Hanya Dia

Hanya Dia
Obat


__ADS_3

Lionel yang sedang meminum jus alpukat nya pun tersedak. Lionel terbatuk-batuk mendengar perkataan Bara yang tiba-tiba saja membahas perihal cucu.


" Ini tuan! Silahkan di minum" Seru sekretaris Rai yang cepat tanggap memberikan air putih untuk Lionel.


" Apa? Apa maksud papa? " Tanya Lionel ketika sudah merasa reda setelah meminum air yang di berikan oleh sekretaris Rai.


" Yaa. Seorang cucu? Apalagi? Memang nya kamu kira cucu itu apa? Bukankah cucu itu adalah bayi yang kamu buat bersama dengan istri mu? " Tanya Bara blak-blakan. Memang nya ada artian lain tentang cucu? Bukankah wajar jika seorang anak yang sudah menikah, akan ditanyai perihal cucu oleh orang tua nya. Pikir Bara.


"Pa. Jangan bahas tentang proses pembuatan nya disini" Seru Lionel. Bagi Lionel ruang kerja adalah tempat suci bagi nya.


"Cucu ya? Hemm. Kenapa papa tiba-tiba membahas tentang cucu? " Tanya Lionel. Dia merasa sedikit aneh.


"Lagi pula Lio masih muda untuk punya anak sekarang" Sambung Lionel lesu setelah tahu reaksi Arumi yang seakan tidak apa-apa mendengar hal ini. Dan kenyataan bahwa dia bukanlah siapa-siapa bagi Arumi.


"Kamu memang masih muda. Tapi papa? Usia papa dan mama mu lah yang sudah tidak muda lagi Lio. Papa ingin sekali menggendong bayi. Ingin merasakan lagi masa-masa saat kamu baru lahir. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan setelah hari dimana papa akhirnya bisa mendapatkan mama mu sepenuhnya" Seru antusias. Mengenang masa lalunya.


"Tapi. Bukan kah lebih bagus jika papa dan mama membuatkan aku. Seorang adik" Pinta Lionel tanpa malu.


"Tidak. Bukan nya papa menolak untuk memiliki anak lagi. Tapi papa tidak ingin berpuasa lagi untuk yang kedua kalinya. Dan jika kamu memiliki adik. Nanti mama kamu tidak akan pernah mengurusi papa, dia akan fokus pada adik mu" Seru Bara.


"Berpuasa? Maksud papa? " Tanya Lionel tidak mengerti.


"Ya...


" Eh. Tapi kamu sudah membicarakan tentang hal ini dengan istrimu bukan? " Tanya Bara mengalihkan pembicaraan tentang adik Lionel. Tidak lebih tepatnya tentang puasa. Percakapan ini hanya antara Lionel anda Bara saja. Karena Kesya hanya ikut menyimak sama seperti yang lainnya.


"Ah. Hemm. Humm" Lionel tampak berpikir keras. Memikirkan apa yang akan di katakan nya agar Bara tidak membahas tentang hal ini untuk sementara waktu.


Karena sebelumnya Lionel sudah membahas perihal anak dengan Gami, dan hasil dari pembicaraan mereka hari itu tidak bisa Lionel jelaskan pada orang tua nya.


" Ah. Gami masih ada kontrak kerja. Di dalam kontrak itu dia tidak boleh memiliki kekasih sampai masa kontrak nya habis. Jadi. Mungkin Lio dan Gami akan memikirkan hal ini setelah kontrak kerja nya selesai" Ucap Lionel hati-hati.


"Baiklah. Jadi kapan kontrak kerja itu selesai? " Tanya Bara ingin memastikan.


"Lio juga tidak tahu kapan pastinya pa" Ujar nya.


"Baiklah. Papa akan tunggu kabar gembira dari kalian" seru Bara yang sudah beranjak dari tempat duduknya. Berniat ingin segera istirahat bersama istri tercinta. Karena mereka telah selesai menghabiskan makan siang.


"Papa mau istirahat dulu. Nanti malam kita makan bersama lagi" Ucap nya berlalu. Bara sudah tidak terlihat lagi karena sudah hilang tertelan pintu. Dan Lionel masih saja menatap pintu yang telah menelan Bara.


"Anak" Gumam nya. Lionel berbaring di sofa. Dia masih merasa sedikit pusing. Mungkin karena dia tidak memakan obat nya. Sangat malas jika harus menelan pil pahit itu. Untung saja Arumi melupakan waktu nya Lionel memakan obat.


"Eh. Arumi" Gumam-gumam nya menatap langit-langit.


"Tuan" Panggil sekretaris Rai mengganggu lamunan Lionel.


"Hemm" Jawab Lionel tanpa melihat sekretaris Rai.


"Tuan harus minum obat dulu" Pinta Sekretaris Rai.

__ADS_1


"Rai!. Kau yang paling tahu aku tidak suka sekali dengan obat" Seru Lionel menolak.


" Tapi tuan harus tetap meminum obat nya" Ucap Rai tegas.


" Tidak" Tolak Lionel lebih tegas.


" Tuan...


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu dari luar...


" Kau lihat sana siapa yang ketuk pintu,x Perintah Lionel ingin menyelamatkan diri dari obat.


"Baik tuan" Jawab Sekretaris Rai langsung mengerjakan perintah Lionel. Berjalan menuju pintu.


Dan Lionel juga mengikuti langkah sekretaris Rai.


" Ada apa? " Tanya Rai. Hanya kepala nya saja yang di perlihatkan dari pintu, seperti seorang yang sedang mengintip. Lalu tangan kiri nya menahan pintu agar tetap tertutup, dan Lionel tidak bisa keluar.


Ternyata yang mengetuk pintu adalah Tika dan Arumi.


"Geser sedikit Rai! aku mau keluar" Pinta Lionel menarik pintu agar bisa keluar. Keluar dari marabahaya pahit nya obat.


Menabrak tubuh Tika.


Brugh!


Sekretaris Rai dan Tika terjatuh di lantai, dengan posisi Tika yang di bawah. Posisi yang tak seharusnya di lihat anak di bawah umur.


Lionel tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia langsung saja berlari menuju kamar nya. Tapi itu tidak terjadi karena dengan sekuat tenaga pula Arumi menarik tangan Lionel.


"Lepaskan" Perintah Lionel.


" Tidak" Ucap Arumi tegas.


" Lepaskan. Jangan kurang ajar kamu" Seru Lionel berusaha lepas dari genggaman kuat Arumi.


" Tidak. Sebelum anda meminum obat" Seru Arumi.


" Aku tidak mau" Jawab Lionel.


Arumi terdiam memandang Lionel sinis.


" Baiklah. Silahkan anda pergi" Ucap Arumi melepaskan tangan nya yang menahan tangan Lionel.

__ADS_1


" Ini baru...


" Silahkan anda pergi. Bocah" seru Arumi dengan nada merendahkan. Lalu pergi dari hadapan Lionel.


" Hei. Apa yang kau bilang? Bocah? siapa yang kau bilang bocah" Seru Lionel kesal.


Arumi tidak membalikkan badannya. Dia terus berjalan menuju kamar nya.


Lionel yang tidak terima dengan ucapan Arumi pun mengejar nya. Meninggalkan kedua insan yang sedang berusaha untuk berdiri. Rai membantu Tika untuk berdiri.


" Maaf. Karena saya telah menabrak kamu" Ucap Sekretaris Rai.


"Tak apa-apa tuan" ucap Tika lirih, menunduk kan kepala nya. Malu.


" Di tabrak lagi pun gak apa-apa asal kan yang nabrak tuan yang tampan tampan kayak gini" Batin nya terkekeh geli dengan pemikiran nya sendiri.


"Kalau begitu saya permisi dulu" Pamit Rai pergi begitu saja meninggalkan Tika.


Sekretaris Rai berjalan menuju ruang keluarga mencari keberadaan tuan nya yang entah kemana.


"Kemana lari nya tuan" gumam-gumam kecil Rai berkeliling rumah mencari Lionel.


***


Braaak!


" Hei. Ulangi lagi apa yang baru saja kau katakan" Seru Lionel kesal. Baru kali ini ada yang mengatakan nya Bocah hanya karena tidak ingin meminum obat.


Lionel mengejar Arumi hingga kamar nya. Menutup pintu kamar Arumi kasar. Walau sebelum nya terjadi acara dorong-mendorong antara keduanya. Walaupun Arumi sudah sekuat tenaga agar pintu kamar nya tertutup dan Lionel tidak bisa memarahinya karena telah berkata bocah pada Lionel.


Ya yang nama nya tenaga perempuan itu tidak akan bisa dibandingkan dengan tenaga laki-laki.


Lionel menutup pintu kamar Arumi kasar. Menatap tajam Arumi.


" Tarik ucapan mu tadi" Pinta Lionel tegas.


" Memang nya saya mengatakan apa? " Tanya Arumi menantang Lionel.


"kau" Geram Lionel mencengkeram lengan Arumi keras, sehingga membuat Arumi mengeluh sakit.


"Tuan lepaskan. Sakit" lirih Arumi memberontak agar Lionel melepaskan nya.


Melihat Arumi mengaduh sakit, Lionel pun melepaskan tangan nya yang mencengkeram lengan Arumi.


"Huh. Tarik kembali ucapan mu" Lionel masih saja tidak terima apa yang Arumi katakan beberapa waktu sebelumnya.


" Baik. Tapi anda harus meminum ini dulu. Baru saya tidak akan mengatakan bahwa anda itu Bocah "Ujar Arumi menekankan kata terakhir nya. Arumi menenteng tempat obat Lionel, tepat di depan wajah nya.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗


__ADS_2