Hanya Dia

Hanya Dia
Diabaikan


__ADS_3

Mendengar kata-kata Lionel yang narsisme sangat menggelikan dipendengaran Arumi.


"Tuan. Dengarkan saya. Ingat baik-baik yang saya katakan. Catat di pikiran anda baik-baik" Seru Arumi menunjuk kepalanya sendiri lalu menunjuk kepala Lionel.


"Ingat ini. Saya tidak akan pernah menyukai seorang laki-laki yang sudah memiliki istri. Itu bukan gaya saya. Akan sangat merepotkan jika hal itu terjadi. Kayak gak ada laki-laki lain aja" Seru Arumi melipat kedua tangannya di dada.


"Yaa kalau duda asal singel tak apa, karena aku tidak tahu takdir ku akan menikah dengan siapa. Asalkan aku tidak jadi pelakor, itu bukan masalah" Batin Arumi.


"Eh. Tapi kalau kakek-kakek jangan sampai yaa" Batin Arumi berdoa.


Mendengar penuturan Arumi Lionel sedikit menciut.


Apakah dia akan diterima dengan tangan terbuka lebar atau tidak nantinya.


"Yah. Kamu boleh berucap seperti itu sekarang. Kita lihat kedepannya. Akan aku taklukkan kamu" Batin Lionel menyemangati diri nya.


"Iyaa iya aku hanya bercanda tadi, maaf kalau bercandaan ku keterlaluan. Sini duduk lagi gak harus dekat-dekat kok. Asalkan kamu duduk sudah cukup" Ujar Lionel mengalah.


"Hemm" Gumam Arumi malas. Tapi dia duduk di dekat Lionel juga, hanya saja berjarak sekitar satu meter.


"Jadi. Aku akan pergi untuk sementara waktu. Hemm mungkin cukup lama" kata Lionel.


"Bagus. Pergilah jauh-jauh, asalkan jangan bawa aku" Batin Arumi senang akan berita yang didengarnya dari Lionel secara langsung.


"Karena aku cukup lama perginya. Hemm jadi intinya jika kamu mau aku memperbolehkan Albi untuk tinggal di sini. Untuk menemani kamu. Aku juga akan mengurus hal itu dengan sekolah nya" Ucap Lionel langsung pada intinya.


"Itupun kalau kamu mau. Jika tidak, yaa aku tidak akan memaksa nya" Sambung Lionel.


"Dan aku rasa Albi pasti akan lebih senang tinggal disini menemani kamu" Lanjut nya.


Arumi terdiam. Memikirkan perkataan Lionel.


"Kamu ingat Fathan? Dia yang akan menemani kamu di rumah. Karena dia laki-laki, dan penjaga yang lain juga laki-laki. Dan hanya kamu saja yang perempuan. Yaa bukankah lebih baik jika kamu ada teman disini? Jika kamu tidak ingin Albi tinggal disini, teman perempuan kamu yang lain juga boleh" Jelas Lionel.


"Kamu pikirkanlah baik-baik. Lusa aku akan berangkat dengan Rai. Jadi aku harap kamu mau memikirkan hal ini baik-baik. Dan pikirkan Albi juga, dia pasti senang karena bisa bertemu dengan kakaknya setiap hari"


"Ya. Hanya itu saja yang ingin aku bicarakan. Sebaiknya kamu segera istirahat. Dah selamat malam. Semoga kamu mimpi… " kan aku. Sambungan Lionel dihatinya.

__ADS_1


"Mimpi indah" Sambung Lionel lalu pergi meninggalkan Arumi yang masih terdiam.


Setelah selesai berbincang sesaat dengan Lionel. Saat ini Arumi sudah berbaring di ranjang bersama Albi. Albi sudah tertidur pulas empat jam yang lalu. Sementara Arumi. Matanya masih saja tetap terjaga. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jujur, Arumi sangat ingin sekali Albi tinggal bersama dengan nya. Tapi, jika mengingat suatu hal yang mengharuskan Albi dan Arumi untuk tidak tinggal satu atap sementara waktu. Arumi tarik ulur dengan pemikiran nya yang mengiyakan tawaran Lionel. Karena memikirkan sesuatu yang tidak berujung seperti ini. Akhirnya Arumi memilih untuk menghubungi seseorang yang bisa memberikan nya jawaban pasti.


Setelah mendapat jawaban yang diinginkan. Arumi langsung mengistirahatkan tubuh nya.


~


Keesokan harinya suasana di pagi hari lebih terasa hidup karena adanya Albi yang berceloteh ria kesana-kemari.


Entah apa yang terjadi semalaman ini, berbagai jenis mainan yang sangat disukai Albi sudah ada di rumah.


Bahkan ketika Arumi sudah pulang sekolah, yang sudah berjanji akan melanjutkan jalan-jalan yang sempat tertunda kemarin.


Dikarenakan adanya mainan yang tiba-tiba saja muncul di rumah.


Hal ini mengakibatkan Albi enggan keluar rumah untuk melanjutkan jalan-jalan nya bersama Arumi.


Bahkan setelah selesai makan siang pun mereka tetap melanjutkan permainan mereka yang tertunda. Membiarkan Arumi membereskan meja makan sendiri.


Dan saat ini Albi bahkan mengabaikan Arumi karena dia lebih memilih untuk bermain bersama dengan Lionel. Ah entah sejak kapan keakraban mereka mengalahkan keakraban antara adik kakak. Mereka terlihat asik sekali, tanpa mengajak Arumi bermain bersama.


"Huh. Permainan itukan tidak cocok dengan usianya. Dasar. Dia itu adik siapa sih? Kenapa dia tidak memainkan permainan untuk anak seusianya? "Batin Arumi menatap kesal terang-terangan.


"Sebenarnya kakak nya itu siapa sih? Yasudah lebih baik aku mengerjakan sesuatu, daripada menahan kesal di sini" Batin Arumi beranjak dari duduk nya, menghampiri dua laki-laki yang berbeda generasi itu.


"Tuan, saya mau pergi sebentar. Saya titip Albi" Seru Arumi.


"Hemm kunci mobil yang kemarin masih sama kamu kan, kamu bawa saja mobil itu" Jawab Lionel tanpa melihat Arumi.


"Kakak jangan lupa bawa oleh-oleh dari luar yaa " Seru Albi sama tanpa melihat Arumi.


"Hati-hati di jalan" Seru Albi dan Lionel kompak.


"Cih. Lihat kalian, kenapa kalian bisa serasi begini? " Arumi tidak percaya bahwa dua laki-laki di hadapannya saat ini terlihat sangat kompak.


"Baiklah saya pergi dulu, Albi jangan nakal sama paman yaa" Ucap Arumi berlalu meninggalkan kedua laki-laki yang telah mengabaikan nya ini.

__ADS_1


~


Saat ini Arumi lebih memilih untuk membeli novel keluaran terbaru. Mengingat semua novel yang dia miliki sudah habis ludas dibacanya.


Ketika Arumi sedang asyik-asyiknya memilih berbagai macam novel, bukan hanya novel keluaran terbaru penulis yang di kaguminya. Tapi hampir semua novel yang belum pernah dibaca diborong Arumi, yang menarik perhatian Arumi.


Tanpa Arumi sadari seseorang berjalan menuju nya.


"Hai" Sapa nya menepuk pundak Arumi.


"Eh. Kamu" Jawab Arumi sedikit kaget.


"Loh, kok kak Lais ada di sini, kebetulan kita jumpa? Terakhir kali aku lihat di postingan kamu waktu itu masih di London" Seru Arumi, yang sudah mulai akrab dengan Lais. Ya mereka sering berbalas pesan semenjak kepulangan mereka dari piknik.


"Hahaha sebenarnya bukan kebetulan, aku sudah kerumah kamu tadi, tapi belum sempat keluar mobil aku eh kamu nya mau pergi juga. Tadi kita berpapasan di gerbang dekat rumah kamu" Jawab Lais.


"Oh… jadi tadi kakak ya yang berhenti dekat gerbang tadi? Aku kira ada orang yang mobil nya mogok" Kekeh Arumi.


"Hahaha dan postingan yang kamu lihat itukan pasti dua Minggu yang lalu kan? Kamu belum lihat sih postingan terbaru aku" Kekeh Lais.


"Hemm benar juga" Jawab Arumi mengiyakan.


"Wah ternyata kamu doyan membaca. Pantesan pinter" Ucap Lais melihat tangan Arumi yang di penuhi buku.


"Hahaha aku pintar tidak ada hubungannya sama suka membaca novel kak" Kekeh Arumi.


"Hemm iya iya. Pasti berat. Sini ku bantu" Ucapnya lagi, mengambil semua buku yang di bawa Arumi.


"Walah baik nya, kakak yang baik" Seru Arumi.


"Hemm iya… Aku kakak yang baik"


"Yuk ke kasir, aku sudah selesai belanjanya" Ajak Arumi yang jalan terlebih dahulu.


Lais tidak langsung mengikuti Arumi. Dia menatap sendu punggung gadis yang sudah menolak nya, ya tanpa mengutarakan perasaannya, dia sudah di tolak duluan.


"Yah tak apalah. Semoga aku dapat wanita sebaik dirinya. Kalau bisa yang lebih" Gumam-gumam Lais. Mu

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗


__ADS_2