Hanya Dia

Hanya Dia
Akhirnya


__ADS_3

Braaak!


Sekretaris Rai meletakkan beberapa dokumen di meja Lionel.


Lionel yang melihat tumpukan kertas yang harus di tandatangani nya itu, menatap tajam sekretaris Rai. Rasa kesal menggerogoti hatinya. Entah kenapa melihat tumpukan kertas itu membuatnya mual.


"Rai. Tidak bisakah kau yang mengurus sisa dokumen ini? Aku ingin segera pulang dan menemuinya. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Apalagi Fathan tidak ada di rumah untuk merekam kegiatan sehari-hari Arumi. Argghh kenapa mommy meminta Fathan untuk menyusul kesini? " Rutuk Lionel tapi tangannya tetap bekerja membubuhi berkas-berkas yang harus di tandatangani.


Lionel menatap kesal Fathan yang tengah berbaring seenak jidatnya di sofa, di ruang CEO. Sambil memainkan ponsel nya.


"Apa lihat-lihat? " Tanya Fathan merasa tak bersalah.


Mendengar suara Fathan semakin membuat Lionel kesal saja.


"Pergi sana. Aku jadi semakin kesal melihat mu" Omel Lionel.


"Hei. Bukan aku yang ingin kemari. Mommy yang menyuruh ku. Kamu tak bisa seenaknya memarahi ku" Ucap Fathan membela dirinya.


"Rai. Beri sebagian kertas-kertas ini padanya, hei. Bantu aku menandatangani ini" Celoteh Lionel tanpa henti, ia masih ingin meluluhkan sekretaris Rai agar bisa mengurangi beban tugas nya.


"Maaf. Tidak bisa tuan. Tanda tangan anda sangat diperlukan untuk berkas-berkas ini. Karena sebagian pekerjaan anda sudah saya selesaikan maka anda harus menyelesaikan ini semua" Jawab sekretaris Rai tegas.


"Lebih baik tuan tandatangani saja dan jangan banyak mengeluh agar tugas anda cepat selesai, dan tuan bisa menemui nona Arumi setelah nya" Saran Sekretaris Rai.


Cih


Lionel hanya berdecak kesal karena perkataan sekretaris Rai ada benarnya. Jadilah ia memilih untuk fokus saja pada pekerjaan nya. Seperti kata sekretaris Rai tadi, agar cepat selesai dan agar bisa cepat bertemu dengan Arumi.


Fathan yang melihat Lionel mengikuti saran sekretaris Rai hanya terkekeh geli. Tidak seperti Lionel yang biasanya.


Sebelum Lionel mengenal Arumi, dan Lionel yang dikenal Fathan sebelumnya adalah seorang atasan yang gila kerja. Tiada hari tanpa kerja, hanya sesekali libur, itupun jika Gamila tengah tidak ada pekerjaan. Dan karena Gamila sangat jarang sekali yang namanya libur, maka otomatis Lionel pun juga sangat jarang libur bekerja.


Wah… cinta bisa merubah segalanya. Batin Fathan sambil mengambil beberapa foto Lionel yang sedang fokus pada pekerjaan nya. Lalu mengirim foto-foto itu pada seseorang.


Entah sudah beberapa jam Lionel lalui bersama kekasihnya, yaitu pekerjaan. Kekasih yang menghalanginya untuk bertemu dengan Arumi. Sang calon istri.


Akhirnya, karena mengikuti saran dari sekretaris Rai. Lionel pun telah menyelesaikan pekerjaan nya.


Braaak!

__ADS_1


Kursi yang Lionel tempati jatuh kebelakang karena ia tiba-tiba berdiri dan langsung berlari kearah pintu yang dilewati jika ingin masuk atau keluar dari ruangan CEO.


"Tuan"


"Lio"


Panggil Fathan dan sekretaris Rai yang kaget karena pergerakan tiba-tiba dari Lionel.


Lionel diam, tidak menggubris mereka.


Ceklek


Lionel sudah membuka sedikit pintu. Ia berbalik, memandang tajam sekretaris Rai dan Fathan bergantian.


"Aku ingin segera pulang. Dan jika aku sudah sampai di lobby, mobil sudah harus menunggu ku. Hari ini jangan ada yang kerumah. Aku akan menyetir mobil sendiri. Dan jangan mengganggu ku hari ini" Seru Lionel menatap tajam kedua orang itu.


Ia langsung berlari hendak meninggalkan perusahaan, dan menuju rumah yang terdapat seseorang yang dirindukan.


***


Arumi yang sedang duduk di bibir kolam, tengah merasa kesal karena kebosanan yang melandanya. Tapi ada rasa sesal juga yang di rasakan nya karena telah menolak tawaran Kesya. Sebenarnya tadi pagi Kesya mengajak Albi dan Arumi untuk pergi ke pantai bersama dengan keluarga Zaida. Tapi ditolak nya, karena takut jika para ibu-ibu itu berkumpul akan membahas perihal dirinya dan Lionel lagi. Jadilah hanya Albi saja yang ikut pergi. Dan bagaimana bisa Albi meninggalkan nya begitu saja tanpa sedikitpun menoleh kebelakang untuk melihat dirinya.


Tidak ada yang bisa Arumi kerjakan hari ini. Semua novel yang ada sudah di baca semua. Membersihkan rumah sudah ada orang yang mengerjakan nya.


Dan memasak pun dia bisa memesan lewat ponsel jadi tidak perlu repot-repot menggerakkan tubuhnya. Arumi merasa dirinya adalah pengangguran kaya.


Hari ini Arumi hanya sendiri saja di rumah, tak ada yang menemani. Walaupun ada orang yang bekerja juga pada Lionel yang menemaninya, tapi dia adalah satpam penjaga gerbang dan tentu saja dia bertugas di luar rumah.


Karena tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan, Arumi memilih untuk menonton film yang baru saja diliris. Film yang di bintangi Gamila dan Rio.


Arumi merebahkan tubuh di kasur empuk milik nya, menonton film itu di laptop. Baru juga Arumi ingin memulai tontonan nya.


Ting ringtone ponsel mengalihkan perhatian Arumi. Ia memeriksa ponsel, melihat siapa yang sudah mengirimi nya pesan.


Tuan Fathan lah yang tertulis di layar ponsel Arumi.


Ia membuka pesan dari Fathan, dan terpampang jelas di layar ponselnya beberapa foto Lionel yang sangat fokus pada pekerjaan nya.


Ting

__ADS_1


Ting


Dan masuk lagi dua pesan dari Fathan.


Hay nona Arumi yang cantik.


Bos ku yang dikenal sebagai gila kerja, malah ingin segera menyelesaikan pekerjaan nya. Karena merindukan seseorang. Isi pesan Fathan yang pertama.


Nona, cobalah kamu bertanya. Siapa yang dirindukan nya?


Pinta Fathan di pesan kedua itu.


Niat hati ingin mengabaikan pesan Fathan pun tak jadi.


Siapa?


Balas Arumi singkat.


Apa nona memiliki sebuah cermin? Jika ada, cobalah nona lihat ke dalam cermin itu. Di sana akan ada wajah yang dirindukan Lio. Cepat Fathan membalas pesan Arumi.


Tanpa melakukan perintah Fathan, Arumi tahu siapa yang dimaksud nya. Dan setelah itu Fathan tidak ada lagi mengirimi nya pesan.


Ah setelah berbalas pesan dengan Fathan, Arumi tidak jadi melanjutkan menonton film nya. Dirinya menjadi tidak fokus setelah membaca pesan terakhir dari Fathan.


Arumi memilih berbaring, menatap lekat langit-langit kamar. Di tangan kanannya, ia menggenggam ponsel. Dan di tangan kirinya sudah ada cermin yang di ambilnya sebelum berbaring tadi.


Arumi mengangkat cermin yang di tangan kirinya. Menatap pantulan dirinya di cermin itu.


"Ah apakah benar kamu yang dirindukan oleh tuan? " Tanya Arumi pada pantulannya di cermin.


Deg


"Hahaha sepertinya aku sudah gila. Apa saat ini aku juga merindukan sifat menyebalkan nya? Oh apakah karena beberapa hari ini aku selalu mendengar tentang dirinya yang bersanding dengan ku dari semua orang di rumah ini. Aku jadi memikirkan nya juga" Gumam-gumam Arumi menertawakan dirinya sendiri.


"Hemm Lionel" Beberapa kali Arumi menyebut nama Lionel hingga ia terlelap.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2