Hanya Dia

Hanya Dia
Pucuk dicinta ulam tiba


__ADS_3

Sudah sebulan lamanya Lionel sembuh.


Dan dua Minggu sesudah kesembuhan Lionel Kesya dan Bara menginap di rumah Lionel, begitu pula dengan Tika. Tika terpaksa menginap karena rayuan maut Arumi yang tidak bisa di abaikannya begitu saja. Awalnya Tika tidak ingin mengikuti kemauan Arumi karena dia pasti akan menjadi kasat mata jika sudah berada di antara Arumi dan Kesya.


Tapi tidak seperti dugaan nya, sudah dua Minggu ini pula Kesya dan Arumi telah mengetahui hawa keberadaan nya. Hal itu membuat Tika tidak perlu menjadi butiran daki lagi.


Mereka bertiga hanya dua Minggu saja menginap.


Kesya dan Bara yang kembali pergi honeymoon. Dan Tika yang sudah kembali lagi ke tanah air nya, Indonesia.


Sudah dua Minggu setelah kepergian Kesya dan Tika. Hari-hari yang di jalani Arumi terasa sangat menyebalkan. Karena gangguan yang selalu di gencar Lionel. Entah ada angin apa, Lionel sangat suka sekali mengganggu Arumi. Berbagai hal Lionel lakukan untuk mengusik ketenangan pembantu nya itu. Kadang Lionel bersikap manja seperti ingin di perhatikan.


Awalnya Arumi sudah mengadu kepada Kesya tentang kelakuan Lionel yang sangat membebaninya, lewat percakapan mereka di telepon beberapa hari yang lalu. Arumi kira Kesya bisa mengatasi bayi besar itu. Tapi apalah daya Arumi, karena Kesya hanya bisa berucap.


"Mommy tidak akan bisa mengatasi bayi besar itu. Karena jika mommy bisa, pasti mommy sudah mengatasinya sejak lama" Ucap Kesya dengan gaya acuhnya yang terkesan mendukung Lionel.


Apalah daya Arumi yang hanya seorang pembantu.


Dengan hati lapang dan berjiwa besar Arumi harus meladeni bocah tua nya.


Pernah suatu hari Arumi benar-benar ingin sekali mencakar wajah tampan Lionel itu.


Saat itu adalah hari dimana Arumi libur bekerja. Seperti biasanya, Arumi pasti menghabiskan waktu liburan nya bersama dengan Albi. Dengan riang dan kebahagiaan yang terpancar dari keduanya, kali ini Albi dan Arumi menghabiskan waktu mereka di pusat perbelanjaan. Karena sudah lama sekali mereka tidak menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan mereka. Apalagi saat ini gaji yang Arumi dapatkan terbilang berlebihan. Dan di tambah uang saku yang selalu Lionel berikan setiap minggunya.


Gaji yang nominalnya sama seperti gaji seorang koki profesional yang bekerja di restoran. Hal itu pasti mendukung Arumi dan Albi semakin menikmati.


Albi dan Arumi memasuki setiap toko yang menarik perhatian mereka. Tempat kejadian dimana Arumi ingin mencakar wajah tampan Lionel adalah di sebuah kafe di pusat perbelanjaan itu.


Siang itu Albi dan Arumi merasa sangat lapar karena mereka telah menjelajahi setiap toko yang ada sejak pagi. Tanpa adanya mengemil di perjalanan mereka menjelajahi toko. Karena Arumi mengingatkan pada Albi bahwa tidak baik untuk kesehatan jika makan sambil berdiri apalagi berjalan.

__ADS_1


Saat suapan pertama mereka tiba-tiba saja seorang pria dengan jaket dan topi yang menutupi kepalanya, dan tak lupa pula masker yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu duduk di antara Arumi dan Albi.


Merasa Dejavu dengan keadaan saat itu. Sama seperti sebelumnya Albi melancarkan serangannya dengan mengatakan bahwa dia adalah anak Arumi.


Benar-benar persis seperti kejadian sebelumnya, hanya saja pria berjaket hitam ini tidak membawa makanan nya.


"Maaf paman, paman siapa ya? Kenapa paman duduk di situ? " Tanya Albi menunjuk bangku yang diduduki oleh Lionel.


"Memangnya kenapa? Apa bangku ini sudah kamu beli sehingga saya tidak diperbolehkan untuk duduk di sini? " Pria bermasker malah balik bertanya.


Mendengar penuturan Lionel membuat siapa saja pasti mengernyit heran.


"Bukan begitu paman. Hanya saja, kata mommy" Ucap Albi melirik Arumi. "Kata mommy selalu mengingatkan aku, jika melakukan hal yang paman lakukan itu tidak sopan namanya" Seru Albi dengan nada polos anak kecil nya.


"Apa mommy paman tidak pernah mengatakan hal itu? " Tanya Albi masih dengan logat polos nya.


"Mommy? Siapa mommy kamu? " Tanya Lionel yang hanya fokus pada kata mommy yang di ucapkan Albi. Karena setiap mengatakan mommy Albi selalu melirik ke arah Arumi.


"Eh...


"Kamu? Kamu? Ternyata kamu sudah memiliki anak di usia dini? Kamu berbohong padaku! Tadi kamu bilang kamu berlibur bersama dengan adik, bukan anak" Tiba-tiba Lionel berdiri tidak percaya dengan apa yang telah didengar nya barusan.


Arumi yang sedari tadi hanya melanjutkan makan siang tanpa mendengar obrolan diantara laki-laki yang berbeda generasi di samping nya.


Arumi tersentak kaget karena suara pria itu sangat di kenalnya. Karena Albi dan Lionel sedari tadi hanya bicara seperti saling berbisik.


"Loh. Paman kenal sama kakak yaa? Kalau tahu begitu aku akan membiarkan paman duduk tadi" Seru Albi mengubah suasana yang tiba-tiba canggung karena Lionel berteriak tidak jelas tadi.


Mendengar Albi yang sudah memberikan penjelasan. Arumi melanjutkan lagi makan siang nya. Mengabaikan pria bermasker yang ternyata adalah majikan nya.

__ADS_1


"Aku tidak kenal dia" Batin Arumi setelah melihat sekeliling nya. Para pengunjung yang terhenti makan siang karena mendengar teriakkan Lionel.


"Wah ayo paman duduk lagi" ucap Albi mengiring Lionel agar duduk kembali.


Sangat malu rasanya melihat tingkah paman ini yang tidak tahu tempat untuk berteriak. Batin Albi.


"Seharusnya paman menyapa kami tadi sebelum ikut duduk. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengusir paman secara halus. Habisnya setiap kami duduk bersama pasti selalu saja ada paman- paman yang tidak jelas ikut duduk. Tapi pas aku melancarkan aksi, dengan mengatakan bahwa kakak adalah mommy ku. Dengan sendirinya para paman itu pasti akan menyingkir" Celoteh Albi curhat pada Lionel.


Saat ini Lionel sudah duduk kembali, di tempat nya semula. Dia seperti nya sudah patuh pada perintah Albi. Tanpa dia sadari.


"Apakah kamu serius? Jika banyak laki-laki tidak jelas yang tiba-tiba duduk di antara kalian seperti ku tadi? " Tanya Lionel dengan nada tidak suka nya.


"Iya paman. Sebenarnya ada satu cara sih agar kakak tidak di goda sama paman paman itu" Seru Albi. Sepertinya mereka berdua sudah akrab dalam sekejap mata.


Tidak banyak sih, cuma dua orang saja. Paman Lais dan paman ini saja. Batin Albi.


Arumi sudah seperti benda tak kasat mata diantara mereka. Arumi di abaikan dalam santapannya.


Arumi membiarkan Albi dan Lionel, karena sepertinya mereka berdua bagaikan botol dan tutupnya. Mereka cocok sekali karena sifat mereka yang sangat susah untuk dinasehati.


"Apa itu? " Tanya Lionel penasaran karena hal itu pasti menguntungkan bagi nya.


"Aku ingin sekali mencarikan untuk kakak seorang kekasih. Agar ada yang menjaga kakak selain aku" Ucapan Albi terdengar lesu.


Waw pucuk dicinta ulam tiba. Memang benar keputusan ku untuk mengikuti Arumi. Batin Lionel senang.


Melihat reaksi Lionel, Albi jadi ingin sekali mengerjainya. Karena melihat reaksi Lionel yang tertarik pada Arumi.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗


__ADS_2