Hanya Dia

Hanya Dia
Maju atau mundur


__ADS_3

Rio sudah terlebih dahulu sampai di tempat yang disebutkan oleh Lionel tadi di telepon. Dia melihat kedatangan mobil Lionel yang berhenti tepat di samping mobilnya. Ia masih memperhatikan Gamila dan Lionel yang keluar dari mobil. Gamila yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan Lionel dibelakangnya, mengikuti pelan langkah Gamila. Saat Gamila sudah merentangkan tangannya, Lionel langsung menghampiri Rio yang sudah juga keluar dari mobil. Mereka berdua bersembunyi di belakang mobil, agar tak terlihat Gamila.


"Apakah kau yakin dengan hal ini? " Tanya Lionel meremehkan keyakinan Rio.


"Tentu saja" Jawab Rio tegas.


"Hemm baiklah. Tapi kuharap kamu harus mendengar hal ini sebelum benar-benar melakukan hal itu" Kata Lionel ingin melihat seberapa besar keyakinan Rio.


"Apa itu? " Tanya Rio tak gentar.


"Setelah mendengar hal ini kuharap kamu harus memikirkan kembali dengan cepat atas tindakan selanjutnya yang akan kamu lakukan. Dan jangan memotong pembicaraan ku sebelum aku selesai. Ku beri kamu satu menit untuk mencerna kata-kata ku. Pilihan mu hanya dua, pergi tanpa kata dan jangan kembali dan maju jangan menyerah" Ucap Lionel menatap Rio dengan tatapan menyelidik.


"Baiklah apa itu? " Tanya Rio masih tak gentar.


"Gamila sudah menikah dengan ku selama dua tahun, dan tentu saja kami sudah melakukan hubungan suami istri" Lionel diam memperhatikan Rio yang sudah diam membisu, terkejut dengan kenyataan yang didengarnya.


Dunianya seakan runtuh, tidak menyangka bahwa pujaannya telah menikah dengan pria yang ada dihadapannya saat ini. Kaki Rio lemas seakan bagai jeli. Ia ingin ambruk rasanya. Dia menunduk memikirkan apa yang seharusnya dilakukan nya sekarang.


Lionel tersenyum.


"Apa kalian saling mencintai? " Tanya Rio memberanikan dirinya menatap tajam Lionel. Berusaha untuk memandang Lionel tetap tak gentar.


"Hahaha lucu sekali ekspresi mu saat ini. Kami tidak saling mencintai. Dan kami akan segera bercerai jika ada seorang pria yang mau menikahi Gamila tulus tanpa melihat masa lalunya. Dan begitu juga dengan ku" Seru Lionel dengan tawa yang tak bersuara. Takut terdengar oleh Gamila.


"Ku beri kamu satu menit. Pikirkan lah lagi, apa kamu benar-benar akan melakukan hal ini? " Tanya Lionel.


"Kamu mau maju atau mundur? Kalau mau mundur cepetan pergi. Tapi kalau mau maju sana, samperin Gami " Kata Lionel lagi.


"Jangan lama-lama mikirnya" Kata Lionel hendak pergi meninggalkan Rio agar bisa lebih tenang memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.


"Tunggu" Pinta Rio mencekal lengan Lionel.


***


Pemandangan yang sangat indah.

__ADS_1


Ini adalah tempat yang di temukan Lionel tatkala Gamila terpuruk atas kejadian yang menimpanya lima tahun yang lalu. Dimana Gamila yang di tinggal calon suaminya di hari pernikahan mereka. Untuk selamanya. Karena keterpurukan Gamila, Lionel mengajaknya untuk berkeliling berbagai negara yang selalu ingin di kunjungi Gamila. Dan segala cara Lionel lakukan agar menemukan tempat yang bisa menyejukkan hati. Entah sudah berapa banyak tempat yang dikunjungi keduanya. Tapi inilah tempat yang sangat cocok dengan keadaan Gamila.


Lionel selalu merasakan bahwa tempat ini adalah satu-satunya tempat yang membuat Gamila melupakan kesedihan nya. Karena setiap kali mereka mengunjungi tempat ini, mata Gamila memancarkan kedamaian. Bukan kesedihan.


Kerlap kerlip lampu di malam hari dan taburan bintang menyebar luas di sekitar bulan purnama keemasan. Membuat taburan bintang dan kerlap kerlip lampu kota menyatu dalam gelapnya malam.


Gamila masih sama seperti semula. Ia masih merentangkan kedua tangannya menutup kedua mata, menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya.


Cukup lama Gamila dengan posisi seperti itu. Ia masih belum juga membuka matanya hingga.


A hundred and five is the number that comes into my head


~Seratus lima adalah angka yang terlintas di pikiranku~


When I think of all the years I wanna be with you


~Saat terpikir olehku lamanya tahun kuingin bersamamu~


Wake up every morning with you in my bed


~Bangun tiap bagi denganmu di ranjangku~


~Persis seperti itulah yang kuinginkan~


And you know one of these days when I get my money right


~Dan kau tahu di salah satu hari-hari ini saat uangku cukup~


Buy you everything and show you all the finer things in life


~Kubelikan kau segalanya dan tunjukkanmu semua hal indah dalam hidup~


We'll forever be in love, so there ain't no need to rush


~Kita kan jatuh cinta selamanya, jadi tak perlu buru-buru~

__ADS_1


But one day, I won't be able to ask you loud enough


~Tapi kelak, aku takkan bisa memintamu cukup keras~


I'll say will you marry me


~Kan kukatakan, maukah kau menikah denganku~


I swear that I will mean it


~Sumpah, aku sungguh-sungguh~


I'll say will you marry me


~Kan kukatakan, maukah kau menikah denganku~


(Marry me - Jason Derullo)


Gamila terperangah, membeku di tempat nya menata pria di hadapannya yang menghentikan lagu yang belum selesai, dan dengan gitar yang menjadi musik pengiring. Dimainkan oleh pria itu sendiri.


Gamila menutup mulutnya tidak percaya. Tidak mengerti dengan yang dirasakan hatinya saat ini. Air matanya menetes membasahi pipi.


"Gamila. Mungkin dunia tahu bahwa aku seorang playboy. Seorang pria yang selalu berganti-ganti wanita. Seorang pria yang selalu saja mudah bosan hanya dengan satu wanita. Bahkan dunia juga tahu bahwa aku pria yang tidak pantas untuk mendapatkan cinta karena telah banyak mempermainkan hati wanita" Laki-laki itu terdiam sejenak. Menatap dalam mata wanita pujaan yang telah merubahnya dalam sekejap. Yang merubahnya dalam beberapa bulan saja.


"Jujur saja. Walau aku seperti itu" Ada jeda dalam kalimat nya. " Aku tak pernah merangkai kata-kata untuk wanita. Aku juga belum pernah melakukan suatu tindakan romantis agar para wanita itu bertekuk lutut atau lemah terhadap pesonaku" Dia berhenti lagi.


"Aku bukanlah pria baik-baik. Apalagi pria yang masih suci. Aku tidak sempurna" Lanjutnya.


Laki-laki itu menatap mata Gamila lembut penuh keyakinan. Mengambil beberapa langkah maju mendekati Gamila. Berlutut. Bertumpu pada kaki kirinya yang di tekuk.


"Maukah kamu? Gamila Zaida menjadi penyempurna hidupku? Maukah kamu melengkapi tulang rusukku? Menemani hari-hariku hingga akhir hayat mau suka ataupun duka. Dan Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku ku kelak? Mau kah kamu menjadi istriku? " Kata laki-laki itu, ia terdiam sejenak.


"Will you marry me? " Tanya ia dengan penuh kesungguhan yang terpancar dari mata dan kata-kata nya.


Lelaki itu tidak pernah sekalipun membayangkan bahwa suatu hari nanti dia akan mengucapkan kata-kata keramat yang pasti akan merubah segala hal dalam hidupnya kini dan esok hingga selamanya.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗 lopyu 😘😘


__ADS_2