
Arumi bangun dari tidur nyenyak nya, sekitar jam lima sore. Tidur yang cukup lama. Pikir Arumi.
Karena Arumi masih m ngira bahwa Lionel belum kembali. Jadilah Arumi hanya bermalas-malasan di kamar.
Untuk mengganjal rasa lapar di perut nya, Arumi hanya makan sisa cemilan piknik saja. Selain mengisi tenaga dengan cemilan, Arumi memainkan game yang ada di ponsel nya, atau sekedar lihat lihat berita di media sosial. Itu lah yang di lakukan Arumi di kamar nya.
Hari yang sangat menyenangkan tanpa bos rewel. Pikir Arumi.
Tak terasa sudah cukup lama Arumi hanya memainkan ponsel, sekarang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saja.
Entah apa saja yang di lakukan nya, tapi waktu sangat cepat berlalu. Seperti ada yang memutar waktu. Pikir Arumi.
Kryyuuuck!
Bunyi demo perut Arumi yang minta di isi.
"Astaga... Kenapa aku belum kenyang juga? Padahal aku sudah memakan cemilan sebanyak ini" Batin Arumi melihat tempat sampah yang penuh dengan kemasan cemilan.
"Apa perut itu bagian cemilan minuman dan makanan pokok berbeda tempat ya? " Pikir Arumi.
"Berarti lambung itu ada empat ruang dong. Satu tempat yang isi nya makanan pokok, dua tempat minum, tiga tempat cemilan dan yang terakhir tempat udara. Heheh" Kekeh Arumi menertawakan pemikiran nya.
Arumi melihat lagi keranjang sampah di dekat meja rias nya.
"Eh... Cuma tiga bungkus kripik ternyata yang aku makan, pantas saja aku masih merasakan lapar" Gumam nya. Lalu beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan menuju dapur.
Dapur terlihat sangat gelap tanpa adanya lampu yang menerangi. Untung saja Arumi membawa ponsel nya. Dia menghidupkan senter LED flash yang ada di ponsel agar bisa menerangi jalan nya.
Seperti maling jalan Arumi mengendap-endap.
Tak lama sampai lah dia di dapur. Arumi mencari keberadaan kontak lampu dapur, lalu menghidupkan bya. Arumi memeriksa kulkas melihat apa kah ada bahan makanan yang bisa di masak nya malam ini juga.
"Eh. Ternyata bahan makanan ada banyak" Gumam nya, lalu memilah apa yang akan di masak.
"Hemm... Seperti nya akan lama kalau masak yang ini" Arumi memikirkan sesuatu yang mudah di masak.
Cukup lama memikirkan apa yang akan di masak.
"Aha..." Setelah sekian lama akhirnya Arumi mendapatkan sebuah ide. Arumi memeriksa lemari tempat dia menyimpan makanan instan itu.
Dan.
" Yuhuuu... masak mie instan saja, karena inilah yang paling praktis" Seru nya.
Sepuluh menit berlalu.
Cukup untuk memasak mie instan.
"Hemm... wanginya" Gumam Arumi mencium aroma kuah mie instan.
"Berasa udah tidak makan seminggu aku"kekeh nya.
__ADS_1
"Selamat makan" Seru Arumi pada diri nya sendiri.
Bruuukh!!!
Belum masuk suapan pertama, Arumi di kejutkan oleh suara keras. Seperti suara barang jatuh.
Mendengar suara itu Arumi panik sendiri.
"Bukan kah tuan masih di London ya? " Gumam Arumi.
"Lalu... Siapa itu? Apa jangan jangan... " Arumi merasakan bulu kuduk nya berdiri, ia merinding.
Arumi langsung beranjak dari duduk nya. Ingin memastikan bahwa itu bukan sesuatu yang ada di pikiran nya. Arumi harus memberanikan diri. Pikir Arumi menyemangati diri sendiri, agar tidak takut.
Arumi menghidupkan semua lampu yang berada di dekat nya. Ingin memastikan bahwa sesuatu yang jatuh itu bukan sesuatu yang di pikirkan nya.
Tidak mungkin ada perampok atau yang sejenisnya di rumah, dan tidak mungkin bukan Lionel yang jatuh. Karena saat ini dia berada di London. Pikir Arumi.
Dan hanya tinggal satu kemungkinan saat ini. Kemungkinan yang di pikirkan Arumi saat ini adalah mahkluk halus. Karena hal itu lah Arumi menghidupkan semua lampu yang ada.
Arumi berjalan menuju ruang keluarga, ruangan yang harus di lewati sebelum ke dapur dan ruang makan.
Dengan jalan perlahan Arumi memperhatikan setiap sudut ruangan.
"Astaga tuan! " Pekik Arumi ketika mengetahui bahwa tuan nya sedang tergeletak di samping sofa dan lantai yang di penuhi oleh serpihan kaca guci.
Arumi menghampiri Lionel, bahkan ponsel nya tidak ia pedulikan karena terjatuh saat ia melihat Lionel tadi. Teronggok begitu saja di lantai.
"Aduh. Bagaimana ini? Aku gak kuat kalau harus bawa tuan ke kamar" Gumam nya.
"Ah. Iya... Sekretaris Rai, jika tuan sudah pulang berarti Sekretaris Rai juga sudah pulang" Gumam
Arumi mencari keberadaan ponsel nya.
"Astaga" Pekik Arumi lagi melihat ponsel nya yang lemah tak berdaya teronggok begitu saja di lantai.
"Aduh. Semoga bisa hidup" Doa Arumi mengotak-atik ponsel nya.
"Yah. Yah. Loh. Baterai nya habis" Ucap Arumi.
"Tidak ada pilihan lain" Gumam nya, lalu mengambil ancang-ancang menghirup nafas dalam.
"SEKRETARIS RAI! SEKRETARIS RAI! SEKRETARIS RAI! " Teriakan Arumi nyaring memenuhi seluruh ruangan.
Masih belum ada tanda tanda kemunculan sekretaris Rai. Sekali lagi Arumi berteriak memanggil nya.
Selang beberapa saat akhirnya yang di panggil menampakkan diri nya juga.
"Kenapa kamu beri… Astaga. Apa yang terjadi pada tuan? " Seri sekretaris Rai yang tidak jadi mengomeli Arumi.
"Tidak tahu! Pas ketemu udah pingsan seperti ini" Ucap Arumi panik.
__ADS_1
"Bantu saya!" Pinta sekretaris Rai, tanpa di suruh pun Arumi langsung membopong tubuh Lionel sebelah kanan, dan sekretaris Rai sebelah kiri. Berjalan menuju kamar tamu yang ada di lantai satu.
Tidak ingin berlama-lama sekretaris Rai langsung menelpon seseorang.
"Kerumah dalam lima belas menit! " Perintah sekretaris Rai.
"..."
"Jika terlambat sedikit saja. Kamu yang akan ku kirim ke rumah sakit dengan ambulance" Ancam Rai.
Ada sedikit makian yang di lontarkan orang yang di telpon sekretaris Rai sebelum menutup sambungan telepon. Setelah itu Sekretaris Rai keluar dari kamar.
Arumi hanya bisa mengoleskan minyak angin ke kepala Lionel dan jari. Lalu mendekatkan jari nya pada hidung Lionel, agar dia bisa menghirup aroma nya.
Lima belas menit kemudian, Sekretaris Rai benar-benar datang bersama seorang yang seperti nya dokter. Jika melihat stetoskop yang bergantung di leher nya.
"Rai apa yang terjadi pada Lio? " Tanya dokter itu khawatir.
"Kau tidak usah banyak bicara Ricki. Periksa saja" Kesal Rai.
"Baiklah" Ucap dokter yang bernama Ricki itu.
Lalu mulai memeriksa keadaan Lionel.
"Hais. Aku tak menyangka jika anak ini bisa sakit" Celoteh Ricki.
"Apa dia sudah makan? " Tanya Ricki membereskan peralatan nya.
"Tuan tidak ada makan apa pun dari semalam " Jawab Rai.
"Asam lambung Lio kambuh dan dia kekurangan cairan. Aku akan memberikan infus dulu. Jika Lio sudah bangun kamu harus berikan dia bubur, lalu telepon aku lagi. Apabila dia tidak mau memakan bubur nya, paksa saja" Jelas Ricki.
"Apa kamu mendengar nya? " Tanya Rai pada Arumi.
"Ya" Jawab Arumi lalu pergi meninggalkan para pria dewasa itu.
"Eh. Kenapa aku tidak melihat ada gadis cantik di sini tadi" Seru nya setelah melihat kepergian Arumi.
"Dokter. Anda pasti tahu di mana pintu keluar berada bukan? " Tanya Rai.
"Hei. Kamu langsung mengusir ku begitu saja, setelah aku hampir mati karena tergesa-gesa di jalan, untung saja aku tidak kecelakaan. Kamu ini benar-benar tidak berperikemanusiaan" Ucap Ricki kesal.
Rai tidak menjawab, dia berjalan menuju pintu kamar. Lalu mempersilahkan Ricki agar segera keluar.
"Hais. Baiklah. Baiklah. Aku pulang" Ucap nya pasrah.
Ricki pulang seperti yang di harapkan Rai. Sebelum kepulangan nya tentu saja sumpah serapah di ucap kan Ricki untuk Rai. Segala jenis sumpah serapah yang tak luput dari lisannya.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗
__ADS_1