Hanya Dia

Hanya Dia
Tampan


__ADS_3

Albi semakin gencar menjahili Lionel. Sedangkan Arumi, dia hanya menikmati permainan yang sedang dilakoni adik nya. Entah turunan siapa Albi ini. Dia sangat suka sekali menjahili orang orang yang baru ditemuinya.


"Hahaha. Untung saja aku sudah mendapatkan calon kakak ipar idaman. Paman itu kemarin membantu aku dan kakak membuat istana pasir. Cantik sekali, kami dapat juara dua loh paman. Paman mau lihat foto kami tidak? Paman itu benar-benar kakak ipar idamanku" Seru Albi bangga.


"Eh. Kamu bilang apa barusan? " Tanya Lionel seakan-akan pendengaran nya tiba-tiba saja tuli. Dia tidak mendengar apapun yang dikatakan Albi.


"Paman mau lihat foto nya? " Tanya Albi lagi.


"Kak pinjam dong ponselnya. Paman ini mau lihat foto kita yang waktu itu. Yang pas Albi di gendong paman rumput laut, sambil rangkul kakak kayak gini. Uwu kita udah kayak keluarga bahagia waktu di foto itu" Seru Albi benar-benar dengan nada bahagia nya, mempraktekkan gaya Lais ketika berfoto di samping Arumi waktu itu.


Seperti orang yang kebakaran jenggot. Wajah Lionel merah padam jika mengingat foto bahagia Arumi bersama pria lain waktu acara piknik Albi. Dan semakin merah padam karena mendengar perkataan Albi yang sudah mendukung pria itu.


Demi harga diri nya, Lionel berusaha agar tidak termakan omongan Albi. Dengan senyuman terpaksa Lionel masuk dalam permainan Albi.


"Hemm. Benarkah? Coba paman lihat fotonya? Kamu pasti sangat tampan sekali waktu itu" Seru Lionel menahan diri.


Seperti permintaan Lionel, Arumi memperlihatkan sekali lagi foto yang pernah membuat majikannya marah.


"Cih. Waktu itu dia sangat marah sekali ketika melihat foto itu. Kenapa sekarang dia berlagak seperti orang yang belum pernah melihatnya" Batin Arumi kesal. Tapi dia tetap menikmati permainan adik nakal nya itu. Arumi juga penasaran kenapa belakangan ini Lionel berbeda daripada sebelumnya.


"*Huh. Mengingat dia yang sangat sangat manja dan menyebalkan di waktu yang sama. Dia jadi seperti sedang mencari perhatian orang yang disukainya" Batin Arumi.


"Eh. Barusan aku bilang apa? Orang yang di sukai nya? Cih. Macam betul aja. Dia kan sudah memiliki istri cantik seperti Gamila Zaida" Batin Arumi mengingatkan dirinya.


"Ah. Aku malah merasa seperti budak yang harus dan selalu menuruti semua keinginannya" Batin Arumi*.


Untuk yang kedua kalinya Lionel melihat lagi foto yang pernah membuatnya dan Arumi marahan.


Masih sama seperti sebelumnya, sesak melihat foto mesra mereka. Batin Lionel.


"Ah tapi paman sedih, padahal paman teman yang sangat dekat dengan kakak kamu. Tapi kenapa paman itu ya yang menemani kalian piknik? Kenapa bukan paman yang di ajak? " Ucap Lionel lirih dengan ekspresi sedihnya.


"Hemm. Begitu yaa. Kakak… Kenapa kakak tidak mengajak paman… paman… nama paman siapa yaa? " Tanya Albi yang belum berkenalan dengan Lionel.


"Kenalkan nama paman Lionel, nama kamu siapa? " Ucap Lionel.

__ADS_1


"Nama aku Albi paman. Hemm paman, apa aku boleh lihat wajah paman? " Tanya Albi penuh harap. Mengalihkan topik pembicaraan perihal piknik waktu itu.


"Eh. Oh maaf maaf, paman tidak sadar jika ada sesuatu yang sedang menghalangi wajah tampan paman" Ujar Lionel dengan penuh percaya diri.


Sesuai dengan permintaan Albi, Lionel membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya. Tapi dia tetap menggunakan topi hitamnya. Takut kalau-kalau ada orang yang mengenalinya. Dan menjadi sasaran empuk paparazi. Ah Lionel benar-benar sudah menjadi takluk jika di hadapkan pada Albi. Lionel sampai melupakan kesedihannya barusan.


"Setampan apapun paman, pasti lebih tampan aku. Ya kan kak? " Seru Albi tidak ingin kalah.


"Tuh kan. Mereka ini satu jenis, sama-sama narsis. Hah. Mungkin masih banyak persamaan mereka" Batin Arumi jengah dengan kedua laki-laki yang ada di hadapannya.


"Yaa adik kakak lah yang paling tampan" Ucap Arumi. Terpaksa. Tapi kenyataan bahwa Albi tampan adalah benar. Tapi bukan berarti Lionel tidak tampan.


"Tuh kan, kakak aja aku yang paling tampan sejagat" Ucap Albi menambahkan kata-kata yang tidak di sebutkan Arumi.


"Cih" Decak malas Arumi dan Lionel.


"Arumi coba kamu lihat dengan benar, siapa sebenarnya yang paling tampan diantara kami? " Tanya Lionel yang sudah mensejajarkan wajah nya dengan wajah Albi.


"Kalian sama-sama tampan kok" Jawab Arumi acuh.


"Paman, sebaiknya kita jangan menganggu kakak" Bisik Albi.


"Kenapa? " Tanya Lionel bingung.


"Soalnya kakak hari ini lagi kedatangan tamu bulanan" Ucap Albi masih berbisik.


"Tamu ? " Tanya Lionel tidak mengerti.


Albi menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Lionel.


"Oh. Baiklah" Lionel hanya bisa mengiyakan nya saja. Tapi sebenarnya dia tidak paham maksud dari kata tamu yang diucapkan Albi tadi.


"Hemm. Siapa ya tamunya? Kenapa setiap bulan dia bertamu pada Arumi? Apa tamunya itu laki-laki? Ah. Semoga saja tamunya itu perempuan" Batin Lionel bertanya-tanya memperhatikan gerak-gerik Arumi yang acuh tak acuh. Tidak mempedulikan sekitar nya.


"Hemm. Paman tahu tidak? " Tanya Albi.

__ADS_1


"Tidak tahu" Jawab Lionel langsung.


"Eh. Ya jelas paman tidak tahu,.kan aku belum bicara' apa-apa" Geram Albi.


"Oh. Hemm kamu mau bilang apa? " Tanya Lionel.


"Nama paman Lionel kan? Aku kira paman itu Lionel Messi pemain sepakbola itu, makanya paman pakai masker biar gak ada fans paman yang menggila" Seru Albi terkekeh geli.


"Lionel Messi? " Beo Lionel.


"Iyaa hahaha rupanya bukan, padahal kalau paman betulan Lionel Messi aku mau minta tanda tangan, terus aku mau pamer sama teman-teman di sekolah" Kekeh Albi tiada henti nya.


Arumi yang mendengar Albi mengatakan hal itu juga ikut terkekeh geli. Itu mengingatkan nya tentang kenangan saat di London. Tapi Arumi hanya sebentar saja terkekeh nya. Karena jika diingat ingat lagi, saat itu Lionel melihat nya tanpa sehelai benang pun.


Huh. Benar-benar kesal jika mengingat nya. Batin Arumi.


"Tapi paman yang paling tampan jika di bandingkan dengan Lionel Messi itu kan? " Tanya Lionel percaya diri.


"Hemm. Lionel Messi. Rasanya aku pernah mendengar nama itu" Batin Lionel mengingat kembali.


"Pastinya" Jawab Albi makin tergelak.


Mendengar pengakuan Albi membuat Lionel tersanjung.


"Hahaha pastinya tidak hahaha" Kekeh Albi tidak bisa lagi menghentikan tawanya.


Mendengar jawaban Albi yang telat itu, Arumi juga ikut tergelak. Dia tidak bisa lagi menahan tawa nya karena wajah bangga Lionel langsung hilang dalam sekejap.


"Haha aku ingat sekarang. Cih. Kakak beradik ini benar-benar sepemikiran. Dan sama-sama mirip" Batin Lionel yang sudah mengingat kejadian yang sama tertimpa padanya. Saat itu Arumi lah yang mengatakan hal itu. Dan sekarang adik nya. Ah mereka berdua benar-benar kompak. Lionel jadi kesal mengingat nya.


Tapi melihat Arumi yang tertawa lepas seperti itu menghilangkan rasa kesal yang menghampiri Lionel sejenak. Sungguh benar-benar cantik melihat nya seperti itu. Batin Lionel.


Apakah aku bisa membuat nya selalu menampilkan senyum indah itu?


Ah sepertinya aku harus cepat mutuskan hal ini. Karena terlalu asik mengganggu nya aku sampai lupa janjiku pada Gami yang akan segera mengunjungi nya. Batin Lionel yang tiada mengedipkan mata nya melihat tawa cantik Arumi.

__ADS_1


__ADS_2