
Ini adalah hari pertama liburan yang akan Arumi jalani selama tiga hari ke depan nya.
Arumi telah berpikir sampai larut malam. m
Memikirkan bagaimana cara nya agar bisa terlepas dari Lionel selama tiga hari ke depan nya. Untung saja Dewi Fortuna sedang berpihak pada Arumi.
"Tapi... kok bibir ku bengkak begini ya?"gumam Arumi.
"Hemm... mungkin ada nyamuk yang gigit kali ya"pikir Arumi
Flashback
Setelah Arumi selesai membersihkan diri dan ingin segera menjelajahi alam mimpi nya. Ketika dia sudah menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, tiba-tiba saja Arumi teringat akan sesuatu yang sangat penting untuk tiga hari ke depan nya.
Arumi langsung terduduk di atas ranjang, memikirkan suatu cara agar bisa berlibur besok selama tiga hari ini.
"Aduh... Hemm... gimana ya cara nya, biar bisa liburan besok besokdan besok nya lagi?" Ujar nya pada diri sendiri. Dia sedang mondar-mandir di depan lemari pakaian.
"Hemm..." Arumi mengetuk-ngetuk kan jari telunjuk di dagu nya.
Di saat Arumi masih mondar-mandir di depan lemari pakaian sambil mengetuk-ngetuk kan jari telunjuk di dagu. Arumi di kaget kan dengan suara ponsel nya yang berdering nyaring. Dia bergegas menghampiri ponsel nya yang sedang berdering.
Arumi tahu siapa yang menelpon nya sekarang. Nada dering khusus hanya untuk penelpon tersebut. Ah... ernyata si penelpon ingin melakukan video call dengan Arumi.
"Kakak! Kemana saja seharian ini? Aku sudah menelpon mu dari siang tadi. Tapi tidak di Jawab juga" Kesal si penelpon pada Arumi.
Arumi hanya bisa menampilkan senyum terbaik nya untuk menghadapi pria berbeda generasi ini dengan nya.
"Maaf kan kakak okey" Ucap Arumi masih mempertahankan senyum nya.
"Hemm" Si penelpon yang tak lain adalah Albi hanya berdehem dan memalingkan wajahnya menanggapi Arumi.
"Sayang aku punya oleh-oleh untuk mu dari London" Bujuk Arumi memperlihatkan oleh-oleh yang di bawa nya pada Albi. Agar Albi tidak marah lagi.
"Kamu kira aku masih anak kecil. Bisa di bujuk dengan oleh-oleh kecil itu!" Ucap Albi melirik benda yang ada di layar ponsel nya.
"Yakin kamu tidak mau?" Tanya Arumi sekali lagi.
"Coba kamu lihat dulu. Bukan kah kemarin kamu ingin di bawakan oleh-oleh ini?" Tanya Arumi lagi.
"Ih... kakak curang" Seru Albi kalah berdebat dengan Arumi setelah melihat oleh-oleh yang di bawa nya.
"Masih marah ya? Ya udah deh. Ini semua kakak jual aja" Goda Arumi.
"Kakak" Teriak Albi kesal dengan godaan Arumi.
"aiku tidak marah kok" Ujar Albi menampilkan senyum nya.
"Tuh aku udah senyum kan?" Ucap Albi mengalah.
"Iya. Iya. Adik kakak yang tampan nya tiada tara" Goda Arumi.
"Tentu saja. Aku memang yang paling tampan! Banyak teman perempuan ku yang menyukai ku" Ujar Albi membanggakan diri nya.
"Cih! sombong sekali kamu"Seru Arumi. Tapi tidak melunturkan senyuman nya.
"Apa? Kakak bilang apa?" Tanya Albi.
__ADS_1
"Tidak ada. Hemm... Jadi kenapa kamu telpon kakak malam-malam begini?" Tanya Arumi.
"Oh iya hampir saja lupa. Kak besok ada ada piknik di pantai selama dua hari di Brighton beach. Nanti kita juga akan menginap di hotel terdekat. Hemm teman-teman Albi ikut semua dan mereka bersama dengan orang tua nya. Jadi... Apakah kakak mau ikut piknik bersama dengan Albi?" Tanya Albi ragu-ragu tapi penuh harapan pada sorot mata nya.
"Tentu saja kakak mau!" Ucap Arumi menambahkan binar di mata Albi.
"Yeeey asik Albi ikut" Sorak Albi senang.
"Tapi. Itu bukan kah pakai pendaftaran ya? Terus piknik nya bayar berapa?" Tanya Arumi.
"Untung saja Albi sudah daftar. Karena sore tadi pendaftaran terakhir nya. Tapi kalau untuk biaya nya kakak bisa tanya sama mis Anna saja. Kata mis boleh bayar besok pagi" Jelas Albi.
"Okey nanti kakak tanyakan pada mis Anna, sekarang kamu persiapkan apa saja yang harus kamu bawa untuk piknik di sana. Sisa nya biar kakak yang urus" Ucap Arumi memberi kan perintah pada adik nya.
"Sudah aku persiapkan dari tadi" Ucap Albi memperlihatkan perlengkapan nya yang sudah selesai di persiapkan nya.
"Oh iya. Hasil dari rapat dengan orang tua kemarin, piknik nya pakai kendaraan masing-masing kata mis Anna kak. Jadi kita bagaimana pergi nya?" Tanya Albi menunjukkan wajah sedikit panik.
"Kamu tenang saja. Sisa nya biar kakak yang urus" Ucap Arumi meyakinkan Albi.
Sebenarnya Arumi tidak yakin apakah dia di perbolehkan pergi apa tidak. Semua bergantung pada cara Arumi membujuk Lionel. Pikir Arumi.
"Oh okey" Ucap Albi gembira lagi, walaupun dia sudah menguap beberapa kali.
"Kalau begitu kamu istirahat sekarang, agar besok pagi segar" Ucap Arumi.
"Baiklah Albi tidur dulu. Sampai bertemu besok pagi kakak. Aku rindu kakak. Selamat malam" Ucap Albi yang memang sudah terlihat mengantuk.
"... Ya. selamat malam. Kakak. Juga rindu kamu..." Gumam Arumi lalu mematikan ponsel nya.
Aulrumi menghela nafas panjang.
"Sekarang sudah jam setengah sebelas sih.
Hemm. Coba tanya sekretaris Rai aja"
Arumi mencoba untuk menghubungi sekretaris Rai
"Halo ada apa nona?" Tanya Rai langsung.
"Sekretaris Rai apa kamu sudah istirahat?" Tanya Arumi basa-basi.
"Nona tolong langsung katakan saja" Jawab Rai tidak sabar.
"Saya ingin izin besok selama tiga hari, karena ada kegiatan bersama keluarga besok di sekolah adik saya, apakah boleh saya pergi?" Tanya Arumi. Walaupun tidak sepenuhnya benar yang dikatakan nya.
Rai tidak langsung menjawab pertanyaan arumi. Hening beberapa saat.
"Kamu minta izin saja langsung pada Tuan, temui Tuan di ruang kerjanya!" Perintah Rai langsung mematikan panggilan secara sepihak.
"Baiklah! Semangat Arumi. Semoga di izinkan" Doa Arumi.
Arumi pergi menuju ruang kerja Lionel.
dia tidak mengganti pakaian nya, yang hanya menggunakan kaos kebesaran di atas lutut. Dan dia tidak memakai korset yang melilit dada nya seperti biasanya.
"Nanti kan aku mau langsung tidur, jadi ga usah di pakai ah korset nya. Pakai kacamata aja. Tuan kan juga udah pernah lihat aku seperti ini. Dan dia juga pernah bilang kalau tidak tergoda dengan tubuh ku. Jadi... ngapain takut" Gumam Arumi.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu ruang kerja Lionel. Arumi berdoa terlebih dahulu sebelum dia mengetuk pintu. Berdoa agar diizinkan pergi.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk" Terdengar suara perintah dari dalam ruang kerja.
Lionel sedang fokus pada berkas-berkas yang ada di meja nya. Dan sekretaris Rai meminta Arumi untuk menunggu sebentar di sofa yang ada di ruangan itu.
Cukup lama Arumi menunggu Lionel selesai dengan berkas-berkas nya. Hingga Arumi tertidur pulas di sofa.
Tiga puluh menit setelah Arumi tertidur, Lionel sudah selesai dengan berkas-berkas nya.
Dia menghampiri Arumi, dan langkah nya di ikuti oleh sekretaris Rai.
"Apakah dia tidak ada rasa takut sama sekali dengan dua pria dewasa yang satu ruangan dengan nya? Bisa-bisa nya di tertidur pulas di sini" Ucap Lionel yang masih bisa di dengar oleh Rai.
Lionel berlutut di hadapan wajah Arumi, dia memperhatikan setiap lekuk wajah Arumi.
"Tidak tahu kah dia, bahwa dengan pakaian nya ini bisa menggoda setiap pria yang melihat nya" Gumam Lionel. Kali ini tidak dapat di dengar Rai.
"Ah. Astaga aku tidak tahan lagi jika melihat nya seperti ini" Batin Lionel.
Lionel berdiri, lalu menggendong Arumi menuju kamar nya. Dan di ikuti oleh sekretaris Rai.
Arumi merasa nyaman di dalam pelukan Lionel, Arumi semakin membenamkan wajahnya di dada Lionel. Membuat Lionel merinding karena hembusan nafas Arumi.
Dengan hati-hati Lionel meletakkan Arumi di atas kasur. Dan kali ini sekretaris Rai tidak mengikuti langkah Lionel untuk masuk ke dalam kamar Arumi.
Sepuluh menit kemudian barulah Lionel keluar dari kamar Arumi. Dengan wajah nya yang memerah.
"Rai kamu tahu apa yang harus di lakukan?" Tanya Lionel.
"Ya tuan" Jawab sekretaris Rai.
"Baiklah, jika tugas mu sudah selesai istirahat lah" Perintah Lionel.
"Baik tuan, selamat istirahat dan selamat malam" Ucap Rai.
Lionel langsung saja meninggalkan Rai. Dia berjalan menuju kamar nya.
"Aah! Apa yang ku lakukan tadi? Tapi... ini sangat manis" Ucap Lionel meraba bibir nya.
"Seperti nya aku harus meminta maaf pada Gami" Kata nya lagi.
Flashback off
Arumi yang tidak mengetahui apa saja yang telah terjadi ketika dia tertidur, dan bagaimana bisa dia bisa kembali ke kamar nya. Mungkin aku amnesia sementara, makanya lupa kapan aku kembali ke kamar. Batin Arumi.
Walaupun begitu, Arumi tidak lagi memikirkan bagaimana bisa bibirnya membengkak dan bagaimana bisa dia berada di kamar nya. Itu semua teralihkan karena Rai membawa berita gembira untuk nya. Rai mengatakan bahwa Arumi di perbolehkan untuk pergi piknik bersama dengan adik nya.
"Tanpa membujuk nya pun aku tetap di izinkan pergi uh...senang nya" Gumam Arumi senang tanpa mengetahui apa yang telah terjadi.
"Akhirnya terbebas dari majikan yang menyebalkan itu, walaupun cuma tiga hari" Girang nya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua