
Jujur Arumi akui bahwa suara Lais sangat lah merdu. Terbukti dengan tepukan meriah dari para ibu ibu wali murid yang terlihat kagum dengan suara Lais. Walaupun lagu yang di nyanyikan Lais, bukan lah lagu tentang ungkapan perasaan cinta yang ada di hati nya untuk Arumi. Biasa nya di saat saat seperti ini, bukan kah seorang gadis akan tersipu malu atau setidaknya, wajah nya akan memerah bak kepiting rebus. Tapi tidak dengan Arumi. Dia merasa bingung harus menampilkan ekspresi apa yang harus di pasang nya pada wajah cantik nya.
Setelah Lais selesai dengan nyanyian nya, dia mengembalikan gitar pada papa muda tadi. Dan berjalan menuju Arumi. Dengan penuh percaya diri.
Lais duduk tepat di samping Arumi. Dia melihat Arumi yang hanya terdiam, tidak memberikan merespon seperti yang di harap kan nya.
"Kenapa begitu sulit untuk menaklukkan hati gadis ini? " Batin Lais frustasi.
"Apa aku bukan tipe nya? " Batin Lais sedikit menciut.
"Atau dia. Haaaish sudah lah... Seharusnya aku sudah menyerah dari awal. Karena di awal pertemuan kami, dia tidak ada respon seperti wanita lain nya yang terpesona pada ku. Hati nya terkunci sangat rapat" Batin Lais mengalihkan pandangannya pada Arumi.
"Kenapa aku tidak bisa menjadi kunci hatinya? " Batin Lais bertanya tanya.
Lais pindah ke tempat duduk nya semula, yaitu di samping Albi.
"Di mana kah kunci hati nya? "
Albi yang memandang Arumi tidak memberikan ekspresi apa pun tersenyum kecut. Dia tidak menyangka bahwa hati kakak nya sangat sulit untuk di dapatkan.
"Seperti nya hati kakak tidak bisa di takluk kan dengan wajah tampan dan uang yang banyak" Batin Albi kesal. Seperti nya gagal lah sudah kandidat pertama calon kekasih kakak nya.
"Apa paman ini tidak ada rencana lain untuk menaklukkan hati kakak? " Batin Albi.
"Apa kakak sudah ada yang di sukai nya? " Batin Albi menduga duga.
Acara api unggun berjalan sesuai rencana.
Semua orang sudah kembali ke kamar masing masing. Termasuk Albi Arumi dan Lais.
Mereka bertiga bergantian memakai kamar mandi. Arumi lah yang pertama memakai kamar mandi. Lalu Lais.
Di saat Lais di dalam kamar mandi. Albi ingin sekali bertanya suatu hal pada kakak nya itu.
"Hemm. Kakak! " Panggil Albi pada Arumi yang sedang bersiap untuk tidur.
"Ya" Jawab Arumi menoleh ke arah Albi.
"Apa Albi boleh bertanya? " Albi memberanikan diri untuk bertanya. Rrasa nya sangat asing ketika Arumi hanya diam sedari tadi. Sejak Lais menyanyikan sebuah lagu untuk Arumi dan Albi sedikit takut dengan Arumi yang pendiam ini.
"Kamu mau tanya apa...? " Arumi balik bertanya.
"Apa kakak tidak ada rasa sama sekali pada paman Lais? " Tanya Albi yang tidak menyebut Lais dengan panggilan seperti biasanya.
"haaaah" Arumi menghela nafas nya panjang.
__ADS_1
Arumi duduk menatap lembut Albi. Menangkup kedua pipi Albi dengan kedua tangannya.
"Albi tahu bukan? Bukan kah kamu tahu bahwa kakak belum pernah jatuh cinta? " Tanya Arumi.
"Kamu pasti tahu! Karena sebelum tragedi itu kakak selalu menghabiskan waktu kakak bersama Albi" Lanjut Arumi.
Arumi melepaskan takupan tangannya pada pipi Albi. Membaringkan tubuh nya. Menatap langit langit kamar.
"Kakak tidak tahu apa itu cinta" Sambung Arumi.
"Tapi kakak tahu jika kita menyukai seseorang"
"... Kita akan... Kita pasti akan merasa kan nya" Lanjut Arumi meletakkan tangan kanan di dadanya.
"Tapi. Tidak ada getaran di sini... " Tunjuk Arumi pada hati nya.
" Saat kakak melihat nya" Sambung Arumi.
"Dia itu cocok nya menjadi kakak kita... " Ucap Arumi lagi.
"Maaf kan kakak... Karena tidak bisa menyukai nya, seperti yang di harapkan Albi" Ucap Arumi menohok hati Albi.
Albi tersenyum kecut.
"Ternyata kakak tahu..." Batin Albi.
"Tentu saja kakak tahu apa tujuan kamu memperbolehkan dia untuk menginap bersama kita" Seru Arumi membaca pikiran Albi.
"Eeh... Kenapa kakak tahu apa yang sedang aku pikirkan? " Tanya Albi menatap Arumi bingung.
Arumi tidak menjawab pertanyaan Albi. Ia hanya tersenyum saja.
"... Kamu tenang saja. Jika kakak sudah merasakan getaran di sini pada seorang laki laki, dan begitu juga dengan nya. Merasakan getaran atau mencintai kakak. Kakak akan menikah dengan nya" Ujar Arumi menenangkan Albi.
"Walaupun kakak tidak tahu apakah itu yang di nama kan cinta" Batin Arumi.
"Jadi. Kamu tenang saja oke. Kakak yakin sebentar lagi kamu akan menghadiri acara pernikahan kakak" Lnjut Arumi.
"... Hemm. Mungkin... seperti nya... " Batin Arumi tidak percaya dengan perkataan nya sendiri.
"Baiklah. Albi akan sabar menunggu sampai hari itu tiba " Seru Albi memeluk erat Arumi.
"Dan jangan lupa. Jika hari itu tiba. Albi pesan adik bayi yang imut imut" Ucap Albi lalu melepaskan pelukannya.
Tuk!
__ADS_1
Arumi menyentil kening Albi.
"Awww sakit tahu" Seru Albi tapi senyum merekah tidak lepas dari bibir nya.
"Hei anak kecil. Kamu tahu apa tentang bayi" Seru Arumi.
"Kamu kira bayi itu apa? Bayi tidak bisa di pesan seperti makanan " Ucap Arumi sedikit kesal dengan ucapan adik kecil nya ini.
"Heheh. Aku hanya bercanda. Peace... " ucap Albi,
lalu memeluk lagi tubuh Arumi.
Ceklek!
Tiba tiba saja pintu kamar mandi terbuka.
Keluar lah Lais dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek, seperti nya juga bersiap untuk tidur.
"Wah. Ada apa ini? Kenapa kalian berpelukan? Apa aku boleh ikut? " Tanya Lais berusaha menampilkan senyum nya.
"Big no! " Seru Albi lantang.
"Kalian bukan sepasang kekasih, jadi tidak boleh peluk peluk kan " Ucap Albi menatap Lais tajam, seakan singa ingin menerkam mangsanya.
Albi berubah menjadi adik yang menyebalkan. Tidak seperti sebelumnya. Dia akan terus terang tidak akan memberikan kesempatan pada Lais.
"Wah. Wah. Wah... mentang mentang aku sudah di tolak kakak mu. Jadi kamu bersikap garang pada ku... Ya sekarang" Ujar Lais tersenyum, mengedipkan sebelah matanya pada Arumi.
Arumi tersentak kaget mendengar perkataan Lais. Menatap tidak suka Lais..Karena ucapan nya barusan
"Seperti nya dia menguping pembicaraan kami tadi" Batin Arumi.
Albi yang mendengar sindiran Lais hanya menampilkan deretan gigi putih nya. Mengangkat tangan kanan nya. Membuat huruf V dengan jari nya.
"Peace..." Ucap Albi.
"Ahh... sudah... sudah... Ayo kita tidur. Ini sudah sangat larut untuk anak kecil seperti mu" Ucap Lais, lalu berjalan menuju kasur.
"Eeitss. No. No. No" Ucap Albi, dengan jari menunjuk ke arah sofa.
"Haiiis... Kenapa kamu sangat pelit" Ucap Lais lalu membalikkan badannya berjalan menuju sofa yang di tunjukkan Albi tadi. Dengan wajah memelas.
"Hihihi... " Tawa Arumi dan Albi.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗