Hanya Dia

Hanya Dia
Puzzle


__ADS_3

Setelah Lionel dan Albi selesai dengan berenang sore mereka. Ada kegelisahan yang nyata di rasakan Lionel setelah nya.


Dengan perasaan campur aduk dia menunggu kedatangan Arumi yang tak kunjung tiba. Karena saat ini dia sedang bersama dengan Albi, Lionel tidak memperlihatkan kegelisahan nya itu. Dan masih setia menunggu kepulangan Arumi. Entah kegelisahan apa ini, Lionel pun tidak tahu.


Untuk mengurangi rasa gelisah nya, Lionel melanjutkan permainan yang sedang di lakukan nya bersama Albi. Setelah selesai dengan permainan itu.


Entah apa yang dipikirkan Albi, tiba-tiba saja dengan beraninya Albi menantang Lionel dengan mengatakan.


" Paman. Ayo kita main puzzle. Jika paman bisa mengalahkan aku. Aku akan memberikan restu ku pada paman untuk mendekati kakak" Seru Albi dengan nada sombong nya.


Lionel terdiam. Tidak menjawab tantangan Albi. Hanya tersenyum saja.


"Aku tahu jika paman menyukai kakak ku. Karena kakak ku itu banyak sekali kelebihan nya, tapi… ada juga si satu kekurangan kakak " Sambung Albi.


"Kekurangan? Apa itu ?" Lionel malah lebih tertarik dengan kekurangan yang Arumi miliki.


Albi tersenyum.


"Kekurangan kakak yaa jelas lah, kelebihan yang dia miliki itu yang menjadi sesuatu kekurangan nya" Seru Albi dengan wajah serius.


"Cih jadi maksud kamu kekurangan nya adalah kelebihan yang dia punya? "Beo Lionel.


"Hemm yang pasti nya bukan itu sih" Kekeh Albi.


"Jadi apa? " Tanya Lionel.


"Albi juga gak tahu hehehe" Kekeh Albi mengerjai Lionel.


Cih


"Adik nya saja tidak tahu kekurangan nya, apalagi aku" Batin Lionel.


"Kita tidak usah main puzzle ya. Kita lakukan hal lain saja" Ucap Lionel.


"Kenapa paman tidak terima tantangan ku? "


"Karena tanpa aku terima tantangan kamu dan tanpa aku menang darimu. Kamu bakalan tetap merestui nya" Ucap Lionel percaya diri.

__ADS_1


"Cih aku jadi tidak tahu berkata apa. Karena ucapannya benar" Batin Albi menatap malas Lionel.


"Hehehe paman jangan terlalu percaya diri. Kita lihat saja nanti, hari ini juga paman pasti akan memohon pada ku untuk membuka kembali tawaran bermain puzzle" Ucap Albi serius. Menciut Ian nyali Lionel sedikit.


"Hahaha terserah kamu saja. Itu tak akan pernah terjadi" Seru Lionel santai, tidak menganggap serius perkataan Albi.


"Hahaha baiklah aku tidak akan menawarkan tantangan ini untuk yang kedua kali nya paman" Seru Albi masih serius.


"Sudah sudah kamu masih anak kecil, tidak usah memikirkan hal ini. Lebih baik kita melakukan hal lain saja. Ayo ikut dengan ku" Seru Lionel yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Mereka menuju garasi mobil, baru saja keduanya duduk ponsel Lionel berdering nyaring. Nama Arumi terpampang jelas di layar ponsel nya. Dengan segera Lionel menjawab panggilan telepon itu.


'Ya ada apa? " Tanya Lionel, melirik Albi yang menatap Lionel penuh tanya.


"…"


"Dimana? " Tanya Lionel lagi.


"…"


Ya, baiklah" Jawab Lionel mematikan sambungan telepon.


"Kakak kamu. Kita susul dia yuk" Ajak Lionel diangguki Albi.


Lionel melajukan mobilnya menuju restoran BB, tempat dimana Arumi berada saat ini. Bukan restoran bintang lima yang menjadi persinggahan nya. Restoran sederhana yang banyak peminat nya.


Lionel mencari-cari dimana Arumi tengah menikmati makan malam nya, dengan Albi yang berada di dalam gendongan nya. Mengedarkan pandangannya keseluruh arah.


Ketemu.


Tapi matanya terbelalak melihat siapa orang yang sedang duduk di hadapan Arumi.


Arumi yang sangat menikmati makan malam nya, dan sesekali tertawa ketika mendengar seseorang yang duduk di hadapannya, terlihat sangat cantik di mata Lionel. Tapi dia tidak rela jika Arumi memperlihatkan kecantikan nya itu pada laki-laki lain, selain dirinya. Dengan langkah cepat Lionel yang sedang menggendong Albi menghampiri Arumi.


"Wah… kenapa kakak tidak bilang kalau makan malam nya bareng paman rumput laut? " Tanya Albi antusias, turun dari gendongan Lionel. Menghampiri Lais dan Arumi.


"Hei Albi, kamu sudah makin tinggi ya. Apa kabar? " Tanya Lais tak kalah antusias nya.

__ADS_1


"Tuan, kenapa anda dan Albi disini? " Tanya Arumi yang terperangah atas kedatangan Lionel dan Albi.


"Lalu kenapa pula kami tidak boleh disini? " Lionel balik bertanya saat ini dia tengah berusaha untuk menahan dirinya, dikarenakan rasa panas dan sesak yang menjalar di dada.


Tak seperti Albi yang sangat riang atas keadaan yang terjadi di restoran.


"Wah… Bukankah kamu Lionel Edzky Danindra? Direktur utama Danindra corp? Sudah lama tidak berjumpa tuan Danindra" Seru Lais mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Lionel. Ingin rasanya tidak menjabat tangan itu, tapi bukankah saat ini Lionel harus bersikap profesional? Dengan rasa enggan Lionel terpaksa menjabat tangan Lais.


"Senang berjumpa dengan anda" Kata Lais tersenyum ramah.


"Senang juga bertemu dengan anda" Balas Lionel tersenyum formalitas.


"Terakhir kali kita bertemu saat lomba yang Arumi ikuti bukan? " Tanya Lais duduk lagi di kursi nya.


"Ya" Jawab Lionel singkat padat dan jelas.


"Apakah anda sudah makan malam? Semoga belum, jadi anda bisa bergabung dengan kami" Seru Lais menyerahkan daftar menu kepada Albi.


Arumi tidak mempedulikan kedua laki-laki dewasa yang ada dihadapannya. Dia melanjutkan makan malam nya bersama Albi.


Karena sudah terlanjur berada di sini, akhirnya Lionel ikut serta makan malam bersama. Walau tidak berselera makan Lionel tetap memaksakan dirinya untuk menelan makan malam nya. Gengsi menguasai nya, jika harus merepotkan Arumi untuk hal ini di depan Albi. Terlebih lagi didepan Lais. Sebenarnya Lionel bisa saja meminta Arumi untuk pulang, tapi Albi yang melihatnya pasti akan berpikiran buruk terhadap dirinya.


Baru kali ini Lionel merasakan yang namanya terasingkan. Albi yang lebih akrab dengan Lais ketimbang dirinya dan Arumi yang terlihat natural dan santai sekali mengobrol dengan Lais. Bahkan Arumi memanggil Lais dengan sebutan kakak. Sangat berbeda ketika Arumi mengobrol dengan Lionel. Arumi yang selalu saja memanggilnya dengan kata tuan.


"Apakah terjadi sesuatu saat mereka piknik sebulan yang lalu? Bukankah saat di London mereka sempat bersitegang. Bahkan waktu itu Arumi seperti nya sudah menolak nya terang-terangan? " Batin Lionel penuh tanya.


"Apakah mereka sudah berkencan? " Gumam Lionel ternganga dengan pemikiran nya sendiri. Lionel kalut. Memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada dirinya, jika Arumi dan Lais benar-benar sudah berkencan.


Sepanjang makan malam ini, berbagai praduga berkeliaran di pikiran Lionel. Dia berperang batin.


Praduga terburuk yang di pikirkan nya adalah berkembang nya hubungan antara Arumi dan Lais di saat dirinya sedang tidak berada di sisi Arumi. Karena besok siang adalah keberangkatan Lionel menuju London, untuk mengunjungi Gamila seperti janjinya sebulan yang lalu.


"Apakah aku harus menerima tantangan Albi bermain puzzle? Agar mendapatkan restu darinya. Ada kemungkinan Albi bisa menjadi jarak antara Lais dan Arumi. Karena akulah yang mendapatkan restu darinya. Tapi… Ah seperti nya bocah itu tahu bahwa hal ini pasti terjadi" Gumam-gumam Lionel kesal.


"Cih apa aku harus memohon pada anak kecil? " Kesal Lionel karena ia termakan omongan nya sendiri yang mengatakan bahwa tidak membutuhkan tantangan Albi.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗


__ADS_2