
Arumi dan Albi sudah bisa tertawa lagi. Ah meminta maaf dan saling memaafkan dengan tulus memang indah.
"Kak" Panggil Albi menatap lekat mata Arumi.
Hemm. Jawab Arumi berjalan menuju kafe lagi.
Mereka berdua meninggalkan seseorang yang sudah kasat mata.
"Belanjaan kita mana? " Tanya Albi yang juga melupakan keberadaan Lionel. Ah sungguh malang.
"Kan tadi kita titipkan di penitipan yang ada di kafe, jadi sekarang kita balik lagi kesana" Jawab Arumi terus jalan.
"Kak" Panggil Albi lagi.
"Ya"
"Kayak nya ada yang kita lupakan, tapi apa yaa? " Ucap Albi mengingat sesuatu yang di lupakan nya.
"Hemm. Masa sih? Ah mungkin yang kamu bilang itu belanjaan kita tadi" Jawab Arumi.
"Hemm mungkin. Tapi… rasanya bukan itu deh. Ah biarlah kalau itu penting nanti juga ingat" ucap Albi menyerah mengingat sesuatu yang terlupakan.
"Mungkin itu sesuatu yang tidak penting, makanya kita tidak mengingatnya" Sambung Arumi.
"Heum benar " ucap Albi mengiyakan perkataan Arumi.
Tidakkah mereka berdua sadari jika yang dianggap tidak penting itu adalah seseorang yang memasang wajah masamnya karena perkataan kakak adik itu. Walaupun begitu dengan sukarela Lionel tetap saja mengikuti kemanapun Albi dan Arumi melangkah.
Tapi itupun hanya sesaat saja, karena dia sudah menyerah duluan karena Albi dan Arumi masih saja tidak mengingat nya.
Arumi dan Albi dengan santai nya kembali ke kafe untuk mengambil barang belanjaan mereka.
"Kak kita pulang saja yuk, Albi sudah capek jalan kaki mulu. Kakak pasti capek juga kan tadi gendong Albi" Seru Albi. Saat ini Arumi dan Albi sedang menikmati es krim, mereka berdua duduk di taman yang ada di pusat perbelanjaan.
"Ah ayo kakak memang sudah capek, apalagi sekarang sudah mau sore. Kerena kamu libur selama dua hari, jadi besok kakak jemput kamu lagi. Sekarang kamu kakak antar dulu ke asrama ya. Ayo" Arumi dan Albi bergandengan tangan berjalan menuju tempat parkir.
"Kak, gimana kalau aku menginap di tempat kakak saja. Biar besok nya kita bisa langsung jalan-jalan" Seru Albi antusias.
"Hemm. Boleh nanti kakak minta izin sama sekretaris Rai" Jawab Arumi.
"Eh" Arumi dan Albi saling berpandangan. Sepertinya mereka berdua mengingat sesuatu yang sempat terlupakan tadi.
"Kakak. Kata paman tadi, kakak tinggal bersama dengan nya ya? " Tanya Albi.
__ADS_1
"Hemm. Iya… " jawab Arumi.
"Kak"
"Yaa… "
"Bukankah tadi… " Albi tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Begitupula dengan Arumi, dia hanya menganggukkan kepalanya mengisyaratkan bahwa pemikiran mereka sama.
Tiba-tiba saja suasana menjadi dingin. Albi dan Arumi kesulitan menelan Saliva mereka. Terasa sangat menyeramkan karena mereka berdua sedang berdiri di depan mobil yang di parkiran di bawah tanah. Mereka berdua mematung di hadapan mobil karena mengingat Lionel yang terlupakan tadi. Setelah meletakkan belanjaan di garasi,. Lionel yang hendak membuka pintu kemudi supir terhenti, begitu juga dengan Albi. Tiba-tiba saja bulu kuduk mereka berdiri.
"Hahaha udah yuk gak apa-apa, paman itu kan sudah besar. Jadi dia tidak mungkin tersesat di sini" Ucap Arumi tersenyum canggung.
"Hahaha semoga pamannya tidak marah" Seru Albi yang juga tertawa. Mereka tertawa tidak sesuai dengan suasana yang ada.
"Udah yuk masuk" Ajak Arumi.
Arumi dan Albi masuk dari pintu yang berbeda. Mereka berdua sudah duduk di tempat masing-masing. Tapi Arumi masih belum menyalakan mesin mobil. Merasa ada yang aneh dengan suasana di dalam.
"Apa kalian sudah mengingat ku? " Bisik seseorang tepat di belakang telinga Arumi dan Albi.
"AAAAAAAaaaaaa"
Teriak Albi dan Arumi kompak.
~
Malam ini Arumi sengaja memasak banyak makanan sebagai permintaan maafnya kepada Lionel. Karena sudah meninggalkan Lionel tadi.
"Silahkan di makan tuan" Ucap Arumi.
"Wah… Sudah lama sekali Albi tidak makan masakan kakak. Hemm rindunya" Seru Albi yang sudah duluan mengambil makan malam nya.
"Huh. Dasar Albi. Masih bisa bersikap santai di saat seperti ini. Aku tidak tahu kalau dia masuk ke mobil menggunakan kunci cadangan. Ah… untung saja Albi bisa mencair suasana di dalam mobil tadi" Batin Arumi mulai menyantap makan malam nya.
Semua orang menikmati makan malam dengan tenang. Hingga selesai makan malam Lionel membawa Albi keruang kerjanya, dan diikuti sekretaris Rai. Sementara itu Arumi seperti biasanya, dia melakukan tugas terakhir nya sebelum tidur, yaitu membereskan peralatan makan dan mencuci piring.
Dengan bersenandung ria Arumi mulai mencuci piring kotor di mesin cuci piring. Hingga dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan nya dari dekat.
"Sini ku bantu" ucap Lionel tiba-tiba mengambil piring kotor di tangan Arumi.
"Eh...
Arumi terperangah melihat Lionel yang tiba-tiba saja mau membantu nya, padahal biasanya dia hanya bisa menggangu Arumi.
__ADS_1
"Kamu kerjakan saja yang lain" Perintah Lionel.
"Tumben sekali dia mau membantuku. Ada angin apa ini? " Batin Arumi yang sedang menyimpan sisa makan malam di mesin pendingin. Sambil melirik Lionel.
"Bagus dong. Kerjaan ku jadi berkurang" Batin Arumi senang.
Tak perlu menunggu lama, Lionel sudah selesai dengan piring kotor. Arumi pun begitu, dia juga sudah selesai dengan tugas nya. Karena tidak sopan jika Arumi yang terlebih dahulu kembali ke kamar untuk istirahat. Jadilah dia menunggu Lionel di bar mini di dekat dapur.
"Kamu sudah selesai? " Tanya Lionel menghampiri Arumi yang asik memainkan ponselnya.
"Siapa yang sedang berbalas pesan dengan mu ? " Tanya Lionel melirik ponsel Arumi.
"Saya tidak berbalas pesan dengan siapapun" Jawab Arumi tanpa melihat Lionel, dia masih fokus dengan ponsel nya.
"Lalu? Apa ini? Bukankah itu… kamu sedang berbalas pesan dengan seseorang" Seru Lionel tiba-tiba duduk tepat di samping Arumi. Menunjuk ponsel Arumi yang sedang menampilkan deretan chat di layar ponsel Arumi.
"Eh. Tuan ngapain duduk dekat saya? " Seru Arumi menjauh dari Lionel.
"Duduk! " Perintah Lionel.
"Gak, saya gak mau" Jawab Arumi cepat.
"Duduk! Ada yang ingin ku sampaikan pada mu" Pinta Lionel lagi.
"Gak mau. Tuan kan bisa bicara dari sana. Kita gak perlu dekat-dekat" Jawab Arumi masih tidak ingin duduk di samping Lionel.
"Kenapa? " Tanya Lionel menatap tajam Arumi.
"Apanya yang kenapa ? " Tanya Arumi balik.
"Hah. Kenapa kamu tidak mau duduk di sampingku ? " Tanya Lionel menghela nafas nya.
"Karena saya tidak ingin" Jawab Arumi cepat.
"Heh. Aku tahu, kamu pasti merasa berdebar cepat jika duduk di samping ku bukan. Tentu saja itu pasti. Aku kan tampan" kata Lionel dengan bangganya. P Nuh percaya diri.
"Cih. Baiklah cepat. Tuan mau bilang apa? Saya haru segera istirahat untuk besok pagi. Besok kan masih hari libur saya" Ucap Arumi yang sudah duduk di samping Lionel. Terpaksa karena tidak ingin mendengar perkataan Lionel yang sangat narsis itu.
"Sebenarnya malam inikan juga masih hari libur ku" Gumam-gumam Arumi.
"Hehe benarkan kamu pasti suka aku. Makanya kamu lebih memilih duduk berdempetan begini. Ternyata aku benar-benar tampan" Kekeh Lionel bangga.
Arumi tidak tahan lagi. Dia berdiri dari duduknya menjauh dari Lionel tiga langkah. Menatap tajam Lionel.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗