Hanya Dia

Hanya Dia
Aib


__ADS_3

Arumi menghela nafas lelah. Sepertinya keputusan untuk mengikuti Lionel ke kantor adalah keputusan yang salah. Pikir Arumi.


Arumi mengedarkan pandangannya keseluruh arah. Ia melihat orang-orang yang berbisik tentang dirinya. Tapi tak ia pedulikan. Lalu ia mengedarkan lagi pandangan nya ke arah dinding yang ada cctv-nya.


Bingo. Arumi menemukan kamera yang letaknya sangat dekat dengan meja yang menjadi tempat nya duduk sekarang.


"Leslie" Panggil Arumi lagi.


"Ya nona"


"Apa kamu ada kuasa untuk melihat ke ruang keamanan. Dan mengambil salinan rekaman yang ada di kamera itu? " Tanya Arumi. Dan Leslie paham akan hal itu.


"Akan segera saya ambilkan nona" Jawab Leslie.


"Padahal nona sendiri memiliki kuasa untuk hal itu. Bahkan untuk memecat para perusuh ini pun nona bisa. Tapi nona malah memilih untuk memakai caranya sendiri. Dan itupun hanya untuk menakuti-nakuti saja. Salut pada nona yang berpikiran dingin" Batin Leslie kagum pada Arumi.


"Bagus" Ucap Arumi. Tapi ia masih belum memberikan perintah kepada Leslie agar segera pergi keruang keamanan.


"Heh buat apa kamu salinan itu? Oh aku tahu. Kamu ingin menyimpan rekaman itu agar bisa introspeksi diri. Dan agar bisa melihat perbedaan besar antara kita. Itu pasti bisa membuat kamu ingat bahwa kamu tidak pantas untuk pak direktur" Ejek si kanan.


Arumi tersenyum.


"Hah posisi mereka ini apa ya? Sampai-sampai mereka berani membuat reputasi karyawan profesional perusahaan Danindra jadi buruk begini di mataku" Batin Arumi penuh tanya.


Sudah banyak beredar di media bahwa karyawan Danindra corp adalah para karyawan profesional dalam bekerja. Dan di cap sebagai perusahaan yang memiliki karyawan yang baik hati. Karena setiap enam bulan sekali semua karyawan Danindra corp di perusahaan utama selalu turun kelapangan membantu orang-orang yang tidak berkecukupan. Dan hal ini juga lah yang menaikkan nama Danindra corp di mata masyarakat. Tentu ini juga berdampak pada Lionel dan hal itu membuat Lionel dijuluki iblis berhati malaikat.


Karena Lionel yang terlihat dingin diluar ternyata sangat peduli pada sesama.


"Tentu saja salinan itu akan ku gunakan sebagai bukti atas pencemaran nama baikku di pengadilan terlebih aku adalah tamu di sini. Hah aku tak percaya jika wajah asli para karyawan Danindra corp seperti ini. Dan ini pasti akan membuat buruk imeg perusahaan, jika aku menyebarkan video nya di internet" Ucap Arumi membuat ketiga wanita itu tersentak.


" Hemm bagaimana jika aku coba memakai status ku yang di panggil nona ini. Hemm sepertinya aku boleh bermain sekali? " Batin Arumi.

__ADS_1


"Walaupun aku ini hanya seorang pembantu tuan Lionel. Tapi tuan sudah menetapkan aku untuk kalian panggil nona dan aku adalah seorang tamu di sini. Apa yang akan tuan lakukan ya jika dia tahu hal ini. Hemm apa tuan akan memecat kalian? " Seru Arumi mencoba untuk bersikap tidak tahu diri.


"Apa? " Mereka bertiga terdiam. Mereka tidak memikirkan hal ini tadi sebelum membuat ulah pada Arumi.


Bukan hanya mereka saja. Semua orang menjadi diam. Takut jika bisikan mereka terdengar dan hal itu akan berpengaruh terhadap karir mereka di Danindra corp. Karena telah menyinggung Arumi.


Semua orang menjadi diam dalam makan siang mereka. Tak ada lagi was wes wos suara bisikan. Tapi mereka sesekali melirik kelanjutan yang terjadi pada Arumi dan ketiga wanita itu.


"Benar yang dikatakan nya. Tuan sudah membuat peraturan agar kita memanggilnya nona. Berarti… walaupun dia hanya seorang pembantu, tuan pasti berada di pihaknya" Mereka saling berbisik membenarkan perkataan Arumi.


"Dan aku tidak ingin di pecat. Walaupun ada ayah yang akan membantu ku dan kalian, tapi ayah tetap tidak akan bisa melawan direktur utama" Bisik si wanita yang di tengah.


Arumi yang melihat para perusuh itu saling berbisik dan juga membenarkan perkataannya. Membuat Arumi terkekeh.


"Ma maaf kan kami nona" Ucap si tengah memberanikan diri.


"Eh"


"Hahaha aku hanya bercanda. Kalian tidak perlu begitu" Arumi tertawa.


Mendengar tawa Arumi bukannya membuat orang-orang menjadi lega. Mereka malah semakin menunduk.


"Aduh. Kok lucu ya" Ucap Arumi.


Apa yang lucu? Batin semua orang heran. Bingung dengan Arumi.


"Hah jadi gini loh. Aku ini memang pembantu nya tuan. Tapi aku di khususkan, aku cuma kerja untuk masak-masak aja. Apa kalian gak tahu kalau direktur utama kalian itu tukang pilih-pilih makanan? Dan itu sangat menyusahkan" Kata Arumi. Entah kenapa semua orang reflek menggelengkan kepala masing-masing.


"Ya walaupun aku bukan koki profesional. Tapi masakan ku cocok di lidahnya. Dan jika masakan itu tidak sesuai di lidahnya, dia akan mogok makan seperti anak kecil" Seru Arumi membuka satu persatu aib Lionel.


Hemm ini bukan aib kok. Ini kan kenyataan tingkah tuan yang tidak di ketahui orang lain. Pikir Arumi tidak ingin peduli jika Lionel akan marah padanya.

__ADS_1


"Aku itu sering di marahi karena, hemm masakan yang tidak cocok di lidahnya. Tapi aku masih sabar bekerja dengannya. Mungkin karena itu, ia merasa aku ini sangat berguna, dan ia ingin berterimakasih karena aku, tuan Lionel jadi bisa makan, jadilah dia meminta kalian memanggilku nona"


"Aduh, apa kalian tahu? pas tuan sakit... Hah kalian pasti akan tertawa melihat tingkah nya" Cerita Arumi pada semua orang di kantin.


Semua orang yang tadinya menunduk, jadi mendongakkan kepalanya menatap Arumi. Bertanya-tanya, kenapa Arumi membeberkan aib direktur pada semua orang?


Arumi membuka kacamata tebal nya, karena air matanya tiba-tiba keluar karena gelak tawanya. Padahal tidak ada yang lucu. Pikir semua orang.


Deg


Semua orang terpaku pada wajah Arumi yang di hiasi senyuman. Wajah polos tanpa make up. Tapi tetap sangat cantik. Senyuman yang sangat manis. Membuat semua orang terpesona.


Cantik jika tidak memakai kacamata. Batin semua orang.


"Eh itu! " Batin semua orang melihat kearah belakang Arumi. Lalu menunduk kan lagi kepala mereka. Takut. Tiba-tiba suasana menjadi dingin.


"Hah. Kadang aku ingin berhenti bekerja padanya. Karena sikap yang semaunya itu" Keluhan Arumi semakin membuat suasana kantin mendingin.


"Arumi! " Seru Lionel setengah berteriak. Ia kesal mendengar ucapan Arumi yang mengatakan ingin berhenti bekerja.


"Eh" Arumi terdiam. Ah sepertinya aku melakukan kesalahan. Batin Arumi.


"Eh tuan. Kenapa anda ada di kantin? Ah apa tuan sudah makan siang? Kalau belum, yuk makan. Tuan duduk di sini, dan biarkan saya mengambil bekal " Ucao Arumi gugup, ia berusaha menampilkan senyum terbaik nya. Arumi mencoba bersikap imut, dengan mata yang di kedipkan berulangkali.


Ah kenapa aku jadi takut begini sih. Batin Arumi.


Deg


Aduh. Kenapa dia jadi menggemaskan jika gugup begini. Ah aku jadi tidak bisa memarahinya jika melihatnya seperti ini. Batin Lionel.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗


__ADS_2