
Setelah kejadian tadi siang, Arumi tidak bisa melanjutkan kembali tidur nya. Kata-kata Lionel masih terngiang-ngiang di telinganya. Arumi merasa pipinya pegal karena tiada hentinya tersenyum.
Ia sudah memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Arumi sudah mempercayai perkataan Gamila, yang mengatakan bahwa Lionel menyukainya. Dan sekarang yang harus dipastikan nya adalah perasaannya sendiri.
Jujur Arumi akui bahwa saat Lionel menciumnya ada sengatan listrik yang memompa darah nya. Ada rasa senang ketika mendengar kata-kata Lionel yang membuatnya merona. Dan ada pula rasa jengkel nya karena mendengar kata-kata mesum Lionel. Ya walaupun tidak terlalu mesum tapi Arumi paham apa yang dikatakan Lionel tentang
"Ingin membuat dirinya melenguh nama Lionel ketika ia berada di bawah Lionel"
Baiklah hal itu sudah berlalu, dan lagipula Lionel tidak mengetahui bahwa Arumi mendengar semua perkataan Lionel.
Selama menjelang memasak makan malam, Arumi berusaha mengontrol emosi nya. Berusaha memasang wajah tidak tahu apapun. Arumi merasa beruntung bahwa Albi sedang tidak ada di rumah. Jika Albi ada di rumah, pasti dia akan meledek Arumi.
Hingga waktunya memasak makan malam, Arumi dan Lionel belum ada bertemu.
Dan saat ini, saat Arumi ingin memulai memasak. Suara yang terus terngiang-ngiang di telinganya menyapa dirinya.
"Malam Arumi, kamu ingin memasak apa? Adakah yang bisa ku bantu? " Tanya Lionel berdiri tepat di belakang Arumi yang sedang memotong bahan-bahan makanan.
"Eh… aww" Ringis Arumi yang terkejut karena kedatangan Lionel dan membuat jarinya teriris pisau.
Lionel yang melihat luka di jari yang cukup dalam pun memegang lembut tangan Arumi lalu menghisap darah yang keluar di jari Arumi dengan mulutnya langsung.
"Ih kenapa dia jadi manis begini? Aku tidak terbiasa. Seharusnya dia bersikap seperti biasanya saja, jadi aku juga bisa memasang wajahku yang seperti biasanya pula" Gerutu Arumi dihatinya.
"Hemm tuan" Panggil Arumi ingin menghentikan Lionel.
"Apakah perih? Ayo duduk dulu" Ajak Lionel membawa Arumi duduk di meja makan.
"Eh tidak kok tuan. Tidak perih. Saya harus memasak untuk makan malam dulu" Tolak Arumi halus karena sudah tidak tahan berdekatan dengan Lionel. Wajahnya entah sudah memerah seperti apa.
"Tidak. Kamu tidak usah memasak lagi. Kamu jangan membantah, ayo duduk" Perintah Lionel tegas. Ia menggenggam tangan Arumi, menuntun Arumi agar mengikuti nya untuk duduk di meja makan.
"Hemm sesaat dia menjadi majikan yang suka memerintah lagi" Batin Arumi dengan patuh mengikuti Lionel.
"Kamu duduk diam di sini" Pinta Lionel. Lalu ia pergi entah kemana. Lalu kembali lagi dengan kotak P3K di tangan nya. Tanpa menunggu persetujuan dari Arumi, Lionel langsung mengoleskan obat merah lalu memakaikan plester di jari itu. Setelah nya membalut perban dan menutupi semua jari Arumi. Bahkan di jari tangan kanan yang tidak luka pun di balut nya.
"Eh tuan. Kenapa di balut perban? Cukup dengan plester saja" Ucap Arumi menghentikan kegiatan Lionel yang sedang membalut perban di jarinya.
"Dan kenapa semua jari ku di balut? Aku jadi seperti memiliki dua jari besar di kedua tangan" Batin Arumi.
"Jangan kamu buka perban ini. Jika kamu ingin menggantinya katakan pada ku, biar aku yang menggantikannya. Dan selama jari mu belum sembuh jangan memasak" Perintah Lionel tak ingin di bantah.
"Lagian, kamu itu pandai masak tidak sih? Itu saja bisa teriris jarinya" Ejek Lionel
"Apa? Heh tuan. Saya sudah jelas dan sangat pasti bisa memasak. Tidak seperti anda yang hanya bisa makan dan menyusahkan orang saja. Dan lagipula, jari saya seperti ini karena tuan mengagetkan saya tadi" Arumi mendelik kesal.
Lionel yang mendengar Arumi menggerutu hanya tersenyum saja.
"Cih jika kedua tangan ku di balut seperti ini, bagaimana aku bisa membukanya? Huh apa sih yang dipikirkan tuan ini?" Geram Arumi sedikit kesal. Arumi tidak melihat senyuman Lionel, karena laki-laki itu sedang menundukkan kepalanya menyelesaikan balutan perban.
"Saya lapar tuan. Karena tuan mengatakan saya tidak pandai memasak, saya jadi malas memasak. Tuan harus bertanggung jawab, karena tuan cacing di perut saya sudah demo minta diisi " Arumi tidak malu jika ia mengatakan sedang lapar.
"Hemm. Aku. Biar aku yang memasak" Jawab Lionel. Tapi ada sedikit ragu di nada nya.
__ADS_1
"Memangnya tuan bisa masak? " Arumi mendekatkan kepalanya melihat Lionel yang fokus membalut perban tebal di tangan nya. Arumi meremehkan Lionel.
Walaupun Lionel nampak fokus pada tangan Arumi, tapi dia masih bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan Arumi pada nya.
"Oke. Selesai" Batin Lionel selesai membalut perban.
"Kamu jangan mere…
Deg
Cup tanpa sadar Lionel menabrakkan bibirnya pada bibir Arumi. Menempelkan nya saja, tanpa ada *******. Ia tersenyum melihat Arumi yang terdiam membeku.
"Eh" Arumi reflek mendorong tubuh Lionel agar menjauh. Saat sadar apa yang telah terjadi.
"Apa yang tuan lakukan? " Seru Arumi setengah berteriak. Wajahnya memerah. Hah padahal ia sudah latihan agar bersikap biasa saja. Tapi karena ciuman barusan, Arumi jadi teringat lagi kejadian tadi siang.
Lionel menyeringai melihat Arumi yang merona.
"Dia terlihat sangat menggemaskan. Hihi kenapa respon nya sangat lambat? " Batin Lionel terkekeh geli.
"Maaf. Aku kira kamu minta di cium, habisnya wajah mu sangat dekat sekali" Jawab Lionel enteng.
"Apa? Hei tuan, kesimpulan macam apa itu? Apa kamu akan mencium kak Tika sama Bu Gamila dan wanita lain juga jika wajah mereka dekat seperti ini? " Tanya Arumi kesal. Dia mendekatkan lagi wajahnya pada Lionel, memberikan contoh. Kesal sekali rasanya jika dikatai minta dicium.
Karena wajah Arumi yang dekat lagi. Lionel kembali mencium Arumi.
Cup kecupan sekilas Arumi dapatkan.
"Saat ini dan seterusnya lalu untuk selamanya, hanya bibir kamu yang ingin aku cium" Ucap Lionel tepat didepan bibir Arumi.
Setelah menyambar bibir Arumi, Lionel langsung menjauhi wajahnya. Takut-takut jika Arumi akan mendorong nya, atau menampar dirinya. Lionel langsung beranjak, meninggalkan Arumi yang kesal padanya.
Lionel merasa heran, kenapa Arumi mempermasalahkan kecupan singkat itu. Kenapa reaksinya heboh sekali? Ah tapi dia jadi semakin menggemaskan. Pikir Lionel.
"Apa-apaan dia? Aku gak ada minta dicium. Siapa pula yang ingin di cium. Kenapa dia jadi menyebalkan lagi sih" Batin Arumi kesal.
"Kenapa saya dicium lagi sih? Dasar. Tukang curi ciuman pertama" Teriak Arumi kesal menatap punggung Lionel yang sudah menjauhi nya.
"Hahaha pantas saja reaksinya seperti itu. Ternyata itu ciuman pertama nya. Ah sepertinya ciuman barusan adalah ciuman kedua dan ketiganya" Kekeh Lionel, ia masih bisa mendengar Arumi menggerutu.
"Huhu, rasanya mendapatkan ciuman pertama dari wanita yang di sukai itu sangat menyenangkan ya. Hemm aku jadi ketagihan. Dan bagaimana ya reaksi nya jika kami berciuman yang sebenarnya. Ciuman yang saling bertukar Saliva. Ah pasti sangat manis rasanya" Batin Lionel penuh tanya.
Lionel berjalan menuju dapur, berniat hati ingin memasakkan makan malam. Dan ingin membuat Arumi terkesan.
Tapi, hanya melihat banyaknya bentuk bumbu dapur Lionel jadi bingung, walaupun ia tahu apa nama-nama bumbu dapur. Tapi ia belum pernah memasak seumur hidupnya. Dan ini kali pertamanya. Jujur saja, ia memang tidak pandai memasak.
"Hemm coba ku lihat di internet saja" Gumam Lionel mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Mulai mencari resep makanan yang menurutnya mudah untuk dilakukan.
"Hemm" deheman Arumi menghentikan aktivitas Lionel pada layar ponsel nya.
"Kenapa kamu kemari? Sudah kamu duduk saja sana" Perintah Lionel.
"Saya tahu tuan tidak pernah memasak sama sekali. Dan tentu saja tuan tidak pandai memasak. Dan saya tidak ingin sakit perut karena keracunan sebab tuan tidak pandai memasak" Jawab Arumi tegas.
__ADS_1
"Eh… kamu jangan…
"Sudah. Tuan tidak usah membantah. Turuti kata-kata saya. Tuan tinggal melakukan apa yang saya suruh" Ucap Arumi tegas tak terbantahkan. Lionel yang melihat keberanian Arumi langsung terdiam.
"Saya masih kesal dengan tuan. Jadi jangan menambah kekesalan saya karena masakan tuan nantinya" Arumi melanjutkan perkataannya.
Lionel terdiam. Memandang takjub Arumi, karena hanya Arumi satu-satunya wanita yang berani memerintahkan nya selain Kesya.
"Hemm dia jadi terlihat keren" Batin Lionel menahan senyum dibibir nya.
"Sekarang tuan iris wortel nya seperti punya saya yang ini" Ucap Arumi memberikan perintah.
Plakk
"Tuan. Kenapa melamun? " Tanya Arumi memukul lengan Lionel pelan.
"Eh apa? Siapa yang melamun? " Tanya Lionel gelagapan.
"Hah sudahlah. Cepat iris, kita buat sup ayam saja" Seru Arumi mengulangi perintah nya.
Deg deg deg
Sepanjang waktu memasak. Mereka berdua berusaha untuk tenang, karena setiap ketidaksengajaan kulit mereka yang bersentuhan. Karena Arumi yang mendekat kearah Lionel dan memberikan instruksi, ada sengatan listrik yang menjalar di tubuh keduanya.
Lionel tidak bisa fokus mengikuti instruksi yang Arumi berikan. Lionel tidak bisa fokus memasak, karena ia selalu melirik ke arah bibir Arumi yang tiada hentinya memberikan instruksi. Uh ingin sekali lagi aku mengecup nya saja. Batin Lionel.
Karena ketidak fokus nya Lionel, Arumi jadi sering menegurnya.
Tak berapa lama kemudian akhirnya makan malam pun jadi. Lionel meminta Arumi agar duduk saja di meja makan, agar Lionel saja yang membawa peralatan makan. Dan dengan patuh Arumi menunggu Lionel.
"Loh tuan, kenapa sendok nya hanya satu saja? " Tanya Arumi yang melirik peralatan makan yang di bawa Lionel.
"Hah kenapa kamu tidak bilang kalau harus bawa dua? Aku sudah sangat lapar dan aku capek sekali jika harus kembali ke dapur untuk mengambil sendok satu lagi" Jawab Lionel santai.
"Lalu, bagaimana caranya saya makan? " Arumi bertanya kesal.
"Jika kamu mau, kamu bisa mengambil sendok baru di dapur. Tapi jika tidak mau, ya terpaksa aku akan berbagi sendok dengan mu. Dan karena tangan kamu sedang tidak bisa digunakan, dengan sukarela, karena aku adalah pria yang baik hati maka aku akan menyuapi kamu" Jawab Lionel enteng. Ia sudah mulai menyuap makanannya.
"Itupun jika kamu mau. Aku tidak akan memaksa" Lanjut Lionel.
"Hah" Arumi menghela nafas lelah.
"Tolong suapi saya tuan" Ucap Arumi pada akhirnya.
Karena tidak memiliki pilihan lain. Tangan yang di balut perban dengan ikatan yang sulit untuk di buka. Dan Arumi yang tidak bisa menyuapi dirinya sendiri. Cacing di perut yang sudah demo minta di beri makan. Dengan terpaksa Arumi harus berbagi sendok dengan Lionel. Dan Lionel secara bergantian menyuapi dirinya dan Arumi.
"Hah inilah yang membuat ku tak percaya jika tuan menyukai ku. Karena dia sangat menyebalkan dan dia selalu membuatku kesal. Dan apa ini? Bukankah ini ciuman secara tidak langsung? " Batin Arumi.
"Hahaha ada untungnya jari Arumi luka. Aku jadi menghabiskan waktu lebih banyak dengan nya. Ah tapi… saat ini duduk kami sangat dekat, dan itu mengangguku karena aroma manis yang tercium dari tubuhnya. Tapi aku juga sangat beruntung. Entah sudah berapa kali kami berciuman secara tidak langsung. Hanya tinggal ciuman yang sesungguhnya yang belum kami lakukan"Batin Lionel sangat senang.
Bersambung
Ini udah panjang ya...
Jari ku berasa keriting karena nulis naskahnya 😂
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗 lopyu 😘😘