
Lionel dan Gamila masih duduk di ruang tamu membahas rumah tangga mereka yang akan segera berakhir.
"Jadi apa rencana kita selanjutnya agar bisa bercerai? karena kita tidak bisa bercerai begitu saja, walau kita mengatakan ini adalah keputusan yang kita inginkan, dan bukan hanya dari sebelah pihak saja, cih karena perjanjian itu aku tidak bisa bercerai dengan bocah tukang pilih-pilih makanan ini, padahal aku ingin mengejar cinta kedua ku" Gumam-gumam Gamila kesal.
"Cih jadi kamu sudah mencintai seseorang dan telah merelakan nya? Pantas saja kamu jadi semakin ingin bercerai dengan ku" Seru Lionel.
"Hei seperti kamu tidak saja! Kamu pasti juga sudah menemukan wanita yang kamu cintai, Cih cinta pertama kamu kan ini? Wanita itu pasti benar-benar sangat tidak beruntung karena dicintai oleh manusia seperti kamu" Ucap Gamila membalas perkataan Lionel.
"Manusia? Tidak beruntung? Kamu kira aku ini apaan? Wanita itu sudah pasti sangat beruntung karena mendapatkan cinta dari ku, cinta dari pria yang sangat tampan dan sempurna seperti ku" Seru Lionel berbangga diri.
"Cih sejak kapan kamu narsis begini? Dan sejak kapan kamu sempurna? Kamu saja takut minum obat" Ledek Gamila.
"Huh kenapa kamu selalu saja menghinaku? " Kesal Lionel.
"Aku bukan menghina kamu, tapi aku mengatakan sebuah fakta yang ada" Kekeh Gamila.
Cih
Keduanya terdiam sesaat, larut dalam pikiran masing-masing.
"Lalu Gami... Siapa laki-laki itu? Laki-laki yang bisa membuat mu merelakannya? " Tanya Lionel tiba-tiba.
"…" Gamila tidak langsung menjawab nya. Diam memikirkan sebuah kata yang cocok.
"Biar aku tebak" Seru Lionel.
"Pasti lawan main kamu, Ilario Guthni bukan? " Tanya Lionel menjawab pertanyaan nya sendiri.
"Kenapa kamu berpikir laki-laki itu dia? " Gamila balik bertanya.
"Ya secara logika, laki-laki yang sering berinteraksi dengan mu saat kamu bekerja hanya dia. Dan tidak mungkin yang lain. Kamu pasti sering mengobrol hanya dengan manager kamu, sutradara, dan dia. Sedangkan manager kamu perempuan dan sutradara kamu sudah memiliki anak dan istri. Ya satu-satunya pilihan terakhir, hanya lawan main kamu, Ilario Guthni itu" Jawab Lionel menjelaskan pemikiran nya.
Gamila terdiam. Tidak menjawab lagi perkataan Lionel.
__ADS_1
"Cih seperti nya tembakan ku benar. Bukankah dia di cap sebagai seorang playboy? " Tanya Lionel melirik Gamila yang menatapnya tajam.
"Ah tidak! Walaupun dia playboy aku akan tetap mendukung kamu. Tapi jika dia berani menyakiti kamu. Aku akan keluarkan dia dari dunia hiburan" Seru Lionel serius.
"Huh… lalu siapa perempuan yang tidak beruntung karena dicintai kamu? " Tanya Gamila tidak ingin membahas tentang nya.
"Haa biar aku coba tebak juga. Pasti Arumi kan? Cih pasti kamu juga sudah jatuh cinta pada masakan nya huh dasar. Kasihan Arumi harus dicintai oleh laki-laki seperti kamu" Kata Gamila tepat sasaran.
Cih
"Kamu benar. Tapi bagaimana dengan perjanjian nya? Sebelum kita menikah dua tahun yang lalu, orang tua kita memaksa kita untuk membuat perjanjian dan menandatangani nya" Ucap Lionel menghela nafasnya.
"Ya kamu benar. Awalnya mereka tidak yakin kita akan menikah, karena mereka tahu bahwa aku masih belum bisa merelakannya. Mereka tidak yakin rumah tangga kita akan baik-baik saja. Hah… seperti nya orang tua kita bisa meramal masa depan" Kata Gamila mengingat-ingat kembali masa-masa sebelum mereka menikah.
"Ya sepertinya mereka benar-benar bisa meramal masa depan. Sehingga mereka meminta kita membuat perjanjian, jika kita ingin bercerai maka kita harus memiliki pasangan masing-masing sebelum perceraian itu. Pasangan yang tulus kita cintai, dan pasangan yang tulus mencintai kita" Ujar Lionel juga mengingat masa lalu.
"Ya mereka meminta kita untuk mencari pasangan masing-masing sebelum perceraian, jika kita sudah tidak ingin melanjutkan rumah tangga kita" Kata Gamila.
"Dan jika dua tahun yang lalu kita tidak menikah, mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan Arumi, mengingat kamulah yang menerimanya sebagai koki di rumah. Dan untuk kamu… tapi untuk kamu masih memiliki kesempatan kecil bertemu Ilario Guthni karena pekerjaan kamu sebagai aktris, yang bisa membuat kalian bertemu dimana saja. Hah… mungkin memang sudah takdir kita untuk menikah terlebih dahulu sebelum kita bertemu pasangan kita yang sesungguhnya" Kata Lionel membaringkan tubuhnya di sofa, menatap lekat langit-langit ruang tamu.
"Kamu benar"
Lionel menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Gamila yang sangat tepat. Mereka terdiam lagi kalut dengan pikiran masing-masing.
Drrrrt drrrrrrrrt. Ponsel Gamila bergetar tanda ada pesan masuk. Ia segera memeriksa pesan itu.
Sebuah pesan dari manager yang mengharuskan Gamila segera kembali, karena ada seseorang yang mencarinya.
"Hah… Lio sepertinya aku harus segera kembali. Hemm masalah ini lebih baik kita bahas lagi ketika aku sudah menyelesaikan film kali ini. Hanya tinggal episode terakhir, jadi mungkin tiga Minggu lagi kita akan bertemu. Aku akan menghubungi kamu, hemm dan agar lebih mudah. Kamu disini saja dulu, jangan dulu pulang ya, biar gak bolak-balik" Ucap Gamila mengambil tas yang ada di sampingnya.
"Setelah pekerjaan ku beres. Baru kita memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa bercerai" Kata Gamila yang sudah berdiri dari tempat duduknya. Begitu pula Lionel yang juga ikut berdiri, ia mengantar Gamila hingga pintu depan.
Hari ini Gamila memakai wig dengan style Bob, menggelapkan kulit nya dan menempelkan tahi lalat besar di pipi lalu memakai kacamata tebal agar orang-orang dan paparazi tidak mengenalinya.
__ADS_1
Gamila meninggalkan apartemen Lionel setelah berpamitan. Perkiraan tiga Minggu lagi mereka akan bertemu kembali, dan selama itu pula Lionel menghabiskan waktunya di London. Untung saja ada pekerjaan yang harus diselesaikan nya, sehingga dia tidak terlalu ingin segera kembali untuk menemui Arumi. Dia mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan agar rindunya tidak terlalu membuncah. Dan dikarenakan hal ini pula Lionel meminta Tika untuk kembali, dan langsung menyusulnya ke London.
"Kamu tunggu saja Arumi. Aku pasti bisa mendapatkan kamu. Aku akan menaklukkan hatimu" Gumam-gumam Lionel.
"Ah… aku merindukan nya" Gumam Lionel mengambil benda pipih nya. Segera menghubungi seseorang.
Sementara itu…
Di waktu yang bersamaan, seseorang merasa sangat bahagia akan hari-hari yang dijalani nya beberapa hari ini.
"Ah… sangat menyenangkan tanpa majikan yang menyebalkan" Gumam-gumam Arumi menonton serial yang sangat disukai nya bersama Albi, dan Fathan.
Mereka menonton serial itu membuat ruangan di penuhi gelak tawa mereka.
Drrrrt drrrrrrrrt. Fathan yang masih tersisa gelak tawa dibibir nya menjawab telepon yang masuk ke ponsel nya.
"Hahaha ya halo" Sapa Fathan tanpa melihat siapa gerangan yang menelepon nya.
"…"
Fathan menjauhkan ponsel dari telinga nya, melihat layar ponsel yang tertera nama Lionel di sana.
"Eh… maaf. Aku sedang menonton bersama mereka. Hahaha film ini sangat lucu sekali. Sepertinya selera kami sama" Ucap Fathan tertawa lagi.
"…"
"Apa? Kamu… serius? Oh baiklah" Jawab Fathan merubah panggilan telepon menjadi video call. Lalu dia mengarahkan ponsel nya pada Arumi dan Albi. Terpampang jelaslah Arumi dan Albi di layar ponsel Fathan yang terhubung dengan Lionel. Tanpa disadari Arumi dan Albi.
Dan sementara itu…
Di London, apartemen Lionel…
"Ah… aku benar-benar merindukan nya" Batin Lionel menatap Arumi yang terpampang jelas di layar ponsel nya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗