akan mengajari nya memasak.
Semenjak kejadian Arumi melarang Lionel menciumnya. Arumi meminta Albi agar segera pulang. Tidak seperti niat Arumi awalnya. Ia malah di mintai Kesya agar menginap di mansion utama keluarga Danindra.
Sementara itu Lionel, karena tidak ingin berpisah dengan Arumi, dengan terpaksa ia mengikuti Arumi untuk tinggal di sana.
Di mansion, Arumi tak menyangka bahwa sekretaris Rai dan Fathan tinggal di mansion juga. Tapi kenapa mereka tidak tinggal bersama dengan ku dan tuan di rumah? Mereka malah tinggal bersama dengan mommy di sini.
Hal ini menjadi pertanyaan Arumi yang tidak ada siapapun menjawabnya.
Mansion yang ramai sangat menyenangkan bagi Kesya. Tapi tidak bagi Bara, huh… dia merasa waktu berduaan dengan istrinya jadi semakin berkurang.
Arumi tidak lagi mengikuti Lionel pergi bekerja semenjak tinggal di mansion. Karena, lebih menyenangkan tinggal di mansion daripada ikut dengan Lionel ke perusahaan.
Walaupun saat ini Lionel tidak hanya berdua saja dengan Arumi. Hal itu tidak menghalanginya untuk mendominasi Arumi.
Lionel yang harus bangun pagi bersamaan dengan Arumi yang akan mengajarinya membuat sarapan pagi hanya untuk dirinya sendiri, sekaligus bekal untuk makan siang nanti. Lalu tepat jam tiga sore petang Lionel akan pulang. Ia pasti pulang selalu tepat waktu.
Walaupun pekerjaan nya belum selesai, ia akan membawa nya pulang.
Dan untuk makan malam, Arumi akan mengajari Lionel memasak lagi. Itupun ia memasak hanya untuk dirinya dan Arumi saja.
Memasak bersama, dan makan bersama. Bagi Lionel hanya ada dirinya dan Arumi saja di mansion. Ia hanya menganggap yang lainnya angin lalu saja. Itulah yang menjadi keseharian Lionel bersama Arumi di mansion.
Di karenakan Arumi mengajar Lionel memasak. Para koki di mansion harus selesai memasak sebelum kedatangan Arumi dan Lionel ke dapur. Terkadang akan ada perang di dapur karena kejahilan Lionel yang terus-menerus menggoda Arumi.
Tidak bisa menggoda Arumi dengan ciuman, maka dengan hal lainnya tak masalah. Pikir Lionel.
Huh dasar bocah. Anak siapa sih dia? Bisa-bisa nya dia menganggap kami ini angin lalu saja. Baiklah, karena dia sedang mengejar Arumi. Aku akan mengampuni nya. Batin Kesya yang tahu pemikiran Lionel ketika matanya hanya tertuju pada Arumi saja.
Hari ini, setelah semua orang selesai makan malam, mereka akan berkumpul di ruang keluarga, para perempuan mengobrol apa saja yang bisa di gosipkan. Dan para laki-laki perihal bisnis lah yang menjadi topik pembicaraan mereka. Teruntuk Albi yang sedang memainkan game di ponsel Arumi, ia berada di kubu perempuan. Sesekali ikut nimbrung gosip menggosip.
Walaupun topik pembicaraan Lionel dan Arumi berbeda, itu tak membuat Lionel duduk berjauhan dengan Arumi. Malahan jarak antara mereka sangat dekat. Arumi harus mulai terbiasa dengan tingkah Lionel yang lengket seperti perekat.
__ADS_1
"Hah sudahlah, lebih baik nempel kayak permen karet daripada serangan jantung karena ciuman" Batin Arumi.
Begitu pula dengan Bara.
Ayah dan anak sama saja kelakuan nya. Batin Kesya.
Mereka duduk dengan posisi, Albi yang di apit Arumi dan Kesya yang duduk di sofa.
Dan di karenakan Bara dan Albi yang tak ingin pisah dengan wanitanya, maka mereka memilih duduk selonjoran di lantai bersandar di antara kaki para wanita masing-masing.
Awalnya Arumi risih dengan posisi Lionel yang duduk bersandar di antara kakinya yang menjuntai.
Tapi apa boleh buat, karena perkataan Lionel.
"Aroma khas yang keluar dari kulit kaki mu, membuat pikiran ku rileks" Ucap Lionel lembut ketika Arumi mencoba menyingkirkan Lionel.
Sontak perkataan Lionel membuat pipi Arumi memerah. Dan semua orang menjadi heboh karena Lionel tidak tahu tempat dalam menggoda Arumi.
Dan untuk sekretaris Rai dan Fathan, mereka berdua hanya bisa mengikuti tuan bos dan big bos mereka yang duduk di lantai.
"Hiks apalah daya kami yang jomblo" Batin dua laki-laki dewasa yang hanya bisa menonton.
Disela-sela obrolan, Lionel pasti selalu saja mendongakkan kepalanya ke atas agar bisa melihat Arumi dari bawah secara terang-terangan. Sangat terlihat sekali tatapan memuja dari mata Lionel.
Arumi yang sadar akan hal itu, ingin sekali rasanya beranjak. Karena kepala Lionel di apit kedua paha Arumi jika dia mendongakkan kepalanya.
Huh untung saja aku memakai celana, ya walaupun panjang nya hanya di atas lutut. Pikir Arumi.
Karena sudah tidak tahan lagi dengan posisi ini.
Niat hati ingin pamit ke kamar dengan alasan ingin segera istirahat, tapi tertahan oleh pertanyaan Kesya.
"Arumi, apa kamu tidak ingin melanjutkan studi kamu? Kamu ingin kuliah dimana? Biar mommy atur. Tapi... kalau kamu sih, di mana pun kamu ingin masuk, pasti akan di terima tanpa adanya orang dalam, habisnya kamu cerdas" Seru Kesya memuji Arumi.
__ADS_1
Lionel yang mendengar pertanyaan mommy nya pun tidak meladeni obrolan kubu pria lagi. Ia mendongakkan kepalanya, menutup matanya. Menyimak dengan baik apa jawaban yang akan Arumi berikan.
"Haha mommy bisa aja. Ini semua berkat dari usaha keras yang tidak akan pernah sia-sia" Jawab Arumi tersenyum lembut. Ah andaikan saja Lionel melihat senyum itu, pasti dia akan menahan dirinya untuk tidak mencium Arumi lagi.
"Jadi bagaimana? " Tanya Kesya, dan Arumi paham dengan maksudnya.
Kalau dia kuliah, waktu kami bersama akan semakin berkurang. Tapi… jika dia ingin kuliah, aku akan menghargai keputusan nya. Dan harus rela kekurangan waktu untuk bersama. Batin Lionel.
"Maaf mommy. Arumi tidak ingin kuliah" Jawab Arumi memberikan senyum terbaik nya.
"Loh kenapa? " Bukan Kesya yang bertanya. Tapi Lionel lah yang bertanya dengan lantang, dan ia sudah membuka kedua matanya dengan posisi kepalanya masih seperti tadi. Mata mereka bertemu, tiga detik lamanya Arumi menatap mata Lionel. Lalu ia mengalihkan pandangannya menatap Kesya.
Mendengar suara Lionel yang lantang, membuat semua orang jadi menatap Arumi. Sama, dengan tatapan penuh tanya.
Sejujurnya Lionel senang dengan jawaban Arumi. Tapi Lionel tak ingin Arumi berhenti menggapai cita-cita nya.
Arumi bingung ingin menjawab pertanyaan Lionel bagaimana. Jawaban yang aman menurut-nya.
Jika hanya ada dirinya dan Kesya saja, mungkin ia akan jujur dengan keadaan nya saat ini.
Tapi sekarang, semua mata tertuju padanya. Bahkan Albi pun juga sudah tak memainkan ponsel Arumi lagi. Sama, menunggu jawaban sang kakak.
Baiklah. Aku tidak memiliki jawaban yang paling aman selain ini. Hah mungkin jawaban ku akan berpengaruh besar akan suatu hal. Batin Arumi.
"Karena, jika Arumi kuliah itu akan mengurangi waktu Arumi berduaan dengan… " Jawab Arumi tak ingin menyebutkan nama orang yang menjadi objek pembicaraan nya. Ia sengaja menggantungkan kalimatnya. Lalu memutar tubuhnya menghadap Albi dan menangkup kedua pipi Albi.
"Eh... oh" Lionel mendesah lesu. Lionel duduk tegak dan tidak mendongakkan kepalanya menatap Arumi lagi. Duduk bersandar menatap lurus ke depan.
Ternyata bukan karena aku. Batin Lionel lesu.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗
__ADS_1