Hanya Dia

Hanya Dia
Konyol


__ADS_3

Dalam lamunannya hingga Lionel tertidur pulas di dalam jet pribadi. Dia masih juga memikirkan kejadian yang tak terduga dadi malam hingga siang ini sebelum keberangkatan nya.


Seperti yang Albi katakan semalam, Lionel menjemput Albi jam sepuluh pagi sepulang Albi sekolah.


Awalnya Lionel ingin menjemput Albi tanpa sepengetahuan Arumi, tapi tidak terjadi karena Arumi menerima tawaran Lionel untuk memperbolehkan Albi tinggal untuk serumah dengan nya.


"Baiklah aku akan menerima tantangan kamu. Tapi ingat aku menerima nya bukan karena ingin menukarkan saham ku dengan Arumi. Tapi aku menerima tantangan kamu semata-mata untuk mendapatkan sebuah restu dari adik kecil Arumi" Ucap Lionel sebelum memulai tantangan dari Albi.


"Murah sekali kakak jika aku tawar hanya tiga persen dari saham yang paman punya. Jika paman menawarkan seluruh kekayaan yang paman miliki itu masih belum cukup untuk membeli sehelai rambut kakak. Kakak ku itu sangat berharga jadi jangan paman samakan dengan tiga persen saham itu" Seru Albi merasa kesal dengan ucapan Lionel.


"Ah…" Lionel merasa ucapan nya salah. " Kamu benar! Arumi sangat berharga. Tidak ada yang bisa di bandingkan dengan nya" Seru Lionel pada akhirnya.


"Baiklah kalau begitu kita mulai saja. Tidak perlu berlama-lama. Ini adalah puzzle yang ku buat sendiri. Jadi aturan main nya adalah aku" Ucap Albi mengambil ancang-ancang untuk memulai nya.


"Tunggu! Kenapa warna puzzle nya putih semua dan hanya ada beberapa tulisan yang berwarna hitam" Tanya Lionel bingung.


"Karena aku yang membuat nya, dan aturan mainnya ya pasti suka-suka aku mau bagaimana. Lagipula ini hanya ada tiga puluh kotak puzzle yang harus paman susun. Seharusnya ini sangat mudah bagi paman" Ucap Albi.


"Sudah. Kita mulai saja" Seru Albi ketika melihat Lionel yang masih ingin protes.


"Hitungan ketiga kita harus mulai menyusun" ucap Albi lagi. Dan Lionel hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Tapi sebelum itu… setelah selesai menyusun ini semua kita harus membaca tulisan nya" Ucap Albi.


"Membaca? Memangnya…


"… Tiga… mulai" Seru Albi langsung mengucapkan hitungan ketiga, dan dia juga mulai menyusun puzzle nya.


"Eh kamu curang" seru Lionel tidak terima, tapi dia tetap ikut menyusun puzzle nya juga.


"Cih baiklah tidak masalah untuk ku. Hanya membaca tulisan ini itu bukanlah hal yang sulit" Batin Lionel disela-sela permainan puzzle.


Tak perlu waktu lama. Albi dan Lionel menyelesaikan puzzle mereka bersamaan. Lalu dengan mudah nya Albi mulai membaca satu-persatu kata yang tertera di puzzle itu.


Sementara itu Lionel.

__ADS_1


"Ini… Bahasa apa? Ini memang menggunakan huruf alfabet, tapi… wah bocah kecil ini benar-benar licik sekali" Gumam-gumam Lionel kesal.


Disaat Lionel masih belum bisa membaca tulisan itu, dan dia semakin bingung dengan apa yang didengarnya dari Albi yang juga membacanya.


Entah bahasa apa yang di gunakan Albi, Lionel benar-benar tidak bisa membacanya sama sekali.


Lionel kalah.


Karena tidak menyelesaikan tantangan dari Albi, maka Lionel masih belum bisa mendapatkan restu dari Albi. Ini benar-benar hal baru bagi Lionel. Baru kali ini dia kalah, bahkan dia di kalahkan oleh bocah berusia tujuh tahun.


Satu jam lagi adalah keberangkatan Lionel, tapi dia masih juga di rumah, memohon pada albi. Belum pergi ke bandara juga.


Dia semakin enggan untuk pergi karena kekalahan nya.


Tapi ketika Albi mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa masih layak mendapatkan sebuah kesempatan. Akhirnya Lionel bisa berangkat dengan tenang.


"Aku akan memberikan paman kesempatan. Pelajari tulisan itu. Beritahu kan kepada ku apa tulisan nya. Tapi paman harus mencari tahu nya sendiri, jangan meminta orang lain untuk menerjemahkan nya. Ya kalau bisa paman juga harus bisa bahasa yang ada di puzzle itu. Maka aku akan merestui paman dan selama paman pergi aku akan menjaga kakak agar tidak ada laki-laki lain yang mendekati kakak" Kata Albi memberikan Lionel kesempatan yang ketiga kalinya.


Walaupun pembahasan tentang permintaan Albi belum di bahas lebih lanjut. Lionel tidak bisa mengingkari janjinya. Karena janji itu harus di tepati.


"Albi benar-benar mengerikan. Bagaimana bisa dia memikirkan hal yang rumit begini? Padahal dia hanya bocah berusia tujuh tahun " Batin Lionel setiap mengingat kejadian itu.


~


Setelah sampai di London…


Lionel dan Gamila tidak bisa langsung bertemu. Mereka harus mengatur jadwal masing-masing agar memiliki waktu yang cocok.


Dan disinilah Lionel dan Gamila berada masih di apartemen Lionel. Setelah seminggu Lionel berada di London inilah kesempatan mereka untuk membicarakan keadaan rumah tangga mereka.


Kali ini yang mereka bicarakan langsung pada intinya. Tanpa adanya basa-basi sedikit pun.


"Maaf. Aku mau kita bercerai" Gamila.


"Maaf. Sepertinya lebih baik kita berpisah" Lionel.

__ADS_1


Ucap Lionel dan Gamila kompak, mereka yang tertunduk tiba-tiba mengangkat kepala, lalu tertawa.


"Hei kenapa kamu tertawa" Tanya Lionel pada Gamila. Padahal dia juga tidak bisa mengontrol tawanya.


"Lalu? Kenapa kamu juga tertawa? " Tanya Gamila balik.


"Ah… seperti nya pernikahan kita menjadi konyol" Kata Gamila masih dengan sisa gelak tawanya.


"Dan apakah kita akan bermusuhan setelah ini? Semoga saja tidak" Sambung Gamila.


"Tentu saja tidak! Untuk apa kita bermusuhan? Kita berpisah secara baik-baik" Ucap Lionel.


"Dan kamu benar pernikahan ini menjadi konyol" Sambung Lionel


" Tapi Gami apa yang membuat kamu ingin bercerai dengan ku? Padahal aku ini sangat tampan" Tanya Lionel yang sudah bisa mengontrol tawanya.


"Cih kamu masih saja tidak sadar diri. Kamu hanya diluar saja yang sempurna, tapi didalamnya… tukang pilih-pilih makanan, penakut sama obat, manja Cih percuma wajah tampan mu itu, lagipula wajah tampan itu bisa di cari dimana-mana" Ucap Gamila merendahkan Lionel.


"Dan walaupun aku menikah dengan kamu karena permintaan terakhir dari nya, dan di awal pernikahan kita, kamu mengatakan bahwa kamu akan membuat ku jatuh cinta padamu. Tapi nyatanya? Kita sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing. Kamu dan aku hanya seperti partner s*x. Dan yang paling gila adalah kamu. Kamu sama sekali tidak mengetahui bahwa aku bukanlah wanita yang kamu cintai, kamu terjebak didalam perasan tidak jelas yang kamu buat sendiri" Seru Gamila tertawa lagi.


"Cih bukan hanya aku yang gila. Tapi kita berdua yang gila. Bagaimana bisa kita melakukan hubungan suami-istri tanpa adanya cinta? Dan kenapa cinta tidak juga berkembang diantara kita? Padahal hubungan kita sudah sejauh itu, dan kita sudah dua tahun pacaran, lalu sudah dua tahun pula kita menikah" Ucap Lionel tidak percaya pada dirinya sendiri.


"Cih" Gamila tak bisa berkata-kata lagi, karena perkataan Lionel benar adanya.


"Tapi Gami. Kita tidak bisa bercerai begitu saja" Ucap Lionel mengingatkan Gamila akan suatu hal.


"Hah kamu benar. Lalu bagaimana? Orang tua kita benar-benar antisipasi akan hal ini. Sehingga mereka membuat kita menandatangani suatu perjanjian" ucap Gamila menyenderkan tubuhnya ke sofa.


"Cih, pernikahan kita benar-benar semakin konyol karena hal itu" Ulang Gamila lagi.


Dan Lionel setuju akan hal itu.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2