
"Aku dan tuan Lionel cocok sebagai sepasang kekasih? " Pertanyaan itu berulangkali muncul dibenak Arumi.
Tentu saja jawaban Arumi adalah tidak mungkin hal itu akan terjadi. Hal yang sangat mustahil terjadi menurut nya.
Entah ada angin apa, Albi menanyakan perihal yang mungkin tidak akan pernah mampir dibenaknya. Mungkin jika Albi yang menanyakan hal itu, Arumi masih bisa menanggapinya dengan santai.
Berbeda halnya jika Kesya yang baru pulang honeymoon pun menanyakan perihal yang sama. Dan jika Kesya yang menanyakan hal itu Arumi tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa mengalihkan topik pembicaraan jika Kesya menanyakan hal itu lagi.
Apakah ada yang ku lewatkan sehingga mereka menanyakan hal yang sama setiap kalinya? Pikir Arumi penuh tanya.
"Ah. Sudahlah tak perlu dipikirkan" Putus Arumi tak ingin membebankan pikiran nya dengan pertanyaan yang tak bisa dijawab nya.
Padahal Arumi sudah memutuskan untuk tidak memikirkan nya. Bagaimana bisa hal itu tidak menjadi beban pikiran nya jika setiap saat Kesya selalu menanyakan hal itu berulangkali.
Di tambah lagi setelah kedatangan Kesya, datang pula wanita paruh baya yang seumuran Kesya, yang Arumi tahu bahwa dia adalah ibunya Gamila. Ibu majikan perempuannya.
Wanita paruh baya yang Arumi kenal Kinan itupun juga menanyakan seputaran cocoknya dirinya bersanding dengan Lionel. Kinan sering sekali mengunjungi kediaman Lionel, dan itu hanya ingin menggoda atau sekedar menggosipkan Arumi dan Lionel.
Bukankah Kinan itu adalah mertua Lionel. Tapi kenapa diapun sama seperti Kesya menanyakan hal yang sama. Bukankah Kinan seharusnya marah karena besannya memasangkan menantunya dengan gadis lain?
Apakah Lionel dan Gamila telah bercerai?
Jika dilihat dari video yang pernah di tampilkan ketika Gamila di lamar pria lain. Dan Gamila pun menerima lamaran itu.
Sepertinya mereka benar telah bercerai. Pikir Arumi.
Apa yang membuat mereka bercerai?
Khusus yang pertanyaan yang satu ini mungkin tidak ada hubungannya dengan Arumi. Tapi tetap saja menjadi sebuah tanda tanya baginya.
Tapi beda halnya jika semua orang memasangkan nya dengan Lionel.
Kenapa harus dirinya? Kenapa tidak gadis lain saja?
Pertanyaan-pertanyaan ini pasti berputar di kepalanya.
Hah…
__ADS_1
Banyak sekali pertanyaan yang seharusnya tidak menjadi pikiran Arumi malah bersarang di benaknya.
Jika dua wanita paruh baya itu sudah berkumpul atau sekedar mencarinya saja. Arumi akan selalu menghindar dengan alasan banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan nya. Harus membersihkan inilah harus mencuci itulah atau sekedar alasan membuang sampah. Intinya Arumi tidak ingin berlama-lama berkumpul dengan dua paruh baya yang menyeramkan menurut nya.
Bagaimana tidak. Pembahasan ibu-ibu yang sudah berkumpul hendak memulai gosip pasti akan berawal tentang pernikahan anak-anak mereka. Dan Arumi tak luput dari gosip para wanita paruh paya itu. Ya… bukan hal lain yang mereka bicarakan, ya pasti adalah tentang kecocokan dirinya dengan Lionel.
Dan sementara Albi, adik kecil Arumi satu-satunya pun selalu membahas hal yang sama dengan para ibu-ibu itu. Arumi sempat berpikir bahwa apakah benar Albi adiknya? Kenapa dia juga ikut menggosipkan kakaknya sendiri?
Pernah suatu malam ketika hendak tidur, Albi mengagetkan Arumi dengan pertanyaan yang dilontarkan nya.
"Kak" Panggil Albi melihat Arumi yang sudah menyelimuti tubuh nya dengan selimut.
"Hemm" Gumam Arumi menanggapi panggilan Albi. Menolehkan kepalanya melihat Albi yang menatapnya serius.
"Aku ingin curhat" Kata Albi.
"Hei kamu masih kecil bocah, tapi sudah memiliki sesuatu untuk di curhat kan? " Kekeh Arumi mengelus puncak kepala Albi.
"Apa salahnya? " Tanya Albi cemberut.
"Lebih baik kakak dengarkan aku dulu. Baru berkomentar" Pinta Albi memegang tangan Arumi, menghentikan Arumi yang mengelus puncak kepala nya.
"Apa kakak tidak ada rasa pada paman Lionel? Apa kakak tidak ingin menjadikannya suami kakak dan menjadikannya kakak ku juga? Jika tidak, bagaimana ini… aku sudah memberikan restu padanya" Curhatan Albi sontak membuat Arumi bangun dari tidurnya. Melotot tak percaya.
"Apa maksud kamu? Restu? " Tanya Arumi merasa bahwa pendengaran nya salah.
"Albi rasa kakak mendengar semua perkataan Albi" Albi tidak menjawab pertanyaan Arumi.
"Albi tahu jika kakak belum memiliki rasa pada paman. Tapi… jika paman melamar kakak apakah kakak bisa menerima nya? " Tanya Albi. Arumi tidak berkutik, memikirkan apa yang di pikirkan adik kecil nya.
"Aku ingin sekali merasakan utuhnya sebuah keluarga walau bukan dari orang tua kita. Selama orang tua kita hidup, Albi hanya merasakan kasih sayang dari kakak dan bibi pengasuh saja. Yaa… Albi tahu bahwa ayah dan ibu juga menyayangi Albi, tapi karena mereka sering bekerja diluar untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan hanya bertemu sekali dalam sebulan. Albi jadi tidak merasakan apapun, bahkan setelah mereka tiada, sampai saat ini Albi belum meneteskan air mata sekalipun. Yang merawat Albi hanya kakak dan bibi pengasuh, justru Albi tidak kekurangan kasih sayang dari kalian berdua. Walaupun hanya dari kalian berdua saja, Albi sudah bahagia" Ucap Albi lemah, dia menatap lekat langit-langit kamar.
"Itu sudah cukup bagi Albi. Dan untuk kakak… " Albi menjeda sejenak kalimatnya.
Arumi masih terdiam. Ingin rasanya menetes air mata ini. Tapi, sebagai seorang kakak bukankah Arumi harus tegar?
"Sementara kakak. Semenjak kepergian ayah dan ibu kakak jadi semakin tidak pernah memperhatikan kebahagiaan kakak sendiri. Hanya fokus pada Albi saja. Fokus agar Albi tidak merasa sedih. Bukankah kakak tahu bahwa Albi tidak sedih? Dan apa kakak tahu bahwa terkadang kakak masih memiliki kesedihan itu? " Tanya Albi memiringkan kepalanya manatap Arumi sejenak, lalu menatap lekat langit-langit kamar lagi.
__ADS_1
Deg
Apakah itu benar? Apakah aku yang masih berlarut dalam kesedihan ini? Sehingga Albi mengatakan hal itu, dan ingin menyadarkan ku?
"Bahkan saat kita berdua saja kakak hanya memikirkan kesedihan Albi saja. Walaupun kakak tahu bahwa Albi tidak pernah menangisi kepergian kedua orang tua kita"
Albi benar. Arumi memang belum pernah melihat Albi menangisi kepergian kedua orang tua mereka.
"Tapi ketika Albi melihat kakak bersama dengan paman Lionel. Walau kalian hanya bertengkar saja kerjaannya, kakak melupakan kesedihan kakak. Dalam sekejap kakak menjadi diri kakak yang biasanya sebelum kepergian kedua orang tua kita" Ucap Albi menatap Arumi lagi, menampilkan senyum hangatnya.
"Karena itu. Jika paman Lionel melamar kakak. Apakah kakak bisa menerima lamaran itu? Albi tahu bahwa pernikahan itu bukan hal kecil. Tapi... Kakak hanya perlu mencoba nya saja, jika kakak bahagia dengan pernikahan itu, kakak tinggal melanjutkan pernikahan itu hingga maut memisahkan kalian. Tapi jika tidak, kakak boleh mengambil keputusan kakak sendiri" Ucap Albi, ia memeluk Arumi yang masih saja diam membisu.
"Bukan hanya kakak yang ingin melihat aku bahagia. Tapi aku juga ingin melihat kakak bahagia" Ucap Albi mempererat pelukannya pada Arumi.
Malam itu Albi dan Arumi masih berpelukan hingga mereka bangun pagi.
Keesokan harinya kedatangan Gamila yang bergelayut manja pada Rio mengagetkan Arumi.
Wow
Arumi seharusnya tak perlu terkejut untuk yang satu ini. Seharusnya dia sudah bisa memahami jika kedua majikannya sudah bercerai dan majikan perempuannya akan segera menikah dengan pria lain.
Hemm
Tapi dimana Lionel dan sekretaris Rai?
Hah baiklah itu bukan urusan ku. Batin Arumi.
Arumi berdecak kagum melihat kedua majikannya yang mudah sekali move on.
Hemm apakah tidak ada perasaan yang terluka diantara mereka?
Atau… jika memang tidak ada yang terluka. Apakah tidak ada cinta diantara mereka, sehingga tidak perlu merasakan yang namanya sakit karena cinta?
Bertambah satu lagi pertanyaan yang muncul dibenak Arumi.
Dan sekali lagi Arumi mengingat dirinya sendiri. Hal itu bukanlah urusannya.
__ADS_1
Bersambung...