
Siang ini Lionel akan berangkat ke London untuk menemui Gamila. Sangat berat rasanya meninggalkan Arumi nya di rumah, walaupun ada yang menemaninya. Tapi dia harus tetap berangkat. Karena dia harus menyelesaikan masalah nya dengan Gamila sesegera mungkin. Memang berat meninggalkan Arumi, tapi jika tidak pergi sekarang juga maka akan semakin lama penyatuan antara Lionel dan Arumi.
Ya walaupun belum ada rencana apapun yang Lionel temukan untuk menyatukan dirinya dengan Arumi.
Tapi setidaknya masalah yang lebih besar saat ini adat kelangsungan hubungan nya dengan Gamila.
Lionel juga masih belum bisa memastikan apapun tentang hal ini.
"Huh kenapa aku baru sekarang ingin menemui Gami? Ah memang tidak ada untungnya jika aku menyesal sekarang karena telat menemui Gami" Gumam-gumam Lionel.
Saat ini Lionel sudah berada di jet pribadi nya. Entah kenapa dia jadi teringat kejadian semalam.
Tadi malam ketika Lionel ikut serta makan malam bersama Arumi. Ia semakin gelisah atas praduga yang seenaknya mampir di pikiran nya. Hal itu semakin membuat Lionel kehilangan selera makannya.
Dan hal itupun tak luput dari pandangan Arumi. Walau Arumi dengan asyiknya berbincang dengan Lais dan mengabaikan Lionel. Tapi sesekali Arumi melirik bagaimana keadaan majikan nya yang sangat suka sekali pilih-pilih makanan.
Karena wajah Lionel sudah menampakkan ketidaknyamanan nya. Arumi mempercepat proses melahap makan malam nya. Begitupula dengan Albi yang dimintai Arumi mempercepat makan malam nya dengan alasan besok pagi harus bersekolah. Ya karena libur dua hari nya sudah habis.
Dengan mengatakan keberatan nya, Arumi meninggalkan Lais dan pulang terlebih dahulu membawa dua laki-laki yang berbeda generasi itu.
Sesampainya di rumah, Arumi langsung memanaskan makan malam. Dan meminta Lionel untuk memakan masakannya. Dan malam itu Albi serta Arumi menemani Lionel makan malam yang keduanya. Selepas Lionel makan malam, Arumi langsung mengerjakan tugas malam yang terakhir. Sementara itu Lionel mengajak Albi untuk mengobrol sejenak di ruang kerjanya.
"Aku menerima tantangan kamu" Seru Lionel serius ketika pintu ruang kerja nya tertutup.
"Maaf paman tawaran nya sudah hangus" Jawab Albi juga dengan wajah serius nya.
"Tidak bisakah tawaran itu kamu daur ulang menjadi tawaran baru lagi" Baru kali ini Lionel meragukan kemampuan berbisnis nya. Biasanya Lionel sangat mengetahui mana bisnis yang akan sangat menguntungkan bagi nya, dan mana bisnis yang akan merugikan nya.
"Hemm seperti nya bocah tujuh tahun ini tidak bisa diremehkan" Batin Lionel.
"Dia sangat mengetahui dengan sangat baik bahwa lawannya akan bertekuk lutut di hadapan nya sambil memohon" Batin Lionel memuji Albi.
__ADS_1
"Hemm tidak ada cara lain selain itu" Gumam-gumam Lionel.
"Apa yang kamu inginkan? Katakan saja, paman akan mengabulkan nya, apapun itu" Tawar Lionel.
Albi terdiam sesaat memikirkan tawaran Lionel.
"Wah benarkah paman? Apapun itu? " Tanya Albi antusias penuh harap, dan senang
"Hahaha anak kecil ini sama saja, sangat mudah di taklukkan" Kekeh Lionel meremehkan.
"Ya benar apapun itu" Jawab Lionel.
"Baik. Apapun itu paman pasti akan mengabulkan nya bukan? Heh. Pegang kata-kata paman" Ucap Albi serius lagi.
"Ya tentu saja itu sudah pasti" Jawab Lionel enteng.
"Oke. Aku sudah merekam perkataan paman" Kata Albi menunjukkan sebuah pena yang ternyata sebuah alat perekam suara.
"Hah tidak apa-apa, memang nya anak kecil akan meminta apa? Ya walau dia berbeda, tapi tetap saja dia anak kecil. Palingan permintaan nya sejenis permainan" Batin Lionel.
"Wah paman benar sekali, kenapa harus takut dengan perekam suara ini" Kekeh Albi membenarkan perkataan Lionel.
"Jadi apa yang kamu inginkan? " Tanya Lionel mulai serius.
"Hemm… Paman harus mendengar kan perkataan ku baik-baik... " Ucap Albi terdiam sesaat melihat reaksi Lionel. " … Yang aku inginkan adalah… " Albi menggantung kalimat nya. Tersenyum tidak wajar untuk anak seusianya.
"Aku ingin tiga persen dari saham yang paman miliki saat ini di perusahaan Danindra corp" Perkataan Albi membuat Lionel tercengang. Tak percaya bahwa seseorang yang mengatakan tentang saham adalah bocah berumur tujuh tahun. Seakan tuli sesaat Lionel bertanya lagi.
"Hahaha coba kamu ulangi lagi permintaan kamu! Paman tidak terlalu mendengar nya" Pinta Lionel.
"Pendengaran paman tidak bermasalah. Permintaan ku memang tiga persen dari saham paman" Seru Albi dengan wajah serius tapi tetap santai.
__ADS_1
"Hahaha kamu serius? Kamu masih kecil begini minta nya yang begituan? Kamu pasti salah bicara bukan? Yang kamu minta pasti permainan terbaru yang ada saat ini" Tanya Lionel syok.
Albi diam. Masih dengan wajah serius nya ia memandang Lionel. Dari wajah nya terlihat bahwa perkataan nya barusan bukanlah main-main semata.
Lionel terlihat menimang-nimang permintaan Albi yang tak main-main. Sungguh permintaan yang diluar dugaan nya. Bayangkan saja seorang bocah berusia tujuh tahun mengatakan tentang saham? Perbincangan yang hanya akan di bahas oleh para direktur utama dan direktur lainnya, beserta orang pemilik saham yang lainnya.
"Memangnya kamu tahu apa tentang saham? " Tanya Lionel.
"Aku tahu bahwa Tuan Bara memiliki saham lima puluh persen, paman tiga puluh persen, Tuan Ziyad dan tuan Ruzain masing-masing sepuluh persen mereka berdua adalah penanam modal asing yang membantu tuan Bara" Jelas Albi tentang saham yang dia ketahui.
"Aku juga tahu bahwa di perusahaan paman itu memiliki lima direktur dan dua orang diantaranya adalah cucu dari tuan Ziyad dan tuan Ruzain. Paman adalah direktur utama nya cucu tuan Zi…
"Cukup! " Pinta Lionel dengan susah payah dia mengeluarkan suara nya untuk menghentikan penjelasan Albi. Dia tercengang, membeku seakan dia diperintahkan hanya untuk diam saja. Pikiran nya kalut.
"Apa-apaan dia? Bagaimana bisa dia tahu hal itu? Bocah ini sangat mengerikan" Batin Lionel syok.
"Hehehe… aduh aku ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Lihat lah wajah pucat nya. Hahaha siapa yang suruh aku kemarin main disini bareng paman Rai? Padahal paman Rai sibuk mengurus rapat tahunan antar pemegang saham. Dan banyak sekali berkas-berkas yang memakai bahasa Jerman Hahaha beruntung sekali aku pernah diajarkan kakak bahasa Jerman. Jadi beberapa tumpukan kertas itu bisa ku baca. Dan paman Rai tidak mempermasalahkan hal itu. Mungkin dia mengira bahwa aku tidak akan mengerti bahasa Jerman. Dan lagipula tentang bagian bagian direktur di perusahaan Danindra corp bisa di cari di Gugling jadi gampang saja menyebut nya. Dan jika aku ditanya tentang saham aku sudah menghafal beberapa penjelasan. Terlebih lagi aku juga membaca novel kakak yang judulnya Menikahi CEO Cantik, di novel itu juga menjelaskan banyak tentang masalah perusahaan dan dengan detail di buku itu tertulis. Tak sia-sia aku membaca buku itu. Aku jadi memiliki ide untuk mengerjai paman. Lagipula untuk apa aku yang namanya saham? Pasti merepotkan mengurus segala hal yang berkaitan dengan saham. Aku kan masih kecil, daripada aku mengerjakan itu lebih baik aku bermain" Batin Albi menahan tawanya dengan berusaha berwajah serius.
Lama sekali Lionel memikirkan permintaan Albi, hingga Arumi memanggil Albi agar segera istirahat. Lionel masih saja belum memberikan jawaban.
Karena belum mendapatkan jawaban, Albi memberikan waktu hingga jam sepuluh pagi besok.
Jadilah Albi meminta Lionel untuk menjemput nya di asrama sepulang sekolah. Padahal besok siang Lionel harus segera berangkat ke London.
Jadilah Lionel bergadang semalaman untuk memikirkan tawaran Albi.
"Rasanya ada sesuatu yang salah dengan hal ini, tapi apa? " Gumam-gumam Lionel yang sudah bingung dengan keadaan. Dia benar-benar kacau tidak fokus.
"Apa yang akan ku katakan jika papa menanyakan perihal saham ku yang berkurang? Tapi aku juga ingin bersama dengan nya. Bocah itu benar-benar mengerikan" Gumam-gumam Lionel frustasi.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗