Hanya Dia

Hanya Dia
Mendadak


__ADS_3

Setelah insiden kedua tangan Arumi yang dibalut perban oleh Lionel, hanya karena teriris di jari telunjuknya ketika memasak. Maka saat itulah dimulai nya perjalanan Lionel untuk mendapatkan hati dari pembantu nya, Arumi.


Saat Lionel menyuapi dirinya dan Arumi bergantian, rasa senang yang meluap membuat bibir mereka berdua melengkung ke atas. Ya sepanjang makan malam Lionel tiada hentinya tersenyum. Ia tidak bisa mengontrol emosi bahagia yang dirasakan karena bisa sedekat ini dengan Arumi.


Tapi, setidaknya Arumi bisa menutupi rasa senangnya dengan rasa kesal, karena balutan di kedua tangan. Ya walaupun sesekali Arumi tersenyum kecil.


Arumi tahu bahwa balutan di kedua tangannya itu adalah salah satu trik Lionel agar bisa mendekati dirinya. Maka dari itu Arumi membiarkan Lionel untuk berbuat semaunya sejenak.


Karena Arumi sudah memutuskan untuk mencoba mengenal Lionel, dan ingin memastikan bagaimana dengan perasaan nya sendiri. Jika ia merasa dirinya belum menyukai Lionel, maka ia akan mencoba menyukai Lionel.


Tapi, saat ini Arumi menyadari bahwa, ternyata dirinya sangat cepat menemukan rasa senang pada Lionel. Baru sebatas rasa senang saja. Belum ada rasa cinta.


Setelah selesai makan malam bersama waktu itu, mereka berdua yang masih duduk di meja makan. Mengalami hal tak terduga. Hal yang tidak ada di rencana Lionel maupun Arumi sebelumnya.


Arumi bersikeras meminta untuk dibukakan perban ditangannya. Ia memaksa Lionel, tentu saja Lionel menolak awalnya. Tapi karena Arumi mengancam bahwa dia akan memilih untuk berlibur bersama Kesya, dan akan mengadu pada Kesya bahwa Lionel menindas nya. Dengan terpaksa Lionel membuka balutan perban itu.


Jika perban itu masih terbalut di kedua tangan Arumi, bagaimana ia bisa mandi, mengganti baju tidur atau sekedar memainkan ponselnya. Tidak mungkin bukan jika Arumi harus meminta bantuan Lionel untuk melakukannya? Big No. Pikir Arumi.


Kami belum menikah. Dan aku tidak mau menunjukkan seluruh tubuh ku padanya untuk yang keduakalinya. Batin Arumi saat itu.


Setelah Lionel membuka perban di tangan Arumi. Tiba-tiba saja tanpa sadar Arumi menanyakan suatu hal yang akan membuatnya jantungan setiap kali hal itu terjadi.


"Kenapa tuan mencium saya? , dan mengatakan bahwa saat ini seterusnya dan untuk selamanya hanya saya saja yang akan cium" Tanya Arumi. Walaupun pipinya merona, ia ingin sekali mendengar jawaban Lionel. Ingin sekali mendengar tentang perasaan Lionel saat ia terjaga, dan Lionel tahu bahwa dia mendengar nya.


Saat itu Lionel terdiam sesaat, ia memandang lekat manik Arumi. Lalu menggenggam lembut kedua tangan Arumi.


"Kamu dengar ini baik-baik" Pinta Lionel.


Dan Arumi hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pinta Lionel.


Deg


"Walaupun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya. Dan aku tahu bahwa kamu tidak akan percaya pada apa yang akan aku katakan nantinya" Ucap Lionel memberi jeda pada kalimatnya.


"Ini semua karena masakan kamu. Karena masakan itu aku jadi jatuh cinta padamu. Dan saat ini aku sedang mengejar kamu. Jadi kamu bersiaplah, dan jangan lari" Ucap Lionel dengan degup kencang di jantungnya.


Arumi terdiam, masih dalam proses mencerna kata-kata Lionel.


Cup


Tanpa aba-aba Lionel mengecup sekilas bibir Arumi.


"Salahkan masakan kamu. Jangan aku, karena aku tidak dapat mengontrol hatiku" Seru Lionel menangkup kedua pipi Arumi.


Cup

__ADS_1


Kali ini Lionel tidak hanya mengecup sekilas bibir Arumi. Ia ******* lembut bibir Arumi dengan penuh perasaan yang ia miliki.


Arumi yang merasakan bibirnya basah, mendorong tubuh Lionel agar menjauh.


"Apaan? Jangan cium orang sembarangan dong. Saya tidak suka tuan tuh, jadi jangan cium saya lagi" Seru Arumi berjalan mundur menjauhi Lionel. Pipinya merona, ia tak sanggup jika harus berlama-lama bersama Lionel.


"Heh. Ini juga salah kamu, kamu memasukan obat apa kedalam masakan yang kamu masak untuk ku? Sehingga aku jadi menyukai kamu" Lionel menjawab Arumi.


"Apa-apaan? " Teriak Arumi kesal karena masaki yang disalahkan.


"Apa-apaan ini? Kenapa jantung ku rasanya mau copot" Batin Arumi menyentuh dadanya yang berdegup kencang sejak tadi.


Arumi langsung berlari.


"Kamu lihat saja, aku akan membuat kamu jatuh cinta pada ku. Kamu nantikan saja itu" Teriak Lionel, dan itu masih bisa didengar Arumi.


Arumi yang mendengar itu, berhenti dari larinya. Menatap sekilas Lionel, lalu berlari lagi. Menuju kamarnya.


Walaupun pengakuan ini tidak sesuai dengan rencana Lionel sebelumnya. Yang akan mengakui perasaannya di waktu dan tempat yang seromantis yang akan membuat Arumi luluh dan mau menerima dirinya.


"Ya biarlah. Walaupun ini mendadak dan tidak sesuai dengan rencana, tapi… ini tidak buruk juga" Batin Lionel mengikuti jejak Arumi yang berjalan ke kamar.


Di sisi lain.


Tanpa Arumi sadari, ia tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian barusan.


"Aduh, apaan sih kamu Arumi. Masak kamu secepat itu sih suka padanya? Hemm kenapa saat bersama kak Lais aku biasa saja? Dan kenapa saat bersama nya aku jadi seperti ini sekarang? " Gumam Arumi sambil memeluk guling nya.


"Huh Arumi. Kamu tidak boleh gampangan" Ucapnya lirih.


"Tidak. Tidak. Tidak. Aku bukan wanita gampangan. Aku belum menyukainya. Aku hanya baru mulai suka padanya" Seru Arumi menegaskan pada dirinya sendiri.


"Baiklah. Karena dia sudah melaju dari garis start nya. Maka aku akan bersiap untuk menyambut dirinya di garis finis, yaa tapi tidak akan seru jika tidak ada rintangan. Hemm lebih baik aku tidak langsung menyambut nya, aku harus memberikan nya beberapa rintangan terlebih dahulu" Putus Arumi pada malam itu. Walaupun ia kesusahan tidur karena memikirkan Lionel, tapi ia masih tetap bisa tidur walaupun bangunnya agak siang tidak seperti biasanya.


Setelah insiden perban dan pengakuan mendadak dari Lionel.


Keesokan paginya Albi menelpon bahwa dia akan pergi berlibur bersama Kesya. Dan Albi tidak mengatakan ia akan berlibur berapa lama. Dia hanya mengatakan…


"Semoga hari kalian menyenangkan" Hanya itu yang Albi serukan sebelum menutup telepon.


Apa coba maksudnya? Batin Arumi kesal.


Dan jadilah hanya Arumi dan Lionel saja yang menghuni rumah besar itu. Dan sesuai pula dengan arahan Lionel sebelum nya, sekretaris Rai pun juga tidak berada di rumah.


***

__ADS_1


"Agar kamu tidak kesepian di rumah, ikutlah denganku ke kantor" Kata Lionel yang memaksakan kehendaknya agar Arumi tetap bersamanya.


Entah apa yang terjadi, Arumi bingung dengan keadaan saat ini, ia hanya mengikuti Lionel saja. Benar kata Lionel dia akan merasa bosan jika di rumah sendiri. Hemm sepertinya rintangan belum Arumi temukan, yang cocok untuk Lionel. Jadilah ia mengikuti kehendak Lionel dahulu.


Semenjak Albi tidak pulang dan memilih berlibur bersama Kesya. Semenjak itulah Lionel selalu mengajak Arumi untuk ikut dengannya ke kantor.


Pagi-pagi sekali Arumi sudah harus menyiapkan sarapan dan bekal siang untuk dua orang. Lalu setelah nya mereka berdua akan berangkat bersama ke kantor. Dari rumah Arumi menaiki mobil yang sama dengan yang Lionel kendarai.


Mobil yang dinaiki Arumi berhenti di depan lobi. Melihat Lionel yang turun dari mobil lalu melemparkan kunci mobil pada satpam yang menunggui mobilnya, Arumi pun mengikuti nya turun dari mobil. Lalu berjalan menuju pintu utama perusahaan Danindra corp.


Baru saja satu langkah Arumi menapakkan kakinya di gedung itu. Sapaan dari para karyawan sudah memenuhi lobi perusahaan.


"Selamat pagi tuan dan nona" Sapa semua orang membungkukkan badan.


Ugh walaupun Arumi selalu mendapati perlakuan seperti ini setiap paginya semenjak mengikuti Lionel ke perusahaan. Tapi tetap saja dia tidak terbiasa dengan ini.


Siapa yang nona coba? Batin Arumi setiap paginya melewati para karyawan.


Siang ini Arumi tengah menunggu Lionel di ruangan CEO. Sementara itu sudah dua jam yang lalu Lionel sedang ada rapat. Awalnya Lionel sudah mengajak Arumi agar ikut saja dengannya ke ruang rapat. Tapi Arumi menolaknya.


"Ayo ikut dengan ku ke ruang rapat" Ajak Lionel.


"Tidak. Saya di sini saja" Tolak Arumi tegas.


Bagaimana bisa Lionel membiarkan orang asing mengikuti rapat penting di perusahaan nya?


"Baiklah. Kalau begitu tunggu aku di sini. Jangan kemana-mana, aku hanya butuh satu jam saja" Ucap Lionel.


Cup


Lionel mengecup lembut dahi Arumi sebelum pergi meninggalkan ruangan nya.


Deg


Lionel selalu saja mengambil kesempatan untuk mengecup bibir Arumi, mau itu di dahi pipi ataupun di bibirnya. Itu selalu menjadi kebiasaan semenjak pengakuan nya pada hari itu.


"Aku pergi. Baik-baik di sini. Dan tunggulah aku" Ucap Lionel lalu pergi meninggalkan Arumi.


Arumi mengerjapkan matanya, berusaha sadar atas apa yang terjadi.


"Ugh astaga. Ini tidak seperti diriku. Kenapa aku jadi luluh begini sih. Bahkan aku jadi ketagihan dengan bibirnya itu" Gumam Arumi kesal. Ia meraba bibirnya.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗 lopyu 😘😘

__ADS_1


__ADS_2