
Gamila menikmati mimik wajah Lionel yang sedang memikirkan hal terburuk yang akan menimpanya. Hal buruk itu adalah Arumi yang menolak cinta Lionel.
Lionel menatap kesal Gamila. Kenapa wanita yang masih berstatus sebagai istri dihadapannya ini malah memanas-manasi nya.
"Heh. Tidak masalah jika dia belum menyukaiku. Setelah kita bercerai aku akan membuatnya menyukai ku, aku bahkan akan membuat nya tergila-gila padaku" Seru Lionel percaya diri.
"Kamu percaya diri sekali" Ucap Gamila jengah.
"Kita lihat saja, siapa yang akan tergila-gila siapa yang akan menjadi budak cinta. Kamu atau Arumi" Sambung Gamila dengan senyum miringnya.
"Aku bertaruh bahwa kamulah yang akan semakin tergila-gila pada Arumi. Dan jika tebakan aku benar, jika kamulah yang akan tergila-gila pada Arumi, kamu harus membelikan aku make up produk XX keluaran terbaru dan tas merek XY dan tentunya harus yang keluaran terbaru juga" Cemooh Gamila dan tanpa malu Gamila juga meminta Lionel untuk membelikan nya sebuah barang.
"Heh dasar wanita… Baiklah kita lihat saja nanti" Seru Lionel menerima tantangan Gamila.
Gamila tersenyum senang, karena kali ini firasatnya tajam nya mengatakan bahwa Lionel lah yang akan semakin tergila-gila pada Arumi. Dan hal itu akan mendatangkan keuntungan untuk nya. Dia akan mendapatkan make up dan tas branded yang sudah lama diinginkan nya. Sebenarnya Gamila memiliki uang yang cukup banyak untuk membeli tas dan make up itu, hanya saja akan lebih menyenangkan jika dia mendapat secara percuma. Secara gratis.
"Kamu jangan senang dulu. Aku akan membelikan itu jika kamu bisa menikah dengan lelaki pujaan mu itu" Seru Lionel menyeringai melihat raut wajah Gamila yang langsung menciut seketika.
"Kamu curang Lio. Bagaimana bisa aku menikah dengan nya jika aku saja tidak memiliki keberanian untuk melangkah maju atau menyatakan perasaan ku. Dan lebih lagi aku masih belum bercerai dengan mu" Seru Gamila kesal.
Gantian, saat ini Lionel lah yang terkekeh geli melihat Gamila yang juga di mabuk cinta seperti dirinya.
"Oh iya besok kita… Ada apa? " Tanya Lionel tidak senang. Dia tidak jadi melanjutkan kata-katanya ketika sekretaris Rai tiba-tiba membisikkannya sesuatu.
"Siapa? " Tanya Lionel lagi. Dan sekretaris Rai membisikkan sesuatu lagi tepat di telinga Lionel.
Mendengar bisikan sekretaris Rai Lionel langsung berdiri dari duduknya, menerima ponsel yang diberikan sekretaris Rai.
"Siapa Lio? " Tanya Gamila penasaran.
"Kamu disini dulu. Jangan kemana-mana" Perintah Lionel tanpa menjawab pertanyaan Gamila.
"Rai. Kamu disini. Temani Gami" Perintah Lionel lalu berlalu meninggalkan kedua nya.
Lionel berjalan menuju suatu tempat yang jauh dari pendengaran orang-orang sebelum menyapa seseorang yang meneleponnya.
"Katakan. Apa yang kamu inginkan? " Tanya Lionel tanpa basa-basi.
__ADS_1
"…"
"Cih… Jika aku kekasihnya kamu mau apa? Apa kamu akan merebutnya dariku? "
"…"
"Wah wah wah… sepertinya aku harus memuji sikap mu itu yang telah berani menyukainya" Ucap Lionel mengeraskan rahangnya.
"Lalu… jika aku bukan kekasih nya ? Apa yang akan kamu lakukan? " Tanya Lionel menyeringai.
"…"
Cukup lama Lionel mendengarkan penjelasan dari seseorang yang sedang menelepon nya. Lionel memberikan reaksi wajah datar nya. Ada rasa tidak suka ketika si penelepon ketika menjelaskan sesuatu padanya.
"Heh… Baiklah. Aku hanya akan memberikan mu satu kesempatan. Tapi kamu jangan mundur dari rencana mu, atau terkejut jika mengetahui suatu fakta"
"Dan lebih baik kamu melakukan nya di tempat ZZ"
Seru Lionel langsung mematikan ponsel nya setelah si penelepon selesai dengan penjelasan nya. Dia langsung mematikan ponsel nya, membuat orang di sebrang telpon penasaran.
Lionel mengambil langkah-langkah besar, bergegas menghampiri Gamila.
Sesampainya Lionel di tempat ia makan bersama dengan Gamila tadi. Ia lan meminta Gamila untuk mengikuti nya, dan memerintahkan sekretaris Rai untuk mengurus sesuatu. Dan tak lupa pula memerintahkan Sekretaris Rai memberitahu kan kepada tuan rumah bahwa dia dan Gamila akan pulang terlebih dahulu sebelum acara selesai.
Dengan kecepatan sedang, Lionel melajukan mobilnya membelah jalanan malam yang sudah mulai sepi karena waktu yang memang sudah larut.
"Lio" Panggil Gamila yang hanya mendapatkan sebuah gumaman tidak berarti dari Lionel.
"Hemm" Hanya itu jawaban Lionel ketika Gamila mencercanya dengan berbagai pertanyaan.
"Lio" Yang kesekian kalinya Gamila memanggil Lionel. "Kita mau kemana? " Tanya Gamila geram dan penasaran disaat bersamaan.
"Kamu akan tahu. Lebih baik kamu diam dan menyiapkan hati" Hanya itu jawaban Lionel, semakin membuat Gamila penasaran saja.
"Apa coba maksud nya untuk menyiapkan hati? " Batin Gamila kesal. " Tunggu. Apakah ada keluarga ku yang mengalami kecelakaan? " Batin Gamila menduga yang tidak-tidak.
"Lio. Apa ada sesuatu yang terjadi? " Tanya Gamila panik bercampur khawatir.
__ADS_1
"Tidak" Jawab Lionel santai tanpa memalingkan pandangannya pada jalanan malam.
"Lalu? " Tanya Gamila masih belum menyerah juga untuk mengetahui kemana arah tujuan mereka saat ini.
"Kenapa kamu tidak bisa diam? Aku sangat kesal sekali saat ini, karena kamu yang terlebih dahu… "
Sial. Hampir saja aku mengatakan nya. Maki Lionel menggantung kalimat nya. Benar-benar membuat Gamila semakin penasaran.
"Karena aku kenapa? " Tanya Gamila mendesak Lionel agar menjawab pertanyaan nya.
"Hah. Sudah. Lupakan" Kata Lionel yang masih terlihat kesal raut wajah nya.
Baiklah. Dia benar-benar tidak bisa dirayu. Memang waktu lah yang akan menjawab pertanyaan ku. Batin Gamila menyerah untuk mengorek informasi dari Lionel.
Gamila memilih untuk diam. Memalingkan wajahnya ke jendela. Menatap bangunan dan beberapa pohon yang berlarian.
Tunggu sebentar. Sepertinya aku tahu jalan ini. Bukankah ini jalan menuju… tempat itu.
"Lio. Bukankah ini jalan menuju…
Kalimat Gamila tak terselesaikan ketika mobil berhenti.
"Benar. Ini tempat itu. Ayo turun" Ajak Lionel yang sudah membuka pintu mobil. Diikuti oleh Gamila.
Di samping mobil Lionel, ada terparkir sebuah mobil yang rasanya cukup familiar menurut Gamila.
"Hemm. Mobil siapa ini? Sepertinya aku pernah melihat mobil ini. Tapi dimana? " Batin Gamila yang baru saja membuka pintu mobil. Dia bahkan belum menginjakkan kakinya karena tertahankan oleh mobil yang familiar bagi pandangan nya.
Tapi Gamila tidak ingin memikirkan mobil dulu. Saat ini dimatanya sedang terpampang pemandangan yang sangat indah. Yang sangat di rindukan nya.
Mereka berdua turun dari mobil. Angin malam menerpa kulit Gamila, yang bisa membuat orang menggigil kedinginan.
Dingin itu terkalahkan oleh rasa senang yang meluap-luap. Wanita itu berjalan menuju pagar yang menjadi pembatas tebing.
Tanpa sadar Gamila merentangkan kedua tangannya, menutup kedua matanya. Meresapi udara sejuk yang menerpa kulit.
Dan tanpa Gamila sadari Lionel meninggalkan Gamila yang tengah menikmati hembusan angin malam di kulit.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗 lopyu 😘😘