
Dengan tergesa-gesa Tika berlari menuju dapur mencari keberadaan Arumi. Tika melihat keberadaan Arumi yang duduk di bar mini. Arumi yang tengah memainkan ponsel nya, sesekali cekikikan tidak jelas.
"Arumi. Kamu di panggil tuan" Seru Tika. Dia mengambil minuman dingin di dalam kulkas lalu meminum nya. Tika berjalan menuju Arumi untuk ikut duduk di sana. Dengan nafas yang masih terengah-engah Tika memandang Arumi heran.
"Kamu di panggil tuan" Seru Tika lagi.
"Apa dia sudah mencicipi bubur kakak? " Tanya Arumi yang belum beranjak juga dari tempat nya. Tidak mengindahkan seruan Tika.
"Belum" Jawab Tika, meminum lagi air dingin nya.
"Hah. Baiklah aku ke tempat tuan dulu. Seperti nya aku tidak bisa membantu kakak membuat sarapan. Apakah tidak apa jika kakak memasak sendiri? " Tanya Arumi.
"Ya tidak apa-apa. Kamu pergi lah, nanti tuan marah pada mu karena telah membuat nya menunggu" Seru Tika.
"Iya. Iya. Aku akan segera kesana. Lagipula dia tidak akan marah. Dia kan lagi sakit" Ujar Arumi santai.
"Eh. Kenapa gadis ini tidak ada rasa takut sama sekali pada tuan? " Batin Tika bingung.
"Oh iya. Lebihkan untuk ku ya sarapan nya. Aku juga lapar" Pinta Arumi memegang perut nya yang sudah keroncongan minta di isi.
"Iya. Sudah kamu pergi sana" Perintah Tika tidak sabaran wanita itu takut jika dirinya yang akan di salahkan jika Arumi lama sampai nya.
Arumi masih dengan santai nya berjalan menuju tempat Lionel berada. Terkekeh melihat paniknya Tika.
Tok.
Tok.
Tok.
Arumi mengetuk pintu kamar.
"Tuan. Ini saya" Seru Arumi dari luar kamar.
"Masuk lah" Perintah Lionel.
Arumi masuk kedalam kamar. Dia melihat Lionel yang sudah duduk bersandar pada kepala ranjang.
Deg.
Lionel tidak bisa melepaskan pandangannya pada Arumi yang berjalan mendekati nya.
"Ah. Walaupun dia tidak berdandan seperti wanita yang lainnya. Tapi tetap saja dia terlihat sangat cantik, walaupun memakai kacamata itu. Ah dan di tambah lagi dia memakai kaos kebesaran berwarna merah selutut. Itu semakin menambah aura keseksian nya" Batin Lionel yang masih belum bisa mengalihkan pandangannya.
"Apa tuan membutuhkan sesuatu? " Tanya Arumi.
Pendengaran Lionel seakan tuli saat terpesona pada kecantikan yang di pancarkan Arumi. Lionel tidak mendengar pertanyaan Arumi, dia masih asik dengan dunia khayalan nya sendiri. Memandang Arumi intens.
Merasa Lionel tidak mendengarkan nya, dan hanya memperhatikan Arumi tanpa berkedip. Arumi pun membalikkan badannya ingin meninggalkan kamar, melangkah menuju pintu.
"Eh. Tnggu. Kamu mau kemana? " Tanya Lionel yang sudah sadar dari lamunannya memandang Arumi.
Arumi yang sudah memegang gagang pintu, menjawab Lionel dengan lantang.
"Loh. Tadi saya tanya tuan butuh sesuatu apa tidak. Tapi tuan diam saja, merasa saya tidak ada kerjaan di sini. Tuan hanya memandang saya tanpa berkedip sekali pun. Lebih baik saya ke dapur untuk memasak" Seru Arumi yang masih dengan posisi memegang gagang pintu.
"Oh. Astaga. Seperti nya aku sudah gila" Batin Lionel menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tiba tiba saja dia merasakan wajah nya memanas. Malu karena dia ketahuan memandang Arumi tanpa berkedip sekali pun.
Arumi hanya memandang Lionel bingung.
__ADS_1
"Ada apa dengan nya? " Batin Arumi.
Sudah merasa lebih baik, Lionel memandang jendela.
"Buka jendela nya" Perintah Lionel tanpa melihat Arumi.
Dan tanpa bantahan Arumi langsung mengerjakan perintah Lionel. Lalu tanpa perintah Arumi duduk di sofa yang menjadi tempat tidur nya semalam.
Arumi mengambil mangkuk bubur, berniat menyuapi Lionel lagi.
"Buka mulut nya tuan. Aaaa. Ayo di buka aaa" Perintah Arumi, membuka mulut nya juga, mengekspresikan wajah nya seperti sedang menyuapi anak kecil.
Awal nya Lionel ingin membuka mulut nya, tapi diurungkan nya karena dia merasa seperti sedang di permainan kan.
"Apa kamu menganggap ku anak kecil? " Seru Lionel kesal.
"Tidak" Jawab Arumi tegas.
"Lalu kenapa ekspresi mu seperti itu? " Tanya Lionel lagi.
"Jadi saya harus berekspresi seperti apa tuan? Bisakah tuan memberikan saya contoh nya? " Arumi malah balik bertanya. Meletakkan mangkuk yang di pegangan nya di atas paha.
"Seperti... Ya pokoknya jangan memasang ekspresi seakan aku anak kecil yang ingin kamu suapi" Jawab Lionel tegas.
"Baiklah" Ucap Arumi.
Arumi menyendok bubur, tanpa ada kata apa pun, dia langsung saja mendaratkan bubur itu di depan mulut Lionel.
Lionel membuka mulut nya, membiarkan Arumi menyuapi nya. Tidak tahu kenapa Lionel mengelak dari suapan Arumi.
"Kenapa tuan? " Tanya Arumi sabar.
"Tiup" Perintah Lionel.
Arumi mencoba bubur itu. Dahi nya mengernyit, menatap Lionel kesal.
"Cih. Ini tidak panas sama sekali, bubur ini hanya hangat saja. Dan itu tidak akan membunuhnya. Dasar" Batin Arumi sudah tidak sanggup.
Tanpa berkata-kata lagi, Arumi melakukan perintah Lionel.
"Rasa nya kok beda" Batin ny Lionel mengernyitkan dahi nya
"Minum" Pinta Lionel.
"Ada apa tuan? " Tanya Arumi melihat ekspresi ketidaksukaan Lionel.
"Siapa yang memasak bubur itu? " Tanya Lionel menatap tajam Arumi. Menunjuk bubur yang di pegang Arumi.
"Hemm"
"Kenapa lidah nya sensitif sekali sih? " Batin Arumi sangat kesal.
"Sepertinya sifat pilih-pilih makan nya akan kambuh lagi" Batin Arumi.
"Hemm. Memang nya kenapa tuan? Apa rasa nya berbeda? " Tanya Arumi tanpa sadar menyuap bubur ke mulut nya dengan sendok yang di pakai Lionel tadi.
"Hemm. Enak kok" Ucap Arumi.
"Eh. Tapi. Rasa nya memang berbeda sama rasa bubur yang ku buat" Batin Arumi, mencicipi pagi bubur lalu mencium aroma nya.
__ADS_1
"Eh. Ini kan. Hemm. Rasa kuah bubur nya memang berbeda. Hanya beda resep kuah nya saja, kenapa dia harus mempermasalahkan sih. Lagi pula bubur ini sangat enak" Batin Arumi menatap tidak percaya Lionel.
Lionel terkejut melihat Arumi yang memakai sendok bekas nya. Lionel berusaha agar wajah nya terlihat biasa saja. Walaupun sebenarnya jantung nya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ya hanya sedikit saja.
"Uuuh. Sudah berapa kali yaa. Kami ciuman secara tidak langsung? " batin Lionel bertanya tanya.
"Semoga saja wajah ku tidak memerah saat ini" Batin Lionel berdoa. Saat ini Lionel benar-benar seperti remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta.
"Tuan ini enak kok, yaa memang rasa kuah nya saja yang berbeda dengan yang tadi malam" Ucap Arumi membuyarkan pikiran Lionel memakan lagi bubur Lionel.
"Uh. Aku lapar" Batin Arumi.
"Saya tanya sekali lagi. Siapa yang memasak nya? " Tanya Lionel tegas berusaha mengatur ekspresi wajah nya. Karena dia lebih menyukai rasa bubur yang sebelumnya.
"Eeh. Hemm. Sa saya tuan. Kenapa? " Jawab Arumi berbohong, dia sangat gugup sekali rasa nya.
Arumi tidak berani menatap Lionel, dia mengalihkan pandangan nya ke jendela.
"Huh. Kalau aku bilang kakak itu yang masak. Dia pasti meminta ku memasak bubur yang lain" Batin Arumi tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.
Lionel tersenyum miring melihat Arumi, senyum yang tak terlihat oleh Arumi.
"Dia tidak pandai berbohong rupanya" Batin Lionel.
" Uh. Gemas nya melihat dia gugup karena berbohong" Batin Lionel.
"Aku tidak suka rasa yang ini" Seru Lionel.
"Aku mau rasa bubur yang semalam" Seru Lionel yang sudah tidak ingin memakan bubur yang ada. Dengan menahan bibir nya agar tak tersenyum.
"Eh. Tapi tuan, nanti perut anda akan perih jika menunda sarapan" Seru Arumi. Dia berusaha agar Lionel membatalkan perintah nya barusan.
"Uh. Dia ini apa apaan sih. Aku juga lapar tahu. Aku juga ingin sarapan, aku akan kelaparan jika memasak bubur untuk nya terlebih dahulu" Batin Arumi kesal.
" Huwaaah. Kenapa yang ku pikirkan tadi terjadi" Gumam Arumi frustasi.
"Kenapa kamu membantah perintah ku. Langsung saja kerjakan apa yang aku perintah, kamu kan harus merawat ku" seru Lionel.
"Apa Rai tidak memberitahukan pada mu. Jika kamu harus merawat ku? " Tanya Lionel.
"Eh. Ada tuan" Jawab Arumi mengingat perintah Rai. Srumi menundukkan kepalanya tidak berani menatap Lionel.
"Eh. Tapi kan. Sekretaris Rai bilang nya kalian berdua. Jadi aku dan kakak tadi lah yang harus merawat nya " Batin Arumi.
"Tuan. Sekre..."
Aku suka kamu...
Aku suka kamu...
Aku suka kamu...
Bunyi nada dering ponsel Arumi menghentikan perkataan nya.
"Nada dering macam apa itu" Batin kedua nya dan Lionel sedikit salah tingkah. Hanya Lionel saja.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗
__ADS_1