Hanya Dia

Hanya Dia
Berbisik


__ADS_3

Tin tin tin


Entah sudah beberapa kali Lionel menekan klakson mobilnya. Dengan kecepatan tinggi Lionel membelah jalanan kota. Ia ingin sekali segera sampai di rumah. Ingin melihat wajah wanita yang sudah lama tak pernah dilihatnya.


Tak ingin berlama-lama di jalanan. Akhirnya Lionel sampai di rumah. Ia segera berlari, memeriksa setiap sudut rumah yang menurutnya ada keberadaan Arumi.


Kamar, adalah tujuan utama Lionel. Di sepanjang ruangan yang harus di lewati nya agar sampai di kamar Arumi, di periksa nya terlebih dahulu.


Deg deg deg


Lionel berdiri tepat di depan pintu kamar Arumi. Ia segera menggenggam ganggang pintu, dan hendak membukanya.


Ceklek


Pintu Arumi yang tidak di kunci membuat detak jantung Lionel semakin cepat. Lionel tak langsung masuk ke dalam. Ia mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Melihat kondisi kamar Arumi, bertanya-tanya, apakah pemilik kamar ada di dalam.


Deg deg deg


Huh rasa yang meluap di hati karena rindu yang sudah lama di tahan-tahan, akhirnya hari ini rindu itu akan terobati juga.


Deg


Lionel dapat melihat Arumi yang sedang berbaring di ranjang. Matanya terlihat tertutup jika dilihat dari jarak pandang Lionel.


"Apakah dia tidur? " Tanya Lionel, dan tak ada yang menjawab pertanyaan nya itu.


Dengan perlahan-lahan Lionel membuka pintu kamar Arumi sedikit lebih lebar, agar ia bisa masuk.


Satu persatu langkah Lionel mendekati ranjang Arumi.


Krieeet


Dengan pelan Lionel duduk di bibir ranjang. Menatap penuh rindu gadis yang di dambakan nya.


Cantik. Bahkan ketika tidur pun kamu cantik. Gumam Lionel memperlihatkan lekuk wajah Arumi.


"Aku merindukanmu" Gumam Lionel.


"Oh Arumi maukah kamu menjadi istriku? " Tanya Lionel tiba-tiba pada Arumi yang tertidur.


Deg

__ADS_1


"Duh. Padahal dia sedang tertidur, tapi kenapa aku tetap deg-degan mengucapkan kalimat tadi? " Ucap Lionel lirih, tapi masih bisa didengar oleh sekitarnya.


Lionel terdiam, masih memperhatikan wajah tidur Arumi.


"Ah aku ingin sekali mengungkapkan perasaan ku pada mu" Ucap Lionel pelan, lalu ia terdiam lagi.


"Hemm mumpung kamu sedang tidur, aku akan latihan mengutarakan perasaan ku secara langsung pada kamu. Walaupun kamu sedang tidur, semoga di alam mimpi kamu dapat mendengar nya" Ucap Lionel.


Lionel membungkukkan badannya, mendekatkan bibirnya ke telinga Arumi. Membisikkan kata-kata yang sudah sejak lama ingin di katakan nya.


"Aku ingin jujur tentang perasaanku. Ku harap, di alam mimpimu. Kamu mendengar nya" Ucap Lionel.


"Walau ku tak menyangka bahwa masakan mu lah yang telah membuatku jatuh cinta padamu. Berawal dari lidah lalu turun ke hati. Jujur saja, sesungguhnya aku tak pandai merangkai kata, yang bisa membuat mu luluh" Ucap Lionel, ia menjeda sejenak kalimatnya.


Deg


"Sungguh, aku tidak tahu kapan pastinya rasa ini mulai berkembang dan telah menjadi subur di hatiku. Aku… " Lionel berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


Deg


"Aku menyukaimu Arumi... Aku menyayangimu… aku mencintaimu… aku membutuhkan kamu… aku ingin menjaga mu… aku ingin kamu menjadi pelengkap kekurangan ku… aku ingin selalu bersamamu hingga maut memisahkan kita… aku ingin membuat mu bahagia. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidup ku… aku ingin membuat kamu melenguh kan nama ku ketika kamu berada dibawah ku. Dan kita akan saling menyebutkan nama ketika sampai di puncaknya. Dan aku ingin kamu melahirkan bibit-bibit unggul dari benih kita berdua. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya… menjalani hidup bersama hingga tua nanti dan karena keinginan ku yang banyak itu hanya kamu yang bisa memenuhi nya… maukah kamu menikah dengan ku dan menjadi istriku? " Ucap Lionel tepat di telinga Arumi. Ia mengeluarkan segala rasa yang ingin ia katakan pada Arumi. Karena ia dan Arumi kadang saling bertengkar, dan Arumi sering kesal padanya. Lionel pun hanya berani membisikkan kata-kata itu pada Arumi.


Deg


Deg


"Hemm inti dari segalanya adalah… maukah kamu menjadi istriku pendamping hidup ku hingga akhir hayat? " Tak ada jawaban.


"Hah ku tahu kamu tidak akan menjawab nya, karena kamu tidur. Tapi jika di alam mimpi kamu mendengar apa yang aku katakan, aku harap kamu mau menerima diriku yang apa adanya. Mau menerima lamaran ku ini" ucap Lionel tersenyum miris.


" Haha maaf jika aku hanya berani berbisik seperti ini. Tapi kamu jangan khawatir, karena aku akan melamar kamu lagi secara langsung. Melamar kamu saat kamu terbangun, dan kamu dapat melihat kesungguhan ku" Ucap Lionel lagi. Lionel menarik kepala nya dari telinga Arumi. Dan berhenti tepat di wajah Arumi, saking dekatnya jarak antara mereka, hidung mereka saling bersentuhan. Deru nafas saling menerpa wajah.


Deg deg deg


Cup Lionel mengecup dahi Arumi lama. Cup cup Lionel mengecup kedua mata Arumi. Cup lalu ia mengecup hidung Arumi. Cup cup tak lupa kedua pipi Arumi. Dan terakhir cup cukup lama bibir Arumi dan Lionel bersentuhan, dan ada sedikit ******* lembut di sana. Hingga


Eugh


Hingga ada sedikit pergerakan dari Arumi membuat Lionel menarik wajahnya, menunggu respon Arumi selanjutnya. Jika Arumi terbangun, Lionel tidak ingin lari jika Arumi ingin memarahi nya karena telah sembarangan mencium Arumi.


Hening

__ADS_1


Tidak ada pergerakan selanjutnya dari Arumi. Huh sedikit lega dirasakan Lionel, karena tidak terkena amukan dari Arumi.


"Hemm… sepertinya kamu kelelahan, kamu istirahat lah. Waktu kita masih panjang dan kita akan lebih sering bertemu nantinya… mimpi indah sayang" Ucap Lionel lalu cup ia mengecup singkat dahi Arumi lalu dengan langkah pelan ia keluar kamar dan menutup rapat pintu kamar Arumi.


"Aggrrhh sebaiknya aku juga tidur siang sejenak, agar aku lebih segar jika bertemu dengan nya nanti setelah dia bangun" Gumam-gumam Lionel meregangkan tubuhnya. Lalu ia berjalan menuju kamarnya sendiri.


Di dalam kamar


"Uuhh ciuman pertama ku" Ucap Arumi, ia merasakan hawa panas menjalar di pipinya.


"Arumi… kenapa kamu diam saja dan kenapa kamu malah berpura-pura tidur? Oh astaga… kenapa itu sangat lembut" Gumam-gumam Arumi meraba bibirnya.


Sebenarnya Arumi sudah bangun sejak Lionel mengatakan bahwa ia menyukai Arumi.


Saat Lionel membisikkan kata-kata itu, Arumi terbangun karena ia ingin buang air kecil. Tapi di urungkan nya karena ada hembusan nafas tepat di telinganya.


Seharusnya Arumi langsung mendorong Lionel, agar menjauh. Tapi ia malah diam membeku karena kata yang pertama kali di dengarnya ketika bangun adalah " Aku menyukaimu Arumi" kata-kata itu sukses membuat Arumi membisu. Seakan tubuhnya terhipnotis agar tetap diam hingga Lionel menyelesaikan kata-katanya.


Deg deg deg


"Ugh jantung tolong biasa saja berdetak nya, jangan terlalu cepat. Huwaaa apa dia mendengar detak jantung ku yang terlalu cepat tadi? " Tak ada yang menjawab pertanyaan nya.


Arumi melupakan rasa ingin buang air kecil nya. Ia menatap lekat langit-langit kamar. Menyentuh lembut bibirnya yang sedikit basah karena ulah Lionel tadi.


Arumi meraba sekitar tempatnya berbaring, mencari keberadaan ponsel nya. Lalu membuka pesan dari Fathan tadi.


"Ugh Lionel Edzky Danindra" Gumam nya.


"Di novel yang ku baca, jika yang kurasakan saat ini adalah tanda-tanda rasa suka. Hemm apa aku menyukainya? Hei tuan apa aku juga menyukai mu? " Tanya Arumi pada gambar Lionel di ponselnya.


"Jika benar aku menyukai mu. Maka ini semua salah Albi, mommy Kesya, Tante Kinan dan Bu Gamila. Karena mereka semua selalu membicarakan kamu yang cocok jika bersanding dengan ku. Aku jadi selalu memikirkan mu. Cih Arumi... Kenapa dalam beberapa hari dan tanpa adanya pertemuan kamu bisa menyukainya? Cih dasar hati, kenapa kamu lemah dengan sikap nya yang lembut itu. Seharusnya kamu seperti biasanya saja. Kesal hanya dengan melihatnya" Gumam-gumam Arumi kesal dengan harinya sendiri karena dianggap lemah terhadap Lionel.


"Huh kenapa kejadian yang ada di novel-novel yang pernah ku baca bisa terjadi padaku? Cih tapi di novel yang ku baca semua pemeran wanitanya pasti akal nya akan jadi kurang panjang jika hal ini terjadi. Pasti jika mereka dicium seperti tadi mereka akan frustasi sendiri karena memikirkan kenapa si pemeran pria melakukan hal itu pada mereka" Gumam-gumam Arumi mengingat-ingat kembali novel yang pernah dibacanya.


"Dan kamu untuk tuan. Kamu harus bertanggung jawab karena telah mengambil ciuman pertama ku dan karena telah membuatku berdebar tidak karuan" Ucap Arumi lirih.


"Hemm. Kenapa rasanya ada yang aneh ya? Uuhh astaga. Aku kebelet" Seru Arumi berlari ke dalam kamar mandi.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗

__ADS_1


Ini udah lebih panjang dari yang kemarin ya. Jangan cepat-cepat bacanya biar gak nemu tombol next yang gak bisa di pencet.✌️✌️


__ADS_2