
Suasana di kantin masih hening semenjak kedatangan Lionel.
Lionel menatap Arumi yang gelagapan, dan itu terlihat lucu sekali. Lalu ia melihat wadah bekas makan siang Arumi.
"Hah kenapa rapat tadi lama sekali sih, dia jadinya makan duluan kan. Padahal aku sudah ada rencana agar bisa saling menyuapi" Gerutu Lionel di batinnya.
"Tunggu. Bukan itu permasalahannya sekarang. Kenapa dia memperkenalkan dirinya sebagai pembantu tadi? Apakah dia lupa jika aku sedang mengejarnya? " Batin Lionel kesal.
"Arumi" Panggil Lionel dingin.
"Eh ya tuan? " Arumi bingung
Kenapa dia jadi dingin begini? Pikir Arumi.
"Kenapa kamu bilang kalau kamu itu pembantu ku? " Tanya Lionel dengan kesalnya.
"Eh… oh apa yang salah tuan? Saya kan memang pembantu tuan" Jawab Arumi jujur.
"Tapi kan kamu tahu, kamu sebentar lagi akan menjadi nyo…
Ssstt
Lionel tidak jadi melanjutkan kata-katanya, karena Arumi meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Lionel.
"Wah apa yang tuan katakan. Saya belum masak untuk tuan. Hemm. Tuan pasti lapar kan? Ayo kita kembali, saya akan segera memasak. Sa... saya tidak mau di bilang makan gaji buta" Ucap Arumi gelagapan.
Arumi menggenggam tangan Lionel, lalu menarik paksa Lionel meninggalkan kantin. Lionel yang melihat punggung Arumi yang berjalan kedepannya, membuat sudut bibirnya melengkung ke atas.
"Ugh tangannya kecil sekali, hangat dan sangat nyaman di genggaman" Batin Lionel mempererat genggaman tangannya pada Arumi.
Sesampainya di ruangan Lionel, Arumi langsung melepaskan tangan Lionel yang di genggam nya. Ia berjalan menuju sofa, meninggalkan Lionel yang masih berdiri di depan pintu menatap tangannya sendiri.
Lionel menatap Arumi yang sepertinya jengkel terhadap nya. Ada rasa kesal juga menghampiri Lionel.
"Kenapa dia tidak ingin aku melanjutkan kata-kata perihal nyonya muda Danindra? Dia kan tahu bahwa aku sedang mengejar nya, dan aku pasti akan mendapatkan nya" Batin Lionel kesal.
Ah jika sudah berhubungan dengan Arumi, emosi Lionel bisa berubah-ubah tidak bisa tenang lagi seperti biasanya.
Lionel berjalan kearah Arumi, lalu duduk di sebrang Arumi. Ia menatap tajam Arumi, kesal dengan kata-kata Arumi di kantin tadi.
"Apa? Kenapa tuan lihat-lihat? " Seru Arumi.
__ADS_1
"Kenapa? " Tanya Lionel ambigu.
"Kenapa apanya? " Jawab Arumi dengan pertanyaan lain.
"Kenapa kamu mengatakan pada mereka bahwa kamu itu pembantu ku? Kamu kan tahu aku sedang mengejar mu, dan sebentar lagi kan kamu akan menjadi nyonya muda Danindra" Seru Lionel, lalu ia beranjak duduk, dan duduk di samping Arumi.
Jarak di antara mereka hanya selebar bahu saja.
Arumi menatap kesal Lionel.
"Apa tuan lupa, bahwa saya memang pembantu tuan. Jika tuan ingin saya tidak menjawab saya ini pembantu, maka tuan harus memecat saya" Jawab Arumi santai.
"Dan tuan jangan terlalu percaya diri jika saya mau menjadi nyonya muda Danindra itu. Saya bahkan belum menyukai anda" Sambung Arumi tepat menohok hati Lionel.
Tidak akan. Aku tidak akan memecat kamu. Jika aku memecat kamu, kamu bisa pergi kapan pun kamu mau. Dan aku tidak mau hal itu terjadi. Batin Lionel.
"Tapi aku yakin kamu akan segera menyukaiku. Secara aku ini tidak memiliki kekurangan. Di usia ku yang masih tergolong muda, aku sudah menjadi CEO dari sebuah perusahaan besar, tentu saja aku kaya raya. Aku adalah pria tampan yang banyak digilai wanita di luar sana. Aku adalah calon suami idaman bagi para wanita. Dan yang terakhir… " Lionel menggantung kalimatnya yang sangat narsis dalam menilai dirinya sendiri.
Lionel membuka jas nya, meletakkan di sandaran sofa. Lalu membuka satu persatu kancing bajunya tanpa melihat reaksi Arumi.
Arumi yang melihat pergerakan dari Lionel memundurkan tubuhnya. Menjauh dari Lionel. Dengan pelan.
"Dan yang terakhir aku sangat seksi" Lanjut Lionel memperlihatkan lekuk tubuh nya yang memiliki delapan roti sobek.
Eh
Lionel melihat Arumi yang sudah melangkah pelan menuju pintu. Lalu menyusul Arumi agar tidak keluar dari ruangan nya.
"Kamu mau kemana? " Tanya Lionel menahan pergelangan tangan Arumi agar segera berhenti berjalan.
"Saya mau keluar. Saya takut, nanti ada setan lewat dan membisikkan sesuatu pada tuan. Lalu tuan akan membuat saya jadi tidak suci lagi, apa lagi tuan sudah membuka kancing baju anda" Ucap Arumi. Ia melepaskan genggaman Lionel, lalu menyilang kan tangannya di depan dada. Berekspresi seakan takut Lionel akan menerkam.
Pipi Arumi merona.
Pfft
Aduh. Ekspresi nya yang sekarang ini malah membuatku ingin menerkam mu. Pikir Lionel berusaha mengontrol dirinya.
"Aku tidak sebrengs*k itu memaksa kamu melakukan nya, agar mempermudah aku memilikimu. Menaburkan benih di sana agar kita terikat selamanya"
"Hei. Walaupun aku sangat ingin melakukan hal itu dengan mu, tapi aku tidak sebejat itu sehingga memaksa kami mau melakukan nya dengan ku. Aku tidak akan melakukan hal itu pada mu sebelum kita menikah, dan itupun jika kamu memberikanku izin" Seru Lionel serius. Ia menyentuh lembut kedua lengan Arumi. Menatap dalam mata Arumi yang selalu membuatnya terpesona.
__ADS_1
Arumi terdiam. Mencerna kata-kata Lionel.
Ah sepertinya dia benar-benar menyukai ku. Batin Arumi terpesona dalam tatapan mata Lionel.
"Aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku, setelah itu kita akan menikah. Lalu… barulah aku akan membuat kamu lemah tak berdaya di bawah kuasa ku" Lanjut Lionel. Ia memiringkan kepalanya, mendekatkan kepalanya pada wajah Arumi.
Tangan Lionel sudah berpindah, menangkup kedua pipi Arumi.
Lionel memejamkan matanya. Mendekatkan bibirnya ke bibir Arumi. Semakin dekat hingga Lionel merasakan bibirnya menyentuh sesuatu yang rasanya sedikit berbeda.
"Eh" Lionel yang sudah membuka matanya terkejut dengan telapak tangan yang menghalangi bibirnya menyentuh bibir Arumi.
"JANGAN SEMBARANGAN MENCIUM SAYA TUAN" Seru Arumi tegas, ia menjauhkan wajahnya dari Lionel.
"Jika tuan benar-benar mengejar saya. Tolong kejarlah dengan benar. Jangan seenaknya mencium saya, agar saya meleleh dengan perlakuan lembut tuan. Walaupun berciuman itu adalah perlakuan yang biasa, tapi tidak dengan saya. Saya hanya akan mempersembahkan bibir saya pada suami saya di masa depan" Ucap Arumi tegas tak terbantahkan.
"Dan jangan membuat saya membenci tuan. Setelah tuan mengambil ciuman pertama saya, lalu ciuman berikut berikut nya" Lanjut Arumi tak ingin di bantah.
Aku tidak suka dia mencium ku sembarangan. Apalagi mendadak. Itu tidak baik buat jantung ku. Jadi jujur ku akui, bahwa aku menyukai ciuman nya. Tapi aku tidak suka dia yang seenaknya. Batin Arumi menatap tajam Lionel.
"Tidak. Aku mohon, jangan membenciku. Baiklah, aku tidak akan sembarangan mencium kamu lagi. Jika aku ingin mencium kamu, bolehkah aku meminta izin terlebih dahulu? " Ucap Lionel patuh. Tapi ia masih tidak menyerah untuk membuat Arumi luluh padanya.
Kemarin dia masih diam saja ketika ku cium, ya walaupun dia memberontak sebentar. Tapi sekarang? Adakah yang mengganggu nya?
Sepertinya dia ingin membatasi diri. Mungkinkah dia sebenarnya menyukai ciuman ku, tapi terlalu malu untuk mengakui nya. Ugh jika seperti ini, akan semakin sulit untuk ku mendapatkan nya. Batin Lionel.
Jadi... Aku harus bersikap baik padanya, dan jangan membuatnya membenciku hanya karena ciuman. Ugh aku harus mengontrol diriku jika dia terlihat menggemaskan sehingga aku ingin menciumnya. Pikir Lionel.
Keduanya terdiam, masih saling menatap.
"Hemm. Bisakah tuan memakai baju dengan benar? " Tanya Arumi, ia tak berani menatap tubuh Lionel. Arumi mengalihkan pandangannya dan mengalihkan pembicaraan Lionel perihal izin untuk bisa mencium dirinya.
"Eh. Oh… maafkan aku" Ucap Lionel. Dengan terburu-buru ia memakai kembali baju dan jas nya.
Arumi kembali duduk di sofa atas permintaan Lionel.
"Karena kamu sudah makan siang. Maukah kamu menemaniku makan? " Tanya Lionel penuh harap.
Dan Arumi pun mengiyakan permintaan Lionel.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗