Hanya Dia

Hanya Dia
Malam yang panjang


__ADS_3

Dengan sigap Arumi bangun dari tidur nya. Dengan kantuk yang melanda mata sudah hilang. Arumi memeriksa kondisi Lionel.


"Apa anda pusing? " Tanya Arumi menatap Lionel khawatir.


Lionel yang melihat kekhawatiran Arumi, menarik sedikit ujung bibir nya tidak menyangka bahwa Arumi akan sepanik ini.


"Ah. Iya. Saya sudah tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir" Jawab Lionel sedikit jauh dari pertanyaan Arumi. Tapi Arumi tidak mempedulikan jawaban itu.


"Apa tuan haus?"tanya Arumi menawarkan minuman pada Lionel.


"Hemm. Iya" Jawab Lionel menerima gelas yang di tawarkan Arumi.


"Hemm. Tuan saya permisi ke dapur sebentar. Ingin memanaskan bubur ini. Seperti nya sudah dingin" Ucap Arumi.


"Tidak perlu. Kamu tidak perlu repot-repot" Ucap Lionel lemah melarang Arumi untuk ke dapur.


"Kamu panggil kan saja Rai" Pinta Lionel.


"Lagi pula saya tidak lapar" Ucap Lionel lirih. Bohong akan keadaan nya.


Arumi yang mendengar perkataan terakhir Lionel sedikit kesal.


"Tuan memang merepotkan saya jika seperti ini. Tapi lebih merepotkan lagi jika tuan tidak mau mendengar perkataan saya" Seru Arumi lantang.


"Sekretaris Rai itu juga butuh istirahat. Dan tuan? Apa nya yang tidak lapar? Tuan itu asam lambung tuan kambuh kata pak dokter. Dan kata dokter tuan harus memakan bubur setelah bangun" Ucap Arumi berapi-api dengan nada tinggi. Lalu pergi meninggalkan Lionel yang masih bingung dengan keadaan. Keadaan di mana Arumi dengan beraninya meninggikan intonasi nya.


Lionel tidak percaya pada kejadian barusan.


Selain mommy nya, belum pernah ada yang berani membantah nya seperti itu. Apalagi dengan nada tinggi.


Tapi.


Bukan nya kesal atau pun marah.


Lionel justru senang melihat Arumi yang seperti ini.


Membuat Lionel tersenyum senang.


Sementara itu di dapur.


"Aduh. Arumi, kamu kenapa jadi marah gitu sih tadi? seharusnya kamu ikuti saja perintah nya. Kamu pergi ke kamar lalu tidur dan tidak perlu memanggil sekretari Rai. Biar tahu rasa dia, udah jelas orang-orang sangat khawatir dengan keadaan nya" Gerutu Arumi sambil mengaduk aduk bubur yang di panaskan nya.


"Cih. Dengan sok nya dia bilang, lagi pula saya tidak lapar" Ucap Arumi mengikuti gaya bicara Lionel dengan sedikit cibiran.


Setelah selesai memanaskan bubur, Arumi kembali lagi ke kamar pasien nya.


Saat ini Arumi sedang menyuapi Lionel. Karena Lionel tidak bisa makan dengan tangan kiri, sementara infus yang menancap di tangan kanan nya masih terasa ngilu. Dengan segala kesabaran yang ada, Arumi menyuapi Lionel.


Awalnya Lionel tidak ingin di suapi. Tapi dengan paksaan dari Arumi, akhirnya Lionel menyerah dan mau di suapi oleh Arumi.


Dengan telaten Arumi menyuap majikan nya.

__ADS_1


Menyentuh sedikit bubur dengan bibir nya, merasakan suhu panas bubur. Jika hal itu tidak di lakukan Arumi. Dan bubur yang di suapi Arumi pada Lionel panas maka akan menyebabkan lidah Lionel melepuh nanti nya. Dan itu akan menambah pekerjaan Arumi. Maka dari itu jika di bibir Arumi sudah tidak merasakan panas lagi baru lah dia menyuapi Lionel.


Lionel yang melihat tindakan Arumi sedikit tercengang. Bukan kah ini sama saja dengan ciuman secara tidak langsung.


Entah kenapa Lionel tidak memprotes tindakan yang dilakukan Arumi. Dia malah tersenyum samar, memperhatikan Arumi yang sangat tulus mengurus nya.


Mengingat ketulusan Arumi. Lionel melupakan rasa masakan Arumi saat ini. Lionel yang biasa nya selalu mengkritik apa pun, walau hanya sedikit kesalahan pada rasa makanan yang di nikmati nya. Tapi kali ini tidak!


Lidah nya seakan mati rasa setelah melihat ketelatenan Arumi dalam mengurus nya.


Setelah bubur sudah habis di lahap Lionel.


Arumi mendudukkan dirinya lagi di sofa. Memainkan ponsel nya karena rasa kantuk tadi sudah hilang.


Lionel yang melihat Arumi tidak kembali tidur pun bertanya heran.


"Kenapa kamu tidak tidur? Bukan kah kamu masuk sekolah besok pagi? "


Arumi meletakkan ponsel nya di atas paha. Menatap Lionel lembut. Dan manik mereka bertemu.


Arumi tersenyum manis. Lionel yang melihat senyum manis itu merasa dunia seakan berhenti berputar.


Ingin terus melihat bibir itu melengkung ke atas, menampilkan senyum secerah mentari nya.


"Sekretaris Rai akan meminta izin pada kepala sekolah agar liburan saya di tambah sehari lagi. Jadi besok saya tidak sekolah. Sekretaris Rai meminta saya untuk merawat tuan, di karena besok meeting penting, jadi dia tidak bisa menemani tuan di rumah" Jawab Arumi lalu memainkan lagi ponsel nya, dalam diam. Membuat Lionel juga ikut terdiam.


Karena tidak tahu akan membahas apa lagi. Lionel pun memilih diam.


Diam memperhatikan Arumi. Dan Arumi yang tidak sadar di perhatikan hanya asik dengan dunia nya sendiri.


Lionel yang melihat Arumi tersenyum sendiri tak tahan lagi ingin bertanya.


"Kenapa kamu tertawa? " Tanya Lionel mengagetkan Arumi.


"Eh. Oh. Ini. Saya sedang menertawakan isi pesan ini " Jawab Arumi kaget, tidak menyangka bahwa Lionel masih terjaga.


"Kamu saling membalas pesan dengan siapa? " Tanya Lionel yang tidak bisa menahan diri.


Arumi tersenyum lalu.


"Tuan kepo deh" Jawab Arumi dengan senyuman yang terpaksa.


Lionel menatap tajam Arumi. Tidak suka dengan jawaban yang diberikan pada nya.


"Tuan kepo? Waktu itu Rai bilang bahwa kepo itu adalah sejenis makanan. Jadi. Apa kah dia sedang membalas pesan dengan tuan makanan? Tuan... Apa dia mengirim pesan pada seorang pria yang berprofesi sebagai chef? " Batin Lionel masih menatap tajam Arumi.


"Siapa tuan makanan itu? Atau lebih tepatnya siapa chef itu? " Batin Lionel mengernyit tidak suka.


Emosi yang tiba-tiba meluap atas kenyataan yang baru saja terpikirkan oleh nya.


Arumi yang merasakan tatapan tajam Lionel bingung. Meras akan ada hawa menyebalkan yang akan keluar dari Lionel. Jadi lah Arumi memilih untuk berhenti memainkan ponsel nya. Lalu menyelimuti tubuh nya hingga leher. Bersiap untuk melanjutkan tidur nya.

__ADS_1


"Tuan harus istirahat lagi. Dan saya juga butuh istirahat. Kalau begitu selamat malam tuan" Ucap Arumi lalu menutup mata nya berharap bisa tertidur kembali.


Lionel terdiam.


Dia tidak membalas salam sebelum tidur Arumi. Dengan mata nya yang masih menatap tajam Arumi.


Setelah merasa bisa mengendalikan emosi yang tiba-tiba saja muncul.


Lionel menikmati setiap lekuk wajah Arumi.


Tanpa ada rasa bosan sedikit pun.


Entah kenapa, setiap melihat lekuk wajah Arumi. Lionel selalu saja terhipnotis oleh bibir indah yang dimiliki Arumi.


"Ah. Ingin rasa nya menjadi sendok itu tadi" Batin Lionel tanpa sadar.


"Oh astaga. Lio. Apa kamu benar-benar kurang belaian dari Gami? Sehingga kamu berpikir yang iya-iya seperti ini" Batin Lionel sadar akan pikirannya yang salah tadi.


"Ah. Salahkan dia. Kenapa itu menggoda sekali" Batin nya tidak terima jika dia lah yang salah berpikir. Menatap bibir yang selalu saja menggoda iman nya.


Lionel menghela nafas nya panjang, menatap langit-langit kamar. Dia hanya bisa mengembangkan senyumnya karena ketidak berdayaan nya menjangkau Arumi.


Malam ini rasa nya lebih indah, walaupun Lionel sedang sakit.


Arumi yang masih belum masuk alam mimpi, bergedik ngeri melihat Lionel dari celah mata nya.


"Hiiiyyyy. Ada apa dengan nya? Kenapa dia tersenyum tidak jelas seperti itu? " Batin Arumi berusaha tenang, agar tidak ketahuan bahwa dia sedang pura pura tidur.


"Apa asam lambung bisa mengakibatkan orang menjadi gila? " Batin Arumi bertanya tanya.


"Oh Tuhan. Semoga aku tidak tertular kegilaan nya" Batin Arumi berdoa.


Waktu terus berputar.


Arumi dan Lionel masih sama dengan posisi sebelumnya.


Lionel yang tiada henti nya menatap Arumi, dengan senyum yang masih mengambang.


Sementara itu Arumi yang merasakan pegal yang teramat sangat, dengan posisi nya yang sedang pura pura tidur. Arumi merasakan waktu sangat lama berputar.


Malam yang panjang. Pikir Arumi.


"Ini melelahkan sekali" Batin Arumi yang kesekian kalinya.


"Hei mata. Cepat lah kau tertidur" Pinta Arumi pada mata nya. Entah kenapa rasa kantuk benar-benar lenyap di mata Arumi. Dia benar-benar tidak bisa tidur lagi.


Arumi yang pegal dengan posisi nya menggerakkan tubuhnya. Meliuk kan badan nya ke kanan agar Lionel tidak bisa menatap nya lagi.


Lionel yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Arumi pun otomatis menutup mata nya. Takut jika Arumi terbangun dan memandang nya aneh, karena dirinya menatap Arumi dengan wajah tersenyum tidak jelas.


Malam yang panjang, entah kapan akan berakhir.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗


__ADS_2