
I go to school everyday
I bring my book and my bag
I always wear my uniform
My hat, my shirt and my short
And I always say good bye
To my father and motherj
Father, Mother, I want to go to school
When I was young
I went to school
And this is what I learn to do
One, two, three, four, five
I learn my numbers up to five
Six, seven, eight, nine, ten
I learn my numbers up to ten.
Kedua lagu di atas menjadi pengiring lomba, agar menyemangati anak anak.
Mereka sangat kenal dengan lagu yang di nyanyikan oleh mis Anna, dan para guru lain nya.
Semua orang mengikuti alunan musik, dengan tangan yang masih sibuk menata pasir agar menjadi istana yang cantik. Memadat kan pasir lalu mencetaknya padat kan lagi,dan menyesuaikan bentuk dengan yang di inginkan. Seperti itu lah yang di lakukan semua kelompok.
Tak terasa sudah dua jam berlalu. Dan akhirnya lomba sesi terakhir pun telah berakhir.
Semua murid dan para anggota keluarga, di perbolehkan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 petang. Dan para guru yang menjadi panitia akan menilai siapa kah yang akan menjadi pemenang dalam lomba kali ini. Dan akan di umumkan ketika selesai makan malam di tepi pantai.
Arumi dan Albi berjalan menuju kamar hotel mereka. Tanpa mereka sadari bahwa Lais juga mengikuti kedua nya. Lais memiliki rencana untuk malam ini.
Sesampainya di dalam kamar, Albi meminta Arumi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Karena Albi ingin istirahat sejenak sebelum mandi.
Arumi sudah masuk ke dalam kamar mandi, dan Albi melepaskan seluruh pakaiannya dan mengganti dengan kimono kecil. Lalu berbaring di atas sofa.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
Suara pintu kamar di ketuk.
Albi berjalan hendak membuka pintu guna melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
Krieeet. Pintu kamar terbuka
Lais dengan senyum merekah nya yang semekar bunga yang sudah waktunya untuk bermekaran. Dengan santai nya dia masuk ke dalam kamar tanpa di persilahkan oleh Albi.
"Paman! Kenapa paman kesini?" Tanya Albi mengikuti langkah Lais menuju sofa. Lais dengan santai nya duduk.
Lais menepuk sofa di samping nya, meminta Albi agar duduk di samping nya. Albi mengikuti kemauan Lais untuk duduk di samping nya.
"Tidak ada kamar kosong lagi... Dan paman tidak mengenal siapapun di sini kecuali kalian. Jadi. Boleh kah paman menginap di sini?" Tanya Lais memasang wajah puppy eyes nya.
"Boleh! Kalau ramai makin seru!" Jawab Albi antusias.
"Hemm. Di mana pakaian paman?" Tanya Albi bingung melihat Lais yang tidak membawa apa pun.
"Oh nanti akan di antara kan pelayan hotel" Jawab Lais.
Kedua laki-laki yang berbeda generasi itu sangat asik dengan bahan obrolan mereka.
Tak lama kemudian.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, keluar lah Arumi dari kamar mandi menggunakan handuk yang biasa dipakai nya. Dan dengan rambut basah menambah kesan seksi yang di pancarkan Arumi.
Arumi menoleh melihat ke arah Albi dan...
"Kyaaaaaaa!" Teriak Arumi berlari lagi ke kamar mandi, setelah melihat Lais dengan santai nya melihat Arumi yang hanya menggunakan handuk melilit tubuhnya. Di bekukan oleh pesona yang di pancarkan Arumi.
Mendengar teriakkan Arumi, Lais tersadar dari lamunannya.
"Hah. Astaga aku seperti orang mesum saja" Batin Lais.
"Dan apa apaan ini, hei jantung kenapa kau berdetak sangat cepat? Aku bahkan sudah pernah melihat wanita yang tidak memakai sehelai benang pun, tapi kenapa ketika aku melihat nya, aku seperti ini?" Batin Lais frustasi.
"Paman kakak kenapa? Dan. Kenapa wajah paman memerah? " Tnya Albi dengan wajah polosnya.
"A. Apa? Ti. Tidak wajah paman tidak memerah kok" Jawab Lais beerusaha menenangkan gejolak batin nya
"Paman keluar sebentar ya. Ada urusan sebentar" Ucap Lais pergi meninggalkan Albi yang menatap nya penuh tanda tanya.
"Albi!" Panggil Arumi berteriak dari dalam kamar mandi.
"Apa?" Tanya Albi yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi memasang wajah jahil nya.
"Apa. Dia sudah pergi?" Cicit Arumi membuka sedikit pintu kamar mandi agar bisa mengintip keadaan di luar.
__ADS_1
"Dia siapa? Paman rumput laut ya? Kalau paman rumput laut udah keluar, kata nya ada urusan sebentar" Jawab Albi lalu menyelonong masuk dan mendorong Arumi keluar dari kamar mandi.
"Ah. Astaga! Kenapa dia di kamar tadi? Dan. Aaaa! Aku benci sekali melihat nya" Kesal Arumi lalu bergegas berganti pakaian. Takut jika sewaktu-waktu Lais masuk lagi ke dalam kamar.
Di dalam kamar mandi.
"Hihihi... Lihat wajah mereka berdua hihihi... " Kekeh Albi.
"Seperti nya paman rumput laut itu suka dengan kakak. Hemm. Bagaimana jika mereka di pasangkan? Hemm... seperti nya cocok" Gumam Albi sambil menggosok tubuhnya dengan sabun.
"Boleh juga paman itu menjadi salah satu kandidat calon kekasih kakak" Pikir Albi lalu menghidupkan kran shower. Air terasa sejuk menerpa kulit Albi menyapu semua sisa rasa letih yang ada di tubuh nya.
"Hemm. Seperti nya aku harus menguji nya" Putus Albi.
Albi tidak ingin berlama-lama di kamar mandi, ia ingin segera menjalankan rencana nya untuk menguji Lais, apakah pantas menjadi kekasih Arumi apa tidak.
Albi keluar dari kamar mandi. Lalu bergegas memakai pakaian nya. Ia tidak melihat Arumi di dalam kamar. Albi keluar dari kamar mencari keberadaan Arumi.
Itu mereka. Arumi dan Lais terlihat seperti saling dorong pintu. Lais dengan usaha nya sedang menjelaskan sesuatu pada Arumi.
"Kakak sama paman lagi main apa?" Tanya Albi sudah memulai menguji Lais. Dengan tampang polos nya.
Buuuuk!
"Aargrh" Ringis Lais yang terjatuh karena Arumi tiba tiba melepaskan tangannya yang sedang mendorong pintu.
"Uupss" Arumi menutup mulutnya. Dia tidak sengaja melakukan itu.
"Aww. Sshh. Pasti sakit" Batin Albi dan Arumi meringis ngilu.
"Ah. Tuan maaf kan saya" Seru Arumi membantu Lais untuk berdiri. Dan Albi diam saja seperti memikirkan sesuatu.
Lais merasa sangat malu atas apa yang terjadi pada nya barusan. Dia memilih untuk menutup mata nya saja. Tidak berani melihat reaksi Arumi dan Albi.
"Sakit yang tak seberapa. Dan malu yang teramat sangat" Batin Lais.
"Eh. Paman yang di situ kenapa bengong saja? Ayo bantu paman rumput laut berdiri! Bawa paman rumput laut ke kamar! Baring kan dia di sana!" Perintah Albi seenaknya.
Di luar kamar, di dekat pintu berdiri lah sekretaris Lais yang terlihat syok dengan keadaan bos nya.
"Ayo paman" Ajak Albi pada Sekretaris itu.
Seakan tidak percaya dengan perintah Albi. Yang seakan sedang memberikan nya sebuah kesempatan. Lais memilih untuk berpura pura pingsan.
Lais di bantu sekretaris nya berbaring di atas kasur Arumi dan Albi. Dan dengan perintah Albi sekretaris itu pergi meninggalkan kamar dengan keadaan masih tidak percaya. Terlebih lagi tidak percaya jika baru saja dia mengikuti perintah seorang anak kecil. Seorang bocah ingusan.
"Kakak ambilkan minyak angin!" Perintah Albi.
Sebenarnya Arumi ingin sekali membantah perintah adik kecil nya ini. Tapi di urungkan nya karena dia juga merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Lais.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗