Hanya Dia

Hanya Dia
Pahit


__ADS_3

Kedua sudut bibir Lionel melengkung keatas, mereka berdua saling bertatapan. Entah kenapa, hati nya menghangat hanya dengan melihat Arumi. Rasa asing yang menggelitik hati nya , sejenis rasa bahagia. Menjadi kesimpulan Lionel saat ini.


Berbeda dengan Arumi yang menatap nya kesal. Arumi masih berpikir jika senyum yang Lionel tampilkan adalah keisengan Lionel yang ingin menjahili Arumi.


Meminta Arumi untuk berdiri di ruang kerja selama satu jam.


" Tuan. Jika benar anda hanya ingin saya berdiri selama satu jam disini tanpa melakukan apapun. Bisakah...


Arumi tidak melanjutkan kata-katanya ketika Lionel tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Arumi semakin kesal dengan sikap Lionel yang santai saja berjalan menuju sofa. Membawa laptop nya.


Pukh!


Lionel duduk di sofa empuk nya , melihat kearah Arumi yang masih setia berdiri di tempat sebelumnya , memandang nya kesal.


" Kemari" Perintah Lionel sambil menepuk sofa di samping nya yang masih kosong.


Arumi tidak langsung menuruti perintah Lionel , dia memandang Lionel sejenak dengan memicingkan matanya , dengan ekspresi kesal. Arumi memejamkan matanya , lalu menghela nafas panjang.


Arumi berjalan menuju Lionel lalu duduk di tempat yang Lionel tepuk sebelum nya.


Lionel menarik sudut bibirnya lagi melihat Arumi yang patuh menuruti perintah nya.


" Suapi aku ! " Perintah Lionel yang kembali fokus pada laptop nya , memeriksa email yang masuk.


Dengan telaten dan sisa-sisa kesabaran yang ada , Arumi menyuapi Lionel. Hanya suara ketikan laptop Lionel saja yang menjadi pengisi suara ruang antara Lionel dan Arumi.


Walau bubur sudah dingin , itu tidak mengurangi rasa enak yang dirasakan Lionel.


Saat ini dia benar-benar fokus dengan pekerjaan nya , tanpa adanya lirik melirik ke arah Arumi.


Tak terasa bubur pun sudah habis bertepatan dengan pekerjaan Lionel yang sudah selesai.


Dan hal yang paling tidak di sukai Lionel pun tiba. Saat ini Arumi sudah membuka kemasan obat yang harus Lionel minum.


Glek!


Lionel kesusahan menelan saliva nya melihat besar nya obat yang akan di minum nya , di penglihatan Lionel , obat itu bagaikan sebesar kepalan tangan nya. Padahal obat-obat itu hanya sebesar permen kecil saja.


Bagaimana caranya agar itu bisa tertelan. Batin Lionel.


"Buka mulut nya Tuan" Pinta Arumi yang sudah siap menyuapi Lionel obat.

__ADS_1


"Eh... Hemm... tunggu sebentar! " Pinta Lionel menahan tangan Arumi yang hendak menyuapi nya.


Lionel tampak gelisah melihat obat yang di pegang Arumi.


"Uuh... Pasti pahit sekali rasa nya. Batin Lionel


"Kenapa Tuan ? "


"Itu... pahit kan? " Tanya Lionel terbata-bata.


"Saya tidak tahu Tuan. Karena saya tidak pernah mencicipi obat Tuan" Jawab Arumi.


"Coba kamu cicip sedikit obat nya. Kamu jilat saja sedikit ujung obat itu untuk merasakan nya! " Pinta Lionel dengan tidak tahu malu nya.


"Eh... Oh... Baiklah" Jawab Arumi.


Sudah lah... turuti saja perintah nya , agar cepat selesai dan aku bisa segera istirahat. Batin Arumi


Awal nya Lionel hanya bercanda saja , ketika meminta Arumi untuk menjilati obat itu. Tapi dia tidak menyangka jika Arumi melakukan perintah nya tanpa bantahan.


Sesuai permintaan Lionel tadi , Arumi menjilati obat itu satu-persatu tanpa terkecuali , lalu mengecap rasa nya.


"Obat ini memang pahit , tapi anda tidak akan mati jika meminum nya" Ujar Arumi santai.


"Eh...


"Karena saya sudah mencicipi nya sesuai dengan keinginan Tuan , sebaiknya Tuan segera meminum nya , agar saya bisa langsung istirahat setelah ini , saya sudah sangat mengantuk sekali" Ucap Arumi jujur.


"Oh... Baiklah... "


Dengan perasaan yang amat terpaksa Lionel meminum obat nya. Bagaikan di minta untuk meminum sebuah racun. Dengan cepat tiga obat yang berbeda , satu persatu obat masuk kedalam mulut Lionel , diselingi dengan meminum air setiap satu butir obat.


"Wuah... Hah... kenapa obat ini sangat mengerikan " Lionel menatap Arumi lalu menyenderkan punggungnya ke sofa.


Tiba-tiba Arumi beranjak dari duduk nya.


"Eeh... kamu mau kemana ? " Tanya Lionel menarik tangan Arumi agar duduk kembali.


"Saya permisi dulu Tuan , tugas saya sudah selesai , dan saya ingin segera istirahat" Jawab Arumi berusaha melepaskan tangan nya dari genggaman kuat tangan Lionel.


"Kata...

__ADS_1


"Tuan. Tolong lepaskan!" Pinta Arumi memotong pembicaraan Lionel.


Lionel melepaskan genggaman tangan nya , dia menatap tajam Arumi. Wajah Arumi memang terlihat seperti sudah lelah , tapi Lionel masih ingin berlama-lama melihat wajah gadis yang ada di hadapannya ini. Paras nya yang sudah terukir di pikiran dan hati Lionel. Yang sudah menyihir Lionel hanya untuk fokus pada Arumi saja , menyihir Lionel agar senantiasa selalu menginginkan keberadaan Arumi.


Bolehkah aku sedikit serakah atas keberadaan nya. Batin Lionel


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan" Pamit Arumi langsung ketika Lionel sudah melepas kan genggaman tangan nya. Dengan tergesa-gesa Arumi langsung keluar dari ruang kerja Lionel. Tanpa mendengar jawaban dari Lionel Arumi pergi begitu saja.


Lionel menatap punggung Arumi yang sudah hilang tertelan pintu.


Pikiran Lionel tak menentu saat ini. Dia memikirkan bagaimana dengan perasaan nya dan perasaan Gamila , istrinya.


"Aku harus bertemu Gami secepatnya , ingin memastikan dan memutuskan sebuah keputusan yang mungkin saja akan merubah kehidupan masa depan ku" Gumam Lionel yang juga meninggalkan ruang kerja nya. Karena Lionel juga harus segera istirahat.


***


Di sisi lain


Dorr!


Seru nya mengagetkan wanita cantik yang sedang melamun sedari tadi , dengan menepuk pundak wanita itu.


"Kamu tidak akan berhasil mengagetkan aku Rio" Kesal wanita itu.


"Hais... kamu benar. Aku tidak akan pernah bisa mengagetkan kamu" Lesu nya.


"Bisakah kamu memberikan aku sebuah tips agar kamu bisa terkejut Gamila ? " Tanya Rio yang sudah duduk di samping Gamila , ya wanita cantik yang sedang melamun tadi adalah Gamila. Dan Laki-laki yang duduk di samping nya adalah Ilario Guthni , aktor yang menjadi lawan main nya saat ini.


"Tidak akan ada tips" Jawab Gamila menyenderkan tubuhnya ke sofa , memejamkan mata nya.


"Kamu. Kenapa ? " Tanya Rio mendekatkan wajahnya ke wajah Gamila.


"... Kamu ... sakit... ? " Tanya Rio menyatukan dahi nya dengan Gamila. Kulit mereka yang saling bersentuhan membuat Gamila kaget dan membuka matanya.


Manik mereka bertemu , deru nafas yang saling beradu , jarak yang sangat dekat membuat Gamila reflek mendorong wajah tampan Rio. Tapi dikarenakan tenaga Gamila yang tidak seberapa , apalagi dengan keadaan tubuh nya yang kurang sehat , wajah Rio tidak menjauh sedikit pun. Karena itu Gamila lah yang menyingkir dari hadapan Rio.


"... Kamu... ngapain... ? " Tanya Gamila panik.


" Ngapain dekat-dekat... ? " Tanya Gamila lagi.


Rio tidak langsung menjawab pertanyaan Gamila , dia hanya menampilkan deretan gigi putih nya. Menatap gemas Gamila.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗


__ADS_2